
Hari ini, Jumat malam, adalah hari yang aku tunggu. Tau nggak knapa? Pertama, karena besok adalah hari Sabtu (jelas! setelah jumat pasti sabtu). Kedua, karena jam ini adalah jam yang sudah aku tunggu sejaaaakkk luamaaaa… Dua bulan terakhir ini, jadi buuaanyak tugas yang mesti diselesaikan (but i won’t tell u what they are, kuatirnya nanti kliatan sok2an…). Jadi baru Jumat malem ini aku bisa dengan santai nulis blog… (Ah, syukur banget aku udah dimampukan nyelesaikan semua tugas…)
Nah, kamu suka bubur…? Setauku, bubur yang enak itu adalah Bubur Ayam Agus yang ada di jalan Wilis, trus bubur medan yang biasanya kalo pagi mangkal di depannya LPK… (mereka njanjikan semangkuk bubur gratis buat aku kalo aku mempromosikan bubur mereka di blog ini, hehe2…). Tapi, seenak-enak-nya bubur, aku kok lebih seneng makan nasi ya (itu sebabnya aku tetap makan nasi sampe sekarang). Rasanya bubur itu kayak terlalu lembek, makanan buat bayi ato orang sakit, trus makannya juga kayak gak ada tantangannya, cuman ditelen gitu aja. Jadi kurang asyik kalo stiap kali maemnya bubur mlulu… Setuju nggak?
Jadi ada apa dengan bubur ayam spesial?
Aku terinspirasi banget pengen nulis tentang bubur ayam spesial ini… Inspirasinya dateng dari Roy Agustinus, temen, skaligus koko rohaniku yang luar biasa (someday, dia akan jadi orang yang dikenal banyak orang karena kualitas yang dia punya).
Gini, kita, as a human being, gak pernah lepas dari yang namanya salah. Gak pernah lepas dari yang namanya gagal (kayak seorang muridku yang baru-baru ini gagal memenuhi target-nya dalam sebuah kompetisi). Kita juga gak pernah lepas dari yang namanya frustasi, minder dan hal-hal kayak gitu.
Kamu pernah ngerasa minder kan? Misalnya minder karena ngeliat orang laen yang lebih pinter, lebih cakep, lebih disukai orang laen, lebih… lebih… lebih… Pernah ngerasa kayak gitu…? Wajar kok. Aku juga ngalami. Aku pas smp/sma itu minder loh… Nggak percaya? Dulu pas SMP/SMA, aku ngerasa aku ini anak yang nggak menarik secara fisik, nggak pinter ngomong, nggak masuk OSIS, nggak populer, terus pelajaran juga nggak pinter-pinter amat (nggak kayak cc2ku yang slalu peringkat 1 sejak dari TK sampe S2!). Pokoknya nggak ada yang isa dibanggakan dari seorang Windra (dulu!). Akibatnya aku nggak pede, ngerasa bahwa aku ini anak "bawang" yang nggak punya kmampuan apa-apa… Sering mikir2 kalo diriku ini gak berarti (duh! kasiannya diriku waktu itu)… Apa kamu juga ngalami minder sperti ini? Mungkin dalam versi yang berbeda, mungkin kamu minder karena badan kamu terlalu gemuk (ato terlalu kurus), kamu gak sepinter temen kamu, kamu gak punya ortu yang isa ngasih kamu fasilitas macem-macem kayak temen2 kamu yang laen, kamu gak pernah dianggep ma temen2 kamu karena mereka merasa kamu gak level dengan mereka, dan banyak lagi yang bikin kamu minder. Ngalami kayak gitu…?
Terus mesti gimana dunk? Pasrah aja? "Ya iya, mo gimana lagi… Aku udah lahir kayak gini. Udah dikasi Tuhan kayak gini, ya harus nerima pemberian Tuhan kan…?". Ato mengajukan protes ma Tuhan? "Aku nggak mau nerima kayak gini…! Aku mau Tuhan ubah aku agar menjadi pinter, lahir di keluarga yang isa ngasih aku macem2 fasilitas, jadi anak yang populer yang kmana2 slalu punya temen…!" (Jadi inget film Bedazzled, yang ceritanya ada seorang cowok yang sama sekali nggak populer, lalu ma seorang jin cantik dikasih 7 permintaan…). Kayaknya kalo kita teriak-teriak kayak gitu, Tuhan gak ngabulkan deh (ok, kamu boleh coba, kalo Tuhan ngabulkan, kontak aku, nanti aku akan tulis di sini, hehe2…!). Jadi harus pasrah? Emmm… jawabnya setelah cerita yang satu ini.
[based on true story!]
- cerita sengaja diceritakan secara datar. tujuannya agar kamu isa nangkep esensi ceritanya, bukan tertarik dengan jalan ceritanya -
Cerita #1:
Seorang cewek cantik pelayan Tuhan, ngikuti sebuah retret anak muda, bareng ma temen-temen gerejanya. Puluhan anak muda yang ikut retret itu… Trus di suatu acara pas malem hari, si cewek itu diberi segelas minuman… Nggak lama setelah dia minum, dia jadi nggak sadar. Keesokan paginya, dia terbangun dalam keadaan seorang cowok di sampingnya. Kamu isa nebak kan apa yang dilakukan cowok itu…? Cewek itu hamil dan mereka akhirnya menikah.
Cerita #2 (gak berhubungan dengan cerita pertama):
Seorang temen cewek yang udah nikah, menceritakan masa lalunya. Dia bilang, masa lalu dia itu gak bagus banget buat diceritakan. Dia pernah diperkosa… Nggak cuman sekali, tapi sampe beberapa kali!! (sengaja aku nggak cerita detailnya).
Jelas, diperkosa itu sesuatu yang membuat frustasi. Sesuatu yang sangat menghancurkan masa depan. Cewek #1 dan cewek #2, sangat punya alasan untuk minder. Nggak pede. Tapi apa yang bisa dilakukan mereka? Waktu nggak pernah bisa berulang… Seandainya cewek #1 bisa mengulang waktu, aku yakin dia nggak akan pernah ikut retret itu. Cewek #2 nggak akan mau pergi ke tempat di mana dia sampe diperkosa… Tapi ternyata semuanya sudah terjadi. Nggak isa diulang kembali. Kamu inget peribahasa "Nasi sudah menjadi bubur"? Peribahasa ini pas banget buat mewakili cewek2 ini. Ketika nasi sudah jadi bubur, buburnya nggak pernah isa dijadikan nasi… Ketika cewek ini diperkosa, mereka sudah menjadi "korban perkosaan".
Gawatnya, buat kamu yang ngerasa minder (karena sebab2 yang gak isa kalian ubah, misalnya lahir di kluarga yang gak kaya, lahir dengan kemampuan otak yang pas-pasan, lahir dengan wajah yang nggak cakep, dll), kamu ngerasa: "Ya mo diapain lagi… keadaannya udah gini… Aku udah lahir sebagai bubur…!". Jadi bukan nasi sudah jadi bubur, tapi kamu ngerasa kamu lahir sebagai bubur.
Mungkin memang bener, kamu itu gak secakep Ari Wibowo, mungkin bener kamu gak sepinter Einstein, mungkin bener kamu gak lahir sebagai anak dari Bill Gates, mungkin bener bahwa kamu gak sekreatif Thomas Alva Edison, mungkin bener kamu itu lahir sebagai bubur (bukan nasi), mungkin bener bahwa cewek-cewek tadi sudah menjadi hancur, yang tadinya nasi, sekarang sudah jadi bubur. Bener juga kalo kamu minta ke Tuhan, kamu nggak akan diubah ma Tuhan dan jadi secakep Ari Wibowo, kamu gak akan diubah Tuhan jadi sejenius Einstein, jadi terlahir sebagai anak dari Bill Gates, jadi Thomas Alva Edison, para cewek tersebut juga akan tetap menyandang "korban pemerkosaan"… Bener bahwa nasi sudah jadi bubur. So what next…? What are you going to do with this "bubur"? That will be the TOP QUESTION of THIS BLOG!
Jawabnya simple. Kalo ternyata emang semuanya sudah jadi bubur, buatlah
BUBUR AYAM SPESIAL…!
Jadi nyambung knapa judulnya adalah "Bubur ayam spesial"?
Bubur itu adalah kamu yang ngerasa minder (karena kamu nggak lahir sebagai nasi), ato kamu yang ngerasa udah hancur karena suatu kejadian buruk menimpa kamu di masa lalu. Bubur itu adalah aku yang pernah ngerasa "bukan apa-apa" karena gak punya apapun yang isa dibanggakan. Tapi daripada hanya menyesali knapa aku nggak jadi nasi (ato knapa nasinya udah jadi bubur), aku lebih baik mengolah bubur itu menjadi bubur ayam yang spesial, menjadi bubur ayam yang enak, menjadi bubur ayam yang nggak kalah dengan nasi, menjadi bubur ayam yang bisa dihargai orang laen… Jelas nggak gampang ngerubah image "bubur biasa" menjadi "bubur ayam spesial" Tapi [rohani section] tahukah kamu kalo Tuhan itu mau nerima kamu apa adanya kamu…? (Yesaya 1:18b,"… Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba."). Ketika kamu sadar bahwa walopun kamu sehancur apapun, ternyata Tuhan itu tetep nerima kamu sebagai anakNya (ingat tentang perumpamaan anak yang hilang? - Lukas 15:11). Tuhan nggak nginget2 semua kesalahan yang udah kamu lakukan dulu, Tuhan nggak memandang seberapa jenius ato seberapa bodoh kamu, seberapa kaya ato seberapa miskin kamu, seberapa hancurnya masa lalumu… Nggak… Bukan itu yang Tuhan lihat… Tuhan ngeliat seberapa besar kesungguhan hati kita agar kita mau menjadi "Bubur Ayam Spesial" itu. Resep bubur ayam spesial itu ada di tangan Tuhan… Dan bersama penyertaan Tuhan, yakin kalo kamu isa jadi "Bubur Ayam Spesial" itu, nggak sekedar bubur yang menyesali diri knapa nggak jadi nasi…
Ketika kamu sudah jadi bubur (hancur, minder, frustasi), tapi kalo kamu mau jadi "bubur ayam spesial" itu, orang akan ngeliat kamu dengan sudut pandang yang laen. Bukan "bubur"nya (hancur, kekurangan kalian) lagi yang mereka liat, tapi "ayam spesial"-nya itulah yang mereka hargai… Kalo kamu ngerasa jadi bubur, jadilah "Bubur Ayam Spesial". Mau?
[buat yang nulis blog dalam bahasa Inggris tentang "satisfied with what we have", I prefer buat mengubah apa yang kita punya jadi "Bubur Ayam Spesial", nggak sekedar puas dengan "Bubur" ]
—-
Catatanku [di luar topik]:
Aku nggak tau seberapa banyak yang baca blog ini. Aku nyoba nyari2 fasilitas untuk isa tau berapa banyak halaman blog-ku telah dikunjungi, tapi nggak ada (Friendster nggak nyediakan). Aku hanya tau bahwa halaman blog ini, somehow, ada yang baca… Tapi aku nggak tau siapa aja. Mungkin kamu itu temenku, mungkin kamu muridku, ato bahkan aku nggak kenal kamu sama sekali… Sejujurnya, aku kepengen isa tau siapa aja yang baca blog ini. So, kalo kamu baca blog ini, maukah kamu klik pada link Comment, lalu isikan sesuatu di situ (apa aja, kayak "aku udah baca", "teman", "murid", "aku suka", "aku gak suka", "aku setuju", "jelek", "aku gak setuju"… apapun!)
Jadi aku isa tau, siapa kalian… Will you?
Recent Comments