Archive for October, 2005

27
Oct

Wawancanda

Hari Kamis ini adalah speedy day of the year! Gimana gak speedy, aku ada interview jam 8. Aku memang udah bangun pagi… Aku bangun pukul 4 pagi, bahkan sebelum matahari terbit…! (emm… ok deh, terus jalan ke kamar mandi, pipis, lalu tidur lagi sampe jam 6 lewat 15… Tapi paling tidak aku sudah bangun pagi).

Lalu, seperti biasa, tugas harianku di pagi hari sebagai anak desa adalah memberi makan bebek, memunguti telor ayam, mencari rumput untuk para kambing, memetik kelapa di belakang rumah, serta menguras kolam ikan lele. Sementara ibu menanak nasi, ayah bersiap-siap untuk berangkat ke sawah dengan sepeda kumbangnya…

Setelah itu, di hari Kamis ini, aku mengajar para bebek, kucing, panda, dan rusa (tidak lupa marsupilami) full dari jam 7 pagi sampe 13:30 (para panda sering mengantuk di siang hari, bebek bersuara-suara gak jelas ingin pulang dan kucing mengejar-ngejar tikus). Lalu jam 14:00 ada kelas lagi sampe jam setengah empat. Lalu jam setengah empat, aku harus memandikan para sapi dan kambing, menimba air di sumur, serta shooting untuk film ksatria baja hitam. Nah, padahal hari ini aku jam 8 pagi ada interview, pas Bu Lina, sebagai sparing partnerku, juga ambil cuti. Jadi aku harus menerangkan materi sebelum ulangan dari jam 7:00 sampai jam 7:45 (karena [pemeran] pengganti bu Lina hanya bertugas jaga - dia jelas tidak menyiapkan diri untuk menghafalkan skenario yang seharusnya dilakonkan Bu Lina). Hingga jam 7:45, aku masih berada di kelas, menerangkan para rusa yang masih juga bertanduk. Padahal jam 8 aku harus sampai di lokasi interview. Jarak antara lokasi interview dengan sekolah itu 8 Km, yang bisa ditempuh 3 jam naik gerobak sapi atau 2 jam berjalan kaki, atau 1 jam naik kuda atau 45 menit naik angkot atau 10 menit sepeda motor (tapi kesalamatan tidak dijamin, sehingga ada dua kemungkinan tujuan, sampai di tempat interview atau di rumah sakit). Aku memilih alternatif yang paling aman, yaitu 15 menit naik visto (dengan ditemani marsupilami).

Sesampai di tempat interview, aku segera menemui seseorang dosen (yang modelnya seperti aku gambarkan di Interview with the…, kamu tahu seperti apa dia). Setelah duduk berhadapan dengannya, aku memperkenalkan diri: "Saya Windra, Pak" (sekali lagi, aku bukan orang terkenal, jadi perlu memperkenalkan diri).

Dia memandangku dari balik kacamatanya… Lalu bertanya dengan pandangan penuh kecurigaan "Kamu angkatan berapa?", "Saya angkatan laut, Pak… Eh, angkatan 96, lulus tahun 2000, Pak".

"Lama juga… Sudah berkeluarga?" Tidak jelas apa maksud pertanyaanku, dugaanku, dia mempunyai seorang anak gadis yang belum menikah. "Sudah Pak, istri saya 3, anak saya 4. Yang paling besar seusia dengan Bapak, jangan-jangan anak saya itu salah seorang teman bermain bapak waktu bapak kecil…?" Dia mengangguk-angguk kecewa… (sambil membaca berkas lamaranku) "kamu mengajar di Santo Yusup" (karena aku menulis surat lamaran dalam Bahasa Inggris, aku jadi sedikit menyesal tidak turut menyertakan terjemahan surat lamaranku… atau paling tidak melampirkan kamus Inggris-Indonesia ke dalam amplop lamaran). "Ya Pak, sejak tahun 97", "Oh, jadi begitu lulus sudah mengajar di sana". Kesimpulan yang ceroboh. Bagaimana mungkin aku yang masuk tahun 96 bisa lulus tahun 97? "Bukan Pak. Saya sejak SMP sudah mengajar di Santo Yusup…", "Oh, iya…!" (apakah salah jika sekali lagi aku berpersepsi bahwa dosen termasuk dalam golongan linglung?), "Santo yusup… emmm… itu di mana ya?" [gubraaakkk... aku langsung terjatuh dari kursi, lalu dengan sisa-sisa tenaga, aku merangkak untuk beristirahat pada sofa, sambil masih tersengal-sengal]. Lalu perlahan-lahan aku menjawab: "Saya yakin sekarang Beliau sudah di surga. Sebagai suami dari Bunda Maria dan Ayah dari Yesus, kemungkinan besar Santo Yusup sudah berada di surga Pak. Jadi jika bapak bertanya di manakah Santo Yusup berada, jawaban saya, beliau sudah berada di surga. Kalo yang bapak maksud adalah Pak Yusup, dia masih tetap tinggal di sebelah rumah saya Pak. Kabarnya dia sering menderita encok-encok di punggungnya" Dia mengangguk-angguk lagi, kemungkinan dia mencari Yusup yang lain dan bukan Pak Yusup tetanggaku (jika kalian tahu Yusup yang dicarinya, segera tuliskan di comment agar aku secepatnya menginformasikan kepada beliau).

"Pernah mendesain gambar di media cetak sebelumnya…?", "Pernah Pak. Saya mendesain BBC-Blessed Bussinessman Community, media iklan semacam Yellow Pages untuk gereja",

"Kalau media elektronik?" "Oh, kalau iklan untuk media elektronik saya lebih suka menjadi penonton Pak, biasanya saya menonton di iklan-iklan semacam itu depan televisi sambil makan kudapan Pak. Apakah bapak juga?"

"Ya kadang2, tapi saya lebih suka nonton acara utamanya daripada iklannya, bahkan…" Dia memandangku dengan serius… "saya tak segan-segan mengganti channel jika sedang iklan…!" Lalu dia melanjutkan, kali ini dengan lebih santai "Gini, sebenernya kita butuh dosen tetap untuk mengajar kuliah tentang pembuatan klip media elektronik…"

Kata "dosen tetap" dan "pembuatan klip media elektronik" sama sekali bukan kata2 yang enak didengar. Aturan pertama dalam prinsipku dalam bekerja adalah: "Jangan pernah mengikat aku dengan jam kantor dari hari senin sampai sabtu!!!" Aturan kedua, "Aku tidak suka bekerja di kantor dari jam 8 sampai jam 5 sore!!!" Aturan ketiga "Aku tidak mau bekerja di kantor 6 hari seminggu dengan jadwal rutin selama 8 jam kerja sehari" (itu sebabnya aku hanya mengajar di hari selasa, rabu, kamis, rata-rata hanya 5 jam per hari, itu sebabnya juga, aku lebih suka menjadi programmer atau penulis buku yang bisa mengerjakan pekerjaanku kapan saja, di mana saja. Salahkah itu?).

Jadi kata dosen tetap telah dengan telak menghancurkan cita-citaku yang mulia, yaitu mengubah image dosen yang tidak menarik, membosankan, berkacamata tebal dan agak-agak linglung. Mula-mula aku berpikir bahwa aku akan di-rekrut sebagai dosen dengan jadwal mengajar fleksibel. Tapi dosen tetap…? Maafkan aku Pak… Lalu kata kedua yaitu "pembuatan klip media elektronik" sama sekali di luar jangkauanku. Jangankan membuat "klip media elektronik", klip, temiti, dan isi steples aja sering ilang di meja kerjaku… Ini malah disuruh membuat "klip media elektronik".

Jadi begitulah akhir dari wawancanda itu. Tapi niat baikku untuk mengubah image dosen adalah tujuan yang mulia. Dia memintaku untuk menyerahkan klip, temiti dan isi steples yang hilang di meja kerjaku pada hari Selasa ini. Aku mengatakan untuk mencarinya… Walaupun kemungkinan aku akan membeli klip, temiti dan isi steples yang baru. Tapi setidaknya itu adalah bukti bahwa niatku untuk mengubah image dosen adalah sungguh-sungguh.

NB. Klip media elektronik… Kabarnya, orang-orang yang kerja di bidang advertising, periklanan butuh waktu 4 tahun untuk bener-bener jadi expert di bidang pembuatan klip (bikin iklan kayak di tivi2 gitu). Sedangkan hanya diberi waktu waktu 4 hari untuk buat klip gitu…

[buat semua pembaca blog... adakah yang bisa membantu aku untuk mencari klip, temiti dan isi steples sebelum hari Selasa minggu depan...?]

24
Oct

Interview With the …

Hari Kamis tanggal 27 Oktober, pada pukul 08:00 aku ada acara khusus, yaitu interview. Ada dua kemungkinan jika kamu di-interview. Kemungkinan pertama, kamu melamar kerja lalu dipanggil dan kemudian di-interview. Tujuannya agar pihak perusahaan semakin kenal dengan kamu.
Kemungkinan kedua, kamu adalah orang terkenal, orang yang punya sesuatu yang menarik yang bisa diekspos sehingga berita sekecil apapun tentang kamu dapat menarik perhatian publik. Misalnya saja, ketika Anjasmara berfoto bugil, langsung menarik banyak perhatian masyarakat (dan berbagai media ingin meng-interview-nya, ada apa di balik ke-bugil-an itu…). Dian Nitami, sang istri sama sekali nggak tertarik dengan foto bugil sang suami, Anjasmara… Jelas, bagi Dian Nitami, apa menariknya foto bugil Anjasmara? Lah wong dia udah sering liat aslinya…

Nah, kembali ke topik interview… Menurut kamu, kalo aku di-interview kira-kira masuk dalam golongan yang mana? Pelamar kerja ato orang terkenal?
Apa? Orang terkenal…? Oh, ya makasih kamu menganggap saya sebagai orang terkenal… Tapi itu nanti… Bukan sekarang.
Yah, okelah jika Anda ngotot menganggap saya sebagai orang terkenal. Saya menghargai hal tersebut, jadi jika Anda ingin meng-interview saya, silahkan message saya. Oke?
Interview yang akan aku hadapi hari Kamis ini karena aku termasuk dalam golongan pelamar kerja… Tapi ini nggak ada hubungannya dengan kenaikan BBM. Beneran! Kamu boleh tanya ke marsupilami jika tidak percaya (sekedar informasi, tubuh si marsupilami saat ini, terlilit oleh ekornya, entah siapa yang harus bertanggung jawab atas penyiksaan itu, yang jelas aku tidak pernah menyiksanya sesadis itu. Dugaan kuat si penyiksa marsupilami itu adalah salah satu dari tiga orang yang sama-sama makan di Ikan Segar Galunggung di hari minggu kemaren. Marsupilami memperkirakan jenis kelamin si penyiksa adalah perempuan!).

Nah, profesi yang aku lamar itu adalah profesi yang mulia, yang tidak semua orang terpanggil untuk menekuninya. Nama profesi itu adalah dosen… Kenapa aku ingin jadi seorang dosen…? Ada banyak alasan. Pertama karena dosen adalah sebuah profesi yang di-persepsikan dalam masyarakat sebagai: bapak-bapak berkacamata tebal, botak, tidak menarik, membosankan dan agak-agak linglung. Aku sebagai generasi muda, ingin mendobrak persepsi tersebut, yaitu dengan menjadi dosen yang muda, tidak berkacamata, tidak botak, menarik, tidak membosankan dan tidak linglung (boleh juga bila ditambah "imut-imut"). Semoga persepsi masyarakat dapat segera berubah ketika aku menjadi dosen.

Alasan kedua, karena dosen mengajar mahasiswa yang bisa diajak bekerja sama (maaf bagi para siswa-siswiku yang masih di bawah umur, tapi itulah kenyataannya, sayang…). Misalnya merekrut mahasiswa dalam proyek penulisan buku, adalah ide yang bagus. Mereka melakukan research dan memberikan laporan ke dosen. Dosen menuliskannya dalam sebuah buku yang dapat dibaca (dan dijual) di masyarakat. Apakah itu termasuk eksploitasi mahasiswa? Bukan, aku (kalo nanti jadi dosen) hanya berusaha mengembangkan talenta menulis mahasiswa (jelas hal itu tidak dapat dilakukan kepada para siswa siswiku saat ini, mereka masih terlalu kecil untuk diajak bekerja sama, nanti kalo udah gede baru boleh ya, anak2…).

Alasan yang ketiga kenapa aku mau menjadi dosen, adalah karena makanan kesukaanku adalah soto.
Alasan keempat karena hari minggu kemarin, aku, arie, freddy dan fanny makan di Ikan Segar Galunggung sampai kekenyangan.
Alasan kelima karena aku ingin nonton red eye tapi tidak kesampaian.
Alasan keenam, karena liburan seminggu idul fitri ini pengen aku memanfaatkan buat jalan-jalan ke gunung dan ke pantai.

Dari 6 alasan tersebut, jelaslah sudah kenapa aku ingin menjadi dosen.

[buat para dosen yang berkacamata tebal, botak, tidak menarik dan agak-agak linglung, jangan kuatir setelah saya menjadi dosen, persepsi masyarakat tentang Anda akan berubah 180 derajat]

NB. Adakah yang mau memberikan kalimat terakhirnya sebelum aku bener2 di-interview pada hari Kamis, 27 Oktober 2005…?

21
Oct

Imbas Kenaikan BBM

07014 Yang merasakan langsung dampak kenaikan BBM, raise your hand up…! [aku dan marsupilami segera mengangkat tangan - em, marsupilami mengangkat ekornya]
Dampak yang aku rasakan adalah harga tahu telor di sawahan (the best tahu telor in Malang), dari Rp. 3500 jadi Rp. 4000. Harga soto di jalan sempo, dari Rp. 3500 jadi Rp. 4000. Harga nasi goreng Al Yalu di Sukarno Hatta (the best nasi goreng jawa in Malang) dari Rp. 5000 menjadi Rp. 6000. Harga jus di depan poliklinik KOSAYU naik dalam kisaran Rp. 500-Rp.1000. Harga bensin (di semua pom bensin di Malang) naik dari Rp. 2400 jadi Rp. 4500… (Mohon partisipasi untuk mengisikan harga-harga yang naik di tempat makan favorit pembaca sekalian lewat link comment, tujuannya agar dapat saling bertukar informasi dengan pembaca yang lain)
Tapi ada yang nggak naik… (marsupilami kaget… seakan-akan nggak percaya bahwa ada yang nggak ikut naik). Harga pulsa mentari Rp. 100rb masih di bawah 100rb, harga pulsa simpati Rp. 100rb juga masih tidak melonjak menjadi 150rb atau 200rb, hal yang sama juga terjadi untuk provider simcard lain [marsupilami mengangguk-angguk tanda setuju]… Itu menunjukkan bahwa di tengah kenaikan harga BBM, ternyata para provider simcard tidak menaikkan harga voucher-nya. Tapi sebenarnya aku gak dapet keuntungan apa2 karena aku menggunakan kartu hallo (itu sebabnya, setiap kali ditelepon, kata pertama yang keluar adalah "Hallo…!" untuk menunjukkan bahwa aku menggunakan kartu Hallo, namun orang-orang suka curang - dan berpura-pura menggunakan kartu "Hallo" dengan mengatakan "Halo" setiap kali ditelepon, entah dia menggunakan Lippo, Mentari, Matrix ataupun Flexi, mereka selalu ingin dianggap menggunakan kartu hallo)

Ada juga yang harganya malah turun, yaitu harga diri. Sejak kenaikan harga BBM dan subsidi BBM dialihkan ke rakyat miskin, langsung jadi banyak orang meng-klaim bahwa dirinya miskin untuk mendapatkan kompensasi dana BBM. Tapi itu out of topic.

Nah, imbas kenaikan BBM tidak hanya sekedar urusan tarif makanan yang naik. Tapi juga berimbas kepada menurunnya daya beli buku. Setidaknya itu yang dikatakan oleh pimpinan redaksi PC Media, Anton R. Pardede dan Mas Arie ke aku beberapa waktu lalu. Sebagai seorang penulis, tentu itu bukan kabar gembira [marsupilami tidak peduli, karena dia tidak bisa membaca]. Dari pembicaraan kami terakhir (antara aku dan pimpinan redaksi PC Media, bukan antara aku dan marsupilami), aku sepakat untuk menulis 3 buah buku @240 halaman (total yang harus aku tulis adalah 720 lembar) dalam waktu 3 bulan. Buku tersebut akan dijual dengan harga sekitar Rp. 50rb (bagi yang memesan langsung lewat penulis, akan mendapatkan discount 10%). Ternyata imbas kenaikan BBM telah sedikit mengubah skenario. Setiap buku, di-pecah menjadi 2 seri (masing-masing 120 lembar). Tujuannya agar dapat dijual dalam batas harga psikologis masyarakat, yaitu Rp. 30rb. Tapi aku tetap harus menulis 720 lembar, hanya saja, bukan menjadi 3 judul buku, tapi 6 judul buku. Artinya, kualitas dari sebuah buku yang "hanya" 120 lembar, pasti jauh dibandingkan dengan sebuah buku 240 lembar. Kata penjual di Pasar Besar ato pasar Atom, "Onok rego, onok rupo", kalo pedagang di Mangga Dua bilangnya "Ada harga, ada rupa". Dan Rp.30rb untuk sebuah buku (dengan tebal 120 lembar), tidak bisa menunjukkan rupa sebagus buku dengan tebal 240 lembar… Aku sedih ketika tahu bahwa banyak buku teknik setebal 120 lembar, ternyata tidak berisi apa-apa, lebih-lebih jika buku setebal 240 lembar tapi isinya kosong melompong…  [sekali lagi, marsupilami tidak peduli dengan hal itu]

Tapi, intuisiku sebagai penulis tidak dapat dibatasi jumlah halaman. Untuk setiap halaman yang aku tulis, aku menuliskan dengan "gairah". Berapapun halaman yang ada… Dan, penyusunan kerangka ulang untuk masing-masing buku segera dikerjakan… masih dengan "gairah" yang sama ketika menyusun untuk buku dengan 240 lembar, masih dengan ditemani marsupilami yang tiduran di jok belakang, dan… masih dengan ingatan terhadap the-girl-who-still-remain.

[buat marsupilami, have a nice sleep, baby...]

20
Oct

The-girl-who-still-remain

Ini tentang I**a (lagi), the-girl-who-still-remain (minjem istilahnya JK.Rowling di Harry Potter). Knapa masih still remain walopun udah gak pernah kontak? Jangan tanya aku… Aku hanya menjalaninya… Ceritanya ini diawali dari…

24 Mei 2005 4:19pm: "km i**a ya? aku tau km dr friendster & dr virly (veve), boleh knalan…? (",)"

SMS pertama. Klasik, kuno. Semua cowok bisa melakukannya, bahkan dengan sms yang lebih indah. Tapi tidak semua cowok dibalas… Aku termasuk dari sedikit cowok yang mendapat balasan…

"Iya aku i**a. kmu siapa?tau dr virly yg mana ya?"

"virly yg sekelas ma km di mk agama. yg pernah ktemu di pangsit mie 51, inget gak? aku pas itu jg ma si virly (tp gak tau km, hehe..) aku windra. pernah denger?"

Windra memang gak terkenal (pasti orang lebih kenal SBY, tapi kalo aku bilang "aku SBY" I**a jelas gak bakalan percaya, itu sebabnya aku jujur, entah I**a pernah dengar namaku ato nggak).

"O gt.aku tau virly thp kan?aku dah lupa deh wkt ktm d 51. emang kmu anak thp jg?"

Itu tidak menjelaskan apakah dia sudah pernah dengan namaku ato nggak. Tapi rasanya memang dia gak pernah dengar namaku sebelumnya… Windra emang tidak terkenal, terutama di kalangan mahasiswa kedokteran… dan "thp" adalah nama jurusan (bukan nama gank seperti fct), kepanjangannya adalah teknik hasil pangan. Windra tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa jurusan thp.

"bukan thp, tp infor, hehe… gak nyambung yo? dah mari kul aku. km kedokteran ya? smtr piro skr?"

Lalu kami saling ber-SMS. Dan aku menelepon dia selama 8 menit. Itu hanya awalnya. Besok2nya adalah hari2 SMS dan telepon. Dan besoknya lagi, lagi, dan lagi… Sampai suatu saat tiba berhenti semuanya.

Jadi apa yang sedang terjadi saat itu? Gak tau.

Jadi apa yang aku rasakan saat itu? Gak jelas.

Jadi apa yang membuat aku still remain ke dia? Gak ngerti.

Jadi apa yang aku rasakan saat ini? Gak… Oh, aku tau. Kangen.

[buat the-girl-who-still-remain, ... will still remain...]

01
Oct

10% + 90% = 100%

Kalo misalnya menjalani hidup itu isa aku ubah dalam bentuk matematika, maka aku akan menuliskan bahwa kehidupan yang kita jalani itu adalah 100%. Apa maksutnya? Maksutnya, bahwa kita diberi anegurah ma Tuhan untuk menjalani hidup sebesar 100%. Tuhan nggak ngurangi 1% pun! Begitu kita lahir, maka hidup ini diberikan penuh 100% menjadi milik kita.

Laen ma hewan. Kalo kamu punya hewan peliharaan anjing ato burung, maka hewan peliharaan kamu itu gak isa menikmati 100% hidupnya. Knapa? Obviously, mereka gak isa mengambil tindakan terhadap "nasib" yang menimpa mereka. Seandainya anjing itu kamu kurung gak bole kluar dan gak kamu kasi makan, so what? (wiih, kejemnya) Kalo anjingnya isa ngomong, dia akan bilang, "Yaa… gimana lagi, nasib gue dapet majikan yang suka ngurung dan pelit minta ampun… Nasiiiibb ya nassiiib…"

Dogie Kalo anjingnya kamu sayang2, kamu mandiin tiap hari, kamu perhatikan makannya (bahkan kamu menemaninya kala dia melahirkan 6 ekor anak anjing yang lucu2), dianya juga "so what?". Seneng ya seneng… Tapi terus so what? Mo ngapain lagi… Hidup anjing kamu hanya sebatas  menjadi kesayanganmu (hidup anjing kamu 90% akan bergantung pada perlakukanmu sebagai majikan). Itu yang aku maksut bahwa hewan gak punya 100% anugerah kehidupan. In some cases, beberapa persen dari kehidupan mereka dikontrol oleh makhluk hidup yang lebih tinggi derajatnya. Wants another examples? Hidup seekor tikus akan dikontrol oleh kucing. Secara naluri, kalo ada kucing, tikus mending mati kelaparan di liangnya daripada keluar dan menjadi santapan kucing (ini jelas, kehidupan seekor tikus 50%-nya dikontrol oleh kucing).

Laen dengan manusia. Manusia itu bener-bener 100% enjoy! (minjem nama salah satu acara musik yang disponsori ma rokok yang berslogan "Enjoy aja!", entah apa maksudnya enjoy untuk sesuatu yang mengurangi umur). But… (I’m sorry to tell this), ada 10% dalam hidup kamu yang gak isa kamu kontrol. Loh, tadi katanya 100% milik kita? Iya, emang kita dikasi anugerah untuk menjalani hidup sebesar 100% (gak seperti anjing peliharaan yang hanya bisa pasrah pada nasib, ato tikus yang hidupnya tergantung pada seekor kucing). Nah, 10% ini adalah something yang unpredictable, accidentally, uncontrollable, out of plan, dan gawatnya there’s no way you can escape from it! Bingung?

Gini, pagi-pagi pas kamu sarapan, secara gak sengaja baju kamu ketumpahan teh karena kecerobohan adek mu. Itu jelas di luar kontrol kamu (dan kamu juga gak tau bahwa itu akan terjadi). Ato, pas kamu lagi jalan-jalan terus dompet dan hape kamu dicopet orang (nah, itu juga termasuk unpredictable). Ato, lagi enak-enak blajar eh, lampu mati sampe 10 jam! (itu juga di luar rencana dan gak isa dihindari). Nah itu dia yang aku maksud dengan 10% dari hidup kita yang gak isa dikontrol. Mau kasus yang lebih gawat? Anak yang terlahir dari orang tua yang mengidap HIV/AIDS, anak yang terlahir dari keluarga yang kekurangan, anak yang lahir cacat tanpa tangan / kaki (ato mengalami kecelakaan sampe tangan ato kakinya diamputasi), korban bencana alam di Aceh, Nias, Badai Katrina, Badai Rita, bom bali (yang ini baru aku update) dan banyak lagi. Jelas si objek tersebut nggak isa ngontrol hal-hal kayak gitu kan?

Seandainya  itu adalah pilihan, maka gak ada anak yang mau dilahirkan oleh orang tua yang mengidap HIV/AIDS, gak ada anak yang mau dilahirkan cacat tanpa tangan / kaki, gak ada orang yang mau tertimpa bencana dst… dst… Tapi karena itu bukan gak isa kita kontrol (bukan pilihan), ya harus dijalani. Itu maksutnya 10% yang uncontrollable. (Eniwei, selain kasus-kasus negatif, juga ada kasus positif yang gak isa kita kontrol, misalnya terlahir dengan multiple intellegence en talent yang luar biasa -like some of my students-, terlahir dengan talenta menulis yang luar biasa -like JK. Rowling-, terlahir sebagai cowok keren -like… me? ups, sorry, can’t find another example-. Nah, itu 10% positif yang uncontrollable. You have this uncontrollable 10% both positive and negative.

Eh, entar… Ini laen ma pacar loh… Punya pacar itu adalah pilihan (gak termasuk dari 10% yang gak isa dikontrol ini)… Gak mungkin kan pas kamu jalan-jalan tiba pas di tengah jalan kamu "tertimpa" pacar tanpa bisa kamu hindari… Lalu sampe rumah, kamu cerita mama papa, "Pa, aku tadi di jalan tiba-tiba dapet pacar… Ya gimana lagi, aku gak isa menghindari…" Kebayang nggak reaksi papa mama kamu denger ceritamu? Sekolah juga sama. Kalo kamu mo sekolah ato kuliah ato kerja, itu juga pilihan. Sesuatu yang isa kamu pilih, bukan 10% yang uncontrollable itu. Gak mungkin kan kamu tiba-tiba terdampar di sebuah sekolah ato univ ato tempat kerja (dan terpaksa harus menjalaninya pada hari-hari berikutnya…?) It’s a choice. Setuju bahwa hal-hal kayak gini adalah pilihan? Kalo setuju, teruskan baca. Kalo nggak stop baca, SEKARANG!

Jadi ada apa dengan 10% - 90% ini?
Since we can’t control the 10% of our life (although we have the life itself), the rest of it (90%) still under (our) control. Pheww…! Lega kan? Seandainya 100% hidup gak isa kita kontrol, ya jadi kayak wayang (yang ceritanya terserah si dalang), kayak bioskop (yang ceritanya tergantung si penulis skenario), gak seru banget menjalani hidup kayak gitu. Justru asyiknya menjalani hidup ini karena ada 90% yang bisa kita kontrol. Jadi, I’m gonna tell you really… really CLEAR about this!

Gak ada ceritanya hidup kamu itu sudah ada suratan yang gak isa diubah… Gak ada ceritanya bahwa kamu hidup dengan menjalani "nasib" yang sudah ditulis sebelumnya… Jangan percaya kalo ada yang bilang nasibmu jelek ato kamu ditakdirkan sebagai orang miskin (ato orang kaya), jangan percaya kalo ada yang bilang kamu gak bakalan punya pacar ato bakal suamimu (ato istrimu) nanti asalnya dari kota ini, itu, dan sifatnya gini, gitu… jangan percaya kalo karirmu nanti pasti di bidang ini itu… Jangan percaya deh. Kita kan punya 90% tadi yang bisa kita kontrol (dan karir, jodoh ato pacar, like I said before, adalah PILIHAN - tadi udah setuju kan bahwa hal-hal itu adalah pilihan, gak termasuk 10% yang uncontrollable…).

Jadi, mo diapakan 90% ini? Ya itu pilihanmu… Kamu punya hak sepenuhnya terhadap 90% ini. Mo ngapain aja, ya whatever! Loh, kok…? Kalo 10% adalah kejadian gak disengaja dan 90%nya adalah adalah pilihan, terus Tuhan ngapain dunk? Kalo 90%nya adalah pilihan kita, rasanya kok "GUE BANGET" (minjem salah satu nama acara di MTV)…? Terus kok kayaknya Tuhan ini cuman jadi penonton aja…? Gimana gak jadi penonton, lha 10%-nya kejadian yang uncontrollable, 90% tergantung dari pilihan kita, jadi bagian Tuhan cuman 0%…? Tumben si Windra jadi gak "ber-TUHAN" gini?

Hehe2… Gini… Pertama, 10% yang uncontrollable itu terjadi dengan seizin Tuhan. Kalo Tuhan nggak ngizinkan terjadi, there’s no way it can happen… Setuju kan? (sehelai rambutpun gak akan jatuh kalo Tuhan gak ngizinkan… Ini di ayat mana ya? Kalo tau tuliskan di comment dunk, biar isa aku update).

Success The rest 90%, yang menjadi pilihan kita emang terserah kita. Kalo misalnya kamu kena bencana alam yang menghabiskan seluruh anggota keluarga kamu (10% yang gak isa dikontrol), kamu masih punya 90%… Dengan 90% ini, kamu isa memutuskan untuk frustasi, marah ma Tuhan, patah semangat, gak mau hidup lagi (en finally bunuh diri)… ATO kamu meneruskan hidup kamu dengan semangat, antusiasme tinggi untuk start dari awal dan berjuang lagi…! Wiiih, kasusnya terlalu berat ni! Gini lah, kalo misalnya kamu kecopetan hape (10% yang gak isa dikontrol), kamu isa bersungut-sungut (dan bertanduk-tanduk terhadap si pencopet hape itu), jadi bete ke semua orang, cemberut setiap hari, gak smangat hidup lagi (gara2 kamu gak isa sms2an lagi) ato kamu isa merelakan hape itu, gak dendam ma si pencurinya, dan next time kalo kamu bawa hape akan lebih hati-hati (ini 90% yang isa kita pilih). Ato kalo kamu pagi-pagi mo brangkat skolah terus adekmu menumpahkan teh, ato saos ke baju seragam kamu (10% yang gak isa kamu kontrol), kamu bisa milih buat marah-marah ke adekmu, bentak2 sampe adekmu nangis, terus mengibarkan bendera permusuhan dengan adekmu, pasang tampang cemberut di kelas ato pilihan laen kamu isa senyum ke adekmu sambil bilang "next time ati2… sini tak bantui nuang saosnya", lalu kamu tetep berangkat ke skolah dengan hati ceria (90% yang isa kita pilih).  Kasus laen, kalo kamu lahir dengan multiple intellegence dan talent yang luar biasa (10% yang gak isa kamu kontrol), pilihan yang bisa kamu ambil adalah nyimpen talent yang kamu punya itu untuk kamu sendiri, kalo ada yang nanya ke kamu pura-pura gak tau, terus gak berusaha ngembangkan talenta yang dipunyai ato pilihan yang laen, kamu isa mengembangkan talenta kamu, memanfaatkannya buat hal-hal yang berguna (to make world to be a better place), ngajari anak2 laen yang gak isa…

Nah, itulah the power of 90%! So, Tuhan di mana? Everytime kita mo memilih buat the rest 90% itu, kita mesti melibatkan Tuhan. Nanya ke Tuhan, keputusan apa yang harus kita ambil… (for sure, DIA gak akan menjerumuskan kita). Masalahnya, saat kita nanya ke Tuhan, suara Tuhan gak audible buat kita dengar di telinga. Beneran…! Aku sampe saat ini juga blom pernah dengar suara Tuhan masuk di telingaku… (tapi ada juga beberapa orang bisa denger). Buat aku, Suara Tuhan itu masuk gak lewat telinga, tapi masuk ke hatiku. Ketika aku doa minta petunjuk ma Tuhan untuk keputusan (the rest 90%) yang harus aku ambil, Tuhan ngasih jawabnya. Sometimes, dijawab lewat suatu kejadian, sometimes dijawab lewat orang laen, sometimes Tuhan "naruh" jawabannya gitu aja di hatiku. Tapi, somehow, aku tau bahwa itu adalah suara Tuhan. Kok tau kalo itu adalah suara Tuhan…? Sederhana aja. Kalo kamu intim ma Tuhan, pasti isa mbedakan mana suara Tuhan dan mana yang bukan (kayak kalo kamu intim ma papa ato mama, pasti isa mbedakan mana suara papa/mama dan mana suara orang laen). Tuhan juga bekerja dengan cara itu. Kalo kita intim, akan gampang banget (peka) ndengerkan suara Tuhan buat memutuskan the rest 90% itu. Cara intim ma Tuhan gimana? Ya… itu! Kamu sendiri gimana caranya bisa intim ma papa/mama sampe isa mbedakan suara papa/mama ato bukan? Mesti gaul tiap hari kan? Ya sama kayak gitu cara biar intim ma Tuhan. Mesti bergaul tiap hari. Kalo aku, gaulnya dengan cara sering baca Firman Tuhan (so aku ngerti bagaimana pola Tuhan bekerja), sering berdoa (ngobrol2 ma Tuhan), sering baca buku-buku rohani, ke gereja tiap minggu buat praise and worship, buat ndengerkan kothbah (inti dari kothbahnya juga diambil dari Alkitab)… Dengan cara itu aku isa lebih kenal Tuhan, lebih intim en the most important lebih isa mendengarkan "suara"Nya.

Kamu tentu boleh-boleh aja memutuskan buat mengambil keputusan yang the rest 90% itu dengan caramu sendiri, berdasarkan pengalamanmu (ato pengalaman orang laen). That’s a choice juga loh. Sukur2 deh, kalo keputusan itu ternyata "kebetulan" sama dengan caranya Tuhan… Tapi kalo keputusan yang kamu ambil itu sampe salah, ya harus nanggung akibatnya. Kalo memutuskan sesuatu dari hikmat Tuhan, dijamin 100% gak bakal salah deh!

Nah, inti dari blog yang panjang ini pendek saja: karena 10% bagian dari hidup kita gak isa kita kontrol, maka do your best di the rest 90%-nya!

[buat temenku yang ngalami 10% negatif... That's not your fault bro... There's no way you can control it, or turn back time to fix it.  But, you still have the rest 90%, do the best with our almighty GOD!]