Archive for December, 2005

29
Dec

What Can I Do (The Corrs)

Rekor dalam sejarah penulisan blogku… Empat posting berturut2, dalam kategori yang sama dan dalam waktu kurang dari seminggu… Yap, blog ini masuk dalam kategori "All About the-girl-who-still-remain" (dulunya kategori itu namanya "All about I**a" tapi kayaknya aku harus jaga privasi dia dengan nggak menuliskan namanya secara langsung. Ada seorang cewek yang bilang ke aku kalo dia bakal ngerasa risih seandainya dia adalah the-girl-who-still-remain. Waktu itu aku argue bahwa apa yang aku tulis sama sekali nggak menjelek2an the-girl-who-still-remain dan… stelah aku pikir2 lagi, dengan pertimbangan bahwa blog ini di-hit ratusan kali [dan masih akan di-hit terus], I think I should really keep her privacy. Don’t you think so girls?)

Btw, aku udah sembuh dari sakit kmaren. Sakit itu cuman bisa bertahan 1 hari dalam tubuhku… Hehe2…

Ok, kalo ini sinetron, episode ini adalah episode yang nggak enak buat tokoh Windra. Ada perkembangan? Yap, stelah berbulan2 nggak pernah ada kemajuan apapun, skarang ada. Miracle on that Christmas adalah perkembangan. Fakta bahwa the-girl-who-still-remain udah punya pacar juga termasuk perkembangan cerita ini (yang message aku dengan "smoga ada perkembangan ma the-girl-who-still-remain"… Your wish is granted, yaaa… walopun gak seperti yang diharapkan). Tapi, guah akan menuliskan ceritanya dalam jayus mode… Biar kalian nggak terlalu larut dalam kesedian yang guah rasakan.

Sore2 tadi, ketika adzan magrib masih terdengar sayup2, tiba2 papi masuk ke kamarku tanpa mengetuk pintu. Aku lagi ndengerkan MP3-nya Petrus Agung dengan earphone di telinga (bagi yang nggak tau siapa Petrus Agung, just information, dia bukan penyanyi). Papi bilang sesuatu… Tapi gimana aku bisa denger kalo ada earphone di telingaku? Aku nggak denger jelas… Tapi membaca gerak bibir tidaklah terlalu sulit… Intinya papi mo jalan2 ke matos dan mami juga ikut. Dan aku? Ya2… I know, jadi sopir… (for years since I was a kid, papi jadi sopirku, en… yah, I think now is my turn… Whereever you want to, dad!).

Sesampai di matos, kejutan sudah menanti.

Kami masuk ke hipermart. Aku ngambil keranjang… And… as you might guess, after become a driver, I become a servant yang siap bawakan barang-barang belanjaan (for decades since you were kid, your parents have served you dengan tulus… Everytime you have a chance to serve your parents -seberapa pun kecilnya itu-, do that dengan tulus! Kamu nggak akan pernah menyesalinya. Malah kamu akan nyesel kalo kamu terlanjur gak punya kesempatan untuk itu, you know what i mean…?).

Surprise-nya jelas bukan karena aku jadi "pembawa-barang-belanjaan". Bukan…

[gaya bahasa gaul = ON; jayus mode = ON ]
Pas guah bawa keranjang kosong ituh, guah liat dia. Iyah, itu diah… the-girl-who-still-remain. Sekilas, sekelebat… Di antara kerumunan orang2. Tapih guah yakin ituh dia. Bonyok (bokap-nyokap) belok ke rak2 sayuran. Lalu milih2 sayur… Sebelum guah merhatiin diah dengan detail, guah pesen samah bonyok agar santai2 aja milih2 sayurannya, nggak usah terburu2, kalo milih sayur yang seger2, yang nggak layu, yang warnanya ijo, yang banyak mengandung vitamin… Dan tak lupah guah ingetkan agar di-test duluh sayurnya apakah mengandung formalin ato nggak… Laluh guah jelaskan bahwa formalin adalah zat pengawet yang dalam dosis rendah bisah bikin sakit perut, dan dalam dosis tinggi bisa bikin awet sakit perut. Tak lupah guah jelaskan bahwa ituh juga salah satu esensi zat pengawet yaitu mengawetkan apapun, termasuk mengawetkan penyakit. Bonyok cuman mengangguk2 mendengarkan penjelasan anaknya sambil menahan tangannya untuk nggak menjitak guah yang sok pinter inih…
"Jadih papih… mamih…" kata guah dalam gaya menggurui seperti kalo lagi mengajar "kaloh milih sayur ituh, mesti merhatikan situasi dan kondisi… yang pertamah adalah harga… Harga ituh penting… Kaloh mamih bisa beli sayur bayam di pasar dengan harga 1000 dapet dua iket, maka seyogyanya, mamih bisa menawar harga sayur di matos inih dengan harga 1000 dapet tiga iket… mamih ngerti? Ada yang mau ditanyakan? Nggak? Ok, lalu yang keduah, sayur ituh penting buat kesehatan. Sayur yang dimasak terlalu lama, dapat menyebabkan vitamin yang adah di dalamnya larut di dalam air… "
Satu menit kemudian, terlihat adegan guah dijitak ma bonyok guah…

Lalu guah menutupi wajah dengan berpura2 membaca brosur iklan, mengenakan kacamata hitam, mengenakan topi ala SHerlock holmes untuk menutupi benjolan akibat jitakan bonyok tadi, lalu berjalan mengendap2 di antara rak2 roti… mengamati dua sosok ituh.

Dalam jarak 20 meter, guah bisa ngeliat diah dengan jelas. Diah jalan samah cowok. Cowok ituh pake kaos item sementara guah pake kaos abu-abu (gak penting banget yak?). Diah sendiri pake baju model… sori guah nggak bisa mendeskripsikan… guah bener2 buta tentang mode baju cewek… Diah masih kayak waktuh pertama guah temui di Bunga Bali cafe… Modis dan elegan. Rambutnya nggak sepanjang terakhir guah ketemu bulan Mei duluh, tapih modelnya masih tetap. Dibelah pinggir… Dan diah emang lebih pantes dibelah pinggir seperti ituh…
Cowoknyah itu bawa keranjang yang sama persis dengan keranjang yang guah bawa. Apa diah nggak punyah keranjang laen…? Mereka menuju ke kasir. Tampaknya mereka ituh sudah selesai belanjah (sedangkan guah baru belanja). Mbak di kasir tersenyum dengan ramah dan guah melihat dengan mata kepala sendiri mereka bergandengan tangan (the-girl-who-still-remain dengan cowok ituh, bukan dengan Mbak di kasir).

Guah speechles lagi. Trembling. Jantung guah berdetak dengan lebih kenceng tanpa bisa guah kontrol. Sebenernya sejak pertama kali ngeliat diah di antara kerumunan orang, jantung guah udah berdetak dengan lebih cepet… Ketiga kalinya dalam hidup guah, guah ketemu dengan dia. Dua kali di Bunga Bali Cafe dan sekali di sini. Bedanya, waktu di bunga bali cafe, diah ngobrol dengan guah, tapi yang guah liat sekarang, dia nggandeng cowok laen. Ituh perbedaan yang signifikan buat guah.

Waktu guah ngeliat diah bergandengan ma cowok ituh, jantung guah berdetak dengan lebih cepet. Ditambah lagih guah trembling dan speechles. Guah bener2 nggak kepingin diah ngeliat guah dalam keadaan kayak ginih… Kamuh bisa bayangkan tampang guah waktu ituh nggak? Bayangkan Sinchan, lg liat seorang cewek dengan pakaian minim… Dengan pandangan mata mesum memandang cewek itu dan air liur yang menetes2, lengkap dengan benjolan di kepala akibat dikemplak mamanya. Seperti itulah guah waktu itu, dengan mengurangi bagian "pandangan mata mesum dan air liur yang menetes2". Kebayang?

Guah kembali ke tempat di mana bonyok masih sibuk memilih sayur. Lalu papih mandang guah, sambil bawa wortel dengan pandangan "Di-rumah-masih-ada-wortel?" Guah balik ngeliat papih dengan pandangan "Mana-guah-tau-di-rumah-ada-wortel-apah-enggak" Guah noleh ke mami, berusaha mencari jawaban… Dan mamih mandang guah dengan pandangan "Ada-tapi-tinggal-sedikit". Lalu papih mandang kami berdua dengan pandangan "Oke-kita-beli-wortel" sambil memasukkan sebungkus wortel ke dalam keranjang yang guah bawa.

Guah bener2 tergoda buat ngeliat sekali lagih (ngeliat the-girl-who-still-remain, bukan ngeliat wortel). Guah maju beberapa langkah, dalam jarak aman dan ngeliat diah yang masih di kasir dengan pandangan "jadi-benar-kamuh-udah-punya-pacar?" Dan, guah nggak dapet jawabannya. Guah ganti ngeliat cowoknya dan memandangnya dengan pandangan benci "jadi-bener-kamuh-pacarnya-the-girl-who-still-remain"? Sekali lagih, guah nggak dapet jawabnya. Harapan terkahir, guah ngeliat Mbak kasirnya dengan pandangan "Mbak-mereka-ituh-pacaran-yah?", sia-sia… Guah juga nggak dapet jawabnya. Kesimpulan guah, hanya keluarga guah yang punya kemampuan mengadakan tanya jawab hanya lewat pandangan… Orang laen nggak ngerti.

Sebuah lagu lamanya the corrs muncul di kepala guah (dan orang2 terkejut melihat teks2 lagu itu muncul begitu saja di atas kepala guah)…

what can i do to make you love me…
what can i do to make you care…
what can i say to make you feel this…
what can i do to get you there…

(Kaloh kamuh nggak pernah tau lagunya, jangan coba2 menerka nadanya…!)

Lalu sampe di rumah, waktuh guah nulis blog inih, guah nyetel MP3-nya The Corrs ini, dan nyatet liriknya (kalo ada salah2 tolong di-ralat, maklum masih telinga Indonesia). Ternyata liriknya pas banget yak dengan keadaan guah?

 

I haven’t slept at all in days
(sebenernya sih guah abis tidur pas papih ngajak guah ke matos…)

It’s been so long since we’ve talked
(nah, kalo ini bener… pembicaraan terkakhir kita ituh bulan Juni lalu, [antara guah dengan the-girl-who-still-remain, bukan antara guah dengan the-corrs])

I’ve been here many times
(apane seng many times…? guah cuman ktemu muka tiga kali)

I Just don’t know what i’m doing wrong
(persis! kayak yang guah tulis di blog "Ada yang salah… Tapi apa?")

[ref:]
what can i do to make you love me…
(aku mesti gimana yak?)

what can i do to make you care…
(bikin dia care… how? dengan nulis ucapan terimakasih di semua buku guah, is it gonna work? girls, is it work for you?)

what can i say to make you feel this…
(bikin dia ngerasakan apa yang guah rasakan… how? bisa, kalo diah baca smuah blog "yang-kayaknya-nggak-mungkin-banget-dibaca-dia-karena-dia-nggak-suka baca"…)

what can i do to get you there…
(get there itu mana yak?)

There’s only so much I can take
And I just got to let it go
(apa iyah mesti guah lepasin smuanya?)

And who knows I might feel better
(yakin tah kalo guah lepasin bakalan lebih baik?)

If i don’t try i don’t hope
(guah udah coba, masalahnya dia masih still-remain)

[ref]

No more waiting, no more aching
(guah masih waiting… dan betul… ada aching yang guah rasakan)

No more fighting, no more trying
(guah mo fighting buat diah dan guah mau trying…)

Maybe there’s nothing more to say
(nggak! guah masih kpingin ktemu ma diah)

 

And in a funny way I’m calm

Because the power is not mine.
I’m just gonna let it fly…
(tapi guah akan berjuang…)

- end -

[Buat the-girl-who-still-remain, dan blog inih masih buat kamuh...]

NB. Guah mesti blajar dari suhu.
Guah salut dengan proses yang kamuh jalani, dari tgwsru sampe jadih tgwinmg…! (i was wondering kaloh ituh spirit dari "tetap bersemangat…")

28
Dec

Hardest Blog I’ve Ever Write

Ini blog yang paling sulit buat aku tulis… Pertama, karena aku dalam keadaan shock. Kedua, karena aku masih dalam bayangan kedasyatan film Kingkong. Ketiga, karena aku serasa seolah2 terguncang2 dalam genggaman si Kingkong… Aku dalam keadaan pusing, pening… Aku merasakan pegalnya punggung sampe leher belakangku seperti orang yang baru saja pushup 60 kali (padahal suer, seperti hari2 biasanya, aku hanya pushup 40 kali, I was wondering darimana tubuhku merasakan 20 kali sisanya?). Badanku panas, I can feel it bahwa ini adalah suhu yang tidak normal untuk badan seorang Windra. Dinginnya hawa di luar karena hujan gerimis, tidak membuat aku kedinginan… Aku merasa suhu tubuhku di atas rata2, dengan tambahan bonus punggung yang pegal2 dan kepala yang pening.

Shortly, aku sakit… Aku ngerasakan gejalanya sejak pagi tadi, sejak berangkat ke dieng plasa buat nonton kingkong ma arie en susan, sepanjang 3 jam pemutaran film kingkong, sepanjang perjalanan pulang ke rumah, sampe aku tertidur di balik selimutku (ouch, another dejavu), sampe sebuah SMS yang menggetarkan HP-ku (and vibe my heart, my soul as well…).

"malem pak!… [bla2]". Sender: ****, +6281xxxx (strictly protecting the information source’s privacy. She calls me "sir" doesn’t mean that she’s my student. She’s my friend, a very nice friend…). The-girl-who-still-remain baru punya pacar.

Yap, SMS itu adalah informasi bahwa The-girl-who-still-remain baru aja punya pacar… Satu letupan kepeningan aku rasakan di kepalaku. Shock.

"wadoh… speechless aku bu. what can i say? but i’ll fight for her even aku nggak tau gimana caranya". Message sent.

"ya keep on fighting aja.hehe…itulah pesan sponsor hr ini.pacare tuh anak bali-menado.kta e pdkt ne wis lama.yah maaf deh pak.kyake ini bad news ya…". Sender: ****, +6281xxxx

Another explossion in my head. Still shock. Kepegalan di punggungku meningkat dari perasaan baru push-up 60 kali, menjadi 100 kali. Suhu badan rasanya juga ikut2an meningkat (i think i should take a rest from those daily workouts for few days).

Speechless… speechless… I’m stop typing this blog. Merenung… merenung…

[hei, somehow... i got my Spirit back! where have You been...? I've been looking for You...]
Btw, live must go on. Aku gak boleh stuck in this sick body and shock mind like this. What did I call for this situation? Emm… "Self-pity" mode…? Oh, poor me! I just did it I guess…

I must learn to more "DO-trust-HIM" in every sphere of my life.

Like Psalms said: "The LORD is my strength and my shield; my heart trusted in HIM, and I am helped: therefore my heart greatly rejoiceth; and with my song will I praise him." (TUHAN adalah kekuatanku dan perisaiku; kepada-Nya hatiku percaya. Aku tertolong sebab itu beria-ria hatiku, dan dengan nyanyianku aku bersyukur kepada-Nya)

IF she’s not for me, THEN why should I cry mightily onto GOD asking her for me…?

IF she’s the one for me, THEN who can stop HIS plan? [another IF-THEN statement, like I always did years ago in most of my computer programs! Hei, see? you can implement IF-THEN statement in your daily life!]

Hmm… what I DO need now, is direction from HIM. Talk to HIM, and listen carefully to HIS guidance… I do trust that HE’ll guide me, no doubt… And, you know the good news? HE knows exactly what are the best for me (and for you too if you do trust HIM…)

In fact, this wasn’t the hardest blog I’ve write like I said in first sentence. Like Stella said, "sweet SMS = sweet post?" and for me the "unsweet SMS = …" well, I still can write nice post kan? =D

[buat the-girl-who-still-remain: why do I (still) hear that very small voice, deeply in my heart... very deeeep... It says, 'Go...! Fight for her...! You deserve it!'" Should I ignore that voice?]

25
Dec

There’s (still) Miracle On Christmas!

[paragraph 1]: Like I said (and believe), there’s always miracle on Christmas… I’m expecting for it and I got one! Couldn’t say a word when I got it. Speechless… Speechless…

Christmas 2005, 9:10pm, Bingo resto.
[paragraph 2]: Kami bertiga baru pulang dari kebaktian natal yang panjang. Aku, Arie dan Susan. Where’s the other FCTs? In case you forgot, they’re all already in relationship. Jadi mereka merayakan natal bersama pasangan masing2. Susan dan Arie juga, tapi mereka adalah pengikut "pacaran-jarak-jauh"isme, which is not work well for me.

[paragraph 3]: If you notice on my previous postings about the-girl-who-still-remain, you might know that the-girl-who-still-remain is still remain and still… not respond to my SMSes.

[paragraph 4]: Dari tanggal 24 kemaren sampe jam 9 malam ini, aku sudah mengirim ucapan selamat natal via SMS sekitar 60 SMS dan menerima SMS kurang lebih 50 SMS (hoi…! guah tekor, jack!). Sebagian besar SMS dalam bahasa Inggris, ada yang dalam bahasa Indonesia dan satu SMS dalam bahasa Perancis… Iya! Perancis…! (masih struggling mencari artinya…!) Entah dari mana si sender dapet SMS itu…

Empat paragraf di atas, saling nggak nyambung. Read them again… Cari benang merahnya… Cari kira2 apa yang akan menjadi arah posting ini… Tentang miracle? Yup jelas…! Tapi apa?

Benang merah

Hingga jam 9 malam ini, aku hampir lupa bahwa di hari natal selalu ada keajaiban dari Tuhan… Yang kpikir, bahwa aku kpingin menikmati apa yang udah aku pesan di Bingo Resto ini, "meat-lover-pizza" and "fruity-float"… (Fruity float looks very yummy comparing to "es-teh-tawar", my fave drink). Dalam penantian "meat-lover-pizza" dan "fruty-float" ada beberapa SMS ucapan selamat natal yang "baru-tiba" dan… aku inget, aku blom ngasih ucapan slamat natal ke "seseorang-yang-seharusnya-aku-beri-ucapan".

Guess who?

ke the-girl-who-still-remain! Bukan nggak inget… She’s even on my TOP of the list "orang-yang-HARUS-aku-beri-ucapan-selamat-natal!" She’s on my first priority! Tapi sampe jam 9 malam ini, masih juga blom aku kasih ucapan selamat… Tau knapa?

Aku nggak bisa menemukan ucapan selamat yang paling cocok dan yang paling baik buat dia (apa ini bawaan dari sisi melankolis? berusaha memberi yang terbaik?). Kalo kamu di posisiku, kamu tau apa yang aku maksut…

Ngambil salah satu dari 50 SMS ucapan selamat itu? Fine, tapi kayaknya much better kalo made by me.

"Merry XMas 2 u, may this Xmas brings u a new purpose, direction, hope, blessings and closer …[bla2...]" 149 characters. Send: +6281655xxxx (9:30pm)

Should be delivered on few secs. Pesanan datang. Kami makan. Aku yang pertama kali selesai. (9:48pm, it tooks 18 minutes to hit "meat-lover-pizza" and "fruity-float) I looked at my HP. Two messages. Should be only one, delivery report. Kok ada dua message? Is it from her?

Satu delivery report. [deleting...]

Satu message from +6281655xxxx (9:33pm)
"I meet PeAcE..JoY..HealtH…[bla2]" Veryyy sweet SMS. Kalo misalnya itu bukan dari the-girl-who-still-remain, aku tetap akan terkesan dengan isinya… dan ini dari the-girl-who-still-remain…

Speechless… speechless…

[Buat the-girl-who-still-remain, very2 sweet SMS... that's the most impressive Christmas greeting I received on this Christmas... en, yup...! There's (still) Miracle On Christmas! You just did it to me, girl! =D ]

22
Dec

Ada yang salah… Tapi apa?

Ini tentang the-girl-who-still-remain. Rasanya memang ada yang salah. Kemungkinan aku telah melakukan "apa-yang-tidak-seharusnya-dilakukan" ke dia… Dan masalahnya, aku nggak tau apa itu.

Sejujurnya, selama ini I pretend that everything is fine. Ketika aku telpon dan nggak diangkat, aku berpikir "Oh, dia lagi sibuk". Ketika dia nggak bales SMS-ku sekali dua kali, aku berpikir "oh, dia lagi gak punya pulsa". Ketika dia gak pernah bales semua SMS-ku, aku berpikir "Oh, mungkin dia mikir bahwa SMSku gak terlalu penting buat dibales." Dan, aku berusaha masuk ke alam pikiran itu. Maksutku, ada periode ketika aku mengirim banyak SMS dengan kategori "tidak-perlu-dibalas" seperti itu (SMS Firman, SMS lucu, SMS informasi)… Dan memang nggak pernah dibalas… Jadi, pikiranku, tanpa rasa bersalah bilang, "Loh, aku kan emang ngirim SMS nggak penting buat dibales, jadi wajar kan kalo nggak dibales?" Itu adalah usaha meng-cover ketidakwajaran yang terjadi. Tapi ada suara kecil (yang berusaha nggak aku dengarkan) yang bilang, "Ah, jujur ajah bahwa kamu gak brani ngirim SMS yang serius, SMS yang butuh jawaban… Kamu takut gak dibales kan? That’s why kamu sembunyi dengan ngirim SMS-SMS yang gak penting buat dibales."

Honestly, itu yang bener. Aku itu takut menghadapi kenyataan bahwa apapun SMS yang aku kirim, baik butuh jawaban maupun nggak, gak pernah direspon ma the-girl-who-still-remain. Itu kenyataan yang selama ini berusaha aku tutupi dengan mengirimi selalu ngirim SMS "tidak-perlu-dibalas". Rasanya itu reaksi wajar ketika kamu menghadapi penolakan (berusaha berpikir bahwa kamu nggak ditolak dan membuat seribu alasan yang menunjukkan bahwa kamu sebenernya nggak ditolak). Hari ini aku mengirim SMS yang butuh jawaban (aku nanya jam berapa ibadah natal di gerejanya, ada temenku dari luar kota yang mau ibadah di sana). SMS itu delivered. Tapi sampe malem ini, still no reply. Kesimpulanku adalah "dia memang nggak mau bales SMS-ku." Ok, masih tetap ada kemungkinan lain, misalnya nomer itu sudah dipakai orang lain ato hp dia error dan nggak bisa buat ngirim SMS ato dia lagi sibuk… terus lupa bahwa ada SMS yang harus dibales, ato mungkin dia akan bales besoknya… Kemungkinan2 itu selalu ada.

Tapi yang paling aku rasakan (dengan akomulasi kejadian2 yang lalu) adalah bahwa dia memang males buat bales SMSku. Aku jadi mikir, kalo seandainya aku melakukan hal itu ke orang lain (ngacangin dan gak mau bales SMS) kira2 apa latar belakang bahwa aku sampe ngelakukan hal itu? Yah, nggak isa disamakan juga… Cuman yang aku tahu, aku sudah melakukan "apa-yang-tidak-seharusnya-dilakukan" ke dia. Dan itu adalah alasan mengapa dia nggak perna ngerespon aku. Tapi itu apa? Tindakanku yang mana yang termasuk dalam "apa-yang-tidak-seharusnya-dilakukan"? Seandainya "apa-yang-tidak-seharusnya-dilakukan" itu UNFORGETABLE dan UNFORGIVEABLE buat dia, at least let me know what it is (ato what they are), so I don’t do the same thing(s) anymore to the other girl(s). It’ll be very… very… expensive experience for me. Obviously, apa yang udah aku lakukan ke dia sampe dia nggak ngerespon lagi, adalah bukan kesengajaan… Apalagi sampe aku lakukan ke the-girl-who-still-remain, nggak mungkin…

Maybe, after all what i’ve done to her, (the blog I write just to express the way i feel bout her, writing her name in all my books), stelah semua itu… perhaps… dia tahu bahwa aku sama sekali nggak pernah bermaksud untuk berbuat "apa-yang-tidak-seharusnya-dilakukan" ke dia.

[buat guah... *sedang merenung, berusaha menyimpulkan apa yang sudah terjadi selama ini dengan pikiran yang terbuka*]

20
Dec

Klub Hati-Yang-Melayani

Susahnya punya hati yang melayani.

Kenapa aku bilang susah? Kalo kamu punya hati yang melayani, itu bagus. Tapi repot. Kamu jadi ngerasa nggak enak untuk menolak sesuatu yang kliatan baik. Ya, okelah, kamu bisa langsung bilang nggak untuk sesuatu yang jelas2 melanggar aturan ato yang nggak kamu suka. Tapi untuk hal2 yang kliatannya baik, kamu jadi susah buat bilang nggak.

Contohnya gini, dulu waktu ada International Praise and Worship Seminar (IPWS) yang pertama, aku dapet bagian di sekretariat dan pendaftaran. Termasuk menjaga front office untuk melayani pendaftaran ulang para peserta. Pas hari H-nya, ada orang yang dateng, bilang kalo dia blom daftar dan dia pengen ikut. Kami, waktu itu bilang bahwa pendaftaran sudah tutup beberapa hari yang lalu dan kami cuman ngelayani pendaftaran ulang bagi yang udah daftar. Dengan argumentasi bahwa dia datang dari luar kota dan seterusnya, akhirnya kami mengalah dan memberikan formulir pendaftaran kepada orang tersebut.
Gawatnya, berikutnya datang lagi orang dengan kasus serupa, bahkan kali ini dari luar propinsi. Dan sekali lagi kami tidak dapat menolak. Lalu datang lagi, lagi, lagi, lagi… Dan setiap kali, kami tidak bisa menolak. Apalagi jika mereka mengatakan “Saya ingin diberkati dengan lagu dan pujiannya” (masak orang ingin diberkati kami tolak), “Saya ingin upgrade kemampuan saya, agar bisa praise and worship lebih lagi buat Tuhan” (masak orang yang ingin memuji Tuhan dengan lebih lagi harus kami tolak), dan banyak alasan lain yang membuat kami tidak punya pilihan selain mengatakan, “Ya udah Pak. Tolong isi formulir dulu ya.”

Sampe-sampe, temenku Lily mengatakan, “Kita ini repot ya. Sebagai pelayan Tuhan, kita ini dibentuk dengan hati yang melayani. Jadi susah kalo mau nolak.” Aku setuju, lalu berpikir mungkin sebaiknya yang berada di front office sebaiknya orang yang mampu untuk menolak dengan tegas. Bukan kami-kami yang punya hati “nggak tega-an”.

Nah, kasus di atas, memang bukan kasus yang bisa terjadi setiap hari. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, kasus dengan jenis kayak gini bisa terulang dalam cerita yang berbeda. Misalnya, kamu punya komputer. Lalu ada temen kamu dateng, minjem komputer kamu buat ngetik tugas yang besok harus dikumpulkan. Inilah susahnya kalo kamu punya hati yang melayani. Susah buat menolak. Membantu temen jelas sesuatu yang baik. Jadi kamu memperbolehkan dia masuk ke kamar kamu dan minjem komputer kamu (tentu saja, privasi kamu sedikit terganggu oleh dia). Udah minjem komputer, ngeprint-nya juga minjem printer kamu lagi, skalian kertasnya. Jadi temenmu bener-bener efisien, sekali dateng, tugas selesai sampe nge-print-nya.

Atau kasus lain. Temen kamu cerita kalo kucingnya lagi sakit parah, anjingnya tertabrak mobil dan ikan koi-nya tiga hari yang lalu mati karena dimakan oleh kucingnya yang sekarang lagi sakit itu, lalu hati kamu tergerak karena kasihan. Kamu jadi ingin ngasih uang belasungkawa atas hewan-hewan peliharaannya.  Ok, fokusnya bukan pada kucing, anjing dan ikan koi-nya. Tapi pada kamu yang jatuh kasihan sehingga kamu ngasih sesuatu ke temenmu.

Atau kasus lain lagi. Temen kamu yang lagi butuh uang, dateng ke kamu. Dengan talenta verbal yang dia miliki, dia menceritakan kisah sedihnya, lalu menipu daya kamu sehingga kamu gak tega ma dia.

Kalo kamu punya prinsip bahwa kamu nggak mau ngasih pinjeman uang, ya masalahnya beres. Kamu bisa bilang ke temenmu bahwa kamu punya prinsip bahwa kamu nggak mau minjemin uang ke siapapun (lalu bisa jadi temenmu bilang, “Ya kalo gitu gak jadi minjem, minta aja deh…” Gak tau malu banget yak dia?).

Yang jadi masalah kalo kamu punya hati yang melayani yang nggak tega melihat keadaan temenmu. Nggak punya kuasa buat nolak. Nggak enak kalo nggak bisa membantu meringankan kesusahan dia. Jadi sungkan sampe akhirnya kamu minjemkan uang kamu ke temenmu. Kalo emang kamu punya uang lebih, ya gak papa. Tapi kalo kamu sampe ngebela-belain (dengan minta ke ortu, dengan minjem ke temen kamu yang laen) demi temen kamu yang satu ini, rasanya kok terlalu berlebihan ya…?

Ada lagi kasus-kasus yang sejenis. Misalnya kasus yang sederhana, temen kita mo
curhat, tapi kitanya lagi mo blajar ato lagi ngobrol-ngobrol ma kluarga ato lagi makan. Mau nggak didengerin itu kok ya dianya lagi butuh pendengar… Tapi kalo didengerin kok ya dianya nggak perasaan, ngomooonggg teruuuss, gak ada berentinya… Dan bisa ditebak kalo kamu punya hati yang melayani, kamu pasti berusaha menyenangkan hati temen kamu dan mengesampingkan kepentingan kamu. 

Ato kamu dimintai tolong temen kamu buat ngerjain tugas dia yang harus dikumpul besok, sedangkan dianya hari ini … (titik-titiknya bisa diisi macem-macem, misalnya ada acara keluarga, lagi sakit, sibuk shopping, sibuk maen game, lagi males dan seterusnya). Dan lagi-lagi, kamu nggak sanggup buat berkata “TIDAK”.

Sering nggak kamu ngalami kayak gitu? Ketika kamu terpaksa harus berkorban demi temen, mengesampingkan kepentinganmu sendiri demi orang lain hanya karena kamu nggak sanggup bilang “TIDAK”. Hanya karena kamu punya “hati yang melayani”. Hanya karena kamu ngerasa bahwa dia adalah satu2nya temen baek kamu. Hanya karena kamu … ke dia (titik2nya bisa diisi dengan kata: naksir, jatuh cinta, respek, kagum)

Kalo kamu seperti itu, jangan kuatir. Kamu nggak sendirian. Selamat datang di klub “Hati yang melayani”. Sebuah klub di mana para anggotanya terdiri dari orang-orang yang:

  1. Merasa bersalah jika tidak dapat membantu orang lain.
  2. Merasa kalo bukan dia yang membantu, lalu siapa lagi.
  3. Tidak sanggup berkata “TIDAK” ketika ada teman yang butuh pertolongan.
  4. Memberikan diri untuk selalu siap membantu.

Aku termasuk anggota klub “Hati yang melayani”. Bahkan sejak SMA, kuliah sampe aku lulus kuliah dan berprofesi sebagai pengajar, programmer dan penulis. Waktu masih kuliah, aku sering jadi sasaran untuk membuat tugas. Dari yang minta diajarin sampe (dengan tanpa rasa sungkan) minta dibuatkan. Dan karena dasarnya aku nggak bisa menolak, aku jadi meluangkan waktu banyak untuk melayani temen-temen yang kayak gitu. Seringkali sampe mengorbankan kegiatan-kegiatan pribadiku. Dan, kita emang nggak hidup dalam sebuah perfect world di mana semua orang mempunyai pikiran yang sama dengan kita. Beberapa orang, setelah aku mengorbankan waktuku dengan mengajari mereka (atau membantunya dalam mengerjakan tugasnya), tidak pernah mengingat hal itu lagi. Seolah-olah, itu adalah sesuatu yang memang seharusnya aku kerjakan (tebak2an garink: apakah kepribadian orang yang gampang melupakan jasa orang lain? A. Sanguin B. Kolerik C. Melankolis D. Plegmatis). Dan percayalah, menurut pengalamanku sebagai anggota dari klub “Hati yang melayani”, kamu bakal banyak menemui orang-orang seperti ini dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang dengan gampang melupakan apa yang telah kamu kerjakan buat dia. Orang yang nggak pernah mengingat segala hal yang udah kamu korbankan buat dia (oke, kamu bisa mencatat itu sebagai pertimbangan untuk keluar dari klub “Hati yang melayani”).

Ketika lulus kuliah dan menjadi programmer, aku masih tercatat sebagai anggota klub “Hati yang melayani”. Ini gawat, karena konsekuensi dari jawaban “IYA” menjadi sangat panjang. Contoh kasusnya, aku membuat program penggajian (istilah kerennya payroll) di suatu company. Dalam surat kontrak kerja, aku punya batasan bahwa yang aku buat sampe pada laporan ini, itu, dan seterusnya. Ternyata, dengan berjalannya waktu, company tersebut (orangnya) butuh pengembangan laporan yang udah ada, dan meminta aku untuk memodifikasi program. Sebagai anggota dari klub “Hati yang melayani”, aku bilang “Oh, iya. Bisa Pak… Saya akan kerjakan secepatnya.” Ternyata konsekuensi dari kalimat itu, nggak semudah ketika aku mengucapkannya. Aku harus menyediakan banyak waktu untuk itu. Jadwal kerja yang udah disusun sebelumnya jadi nggak cocok lagi ketika disisipi sebuah pekerjaan yang seharusnya nggak masuk dalam daftar. Jika tidak mau kacau, maka salah satu alternatifnya adalah dengan memotong waktu tidur. Nah repot kan?

Dalam profesiku sebagai pengajar juga sama saja. Ketika ada muridku meng-SMS tentang materi yang nggak dia mengerti, aku “harus” (mengingat aku adalah anggota dari klub “Hati yang melayani”) membalas SMS-nya dan berusaha menjelaskan apa yang tidak dimengerti. Nampaknya normal, aku sedang menjalankan tanggung jawabku sebagai seorang pengajar. Hanya tolong mbok ya diingat (terutama murid-muridku tersayang yang sedang membaca blog ini), aku mengajar 10 kelas dan mempunyai 480 siswa tahun ini (dan totalnya ribuan kalo dihitung dari tahun-tahun yang lalu). Kamu bisa bayangkan jika 10% saja dari mereka yang bertanya, dan aku harus menjelaskan lewat SMS setiap kali mereka bertanya. Setiap anak (dengan asumsi tingkat kecerdasan dari yang setingkat protozoa sampai dengan yang setingkat Einstein), bisa menghabiskan 1-20 SMS per anak. Belum lagi anak-anak yang ingin curhat via SMS, ato bahkan anak-anak yang iseng (dengan SMS garink nan basi, "Halo cowok, bole knalan…?"). Kamu bisa hitung, berapa anggaran untuk SMS yang harus aku siapkan demi menjadi anggota dari klub “Hati yang melayani” ini.

Nggak cuman itu. Ketika temen-temen kamu tahu bahwa kamu adalah anggota dari klub “Hati yang melayani”, well… Kamu mesti siap-siap bahwa ada temen-temen kamu (ya, temen-temen kamu sendiri!) yang “tega” untuk memanfaatkan kamu (ini dari pengalamanku juga sebagai anggota klub).

Nah, benerkan kalo aku bilang di awal paragraf, “Susahnya punya hati yang melayani.”

Jadi gimana?

Terus terang itu juga jadi pertanyaanku. Apa aku harus keluar dari klub dan selalu menyiapkan diri untuk berkata “TIDAK” untuk semua yang meminta tolong kepadaku?
Eh, bisa minta tolong?
Wah, maaf, saya sudah keluar dari klub Hati yang melayani. Saya sekarang anggota dari klub Hati-yang-tidak-melayani. Mau saya kenalkan dengan teman saya yang masih menjadi anggota klub Hati yang melayani?

Atau,
Eh, bisa minta tolong?
Lalu aku mengeluarkan kartu nama yang bertuliskan, “Tidak menerima pelayanan dalam bentuk apapun tanpa seizin RT/RW setempat.

Atau,
Eh, bisa minta tolong?
Waduh… tolong saya sudah habis, kemarin tinggal satu dan diminta sama Joko. Besok kali ya saya beli beberapa.

Nggak, aku sampe sekarang masih menjadi anggota klub. Satu lagi ciri anggota klub “Hati yang melayani”, yaitu perasaan senang ketika bisa melihat apa yang kita lakukan untuk orang lain, ternyata bisa mendatangkan kebahagian untuk orang tersebut (yang belom pernah jadi anggota klub Hati-Yang-Melayani, nggak akan bisa mendapatkan perasaan kayak gini!). Misalnya, kalo aku bisa ngeliat muridku berprestasi karena waktu yang udah aku spend buat dia… Perasaan bangga dan seneng ituh yang nggak bisa aku dapat dari keanggotaan di klub yang laen.

Perasaan senang tersebut, nggak bisa dibeli dengan uang, nggak sama dengan perasaan senang yang didapat ketika nonton film favorit kita, nggak sama dengan perasaan senang yang didapat ketika kita makan makanan favorit kita. Itu salah satu yang membuat aku bertahan sebagai anggota klub ini.

Tapi inget deh. Kita harus punya skala prioritas siapa-siapa yang perlu kita dahulukan. Kita harus berani buat bilang nggak kalo emang itu nggak sesuai dengan skala prioritas kita. Kalo nggak gitu, pasti semuanya jadi kacau dan bakal kita sendiri yang repot. Misalnya, kamu perlu nganter mama belanja, terus temen kamu butuh curhat. Siapa yang kamu dahulukan? Temen ato mama? Keliatannya sama pentingnya.
Ato, hari minggu kamu harus ke gereja ibadah terakhir, tapi ada sodara yang perlu dijaga di rumah sakit. Kemanakah kamu?
Ato, besok lagi ada ulangan dan kamu blom belajar sama sekali, lalu pacar kamu minta ditemeni ngobrol… Apa yang kamu lakukan?

Nah, itu pentingnya skala prioritas.
Setelah bertahun-tahun menjadi anggota klub, aku belajar untuk mengatur skala prioritas siapa dan apa yang harus didahulukan. Karena dulu blog ini blom pernah ada, jadi aku trial and error (coba-coba) untuk mengatur skala prioritas ini (coba kalo udah ada yang nulis blog kayak gini, pasti aku nggak bingung-bingung banget buat nentukan skala prioritas ini). Dan akhirnya jadilah skala prioritas (dan aku harap, dengan sedikit modifikasi, jadi cocok buat kepentingan kamu).

Prioritas pertama adalah Tuhan. Ketika kamu dihadapkan pada pilihan untuk melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hadapan Tuhan, ketika kamu dihadapkan pilihan yang membuat kamu melanggar ketetapan Allah, nggak sesuai dengan Firman Tuhan, apapun alasannya, demi siapapun, kamu harus menolaknya dengan tegas. Contoh kasusnya, kamu harus mencuri uang untuk menolong temanmu (ato bahkan untuk membantu orang tua). Mencuri jelas melanggar Firman Allah, dan kamu harus prioritaskan Tuhan di atas temen kamu (bahkan keluarga!). Walopun dengan alasan membantu temen ato demi keluarga, kamu nggak bisa kompromi untuk melanggar Firman Tuhan. Prioritas pertama adalah Tuhan (cek di Keluaran 20:1-6 dan Markus 12:30)

Prioritas kedua adalah keluarga. Setelah meletakkan Tuhan di prioritas paling atas, prioritas berikutnya adalah keluarga. Yang dimaksud dengan keluarga adalah orang tua dan saudara kandung (dengan tambahan istri ato suami kalo kamu sudah merried). Misalnya mama kamu lagi perlu bantuan kamu dan temen kamu perlu curhat ma kamu, maka menurut urutan prioritas, berikan waktu kamu untuk mama (keluarga). Karena teman adalah prioritas di bawah keluarga.

Prioritas ketiga adalah pekerjaan / studi. Dalam beberapa kasus, prioritas kedua dan ketiga sangat tipis batasnya, sehingga dapat saling dipertukarkan. Misalnya ketika kamu blom blajar dan mama kamu minta ditemeni jalan-jalan. Karena menurut kamu prioritas kedua adalah keluarga, maka kamu lebih memilih jalan-jalan ketimbang belajar (kebetulan nih!). Dalam kasus ini, yang lebih utama adalah studi.

Prioritas keempat adalah pacar. Pacar di sini, jelas nggak termasuk dalam anggota keluarga (karena kalian blom merried, kalo udah merried, berarti prioritasnya naik menjadi prioritas kedua). Walopun kamu deket ma pacar kamu, tapi mesti inget bahwa ada tiga prioritas yang harus lebih kamu dahulukan, yaitu Tuhan, keluarga dan studi. Kasusnya, mana yang kamu pilih, ngelakukan sex before marriage (dengan alasan demi menyenangkan pacar kamu) ato taat ma Tuhan? Menurut skala prioritas, kamu harus mendahulukan Tuhan. Ato, pada kasus ketika kamu harus menyelesaikan tugas sekolah kamu ato harus menemani pacar kamu yang  lagi be-te? Menurut skala prioritas, kamu harus mendahulukan studi kamu.

Prioritas kelima adalah teman. Teman berada di bawah Tuhan, keluarga, pekerjaan / studi dan pacar. Menurut pengalamanku, beberapa yang lebih mementingkan temannya dibandingkan pacarnya, mengakibatkan si pacar marah-marah (biasanya para cewek) dan akhirnya putus. Itulah pertimbangan mengapa teman prioritasnya diletakkan di bawah pacar.

Ada satu prioritas lagi yang dapat kita tempatkan di bawah studi (tapi tidak punya aturan yang pasti harus diletakkan pada urutan ke berapa, ini tergantung dari kamu). Yaitu pelayanan  kepada Tuhan. Pelayanan Tuhan itu nggak sama dengan Tuhan! Misalnya, kamu nggak pernah belajar gara-gara kamu sibuk dengan pekerjaan di gereja. Kamu jadi nggak punya waktu buat keluarga karena kamu sibuk latihan nge-band ato jadi panitia di gereja. Itu nggak bener. Pelayanan kamu, harus tetap mendahulukan tanggung jawab terhadap Tuhan, keluarga dan studi. Tapi, kamu boleh meletakkan di atas pacar (jika kamu dan pacar kamu saling setuju dan nggak keberatan), ato kamu letakkan di bawah prioritas pacar dan temen kamu (jika memang kamu nggak begitu tertarik dengan pelayanan, karena emang nggak semua terpanggil buat melayani). Buat aku (yang ngerasa terpanggil buat ngelayani Tuhan) pelayanan Tuhan ini aku usahakan buat diletakkan pada prioritas di bawah pekerjaan.

Namun pada beberapa kasus yang sangat gawat, memang  urutan prioritas ini nggak mutlak (tapi bahwa Tuhan diletakkan paling atas, itu mutlak!). Misalnya temen kamu lagi kecelakaan dan butuh pertolonganmu, padahal kamu lagi nemeni pacar kamu belanja. Yah, dalam kasus ini, kamu nggak perlu terlalu kaku untuk menerapkan bahwa pacar prioritasnya berada di atas temen. Kasian temen kamu…

Jadi, sebagai sesama anggota klub “Hati yang melayani”, aku bisa menasihati kamu untuk selalu menjadi anggota klub yang baik dengan memperhatikan skala prioritas.
Dan, ngomong-ngomong tentang skala prioritas, dengan semakin dewasanya kamu, maka susunan prioritas ini menjadi semakin banyak. Kalo kamu udah punya anak, maka ada perbedaan prioritas antara anak dan istri / suami (walaupun sama-sama keluarga), lalu ada tambahan prioritas kebutuhan seksual (kalo udah merried), ada tambahan prioritas karir/cari duit, ada tambahan prioritas rekreasi/liburan. Makanya, sekarang harus mulai belajar baik-baik gimana ngatur prioritas. Kalo dari yang sedikit aja kamu masih nggak bisa ngatur, gimana dunk nanti kalo udah tambah banyak prioritasnya…? Pusing kan?

[buat  para anggota klub “Hati yang melayani”, blajar ngatur prioritas mulai dari... Sekarang! En buat the-girl-who-still-remain, tau nggak kamu ituh aku letakkan di prioritas yang mana?]

17
Dec

Christmas Story, What The Bible and Priest Never Tell You!

Ini kisah natal yang aku jamin, gak pernah diceritakan di gereja ato dikotbahkan…

***

Episode 1: Pesan Berantai…!

Hari masih sore, belum lagi terlalu gelap.

Nampak seekor domba mengendap-endap keluar dari kandangnya. Menoleh ke kiri dan ke kanan, takut kalau2 oom gembala memergokinya bahwa dia sedang keluar kandang. "Mbeeekk…!". Tiba-tiba kakinya terantuk batu. Sadar, bahwa teriakannya dapat membuat sang oom gembala melakukan inspeksi ke kandang, domba itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Lalu, perlahan-lahan, masih dengan mengendap-endap, ia melanjutkan pelariannya.

Tapi tiba-tiba, "Hei…!" Teriak oom gembala yang tiba-tiba muncul. Domba itu terkejut. Pura-pura tidak mendengar teriakan si gembala. "Kamu!" Sekali lagi, domba itu pura-pura tidak merasa bahwa dirinya yang sedang dipanggil oom gembala. Domba itu menoleh ke kiri dan ke kanan, kalau-kalau ada domba lain di sekelilingnya. "Ya, kamu yang lagi tolah toleh itu…! Kamu Joko kan? Ngapain kamu di situ…?". Teriak oom gembala.

"Duh… ketangkep basah nih…" Pikir domba yang ternyata bernama Joko itu…
"Mbeeeek…" [saya tersesat oom...] Kata domba Joko.
"Tersesat… tersesat…! Kamu kira saya jadi gembala baru kemaren sore apa sampe isa ditipu domba jelek kayak kamu? Asal tau aja ya, bapak saya itu gembala yang punya 252 ekor domba, kakek saya juga seorang gembala yang punya 364 domba, bapaknya kakek saya adalah ketua RT dari para gembala setempat dan kakeknya kakek saya adalah seekor domba…! Jadi, jelek2 gini, saya ini masih keturunan domba! Kamu mau kencan ke kandang sebelah kan…?"

"Yaaah… ketauan…" Pikir Domba Joko. "Tadi mah udah janjian ma Domba Tini pas di padang rumput… Aku mau ngapelin dia… Tapi apa boleh buat, terlanjur ketauan… Balik kandang aja deh…"

"Sana balik kandang…!" Teriak oom gembala.

"Mbeeekk…" [iya oom...] Sahut Domba Joko dengan pasrah.

Domba Joko mencari akal untuk menyampaikan kabar bahwa dia nggak bisa dateng ke Domba Tini yang sedang menunggunya. Akhirnya,  dari inspirasi salah satu kuis di TPI yang sering ditontonnya, domba Joko menyampaikan pesan berantai yang disampaikan dari domba ke domba untuk Domba Tini. Tapi yang belum diketahui domba Joko, adalah bahwa para domba adalah ternak yang punya kecerdasan sedikit di atas level kecerdasan protozoa, sehingga akurasi pesan tidak dapat dipercaya.
Berikut skenarionya:

Domba Joko ke domba Karno: "Eh, tolong bilang ke Tini yah, aku nggak bisa dateng ke kandangnya hari ini soalnya ketauan oom gembala. Besok aja, ketemuan di padang rumput. I miss you, Tin!"

Domba Karno ke domba Sugiarti: "Eh, pesen dari Joko buat Tini, dia nggak bisa dateng ke kandangnya hari ini. Joko lagi sakit ketularan oom gembala. Oom gembalanya panuan sih… Ketemunya besok aja, di bawah pohon. I miss Tin, you!"

Domba Sugiarti ke domba Jono: "Eh, pesen dari Joko buat Tino, dia nggak bisa dateng hari ini, soalnya lagi menjenguk oom gembala yang lagi sakit panu. Besok janjian mau ketemu ma oom gembala di bawah pohon. Ada film layar tancep Tintin di Laut Merah katanya. Ikut nonton yuk!"

Domba Jono ke domba Harun: "Eh, kata Joko besok ada layar tancep. Tintin di Laut Merah. Jadi besok bisa nonton bareng-bareng… Jangan lupa bawa popcorn dan minuman."

Domba Harun ke domba Murni: "Eh, kata Joko besok berlayar ma Tintin di laut Merah. Terus bawa popcorn dan minuman. Emang di laut gak ada yang jual popcorn yak? Ngomong2 loe isa renang nggak?"

Domba Murni ke domba Suratman: "Eh, gue lupa pesennya apaan yaak?"

* Bletaak…! * Domba Suratman menjitak kepala domba Murni (dengan harapan domba Murni bisa mengingat kembali pesannya).
"Mbeeekk…!" Seru domba Murni, kesakitan.

***
Episode 2: Firasat Domba Roki

Sepanjang sore hingga menjelang malam, Domba Tini menunggu di kandang. Berpikir yang tidak2.
"Joko jelek itu pasti selingkuh dengan Nini…! Pasti! Tadi aja Nini udah tebar2 pesona di depan Joko. Dasar Nini kegatelan! Awas loe berdua yaaa…!"

"Mbeeekk…!" Domba Roki, yang sok Jakarte mengembik tepat di sebelah telinga Domba Nini.
"Dooh, apaan sih Rok? Brisik banget…!" Protes Tini.
"Ni, loe ngerasa laen nggak malem ini?"
"Laen apaan?"
"Ya, kayaknya malem ini malem yang nggak biasa. Firasat gue bakal ada kejadian gede…"
"Kejadian apaan sih? Ngaco loe Rok!"
"Eh, sumpe Ni… Firasat gue kalo hal ginian tajem loh… Loe inget kan waktu temen kite Doni mo disembelih buat kurban? Siape coba yang ngerasa duluan? Kan gue…"
"Eh, bener juga… Emang loe ngerasa apaan Rok?"
"Gue ngerasa kita bakal kedatengan tamu…"
"Maksut loe, tamunya oom gembala?"
"Bukan… tamu kita…"
"Oooo… Kita dapet kunjungan dari domba-domba RT sebelah ya?" Tanya Tini dengan bloon-nya.

* Bletaak…! * Domba Roki menjitak Domba Tini (berharap bahwa Tini akan sembuh dari penyakit bloon yang dideritanya)

"Emang Susah deh ngomong ma domba…" Kata Roki (tidak merasa bahwa dirinya juga seekor domba)

***
Episode 3: Bintang Timur

"Berhentiii dulu…!" Teriak orang pertama. "Yakin jalannya ini?"
"Ya… Pasti. Lihat bintang di Timur itu kan?" Sahut orang kedua sambil menunjuk sebuah bintang yang terang di arah Timur. "itu satu2nya arah yang harus kita ikuti…"
"Ini jalan ke mana?" Tanya orang ketiga.
"Kalau tidak salah, ini jalan menuju tanah Yudea, Betlehem." Jawab orang kedua.
"Ya… Mari kita lanjutkan perjalanan."
Lalu mereka bertiga segera memacu onta, bergegas menuju ke arah bintang Timur itu.

***
Episode 4: Ngeronda

"Akang ngeronda lagi…?"
"Iyah Neng…! Ituh… Sejak kaisar Agustus mau men-sensus penduduk, jadi banyak orang lewat ke tanah Yudea ini… Mereka berbondong-bondong daptar… Makanya kegiatan ronda musti digalakkan lagi. Seperti kata bapak RT, merondakan masyarakat dan memasyarakatkan ronda…"
"Ah, akang bisa aja… Kang, Udah bawa kopinya ma pisang gorengnya…?"
"Udah neng… Akang berangkat dulu ya Neng… Ituh, neng cek di kandang… Tadi domba Joko kepergok mau ke kandang sebelah. Dia rupanya naksir samah Kembang Domba Tini…"
"Yah, Akang… Biar ajah. Namanya jugah domba lagi kasmaran… Kayak akang gak pernah ajah…"
"Eeeei, ituh kalo si Joko jadian samah si Tini, terus kawin… Keenakan oom Amrin. Tini hamil, punya anak, dianya dapet domba kualitas nomer 1… Entar Joko nggak mau kawin ma domba sendiri… Mending Joko kita kawinin ama Trini, domba kita sendiri…"
"Ya udah ah… Akang ngeronda aja… Nanti Joko biar neng yang urus…"

Sambil mencomot pisang goreng, oom gembala itu pergi ke desa. Bergabung bersama gembala2 lain dan mulai meronda, berpatroli keliling desa.

***
Episode 5:SIP = Surat Izin Pacaran

Setelah ditinggal suaminya, istri gembala segera menuju ke kandang, sambil membawa lilin yang menyala… (karena listrik masih blom masuk tanah Yudea waktu itu…)
"Domba mau pacaran kok dilarang… Pake dijodoh2in ma Trini segala. Emangnya ini zaman Siti Nurbaya yang dijodohin ma Datuk Maringgih? Yang bener aja… Ini blom zamannya."

"Jokkooo…" teriak istri gembala di tengah2 kandang domba. Beberapa domba sudah tertidur. Tapi beberapa lagi masih asyik bermain kartu. Ada juga yang sedang bermain catur dan Othello. Selama obor masih menyala di kandang, memang para domba lebih senang menghabiskan waktu dengan bermain.

"Mbeeek…!" [Joko ada di pojok Tante] Kata salah satu domba
"Mbeeekk..!!" [Lagi patah hati dia Tante] Timpal salah satu domba yang sedang bermain Othello, sambil meletakkan biji hitamnya.
"Mbek!" [sok tau loe] Sahut lawan mainnya sambil meletakkan biji putih di pojok, "Mbeeeek!" [yes, guah dapet pojok!]
"Mmmbeeeek…?" [Ada apaan seh rame amat?] tanya seekor domba yang terganggu tidurnya.

Tampak Joko sedang melamun. Istri gembala tahu kerinduan Joko terhadap Tini.
"Joko…" Kata istri gembala dengan lembut, "kangen samah Tini ya…?"
"Mbek" [iya], jawab Joko pendek. Matanya menerawang, memandang atap kandang itu dengan pandangan kosong.
"Ayo, pergi saja… Tante izinkan kamu pergi."
"Mbek?" [Ha?] "Mbeek kah?" [Benarkah?]
"Tentu saja… Oom gembala sedang meronda. Kira2 jam 1 nanti baru pulang… Ayo temui Tini sana. Katakan bahwa kamu mencintainya… Bawakan rumput segar buat dia…"
"Mbeeek…" [tapi tante...]
"Nanti tante yang urus… tenang saja. Ayo… sana cepat temui Tini…"
"Mbeekkkk!" [makasih tante!] Domba Joko segera bangkit, lalu berlari keluar kandang untuk melepaskan kangen terhadap Tini.

***
Episode 6: Ajakan kencan

Ketika masuk ke kandang di mana Tini berada, beberapa domba pria memandang Joko dengan pandangan "kamu-domba-yang-beruntung-bisa-dapat-Tini".
"Mbeeekk…! Mbek mbek…?" [Tiniiii! Dimana kamu?] Teriak Joko.
Tini sebenarnya sudah hampir terlelap ketika dia mendengar teriakan itu.
"Mbeek!" [di sini] teriak Tini spontan. Sebagai domba sanguin, Tini hampir tidak pernah berpikir siapa yang memanggilnya. Dia langsung menjawab begitu ada yang memanggilnya.
"Hai sweety…"
"Hah…? Kamu Jok? Kirain nggak dateng…" Tini sudah lupa dengan kekesalannya. Melihat pujaan hatinya datang, dia menjadi berbunga2, apalagi melihat rumput segar di tangan Joko.
"Iya, aku tadi kepergok oom gembala. Tapi tante mengizinkan aku pergi ketika oom gembala lagi ngeronda… Loh, emang pesanku nggak nyampe apa?"
"Pesan apaan…?" Tanya Tuti penuh tanda tanya, lalu melirik domba2 di sekelilingnya dengan pandangan "pasti-loe-gak-nyampein-ke-gue".
Domba Murni, yang gagal menyampaikan pesan kepada domba Suratman, beringsut2 pergi menjauhi mereka…
"Udahlah, yang penting kita di sini… Inih, aku bawa kudapan rumput buat kamu. Dimakan sambil jalan2 keluar yuk…"
"Ayukkk…"

***
Episode 7: Tamu misterius

Tapi, pada saat yang bersamaan, dari pintu masuk kandang tampak dua sosok manusia. Seorang pria dan wanita. Pria itu berjalan dengan memapah sang wanita yang nampaknya kesakitan… Beberapa domba langsung menghentikan kegiatan mereka, memandang ke arah dua sosok tersebut dengan tertegun…
"Mbeekk…!" [wanita itu gendut banget yak...?] celetuk seekor domba…
* Bletaak !* Seekor domba langsung menjitak kepala domba itu… "Mbeeeekkk!" [wanita itu hamil, goblok....!]
"Mbeek mbeek…?" [hamil itu apaan sih?] tanyanya sambil mengelus2 benjolan akibat jitakan tadi…
"Mbeek…!" [Emang susah ngomong sama domba!] Kata Roki, seperti biasa (karena dia memang paling pinter di antara para domba lain).
"Ini dia tamunya…" Pikir Roki… "Siapa gerangan kedua orang ini…? Firasatku mengatakan kedua orang ini bukan orang biasa…!"

Pria itu membaringkan wanita di tumpukan jerami. Joko dan Tini saling berpandangan.
"Yusuf… uhhh… ehh… Sudah… waktunyaa…"
Pria itu, berusaha sekuat tenaga menenangkan sang wanita. Pria itu tahu, bahwa malam inilah kelahiran Anak sulungnya… Lahir pada saat dia dan istrinya harus pergi ke kota untuk mendaftarkan diri, sesuai dengan perintah Kaisar Agustus. Tidak ada tempat tidur nyaman untuk kelahiran Anak pertamanya. Hanya sebuah kandang domba…

Tanpa disadarinya, di langit sebuah bintang bersinar dengan sangat terang. Bersinar tepat di atas kandang itu. Bintang Timur. Bintang yang dicari-cari oleh tiga orang majus. Bintang yang juga dicari Raja Herodes, tapi dengan motivasi yang berbeda dengan ketiga orang majus tersebut.

***
Episode 8: Gembala-gembala
Lukas 2:8-20

***
Episode 9: Malam itu…

  • Malam itu, seorang Bayi telah lahir di kandang domba. Dibungkus kain lampin.
  • Malam itu, para gembala (yang dengan terburu2 pergi ke kandang tersebut pada saat mereka me-ronda) takjub melihat hal itu (termasuk para domba). Domba Joko lega melihat oom gembalanya (dan para gembala lain) lebih memperhatikan kelahiran Bayi itu daripada memperhatikan dia yang sedang berpacaran.
  • Malam itu, Joko menyatakan cintanya kepada Tini. Tini terharu, dan menerima cinta Joko.
  • Malam itu, Bintang timur telah menuntun tiga orang majus untuk mengunjungi kandang domba itu, dan mempersembahkan harta mereka untuk Bayi tersebut.
  • Malam itu, Joko berjanji akan mencintai Tini seumur hidupnya dan berharap Tini mau menjadi ibu dari anak-anaknya…
  • Malam itu, adalah malam yang akan dikenang sebagai malam natal…

***
Episode 10: Merry Christmas

Merry Christmas semuanya…
[buat semuanyah... There's always miracle in Christmas. Expect one...]

14
Dec

Menghitung Hari

Kamus garink:
SPK = Surat Perjanjian Kerjasama, biasanya digunakan untuk mengatur perjanjian antara dua pihak, seperti production house dengan pemain sinetron, produser dengan penyanyi, penerbit dengan penulis.
)

Hari2 ini, aku bener2 menghitung hari, hitungan mundur selama tahun 2005 dan hitungan maju menjelang tahun 2006. Hitungannya dimulai dari hari Selasa kemarin, saat aku telah menerima SPK (lihat kamus garink).

Tahun 2005 Tahun ini, adalah tahun yang mentahbiskan aku secara resmi menjadi penulis. Untuk pertama kalinya, buku hasil tulisanku dijual di toko2 buku. Padahal dulu2nya buku2 karanganku ku itu cuman dipake anak2 SMP, SMA Santo Yusup. Dan alhasil, buku itu hanya dibaca menjelang ulangan…! Dan itupun pasti dengan terpaksa (ayo ngaku!). Buat seorang penulis, kalo pembacanya membaca buku karangannya dengan terpaksa, ya rada2 sakit ati gitu, tapi kalo pembaca bisa enjoy dengan apa yang ditulisnya, itu bener2 suatu kesenangan tersendiri…

Nah, SPK yang kemaren nyampe itu, adalah Surat Perjanjian Kerjasama antara aku (sebagai penulis) dan Dian Rakyat (sebagai penerbit). Penerbit Dian Rakyat ini adalah penerbit zaman baheula, zamannya Pujangga lama, Pujangga baru, Sastrawan Angkatan ‘45… Angkatannya Balai Pustaka. Inget kan buku2 terbitan Balai Pustaka? Ada "Layar Terkembang" (Sutan Takdir Alisyahbana), "Salah Asuhan" (Abdoel Moeis), "Belenggu" (Armijn Pane), "Siti Nurbaya" (Marah Roesli) [Loh, ternyata guah masih inget jugah... Tapi gini2 guah dulu kalo pelajaran sastra Indonesia pinter looh].

Yang mengejutkan, ternyata Dian Rakyat ini milik keluarga Alisyahbana… (Iya, yang mendirikan Dian Rakyat itu keluarga Sutan Takdir Alisyahbana, salah satu angkatan pujangga baru yang terkenal itu) - SPK-nya ajah ditandatangani sama Mario Alisyahbana (tapi entah apa hubungan Pak Mario dengan Sutan Takdir Alisyahbana, kmungkinan cucunya). Dan SPK-nya adalah Surat Kerjasama antara aku sebagai penulis dan Dian Rakyat sebagai penerbit. Tapi Dian Rakyat bukan menunjuk aku untuk jadi penulis novel sastra loh… Kebayang nggak sih Windra bikin Novel sastra, dengan judul "Perdjoeangan Hasan"?

* * *

"Sambil menangis, wanita itoe sedang memperhatikan lelaki poedjaan hatinja. Entah kenapa, hatinja serasa teriris-iris ketika menjaksikan lelaki itoe berdiri, memanggul sendjata, memandangnja dengan pandangan "izinkan-akoe-pergi"…

‘Djangan menangisi akoe, Toet…" Kata lelaki itoe. ‘relakanlah akoe pergi. Akoe pergi, tak kan lama… Hanya sekedjap sadja, koe akan kembali lagi,asalkan engkaoe tetap menanti…’

‘Bang Hasan… Hiks… hiks… Itoe kan… lagoenya Ello…? Nggak ada di dialog…?’

‘Tapi… itoe moencoel dari sini’ Kata Hasan sambil meletakkan tangan Toeti di dadanja (dada Hasan, boekan dada Toeti).
(Kelak, adegan ini mendjadi inspirasi seboeah iklan prodoek pemoetih)

‘Hasan…!’ Teriak A Tjong dari kedjaoehan, satoe2nya pejoeang etnis China di golongan itoe. ‘kita soedah ditoenggoe teman2…! Pelgi sekalang, ato eluh olang kita tinggal…!’ Ancam A Tjong.

‘Orang Tjong… Orang…! Boekan olang…" Ralat seorang temannja.

Hasan menoleh ke soember teriakan itoe. Teman2nja soedah naik ke troek sampah itoe dan menoenggoenya. Lima menit kemoedian, tampak adegan Toeti memberikan tjioeman perpisahan kepada Hasan diiringi dengan tepoek tangan dari teman2nja di atas troek sampah, sambil berteriak terharoe, "Oooowwwww…". (Kelak, adegan tjiuman perpisahan itoe mendjadi inspirasi dari film-film Hollywood dan Bollywood, bahkan penontonnja djoega meniroekan teriakan haroe itoe)

* * *

Nah, itu tjontoh karja sastra Windra. Djelas, penerbit akan berpikir ratoesan kali sebeloem menerbitkan karja itoe. (Oh, maap, setting Edjaan lama masih ON).

Dian Rakyat, sedang mengembangkan divisi baru, yaitu divisi IT (Information Technology). Nah, salah satu programnya adalah menerbitkan buku2 IT. Memang sekarang ini divisi IT-nya masih kalah jauh dalam jumlah kuantitas buku yang diterbitkan dibandingkan penerbit Elex Media (Gramedia Grup) atau Andi Offset. Tapi Divisi IT Dian Rakyat sedang menuju ke arah sana. So, kamu tahu kan di mana posisiku? Yup, aku penulis yang menulis buku IT untuk divisi IT di Dian Rakyat. SPK yang aku terima itu mewajibkan aku untuk menulis 6 judul buku… sudah selesai 4 buku yang dijadwalkan untuk terbit awal tahun depan, dan kabar gembiranya, tidak ada naskah sastra. Semuanya naskah komputer.

Dan hitungan hari mundur selama 2005 ini, buat aku, sudah menghasilkan:

  • 1 buku komputer: Formula Word 2003 (diterbitkan Dian Rakyat, Agustus 2005).
  • 1 buku komputer: Resep Windows XP (ditolak 3 penerbit!!)
  • 1 buku komputer: Membedah Windows XP (ditolak 2 penerbit!!)
  • 1 Novel teenlit: (gak pede buat di-publish, dalam revisi)
  • 1 buku rohani: Lit4teen Soul: Manual Book of Life (diterbitkan Metanoia, tahun depan)
  • 4 buku komputer: PHP & MySQL: Proyek Shopping Cart (buku 1&2), Resep VB, Resep HTML & CSS, semua rencananya diterbitkan oleh Dian Rakyat tahun depan.

Buku Windows XP itu emang ditolak matang2 oleh penerbit (matang soalnya bukunya udah jadi, kalo bukunya baru bentuk proposal terus ditolak, maka namanya ditolak mentah2). Ya, aku juga mengalami pahitnya ditolak penerbit. Bayangin ajah, aku udah spend waktu berbulan2 buat nulis buku itu, terus waktu diajukan, ditolak matang2… Katanya umur Windows XP udah ketuaan buat dibahas, mereka takut kadaluwarsa. Tapi aku percaya, untuk jadi penulis beneran, emang harus pernah ngalami yang namanya ditolak penerbit. Contoh nyata: JK. Rowling yang naskah Harry Potternya ditolak puluhan penerbit, tapi akhirnya bisa best seller. Yah, kalo bisa seh, aku nggak ditolak sampe puluhan penerbit lah.

Terus terang, aku masih kpingin nulis lagi… Nulis buku itu kalo pertama, susahnya minta ampun. Rasanya beraaat banget. Buku pertamaku, Formula Word 2003 itu, butuh waktu ampir 1 tahun buat nyelesaikannya! Nulis 1 halaman, trus berenti 1 bulan. Nulis 2 halaman, berenti 2 bulan. Nulis 4 halaman, berenti 4 bulan. Nah, akhirnya setahun baru selesai. Tapi buku ke-dua jadi lebih gampang setelah buku pertama selesai. Buku resep Windows itu, aku bisa selesaikan dalam waktu 3 bulan (dan hasilnya ditolak 3 penerbit), lalu buku Membedah Windows cuman 2 bulan (dan ditolak 2 penerbit). Novel teenlit itu aku selesaikan 1.5 bulan (dan blom ada yang nolak karena blom dikasih ke penerbit manapun). PHP & MySQL (2 jilid), aku selesaikan 2 bulan. Resep VB 1 bulan, dan resep HTML dan CSS juga 1 bulan. Dan sekarang targetku 1 bulan 1 buku. Untuk memenuhi target itu, aku mesti banyak2 baca buku. Dan anggaran bulanan belanja buku ku membengkak jadi 6 digit (yang 6 digitnya, bukan 0 nya!). Padahal bulan2 lalu, gak sampe segitu (paling sebulan cuman 5 digit)… Tapi aku percaya aja, bahwa satu buku ku isa mencetak pendapatan 8 digit (yang 8 digitnya, bukan 0 nya!). Jadi pendapatan dibandingkan anggaran belanja buku, aku masih profit 2 digit (kok aneh gitu ya ngitungnya?).

Nah, semua yang udah aku lakukan di tahun 2005 ini, itu bukan Windra yang ngelakukan. Bukan aku… Kalo apa yang aku lakukan itu kliatannya hebat, kliatannya pinter, keliatannya keren… itu sama sekali bukan karena kehebatanku. Itu semua karena DIA. Itu nunjukkan bagaimana penyertaan DIA yang luar biasa. Aku bener2 bisa ngerasakan campur tangan DIA dalam hidupku, bagaimana DIA secara ajaib memampukan aku buat ngerjakan hal2 yang rasanya nggak mungkin. Sekali lagi, bukan karena aku pinter, nggak! Itu semua bener2 karena anugerahNYA, karena penyertaanNya, dan karena kasih setiaNya… Nggak mungkin aku bisa kayak gini kalo bukan DIA yang menyertai aku. Ini adalah kebaikan Tuhan yang harus aku sadari, bahwa tanpa penyertaan Tuhan di tahun ini, aku pasti bukan siapa2. Aku pasti masih strunggling dengan yang namanya quarter life crisis syndrome, masih nggak punya kepastian masa depan, masih nggak punya pegangan hidup, masih nggak bisa nentukan arah… Tapi Tuhan itu baek banget, slama kitanya berserah ke Dia, Dia bakal bener2 pimpin hidup kita, menyertai hari demi hari menuju ke "The promised land" itu, tanah yang berlimpah susu dan madunya.

Tahun 2006

Dan aku juga menghitung hari menuju tahun 2006 ini. Aku punya target buat bisa menghasilkan 20 buku lagi… (wadoh, berat banget yak?). Aku kpingin nulis novel ala teenlit yang lucu, aku kpingin neruskan serial Lit4teen Soul, kpingin nulis buku rohani dan buku2 komputer. Itu seh kepinginku…

(Btw J, kalo tema Vincent, Jenny dan Celya itu dibikin cerpen mah, kayaknya nanggung. Mending novel ajah skalian… Upgrade dari komunitas pencinta cerpen jadi komunitas pencinta novel… Ayo, bikin bareng. Start awal taon depan ato liburan ini?)

Trus, entah kenapa, aku kok punya dorongan yang kuat buat sekolah lagi. Bukan SMA lah! Neruskan sekolah gitu maksutnya. Kepinginnya sih, neruskan S2 gitu… Ini masih nge-research kira2 universitas yang paling cocok buat aku dan di mana (baik kualitas en financialnya, soalnya aku udah gak pantes kalo minta dana ke ortu) Yah, masih nanya2 ma Tuhan boleh nggak. Kalo boleh, di mana yang paling pas buat aku… Aku masih menanti jawaban.

Trus, di 2006 nanti, jadi pengajar ya masih. Terikat kontrak ampe tahun ajaran ini selesai, sampe Juni 2006 (lagian aku masih rada penasaran buat skali lagi ngeliat bebek-ku binaanku di TOKI isa ikut IOI dan bawa pulang medali buat Indonesia, masih blom kesampaian). Tahun ajaran berikutnya (2006/2007), blom tentu juga aku masih tetep ngajar, tapi juga blom tentu keluar. Nanti apa kata Tuhan lah. Kalo DIA pengen aku ngajar terus, ya nurut ajah… DIA kan tau yang terbaik buat anakNya ini.

Dan, last but not least, guah inget ma the-girl-who-still-remain… Masih no contact… *garuk2* (Ituh beberapa pembaca blog ini udah gak sabar, nanya2 perkembangan guah ma the-girl-who-still-remain inih… katanya, kalo ini sinetron pasti udah gak ditonton ma penontonnya, masak dari duluh gak ada kemajuan apa2. Tapi ini kan bukan sinetron… Ini reality show! Siaran langsung kisah Windra dan The-girl-who-still-remain-nya, yang masih nggak jelas akhir ceritanya gimanah… Dan para pembaca, bisa turut serta ngasih saran dan kritik untuk menentukan jalan ceritanya…)

[buat kamuh semua yang baca blog ini. Guah punya tips garink: "Review apa yang udah kamu capai di tahun ini, lalu buat target apa yang ingin kamu capai di tahun 2006. Berusaha upgrade terus kemampuan kamu, kadang kita nggak nyadar bahwa potensi yang ada di dalam kita itu ternyata masih bisa berkembang..."]

09
Dec

Menginvestasikan Waktu

Hari sumatif nasional (HSN) ini, selain dipenuhi dengan fenomena aneh seperti yang aku tulis di posting sebelumnya, juga telah menghasilkan sebuah sebuah kesimpulan (dari penelitian sebagai penjaga sumatif). Ada 4 sikap pelajar ketika sedang menghadapi HSN ini, yaitu:

  1. Pelajar rajin, yang belajar dari siang sampai pagi.
  2. Pelajar kurang rajin, yang belajar dari sore sampai pagi.
  3. Pelajar tidak rajin, yang belajar dari malam sampai pagi.
  4. Pelajar malas, yang hanya belajar pagi saja.

(Pilih salah satu yang paling mendeskripsikan diri kamu. I guess, di SMAK Kolese Santo Yusup, tidak ada pelajar yang nekat tidak belajar sama sekali dalam menghadapi HSN)

Ok, tipe pelajar apapun kamu, itu adalah pilihan kamu. Yang pengen aku tulis di sini adalah ketika kamu belajar (dari pagi sampe pagi, ato dari sore sampe pagi, ato hanya pagi saja), kamu itu sedang menginvestasikan waktu. Kamu dikasih modal waktu yang sama, yaitu 24 jam sehari. Dan selama kamu hidup, kamu sedang menginvestasikan waktu itu. Yang namanya investasi, isa untung dan isa rugi. Misalnya, dalam menghadapi HSN ini, kamu menginvestasikan 6 jam waktu kamu untuk nonton VCD. Pertanyaan garink : Seberapa besar keuntungan yang bisa kamu hasilkan dari investasi waktu 6 jam menonton VCD tersebut?

Ato, setelah HSN selesai (dan mendekati waktu liburan), kamu mulai menginvestasikan waktu kamu untuk hal2 lain. Misalnya jalan2 di mall, membaca buku dari pagi sampe pagi lagi (kategori pembaca yang rajin), nonton TV dari pagi sampe pagi (kategori penonton yang rajin), maen game dari pagi sampe pagi (kategori gamer yang rajin), bengong dari pagi sampe pagi (kategori bengong-er yang rajin)… That’s an investment. Setiap detik yang kamu habiskan dengan kegiatan kamu, kamu sedang berinvestasi. Pertanyaannya, apakah investasi yang kamu lakukan itu menguntungkan? Apa investasi yang kamu lakukan itu akan menghasilkan sesuatu yang berguna di masa mendatang?

Mau lihat contoh nyata? Aku punya puluhan anak2 yang dibina untuk ikut Tim Olimpiade Komputer Indonesia (dari tahun 1998 sampe 2005). Dan anak2 tersebut, ketika aku membina mereka, mereka sedang menginvestasikan waktu mereka. Sementara anak2 lain menginvestasikan waktu mereka untuk jalan2, baca komik, novel, maen game, nonton, anak2 ini menginvestasikan ratusan (bahkan beberapa sampe ribuan) jam di depan komputer. Mengerjakan soal2 komputer yang "aneh", yang nggak jelas gunanya buat mereka, yang nggak bisa dijadikan bahan gosip, yang nggak bisa dijadikan topik perbincangan dengan teman-teman normal mereka… (btw, aku juga mengalaminya siksaan tidak bisa menggosip soal2 pemrograman dengan teman2 normal). Dan mereka (dengan entah alasan atau motivasi apa), menjalani investasi tersebut (oke, beberapa finally menyerah dan kembali di kehidupan normal mereka). Lalu, dari investasi waktu ratusan (bahkan ribuan) jam di depan komputer tersebut, apa yang mereka hasilkan? Some of them, berhasil berprestasi (should I mention what are their achievements here…?).

Dari investasi waktu mereka tersebut, mereka mendapat hasilnya. Dari seorang anak normal menjadi anak yang dipandang sebagai jenius komputer. Dari bukan siapa-siapa, menjadi anak yang diinget oleh sekolah. From zero to hero… (dan Windra yang berfungsi as a coach, cuman menyumbang sedikit banget dalam investasi waktu mereka, the rest of it, mereka berinvestasi sendiri, dengan resiko kerugian yang mereka tanggung sendiri… Windra, under some circumstances, cmn berfungsi jadi motivator ajah). Jadi kenapa mereka bisa berprestasi sementara yang lain biasa-biasa saja? Jelas banget karena investasi waktu yang mereka lakukan. Sementara anak2 laen jalan2 di mall, mereka menghabiskan waktu membaca buku komputer. Ketika anak2 laen nonton bioskop, mereka sibuk mencari "Bug" program komputernya. Ketika anak2 laen baca komik dan novel, mereka menghabiskan waktu buat nyari algoritma pemecahan soal. Ketika anak2 laen nggosip, mereka menghabiskan waktu buat mengimplementasikan algoritma dalam program. Ketika anak2 laen maen game, mereka sibuk nyari2 resource pemrograman komputer di Internet.

Dan kamu masih heran knapa anak2 tersebut bisa berprestasi?

Itu salah satu contoh bagaimana investasi waktu yang tepat bisa membuat perbedaan pencapaian prestasi… Lalu kamu jangan mikir akan menginvestasikan waktumu di depan komputer, kayak anak2 komputer tadi. Aku ngasih contoh ini, karena itu yang aku lihat. Dan di bidang laen pun punya cara kerja investasi yang sama. Kamu bisa menginvestasikan waktu kamu di tempat di mana kamu merasa nyaman di sana. Kamu bisa menginvestasikan waktu kamu di tempat yang kamu sukai dan kamu isa berkembang di sana. Kamu seneng musik? Investasikan waktumu di sana, blajar sebaik2nya di bidang musik.
Seneng nulis, investasikan waktumu di sana, nulislah apapun untuk mengasah kemampuanmu.
Seneng baca? Investasikan waktumu buat baca buku2 bermutu.
Seneng nggambar? Investasikan waktu kamu untuk blajar nggambar.
Para guru menginvestasikan waktu mereka dengan mengajar. Para dokter (uh, mengingatkan aku ke the-girl-who-still-remain) menginvestasikan waktu mereka dengan mengobati orang. Para bisnisman, menginvestasikan waktu mereka pada bisnis mereka. See? Semua orang, menginvestasikan waktunya sendiri-sendiri.

Dengan berjalannya waktu (dan tambah dewasanya kamu), kamu akan semakin ngerti investasi waktu mana yang berguna buat kamu dan yang nggak berguna buat kamu… Dan kamu harus memilihnya!

Ngomong2, aku yang sedang nge-blog juga sedang menginvestasikan waktuku. Kamu yang sedang baca blog ini, juga sedang menginvestasikan waktumu. Dan buat aku, investasi waktu (dengan nulis blog ini) bukan sesuatu yang sia2.

Knapa? Pertama karena aku sedang mengasah skill menulisku (belajar mengekspresikan apa yang ada di pikiran). Kedua, aku yakin bahwa investasi waktu yang udah kamu keluarkan demi membaca blog ini, nggak sia2, kamu bisa dapet sesuatu yang berguna dari sini (aku berusaha agar begitu, tapi kalo ternyata buat kamu sia2, ya maaaappp, maaaappp….).

Karena yang menyenangkan buat seorang blogger amatiran kayak aku gini, adalah ketika apa yang aku tulis, bisa berguna buat yang mbaca (dan saat kamu bisa mendapatkan sesuatu yang positif dari sini, saat itulah aku tahu bahwa waktu yang udah aku investasikan buat nulis blog ini, TIDAK SIA2…)

[buat para pembaca blog ini, smoga nggak sia2 investasi waktu yang dikeluarkan pada saat membaca blog ini]

07
Dec

Hari Sumatif Nasional

Hari-hari ini adalah hari sumatif nasional. Semua anak (sok) sibuk blajar, entah belajar pelajaran yang besok akan disumatifkan atau belajar bagaimana mencari kesempatan untuk mencontek ketika pengawas sedang lengah.

Oke, apapun yang kamu pelajari, aku hanya bisa memberi ucapan: selamat mengerjakan dan semoga sukses…! (ucapan garing yang gak punya arti apa-apa) Nah, aku dengan sukses terpilih sebagai salah seorang pengawas sumatif (terpilih dengan suara tidak bulat, karena aku nggak setuju! Ini contoh penerapan kekuasaan otoriter).

Yang mengherankan, ada fonemena aneh yang terjadi. Ketika aku berjalan menyusuri lorong sambil membawa soal menuju ke ruang yang hendak dijaga. Banyak anak berkeliaran, ngobrol dan (sok) belajar di sepanjang lorong yang aku lalui. Dan mereka mendadak menjadi ramah, menebar senyumnya yang paling manis dan menyapa aku.

"Pak Windra… Selamat pagi!",
"Pagi…" (mengulang kata terakhir)

"Pak Windra… Selamat siang!",
"Siang…" (mengulang kata terakhir)

"Siang Pak Windra…",
"Windra…" (sekali lagi, mengulang kata terakhir)

"Ck… ck… ck…" seekor cicak menyapaku.

"Mbeeekkk…" Bahkan seekor kambing!

"Kaiiingg…!" (Ini bukan sapaan dari seekor anjing, tapi lebih tepat teriakan kesakitan karena secara nggak sengaja, seorang anak menginjak ekornya di kala anjing tersebut sedang asyik berjemur).

Misterius memang bahwa tiba-tiba saja anak2 itu menjadi anak2 yang ramah, suka tersenyum dan menyapaku ketika aku membawa soal2 sumatif. Apakah ada korelasi antara sikap ramah dengan soal2 sumatif yang aku bawa? Aku akan meneliti lebih lanjut. Tapi hasil sementara, beberapa anak memang memandangku dengan tampang mupeng (muka pengen) ketika aku berjalan membawa soal2 sumatif tersebut.

Lalu, menjaga sumatif sama sekali bukan pekerjaan yang menyenangkan karena ada beberapa aturan untuk pengawas.

  • Pertama, karena aku harus diam di ruang tersebut selama sumatif berlangsung.
  • Kedua, dilarang membaca buku.
  • Ketiga, dilarang berkomunikasi dalam bentuk apapun ke para siswa.
  • Keempat, dilarang mengeluarkan anggota badan dan
  • Kelima, dilarang berbicara dengan sopir

Jadilah sejak hari Selasa hingga hari Kamis ini, aku menghabiskan 2.5 jam waktu ku dengan sia-sia, melihat wajah2 suntuk tanpa harapan, seolah-olah mereka berada dalam penjara Azkaban, ditemani para dementor yang menghisap energi sukacita mereka…

Dan hasilnya adalah blog ini (dan kpikir buat nulis tentang investasi waktu yang udah kamu lakukan demi sumatif ini. Tunggu di next posting… Akan segera dibuat pada saat menjaga sumatif).

[buat yang sedang menjalani sumatif, tip garing: kalo ngerjakan sumatif mbok ya jangan serius2... Nyantai dikit knapa sih? bete yang njaga...]

04
Dec

Ten Things I Promise To My Girl Friend

Inilah dia, sambungan dari posting yang lalu. Setelah dipikirkan, akhirnya jadilah Ten Things I Promise To My Girl Friend adalah:
(Dilarang ketawa! Kalo kamu ketawa, berarti kamu reseh dan gak punya jiwa yang romantis…)

  1. I promise to pray for her everyday, asking God to always be with her and take care of her every single moment.
  2. I promise to call her everyday, at least once.
  3. I promise to encourage her to keep study, be her best friend, be someone who can bring the joy everytime she get bored and tired while she’s studying.
  4. I promise to be Mr. Know Everything for her, answer every questions she might has.
  5. I promise that I will have time to listen her sigh and bring the rejoice for her. Everytime she has heavy-laden in her shoulder, everytime she has problems that no one doesn’t care, I’ll be there for her to listen and say comfort word for her.
  6. I promise to treat her like a lady, guide her to be more mature girl day by day and how to be a respectable woman.
  7. I promise to make her proud of me.
  8. I promise to ALWAYS put her name and write how I thank for the love she’ve gave to me in ALL the books I wrote.
  9. I promise to introduce her to my friends, and proudly say "This is my lovely girlfriend… The one who I fall in love with."
  10. I promise to … [empty slot, she can fill this slot herself, fill with promises (yup! plural!) that she might expect me to do]

Honestly, ketika aku nulis ini (dalam proses memikirkan apa yang bisa aku janjikan kepada cewek ku nanti), ada satu cewek yang muncul di benakku (dan menginspirasi aku nulis ini), cewek yang deserve mendapatkan janji-janji ini.

[Buat dia, pertanyaan garink: apa the-girl-who-still-remain masih single ya?]