[gaya bahasa HIPERBOLA on]
Hari Kamis kemarin adalah hari Kamis yang indah. Bunga-bunga bermekaran di sepanjang jalan yang aku lalui. Udara yang sejuk dengan angin sepoi-sepoi yang turut mengantarku memasuki gerbang sekolah. Marsupilami nampak terkantuk-kantuk dari balik kaca jendela. Jam masih menunjukkan pukul 6:35. Namun beberapa anak terlihat terburu-buru karena belum menyalin pe-er. Padahal anak yang hendak dicontek pe-ernya, masih tertidur dengan nyenyak di kostnya. "Go… go… go…!" Teriakku "Mereka akan membunuh dan mencincang kalian kalo pe-er kalian kurang satu nomer saja…!" Dan anak-anak tersebut berlari terbirit-birit menuju kelasnya dengan wajah ketakutan. Aku tertawa terbahak-bahak!
Setelah memarkir mobil (dan tak lupa meninabobokkan marsupilami), aku menuju lab komputer. Mempersiapkan untuk pelajaran jam pertama TIK yaitu pengambilan nilai proses untuk materi cracking credit card. Siapa yang berhasil membobol credit card paling banyak, aku tidak segan-segan memberi nilai 100. Sedangkan uang hasil pembobolan credit card, akan dibagi berdua dengan adil, yaitu aku 95% dan anak tersebut 5%. Tambahan, jika sampai pihak kepolisian menangkap, maka si anak harus menanggung resikonya sendiri. Cukup adil…
Bel berbunyi tanda masuk. Para rusa, kucing, anjing, gajah, dan semut segera masuk ke kelas masing-masing. Tapi ketika aku hendak masuk ke kelas, tiba-tiba saja pintu kelas itu telah tertutup rapat. Partner-ku, Bu Lina yang sudah masuk kelas terlebih dulu, dikeluarkan tanpa ampun dari kelas tersebut diiringi dengan teriakan yang sayup-sayup yang terdengar di balik kelas "Kau tidak perlu berada di sini… Pergiiii dari kelas ini…! Pergiii sekarang jugaaaa…!"
Masih di dalam kebingunganku, Bu Lina keluar dari kelas tersebut. Lalu sambil terbata-bata mengatakan…
"A… A… Ada… Ra… Ra…"
"Ada rampok? Di dalam kelas ada rampok? Bagaimana nasib anak-anak? Apa mereka dijadikan sandera? Apa tuntutan mereka?" Tanyaku bertubi-tubi. Tanpa pikir panjang, aku segera menelepon 911. Agen Mulder dan Scully dari FBI juga segera aku kontak agar secepatnya menuju ke SMAK Santo Yusup Malang, Indonesia. Tak lupa CIA, KGB, LAPD, SWAT, datasemen 88, tim gegana POLRI, serta beberapa preman pasar Blimbing juga aku hubungi. Yang terakhir, aku hanya sekedar menanyakan kabar mereka saja, tanpa ada maksud mengundangnya.
"Ada… Ada… Ra… Ra… Razia!" Akhirnya Bu Lina berhasil mengatakan kalimat tersebut. "Oooo… Hanya sekedar razia." Sahutku lega. Nanti jika para aparat keamanan itu sudah datang, aku akan mengatakan bahwa hanya ada razia kecil. Dan mereka boleh kembali, tentu aku akan memberikan uang rokok kepada mereka.
Aku mengamati dari balik jendela, kalau-kalau ada di antara mereka yang mencoba bunuh diri daripada malu dirazia. Tapi ternyata tidak ada. Sehingga, aku dan Bu Lina memutuskan untuk berjalan-jalan di taman di samping deretan kelas XI IPA 2, 3, 4, X-I, dan X-J. Di taman tersebut, kami dapat berjalan-jalan dengan bebas, saling bercerita tanpa ada gangguan dari pihak lain.
Tapi tahukah kalian apa yang terjadi ketika kami berada di taman tersebut? Sebuah buku dan CD terserak di sana. Belum sempat kami mengobrol, sebuah kotak dilempar dari jendela kelas XI IPA 4. Hei…! Itu sangat mengganggu acara jalan-jalan kami! Dengan penuh kecurigaan, Bu Lina mendekati kotak tersebut. Aku mengingatkan Bu Lina agar benar-benar waspada!
"Apa sebaiknya kita menunggu tim penjinak bom, Bu?" Saranku. Bu Lina mempertimbangkan sebentar, lalu "Tidak perlu Pak. Jika ini bom, seharusnya sudah meledak ketika dilempar tadi." Benar juga, pikirku. Bu Lina segera memungutnya, lalu dengan hati-hati dibukanya kotak tersebut. Ternyata isinya… uang… uang… uang… lembaran $100! Emas, permata, berlian…!
[ups... maap2, gaya bahasa hiperbola tidak dapat dibendung!].
Ternyata isinya adalah ponsel Nokia 6***. Aku benar-benar heran, selama aku punya ponsel sejak tahun 1997, tidak sekalipun aku membuang ponsel, teman-temanku yang lain juga sama. Mereka tidak pernah membuang ponsel, apalagi dibuang ke taman. Membuang bungkus permen sering.
Akhirnya, kami tidak jadi berjalan-jalan di taman itu. Kami kuatir, next time yang dilempar bukan ponsel, tapi batu! Jadi kami memilih berjalan-jalan di tempat lain. Barang-barang hasil buangan yang ada di taman tersebut aku bawa. Kami berkeliling-keliling melihat kehebohan yang terjadi sebelum akhirnya kami berpisah. Aku ke Lab komputer, dan Bu Lina berjalan-jalan di taman lain.
Tanpa ada maksud mengganggu privasi orang lain, aku menyalakan ponsel tersebut. Tujuanku, mencari tahu pemilik ponsel tersebut. Identitas pemilik ponsel biasanya ada di welcome screen, foto walpaper, atau di foto album. Ternyata di welcome screen tidak ada petunjuk, foto walpaper juga idem. Membuka album atau inbox sms pastilah dapat diketahui siapa pemiliknya. Tapi itu sesuatu yang sangat pribadi, aku menimbang-nimbang apakah aku begitu urgent untuk mengetahui siapa pemiliknya dengan membuka foto album atau inbox sms.
Tiba-tiba, segerombolan anak dengan tampang sangar masuk ke lab komputer ketika HP tersebut di tanganku. Tanpa mengetuk pintu, tanpa permisi, mereka tiba-tiba saja berada di depanku. Lalu mencekik leherku untuk berusaha mengambil alih ponsel tersebut. Aku berteriak, meninju, menendang, dan mati-matian mempertahankan ponsel tersebut.
"Serahkan ponsel itu!" Katanya. "Serahkan atau…" Lalu ada suara "Klik" di belakangku. Suara pistol yang diaktifkan. Perlahan-lahan aku menoleh. Ternyata dia mengklik mouse yang terletak di sampingku. Klik… klik… klik… klik… "Horeee… Aku menang!" Ternyata dia sedang bermain minesweeper. Pheww… Aku kira itu tadi suara pistol.
"Gini…" Kataku sudah mulai tenang. "Kamu coba tanya Bu Lina. Soalnya tadi Bu Lina yang ngambil. Rasanya nggak bijak kalau aku ngasih ponsel ini ke kamu tanpa persetujuan Bu Lina. Kalo Bu Lina ok, ponselnya pasti aku kasih ke kamu lagi."
Gerombolan itu segera meninggalkan aku sendirian. Ponsel itu aku kembalikan ke kotak, aku masukkan ke brankas kecil. Brankas kecil itu aku masukkan ke dalam brankas sedang. Brankas sedang itu aku masukkan ke dalam brankas besar. Tak lupa aku menguncinya. Aku merantai seekor anjing bulldog dan herder di dekat brankas tersebut. Lalu aku mencari Bu Lina untuk berunding.
Ketika aku bertemu dengan Bu Lina, kami mulai berunding apa yang sebaiknya kita lakukan terhadap ponsel tersebut. Beberapa alternatifnya, yaitu: dijual dan uangnya dibagi dua, minta uang tebusan kepada pemiliknya, didermakan ke panti asuhan, dikembalikan ke pemiliknya. Kami segera berunding, berdiskusi, berdebat, adu argumentasi, saling mempertahankan pendapat, ngotot, berbantah-bantahan, saling ancam, menggebrak-gebrak meja, menjungkirbalikkan komputer, mengadu ilmu, mengeluarkan jurus pamungkas. Dan akhirnya kami sepakat untuk memberikan ponsel tersebut ke sekolah dengan pertimbangan bahwa SMAK Kolese Santo Yusup masih belum mempunyai ponsel. Jadi semoga sumbangan ponsel itu dapat memperlancar jalur komunikasi yang selama ini masih menggunakan telepon biasa.
Kami memang tidak punya pilihan selain memberikan ponsel tersebut ke sekolah. Gerombolan tadi, jelas-jelas tahu bahwa ponsel tersebut telah berada di tangan kami. Apa mungkin kami yang ada di bawah naungan sekolah memberikan begitu saja ponsel tersebut sementara sekolah melakukan razia ponsel? Gerombolan tadi, pasti tidak akan tutup mulut jika kami mengembalikan ponsel tersebut ke pemiliknya. Berita bahwa kami mengembalikan ponsel yang seharusnya dirazia, pasti tersebar ke seluruh Indonesia, lalu seluruh dunia akan segera menyiarkan lewat breaking news, dan akhirnya sekolah akan tahu juga. Bagaimana pandangan sekolah terhadap kami, jika sekolah tahu bahwa kami tidak mendukung kebijakan sekolah dengan mengembalikan ponsel yang seharusnya di-razia? Kami tidak punya pilihan.
Seandainya (mari kita berandai-andai).
Pada saat itu si pemilik tidak melempar ponselnya, tapi menitipkan ponsel tersebut, maka kami dengan tanpa banyak pertimbangan dan perdebatan, dapat mengembalikan ponsel tersebut setelah pulang sekolah. Pada tatibsi, yang ditulis adalah "Dilarang membawa HP ke sekolah", tidak ada aturan "Dilarang menitipkan HP". Jadi jika kami menerima titipan HP dan mengembalikan HP tersebut pada pemiliknya ketika si pemilik tidak berada di lingkungan sekolah, kami tidak melanggar aturan.
[peluang bisnis: dicari lokasi di dekat sekolah untuk dibuka stand penitipan ponsel. Biaya penitipan cukup 5rb/minggu. Jika dalam seminggu ada 1000 anak yang menitipkan ponsel (baik SMP dan SMA), berarti dalam seminggu dapat meraup 5jt, sebulan 20jt. Setelah beberapa bulan, ponsel dapat dibawa lari dan membuka toko ponsel sendiri]
Dalam hatiku, aku sebenarnya lebih lega memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya. Soalnya aku tahu gimana rasanya kehilangan ponsel. Jadi gak isa sms-an. Harus kontak ke semua orang bahwa nomer kita yang lama sudah gak aktif (padahal nomer telepon ada di phonebook). Semua nomer penting ilang. Mesti mikir buat beli nomer lagi, buat beli ponsel baru (yang biasanya beli ponsel yang lebih jelek ketimbang ponsel yang lama). I know how it feels. It su*ks.
(Tips garink: backup lah selalu nomer2 penting yang ada di phonebook. Bisa diketik di Ms-Word kalo kamu gaptek. Ato kalo mo canggihan, pake kabel data, install software pc-suite untuk menghubungkan ponsel ke komputer, lalu gunakan fasilitas backup yang ada. Contact me for detail. Biaya konsul murah meriah, USD $10/menit).
Btw, berikut adalah tips dan trik jika ponsel kamu telah di razia:
1. Mencoba tawar-menawar dengan pihak sekolah untuk mempersingkat penahanan ponsel. Cara kasar, gunakan ancaman untuk meledakkan sekolah dengan bom jika tuntutan tidak dipenuhi. Modal: Rp. 300,- untuk menelepon sekolah dari wartel. Cara halus, bertemu dan berbicara baik-baik dengan yang berwenang. Modal: Pasang tampang yang membuat orang yang melihat jatuh kasihan ke kamu. Tip: jangan makan selama 3 hari 3 malam, setelah hari keempat, Anda akan mendapat tampang yang diinginkan.
2. Mencoba mengambil nomer ponsel tersebut. Cara kasar dengan membobol lemari penyimpanan, modal yang dibutuhkan linggis atau palu godam. Tip garink: Lakukan di malam hari. Cara halus dengan bernegosiasi apakah mungkin bahwa kartu ponsel diambil (sementara ponsel biarlah tetap disita). Jika masih tidak berhasil, mintalah pada pihak sekolah untuk selalu memelihara nomer tersebut dengan cara: setia mengisikan pulsa setiap bulan agar nomer tidak hangus.
3. Sebarkan selebaran lewat helikopter bahwa nomer kamu sudah tidak aktif lagi (jika perlu ceritakan kronologis bagaimana kamu kehilangan ponsel tersebut, siapa tahu ada yang terharu lalu membantu kamu dengan cara tip 1 & 2), jangan lupa menyertakan pada selebaran itu nomer yang saat ini kamu pakai sehingga mereka tetap dapat mengontak kamu.
4. Kobarkan semangat kepada teman-temanmu untuk selalu membawa ponsel di sekolah. Jika terjadi razia lagi, setidaknya kamu punya banyak teman yang dirazia ponselnya sehingga tercapai asas keadilan dan merata. Sama rata sama rasa (yaitu rasa kehilangan ponsel)
[serius mode on!]
5. STOP self pity! STOP menyesali diri! STOP membela diri! STOP jengkel dengan aturan sekolah! STOP marah ma orang laen! Gak ada untungnya nyesel, jengkel, marah… Rugi banget kalo waktunya diabiskan buat marah2, jengkel, nyesel… Gak ada gunanya prasaan gitu dipiara! MULAI cari alternatif laen buat meredakan kejengkelan (beli ponsel en kartu baru).
(Nah, kasus gini ini loh yang aku maksudkan di blog 10%-90%. 10% uncontrollable-nya: ponsel kena razia, trus 90%-nya? Hmm… Kamu yang putuskan! Sama juga kayak yang di topik "Bubur Ayam Spesial", nasi udah jadi bubur, so bikin "bubur ayam spesial" aja…).
[buat kamu yang minta kronologis razia ini diceritakan, begitulah kronoligisnya. Tapi tidak semua yang kamu baca itu bener... Loh, entar. Itu kan iklannya...?]
Recent Comments