12
Jun

Posisi

Saya nggak pernah bisa cocok dengan dunia kerja yang penuh politik. Saya nggak bisa tahan di sebuah organisasi di mana persetongkolan dan intrik terjadi demi keamanan dan keselamatan posisi masing-masing.

  1. Ada yang berani menjegal teman sendiri agar dia bisa dipromosikan. Kalo emang perlu difitnah ya go ahead… Dia ngatur strategi dengan manis agar dianya looks good dan temennya looks bad di depan bos.  (semoga saya nggak ketemu dengan orang jenis ini atopun kalo sampe ketemu, semoga saya nggak nyadar bahwa dia sedang ngelakukan itu, daripada saya ilfeel seumur hidup dengan dia). Mari kita sebut orang ini dengan sebutan Jenis Licik.
  2. Ada yang mau enaknya sendiri. Karena ngerasa sudah punya pangkat dan posisi, jadi nggak mau repot… ” Lah buat apa juga repot, lah wong yang bawah bisa disuruh-suruh. Kalo nggak mau disuruh-suruh ya jangan jadi bawahan…” Kira-kira gitu prinsipnya. Mari kita sebut dia sebagai Jenis MohRepot.
  3. Ada yang merangkak dari bawah. Mulainya dari 0, lalu kerja keras sampe dia akhirnya punya posisi yang enak. Setelah posisinya enak, ya emang enak… Tapi terus lupa kalo dulu mulai dari 0. Emang gue pikirin ya? Yang penting kan sekarang gua udah enak… Loe mau jungkir balik kerja ekstra keras, ya urusan loe sama bapak loe! Yang satu ini mari kita juluki Jenis YangPentingEnak.
  4. Ada juga yang udah punya posisi. Terus kalo sampe ada yang nggak bisa support dia, ya dia akan keluarkan jurus “hajar bleh!”… Jangan sampe posisi gua ilang (ato gua keliatan jelek di mata pimpinan) gara-gara loe. (Ya iyalah, masak nama gua tercemar gara-gara orang yang nggak isa kerja, yang bener aja… Nama gua harus sempurna di depan Bos, ngerti!!?). Mari kita sebut dia dengan Jenis YangPentingNama.
  5. Ada juga yang kalo ngeliat orang kerja ekstra keras, dalam hatinya senyum2 sambil mencibir “hihihi… keesian deh loee… kerja abis2an pagi-siang-malem tp posisi cmn segitu2 aja… Pinter dikit dong kayak gua…”. Yang satu ini mari kita juluki Jenis HowPathetic.
Yah, emang pada sebuah organisasi akhirnya orang akan mengejar posisi dan/atau uang. Nggak bisa disalahkan, ada latar belakang yang men-drive mereka untuk berbuat seperti itu, misalnya keluarga, ambisi pribadinya, kebutuhan sehari-hari, mengikuti gaya hidup atau mengejar status sosial yang lebih baik.
(Dan, please… jangan mengira saya sedang membicarakan lingkungan kerja saya ya… di lingkungan kerja saya itu baik-baik)
Yang saya tanyakan ke diri saya, seandainya di tahun-tahun ke depan saya dapat posisi tertentu apa bakal jadi salah satu dari jenis itu? Mungkin juga, siapa yang tahu…? Saya kan juga manusia yang nggak kebal godaan (itu sebabnya kalo di doa Bapa Kami ada, “… dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan…”)
But I seriously pray to my God to give me neither position nor high salary if it will only take the name of my God in vain. Kalo posisi tertentu bakal membuat saya mencemarkan nama Tuhan, ya lebih baik saya gak punya posisi itu.
Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.
Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku. Ams 30:8-9
04
Jun

Compassionate, Loving and Caring

For years, I’ve doubted if there’s someone that has those 3 characters naturally. I, myself, must struggle very hard to guard my heart, control myself when tempted to gossiping or saying something bad about other people, I must discipline myself to sincerely help other people even if they gives no benefit for me. Why? Ya, simply because those characters are not my nature. That’s why I must discipline myself.

For most of us, loving someone is easy when s/he gives benefit for us. Caring for other people looks fun when those people are our (future) client (that most probably give future benefit for us). Or when we care about other people, if we really ask our heart, may be we’ll find that actually we seek praise for ourself. We easily love and care to other people if we think that what we do for them is worth and we know that we will have greater benefit from it. I called it: “unsincerity”. 

I almost believe that only angel that can love and help sincerely… unfortunately angels are not real, I mean, they help and they go, out of reach… there’s no way I can make any continous contact… Until I meet her.

This girl is incredibly loving and caring girl. She might not know about the theory of love, philosophy of love, 5 love language by Dr. Gary Chapman or graduate from seminary, theology or Bible School. But the way she loves and cares to other people are truly, I mean, TRULY sincere. 

She knows when to help other people. Despite her relatively-low-salary, she gives her money away just to give to the needy-people… She does not care whether she will get the benefit or no, she just does it anyway. Sincere, from her heart. 

She might not know about literature, flowery poetry, love words, but she easily shows deep emphaty and say nice-comforting-words in the right time. Sincere, from her heart… not artificial… and she does all that without even think, she does it naturally. She loves and cares naturally. She seems born as a compassionate, loving and caring girl. And the good news, last time I saw her, she was human being, can be easily contacted by phone or sms and the most important, she stays in small-peaceful-city, called Malang (later on I don’t really if she were angel-in-disguise).

So, I met this angel, eh this girl, 2 years ago… And I can’t stop myself not to admire her… She’s beautifully-inside-out, naturally. For the last 6 months, I have had a privelege to get closer with her. Her sincerity simply melt my heart and… I’m proudly introduce her in this blog as An-Angel-That-Melt-My-Heart (AATMMH).

02
Jun

How it feels to be a genius?

Saya tidak dapat menahan diri saya untuk bertanya dalam hati bagaimana rasanya menjadi jenius? Bagaimana rasanya menjadi seseorang yang multi-talenta?

Bagaimana rasanya punya otak yang kecepatan berhitung dan analisanya di atas normal sekaligus mampu mengkoordinasi jari-jari tangan untuk bermain piano, biola atau gitar dan menghasilkan nada yang indah? Bagaimana jika dalam otak sama itu juga mampu merangkai kata-kata menjadi sebuah tulisan yang sangat memikat? Lalu bagaimana jika melalui otak yang sama, mampu dihasilkan karya seni seperti lukisan, fotografi, dan masakan yang lezat (ya, “dan”, bukan “atau”)? Otak yang sama tersebut, juga mampu mengkoordinasi gerakan tubuh dengan sempurna sehingga  gerakan-gerakan tubuh seperti lari, senam, ataupun berenang yang dilakukan adalah gerakan-gerakan yang nyaris sempurna tanpa cacat.

I know few of them. Saya pernah menanyakan ke yang bersangkutan, bagaimana rasanya menjadi jenius seperti itu. Tapi saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan, karena dia pikir dia juga sama dengan yang lain. Ya, whatever the answer, for me, they are special!

Tetap saja saya struggling dengan pertanyaan: how it feels to have a head with such brain inside? Bagaimana rasanya punya kepala dengan otak semacam itu di dalamnya? I mean, s/he can do almost all things that human beings have learned for the last centuries, sports, math, music, art, drawing, computer… (saya nyaris berpikir bahwa mereka adalah spesies yang lahir beberapa puluh tahun lebih awal)

Saat melihat (membaca, mendengar atau menikmati) karya-karyanya, saya benar-benar nyaris tidak bisa memercayai bahwa itu semua berasal dari 1 otak yang sama - 1 pribadi yang sama - 1 identitas yang sama. Wow!

Dan pada akhirnya, sayapun tidak bisa menahan untuk semakin kagum dengan penciptaNya - what a great privelege if we can serve and do something for HIS Kingdom?

(This posting is dedicated to a few genius friends I’ve ever knew, to a few students I’ve ever have, and… to a 14-years-old-bright-and-talented-little-girl I teach now, OsL).

29
May

Yes, I am waiting

It’s been a while since I posted my last posting. Yes, I am waiting for something.

Sending 3 scholarship applications makes my daily life a bit out-of-normal-pace. It goes up and down. Sometimes I am quite sure that one of them will put my name as one of the grantee - it’s just a matter of time. But another time, I’m afraid that I failed,  then must start everything from scratch… many times I feel so desperately waiting for the result (I’m curious, why do they need months to do the preliminary selection). 

The result will shape the future… and I am waiting.

12
Apr

Final Decision: Resignation!

Too long. He’s so damn-tired, both mentally and physically. Though they treat him well, yet sometimes he felt that he was tortured. No…! Not sometimes, but many times he felt that he was tortured. His working hours just waaay too-damn-long, and he felt jealous of others. He demanded something for months, “please, give me friends that can accompany me…” He’s trying to say that the strugling way too hard for him, he can’t do it by himself.

Yes, they heard that, yet they kept silent. Yes, they knew that, yet they did nothing. To make things worst, they asked him for more, they demanded him to do more. More and more tasks. More and more responsibilities. His burden just too heavy. He couldn’t stand anymore. Despite all the good and bad memory he has experienced, he convinces himself to take the decision.

Then he decided. The final decision. This month. This easter 2009. He won’t work anymore for them. With tears, he announced RESIGNATION…! No circumstances will change his mind. He shouted loudly, “DON’T EVEN TRY TO STOP ME..!! I QUIT…!!

—-

Relax guys. Take a deep breath. It was NOT me, it was my-black-shoes. You know, he’s been working for me since 2001. I predicted it long time ago that he’s going to resign. 

Finally, after 8 years, he didn’t make it, he resigned. I awarded him as my toughest shoes I’ve ever had - yes, it’s my old-ugly-black-shoes. I replaced it with a new-branded-one. And, since the new one is 6 times more expensive, I expect that the new one will survive 6 times longer (apprx. 48 years) than the last one,  hehe2…

Good bye to my old-black-shoes. Rest in peace, bro… Welcome to the new one and enjoy the slavery for the next 48 years…

31
Mar

Nggak Selalu Mulus

They announced the scholarship nominees… And my name was not there. It was my 2nd strike after failed in ADS Application.

Iya, getting scholarship for doctorate is not as easy as flipping hand. I failed in Depkominfo scholarship Application (but, still thanks to mBak Lily who gave the Depkominfo Scholarship information in the first place - kalo ada info lagi, bagi2 ya Mbak).  In the next 6 weeks, I will try to apply the Dikti and Fulbright scholarship.

Nggak selalu mulus emang… Tapi I’ll keep PUSH-ing — (P)ray (U)ntil (S)omething (H)appen…

28
Mar

Just Beat It, beibeh…!

Menunggu itu nggak enak. Saya dua minggu ini nunggui hasil test iBT TOEFL saya. Setiap kali buka personal page saya, selalu deg2an. Soalnya pas test itu saya ngerasa nggak well perform. Ada banyak missed bukan karena nggak bisa, tapi karena nervous ato nggak konsen - trust me, the situation when you’re taking the test is totally different with your daily study.  Especially the pressure! The energy to overcome the pressure makes you can’t concentrate well (terutama kalo inget udah bayar $150).

Selama 2 minggu, saya rajin buka personal page saya… Tapi score-nya masih not avalaible.

 

Padahal, buka halamannya itu sambil merem2… Ngeri liatnya… Ngeri kalo nggak bisa sampe syarat minimum buat ngajukan beasiswa. Buat bisa ngajukan aplikasi beasiswa Ph. D-nya Fulbright, syarat pertama TOEFL-nya 575 (Paper Based TOEFL). Uni di Aussie juga sama, syarat jadi Ph. D students-nya adalah dapet skor International TOEFL 575. Mereka nggak mau nerima yang TOEFL2-an. Mereka hanya mau terima yang TOEFL asliiiii ato IELTS.

Itu buat saya bener2 syarat yang sadis…! Saya dulu waktu ambil Institusional TOEFL (ato TOEFL2an yang agak2 resmi), score-nya cuman 560. Padahal itu paper based, yang cuman nguji 2 skill, reading dan listening. Apalagi iBT TOEFL yang nguji 4 skill, listening, reading, speaking dan writing. Makanya saya rada deg2an setiap kali mo ngeliat scorenya.

Dua minggu nggak ada kabar, sampe hari Jumat sore, tanggal 28 Maret - setelah 2 minggu tepat sejak mengikuti test itu… 

Loh, kok sudah Available…??? NOOO…. I’m not ready! Saya nggak kepingin buka… Ini pertaruhan waktu dan  $150, kalo nggak bisa tembus 575, there’s no way I can apply Fulbright scholarship this year. No time to take another test because the due date right on May 31st. It means, saya harus mengulang semua proses yang melelahkan taon depan… 

Ternyata… skor-nya 90. Which mean equivalent to 577! Nggak ada skor yang less than 22 (karena beberapa Uni mensyaratkan nggak bole ada komponen yang kurang dari 22) . Writingnya di luar dugaan, mungkin apa yang saya sebut bagus itu nggak bagus secara academic menurut para reviewer-nya. Ya, whatever.

Saya bener2 ngerasa berjalan dalam AMAZING GRACE - kasih karunia. I did the best, God does the rest. Thanks God, I passed TOEFL score requirement. Next step will be dealing with the application form.

———-

Couple months ago… one day, a conversation between a-damn-english-expert-lecturer, Dr. Patris Dj (PD) and a desperate TOEFL test taker student (WS).

WS: [Desperate voice, setelah test institusional TOEFL dan ternyata cuman dapet 560] Waduh, Pak, TOEFL itu susah ya… Saya udah blajar, tapi ya cuman dapet 560… 

PD: Harus banyak baca, dengar, ngomong, dan nulis. Itu nanti kan jadi integrated skill. Semakin keempat skill itu diasah lama2 ya pasti bisa. [His calm voice calm down that desperate student]

WS: Bener juga ya Pak…

PD: You have good potential… 

WS: Tapi score TOEFLnya masih jelek Pak… Gimana ya caranya beat toefl score?

PD: Ya… just beat it. [Smile]

—-

I beat it, Pak! I just beat iBT TOEFL… :)

18
Mar

Gerakan 10ribu

Kisah Ani

Ani (bukan nama sebenarnya) adalah anak usia 11 tahun yang duduk di kelas 5 SD Negeri di dekat rumah.  Tubuhnya lebih kecil dibanding teman2 sebayanya, nampak sedikit pendiam, namun amat cerdas. Jika teman2nya harus menggunakan buram untuk menyelesaikan soal2 matematika, Ani cukup memandang soal tersebut, lalu “somehow” jawabannya muncul di kepalanya. Dia tidak pernah mengenyam kursus aritmatik, kumon, sempoa atau sejenisnya. Boro2 kursus, sepulang sekolah dia harus bekerja membantu bapaknya yang bekerja sebagai tukang servis sepatu di pasar. Kadang dia membantu menggambar pola untuk sepatu yang diservis, memotong kulit yang hendak dijadikan sol, menjahit, mengelem, atau kalau sepatunya selesai ia segera mengantarkan ke rumah pemilik sepatu agar mendapat uang jasa perbaikan. Mimpi untuk masuk SMP pun dia tidak berani - “tidak ada uang”, jawabnya pendek, sambil menggambar pola untuk sol sepatu yang sedang diperbaikinya.

Mungkin setelah lulus SD, bapaknya akan lebih melibatkan Ani dalam “bisnis servis sepatu”nya. Dari pagi hingga sore, Ani akan berada di gerobak kecil itu, membantu men-servis sepatu agar lebih banyak sepatu yang bisa diselesaikan. Beberapa tahun kemudian, Ani kecil sudah berusia 16-17 tahun. Ayahnya segera mengawinkannya dengan pemuda yang baik, lulusan SMP, yang bisa diharapkan untuk bisa melanjutkan “bisnis servis sepatu”-nya. Atau jika Ani sedikit beruntung, dia akan dilamar oleh pemuda yang bekerja di kantor sebagai cleaning service dengan upah 30ribu per minggu. Bekerja di kantor sungguh amat bergengsi bagi orang2 muda di situ - setidaknya bekerja di kantor berarti punya penghasilan tetap.

Hei, bagaimana dengan kecerdasan Ani yang luar biasa itu? Lupakan saja daripada miris membayangkan masa depannya kalau dia tidak berhasil melanjutkan SMP.

Padahal dengan kecerdasan yang sama, Marie Currie (Perancis) di tahun 1903 berhasil mendapatkan nobel fisika untuk teori radioaktif-nya. Dengan kecerdasan yang sama, Eugenia Malinnikova (USSR) memenangi 3 medali emas berturut-turut di IMO (Olimpiade matematika internasional) di tahun 1989, 1990 dan 1991. Dengan kecerdasan yang sama, seorang remaja putri Indonesia mendapatkan beasiswa studi di bidang Computer Science di NUS (Singapore), yang kemudian menjadi IT professional di salah satu international company dengan gaji 5 digit US$ per tahun. Dengan kecerdasan yang sama atau di bawahnya, saya bisa… [you may fill your own].

Saya miris membayangkan masa depan Ani (dan Ani-ani lain yang jumlahnya pasti ribuan di seluruh Indonesia). Saya membayangkan bahwa bantuan pendidikan Rp. 200rb per bulan, mampu mengubah masa depan Ani. Bukan hanya Ani, tapi juga nasib anak-anaknya ketika Ani sudah menikah kelak. Nasib generasi berikutnya akan berbeda jika Ani tetap dalam gerobak kecilnya menservis sepatu dibandingkan dengan jika Ani menjadi peneliti/ilmuwan yang kontribusi penelitiannya membantu banyak umat manusia. Pilihan hidupnya dimulai dari sebuah pertanyaan kecil yang berdampak besar bagi masa depannya “Adakah uang untuk melanjutkan SMP?“.

—————————

Gerakan 10ribu

Nama gerakan ini adalah gerakan 10ribu. Idenya adalah menggalang sebuah “dana abadi” yang pengelolaannya diperuntukkan membantu anak2 seperti Ani. Setiap orang yang mau mendukung gerakan ini, memberikan uang Rp. 10ribu, satu kali - tidak boleh lebih dari Rp. 10ribu dan tidak boleh lebih dari satu kali! Setiap orang mendapatkan kesempatan yang sama, yaitu 10ribu, satu kali.

Berapapun dana pokok yang terkumpul, tidak akan diutak-atik. Yang akan disumbangkan dan dikelola adalah interest/bunga dari dana pokok tersebut. Logikanya, dana pokok akan terus semakin bertambah seiring dengan bertambahnya pendukung gerakan ini… Lalu dana tersebut akan menjadi dana abadi yang semakin lama semakin besar jumlahnya. Dengan semakin besar jumlah dana pokoknya, maka semakin besar pula interest/bunga yang dapat disumbangkan dan akan semakin banyak anak terbantu untuk menyelesaikan studi mereka. Masa depan mereka akan berbeda karena ada orang2 yang rela memberikan 10ribu-nya. 

Your 10thousand, can make brighter Indonesia.

Your 10thousand, can make a better generation. 

—————————

Behind the scene

Saya pertama kali menyampaikan ide gerakan 10rb ini kepada seorang teman dekat saya 2 hari yang lalu. Saya menjelaskan cukup panjang sebelum akhirnya dia benar2 bisa menangkap esensi dari ide ini. Dia mendukung, dan menyatakan bersedia menjadi orang ke-dua (setelah saya) yang menyumbangkan 10rb-nya untuk mendukung gerakan 10rb ini. Saya katakan bahwa saya akan pikirkan masak2 sebelum me-launching gerakan ini - karena memang belum di-launching, baru sampai di kepala saya. 

Lalu di kelompok mentoring, saya melontarkan ide ini yang langsung disambut baik oleh rekan saya - She thinks that it’s a brilliant idea. Lalu beliau memodifikasinya menjadi gerakan 100rb yang diperuntukkan bagi 5.000 link network beliau yang adalah pengusaha yang tersebar di seluruh dunia (hitungan kasarnya 5.000 x 100rb = 500jt, dan setiap bulannya bisa mendapatkan bunga sekitar 2-3jt - cukup untuk bisa bantu 10-15 anak - dan dana pokoknya tidak akan pernah habis karena pengelolaan dilakukan hanya pada bunga yang didapat). 

Kalo saya punya banyak dukungan, I might create a website about this “gerakan 10ribu”. Setiap pengunjung akan bisa melihat bagaimana cara bergabung, siapa saja yang telah bergabung, berapa banyak 10rb yang telah terkumpul, laporan keuangan secara transparan, dan tentunya list anak2 yang telah terbantu - (termasuk kisah latar belakang anak2 tersebut - hopefully I can track them until they graduate and have a good career - how the money finally can help them to have a brighter future).

What do you think, friends?

15
Mar

Pengalaman test iBT TOEFL

I believe this posting will be useful for those who want to take iBT TOEFL… And since you want to take iBT TOEFL, I assume that you already overloaded, loathe/sick with all the iBT TOEFL English materials. So, I’m not going to make vomit in front of computer. I will make it easier by writing it in Bahasa.

Pertama, kenapa orang repot-repot ambil iBT TOEFL dan rela ngeluarin duit $150 (mana dolar naek terus lagi) lalu sampe di ruang test, mereka di-plokoto, mesti melototin monitor dengan headset terpasang lalu disiksa ngerjakan soal2 yang jelas2 bukan bahasanya sendiri selama 3.5 jam non-stop dengan resiko kencing batu karena nahan pipis?

Motivasi orang beda2. Ada yang rencana mau sekolah di luar, dan sekolanya mensyaratkan nilai TOEFL-nya sekian ratus. Tapi sekolah itu nggak mau TOEFL yang TOEFL-TOEFLan, maunya TOEFL yang asli, yang namanya iBT ato internet Based TOEFL. Jadi dia terpaksa mau disiksa di ruang test iBT TOEFL. Kalo saya, laen lagi. Demi mengajukan aplikasi beasiswa AMINEF Fulbright, maka saya nekat ngambil iBT TOEFL yang harganya $150 ini. Ya… kalo saya dapet beasiswa Fulbright nantinya, total uang yang saya dapetkan kira2 $30.000 (nggak cash ya, dalem bentuk biaya studi, biaya hidup, uang saku, dll). Demi $30.000, apalah artinya $150. Masuk akal kan?

Kedua, gimana sistem score iBT TOEFL?

Skor maksimal adalah 120, yang dibagi jadi 4 bagian, yaitu reading (30), listening (30), speaking (30) dan writing (30)… universitas di Australia biasanya mensyaratkan minimal 79, sementara universitas2 di Amrik mensyaratkan minimal 100 (buset!).

Ketiga, ujiannya kayak apa?

Ujiannya 4 macem, pertama reading. Ada 6 bacaan dengan topik beda2. Bisa dari bidang sosial, kesehatan, teknik, seni, geografi, atau bidang studi apapunyang yang dipelajari manusia. Dari bacaan itu, kita disuruh jawab kira2 35 pertanyaan multiple choice.

Kedua adalah listening. Ada beberapa sesi, ada yang baca teks dulu, lalu dengerin lecturing baru jawab soal2, ada yang dengerin percakapan 2 pelajar tentang topik tertentu, ada yang murni dengerkan lecturing baru jawab pertanyaan. Listening ini yang menurut saya paling gampang dilatih. Medianya ada di mana2. Mulai dari film, musik, dengerin orang bule ngomong ato nonton berita di TV. Pengalaman saya, dengar 1 jam conversation setiap hari selama 2 bulan bakalan bikin peka di listening. It won’t be hard, but needs practice.

Ketiga ini yang bikin amsiong. Speaking! Disuruh ngomong dengan topik yang nggak diduga (suara kita direkam). Waktu berpikirnya cuman 15-30 detik. Contoh: “Describe the place you want to visit in your hometown, and explain why!”, coba kalian siapkan jawaban selama 15 detik, terus ngomong selama 45 detik (nggak lebih). Ato dengerin lecturing selama 2-3 menit, terus harus men-summary tentang apa lecturing-nya dalam waktu 60 detik doang, (kemaren saya dapet topik lecturing tentang kelelawar, keren to?… Saya nyaris mau summary film Batman terbaru, The Dark Night, tapi mengingat pertaruhan $150, saya batalkan).

Keempat… adalah writing. Nulis tentang 2 topik, satu adalah personal opinion dan satu lagi ada bacaan dan lecturing, lalu suruh nyari hubungan antara bacaan dan lecturing-nya, terus di-summary-kan. 

Kira2 begitu. Jujur, saya ngerasa rada2 nggak pede bisa dapetin score 100. Reading-nya agak gelap, di sesi speaking-nya saya ngerasa lebih banyak ngeluarin energi buat ngatasi nervousnya ketimbang ngomong apa yang dimaui. Listening-nya agak terang, walopun ada beberapa yang missed. Yang paling terang benderang adalah writing, moga2 bisa full score di sini. Kalo ada kesempatan ngulang iBT TOEFL ini, pasti i can handle the nervous much better, and achieve higher score.

Oke anyone, sapa mau sponsori saya ngambil iBT TOEFL lagi…? (Kalo saya bisa tembus score 90 dan dapet beasiswa, ntar saya kembalikan 2x lipat - cash in US$, seriously loo… I’ll do my best both in the test and scholarship application).

07
Mar

Windra Swastika, S. Kom, M. T

I just finished graduation ceremony (wisuda) for my master degree in Brawijaya University - an hour ago. It was tiring. Ada sekitar 1.100 lebih wisudawan dan wisudawati, dari tingkat Diploma (D3), Sarjana (S1), Magister (S2) dan Doktor (S3) tumplek blek di gedung Sasana Krida - dan let me tell you, dalam prosesi wisuda, ke-1.100 nama itu dipanggil satu per satu, tanpa kecuali, lengkap dengan gelarnya, lalu mereka maju untuk menerima ijasah, berjabat tangan dengan both dean and rector (I’m wondering how the rector feels after the graduation…). Jika setiap wisudawan saling berjabat untuk memberi selamat, lalu pertanyaannya adalah berapa jabat tangan yang terjadi sepanjang graduation ceremony itu? Nggak penting ya?

Melelahkan… Sejak dari posting ini (cerita bagaimana awal mula masuk Universitas Brawijaya), perjuangan nyelesaikan tesis sampe akhirnya resmi dapet selembar ijasah dan selembar transkrip nilai bener2 perjuangan. Iya, dua taon, ngerjakan tugas2 akhirnya ditukari ma dua carik kertas dengan tanda tangan Pak Djanggan dan Pak Yogi. 

(Btw, kurang dikit udah dapet predikat cum-laude, tp saya nggak kecewa2 banget, lah wong jurusan-nya elektro)

Tapi during the graduation ceremony, saya bener2 terkejut ketika nama “dia” disebut. Nggak nyangka aja kalo dia bisa ada di sana, dan kita diwisuda di hari yang sama dan ruang yang sama. Padahal saya nggak berharap ketemu, nggak mikir apa-apa, bahkan honestly udah hampir lupa sama dia.  Jadi pas namanya disebut, saya langsung ingak-inguk memastikan kalo itu adalah dia tapi nggak keliatan jelas. Untungnya, tempat duduk saya ini cukup strategis… ada di sisi paling kiri, sehingga para wisudawan yang sudah menerima ijasah, pasti akan kembali dengan berputar ngelewati tempat duduk saya.

Jadi waktu dia kira-kira 2 meter di depan saya, baru saya bisa pastikan… yep, it’s her! Gosh… she’s gorgeous! I haven’t seen her, for like… 3 or 4 years? Saya panggil dia… Dia noleh, lalu saya beri ucapan selamat.

Bener-bener surprise bisa ketemu dia… dan saya masih ingat bagaimana dia tadi dipanggil. 

Dari Fakultas Kedokteran…

… 
dr. E… M…
…”

(the-girl-who-still-remain)

[and... as you might guess, sepatu yang saya pake untuk wisuda ini adalah...
...
...
My Black Shoes!
hidup my black shoes...!]