Hari Kamis ini adalah speedy day of the year! Gimana gak speedy, aku ada interview jam 8. Aku memang udah bangun pagi… Aku bangun pukul 4 pagi, bahkan sebelum matahari terbit…! (emm… ok deh, terus jalan ke kamar mandi, pipis, lalu tidur lagi sampe jam 6 lewat 15… Tapi paling tidak aku sudah bangun pagi).
Lalu, seperti biasa, tugas harianku di pagi hari sebagai anak desa adalah memberi makan bebek, memunguti telor ayam, mencari rumput untuk para kambing, memetik kelapa di belakang rumah, serta menguras kolam ikan lele. Sementara ibu menanak nasi, ayah bersiap-siap untuk berangkat ke sawah dengan sepeda kumbangnya…
Setelah itu, di hari Kamis ini, aku mengajar para bebek, kucing, panda, dan rusa (tidak lupa marsupilami) full dari jam 7 pagi sampe 13:30 (para panda sering mengantuk di siang hari, bebek bersuara-suara gak jelas ingin pulang dan kucing mengejar-ngejar tikus). Lalu jam 14:00 ada kelas lagi sampe jam setengah empat. Lalu jam setengah empat, aku harus memandikan para sapi dan kambing, menimba air di sumur, serta shooting untuk film ksatria baja hitam. Nah, padahal hari ini aku jam 8 pagi ada interview, pas Bu Lina, sebagai sparing partnerku, juga ambil cuti. Jadi aku harus menerangkan materi sebelum ulangan dari jam 7:00 sampai jam 7:45 (karena [pemeran] pengganti bu Lina hanya bertugas jaga - dia jelas tidak menyiapkan diri untuk menghafalkan skenario yang seharusnya dilakonkan Bu Lina). Hingga jam 7:45, aku masih berada di kelas, menerangkan para rusa yang masih juga bertanduk. Padahal jam 8 aku harus sampai di lokasi interview. Jarak antara lokasi interview dengan sekolah itu 8 Km, yang bisa ditempuh 3 jam naik gerobak sapi atau 2 jam berjalan kaki, atau 1 jam naik kuda atau 45 menit naik angkot atau 10 menit sepeda motor (tapi kesalamatan tidak dijamin, sehingga ada dua kemungkinan tujuan, sampai di tempat interview atau di rumah sakit). Aku memilih alternatif yang paling aman, yaitu 15 menit naik visto (dengan ditemani marsupilami).
Sesampai di tempat interview, aku segera menemui seseorang dosen (yang modelnya seperti aku gambarkan di Interview with the…, kamu tahu seperti apa dia). Setelah duduk berhadapan dengannya, aku memperkenalkan diri: "Saya Windra, Pak" (sekali lagi, aku bukan orang terkenal, jadi perlu memperkenalkan diri).
Dia memandangku dari balik kacamatanya… Lalu bertanya dengan pandangan penuh kecurigaan "Kamu angkatan berapa?", "Saya angkatan laut, Pak… Eh, angkatan 96, lulus tahun 2000, Pak".
"Lama juga… Sudah berkeluarga?" Tidak jelas apa maksud pertanyaanku, dugaanku, dia mempunyai seorang anak gadis yang belum menikah. "Sudah Pak, istri saya 3, anak saya 4. Yang paling besar seusia dengan Bapak, jangan-jangan anak saya itu salah seorang teman bermain bapak waktu bapak kecil…?" Dia mengangguk-angguk kecewa… (sambil membaca berkas lamaranku) "kamu mengajar di Santo Yusup" (karena aku menulis surat lamaran dalam Bahasa Inggris, aku jadi sedikit menyesal tidak turut menyertakan terjemahan surat lamaranku… atau paling tidak melampirkan kamus Inggris-Indonesia ke dalam amplop lamaran). "Ya Pak, sejak tahun 97", "Oh, jadi begitu lulus sudah mengajar di sana". Kesimpulan yang ceroboh. Bagaimana mungkin aku yang masuk tahun 96 bisa lulus tahun 97? "Bukan Pak. Saya sejak SMP sudah mengajar di Santo Yusup…", "Oh, iya…!" (apakah salah jika sekali lagi aku berpersepsi bahwa dosen termasuk dalam golongan linglung?), "Santo yusup… emmm… itu di mana ya?" [gubraaakkk... aku langsung terjatuh dari kursi, lalu dengan sisa-sisa tenaga, aku merangkak untuk beristirahat pada sofa, sambil masih tersengal-sengal]. Lalu perlahan-lahan aku menjawab: "Saya yakin sekarang Beliau sudah di surga. Sebagai suami dari Bunda Maria dan Ayah dari Yesus, kemungkinan besar Santo Yusup sudah berada di surga Pak. Jadi jika bapak bertanya di manakah Santo Yusup berada, jawaban saya, beliau sudah berada di surga. Kalo yang bapak maksud adalah Pak Yusup, dia masih tetap tinggal di sebelah rumah saya Pak. Kabarnya dia sering menderita encok-encok di punggungnya" Dia mengangguk-angguk lagi, kemungkinan dia mencari Yusup yang lain dan bukan Pak Yusup tetanggaku (jika kalian tahu Yusup yang dicarinya, segera tuliskan di comment agar aku secepatnya menginformasikan kepada beliau).
"Pernah mendesain gambar di media cetak sebelumnya…?", "Pernah Pak. Saya mendesain BBC-Blessed Bussinessman Community, media iklan semacam Yellow Pages untuk gereja",
"Kalau media elektronik?" "Oh, kalau iklan untuk media elektronik saya lebih suka menjadi penonton Pak, biasanya saya menonton di iklan-iklan semacam itu depan televisi sambil makan kudapan Pak. Apakah bapak juga?"
"Ya kadang2, tapi saya lebih suka nonton acara utamanya daripada iklannya, bahkan…" Dia memandangku dengan serius… "saya tak segan-segan mengganti channel jika sedang iklan…!" Lalu dia melanjutkan, kali ini dengan lebih santai "Gini, sebenernya kita butuh dosen tetap untuk mengajar kuliah tentang pembuatan klip media elektronik…"
Kata "dosen tetap" dan "pembuatan klip media elektronik" sama sekali bukan kata2 yang enak didengar. Aturan pertama dalam prinsipku dalam bekerja adalah: "Jangan pernah mengikat aku dengan jam kantor dari hari senin sampai sabtu!!!" Aturan kedua, "Aku tidak suka bekerja di kantor dari jam 8 sampai jam 5 sore!!!" Aturan ketiga "Aku tidak mau bekerja di kantor 6 hari seminggu dengan jadwal rutin selama 8 jam kerja sehari" (itu sebabnya aku hanya mengajar di hari selasa, rabu, kamis, rata-rata hanya 5 jam per hari, itu sebabnya juga, aku lebih suka menjadi programmer atau penulis buku yang bisa mengerjakan pekerjaanku kapan saja, di mana saja. Salahkah itu?).
Jadi kata dosen tetap telah dengan telak menghancurkan cita-citaku yang mulia, yaitu mengubah image dosen yang tidak menarik, membosankan, berkacamata tebal dan agak-agak linglung. Mula-mula aku berpikir bahwa aku akan di-rekrut sebagai dosen dengan jadwal mengajar fleksibel. Tapi dosen tetap…? Maafkan aku Pak… Lalu kata kedua yaitu "pembuatan klip media elektronik" sama sekali di luar jangkauanku. Jangankan membuat "klip media elektronik", klip, temiti, dan isi steples aja sering ilang di meja kerjaku… Ini malah disuruh membuat "klip media elektronik".
Jadi begitulah akhir dari wawancanda itu. Tapi niat baikku untuk mengubah image dosen adalah tujuan yang mulia. Dia memintaku untuk menyerahkan klip, temiti dan isi steples yang hilang di meja kerjaku pada hari Selasa ini. Aku mengatakan untuk mencarinya… Walaupun kemungkinan aku akan membeli klip, temiti dan isi steples yang baru. Tapi setidaknya itu adalah bukti bahwa niatku untuk mengubah image dosen adalah sungguh-sungguh.
NB. Klip media elektronik… Kabarnya, orang-orang yang kerja di bidang advertising, periklanan butuh waktu 4 tahun untuk bener-bener jadi expert di bidang pembuatan klip (bikin iklan kayak di tivi2 gitu). Sedangkan hanya diberi waktu waktu 4 hari untuk buat klip gitu…
[buat semua pembaca blog... adakah yang bisa membantu aku untuk mencari klip, temiti dan isi steples sebelum hari Selasa minggu depan...?]

Recent Comments