Archive for February, 2006

24
Feb

Buta Warna

Dulu, waktu guah SMP (dan diulang lagi pas SMA), guah dikasi tau guru biologi guah, bahwa ada orang2 yang buta warna. Ada yang buta warna penuh, yaitu hanya bisa membedakan warna hitam putih, ada juga yang buta warna sebagian (nggak bisa melakukan separasi warna sebanyak orang normal, artinya ketika ada dua warna yang mirip, orang normal ngeliat itu sebagai warna yang berbeda, sedangkan yang buta warna sebagian, ngeliat itu sebagai warna yang sama).

Buta warna ituh karena ada sel di retina mata, which is namanya sel kerucut (that’s my biology teacher told me, still same in today’s biology?), yang normalnya punya 3 pigmen visual pembeda warna (merah, hijau dan biru terang) nggak berfungsi dengan baik atau salah satu pigmen sel kerucut tersebut nggak ada. Artinya kalo misalnya ada orang yang cuman punya pigmen visual merah ma hijau, ya dia nggak akan kenal warna biru.

Guah ngebayangin orang yang buta warna penuh. Apa yang dilihatnya, seperti kalo kita ngeliat layar hitam putih. Mula-mula guah kasian ma orang-orang yang buta warna penuh. Tapi kemudian guah mikir2 lagi bahwa sebenarnya mereka (orang yang buta warna penuh), nggak pernah ngerasa aneh dengan dirinya. Karena, dunianya adalah dunia hitam putih dan nggak pernah ngenal warna laen. Kita bisa bilang kasian ke dia karena kita pernah ngeliat warna selain hitam putih. Kita bisa ngerasakan perbedaan antara melihat dengan warna hitam putih dan melihat dengan banyak warna. Orang buta warna penuh, dari lahir udah nggak isa membedakan warna selain hitam dan putih. Bagaimana dia ngeliat dunia? Guah rasa, baik2 saja… (karena dia nggak pernah tau ada warna selain hitam dan putih). Jadi kalo kita menjelaskan ke dia, bahwa ADA WARNA SELAIN HITAM DAN PUTIH, guah yakin dia nggak akan ngerti maksut kita… Sama kayak kita menjelaskan konsep musik ke orang tuli, dia nggak akan bisa ngerti musik itu apa. Lagian, dengan cara apa kita bisa menjelaskan MUSIK ke orang tuli? Nggak mungkin, sama seperti kita menjelaskan warna ke orang yang buta warna penuh.

Ceritanya, kemarin malem, guah en para FCT lagi ngobrol2 tentang kerjaan. Terus, FCT#07 nyeletuk bahwa dia divonis buta warna sebagian. Pertama guah kira dia becanda, tapi ternyata dia serius. Dia ngelamar kerja di salah satu perusahaan packaging. Salah satu test-nya adalah test warna. Dia gagal di test itu dan divonis buta warna. Boy…! Jelas kita shock… Selama ini guah (en FCT laen) juga nggak pernah tau kalo dia itu buta warna. He seems very normal (en kayaknya emang gak ada gejala apapun bagi orang yang buta warna). Dia nantang guah buat di-test warna. Dia bilang, test-nya sulit, en guah pasti juga nggak isa. Guah pikir, dia masih maen2. Maksutnya, mau nggodain guah dengan ngasih test boongan en akhirnya menyimpulkan guah buta warna. Tapi sekali lagi, dia bener2 serius. Guah jadi excited kpingin tau testnya… Guah deg2an juga. (sedikit banyak karena ada faktor bahwa salah satu syarat kuliah kedokteran adalah nggak buta warna).

Dan mulailah guah di-test dengan gambar2. Guah bener2 nyiapkan mental guah. Guah tau fakta bahwa buta warna nggak pernah isa disembuhkan dan akan diturunkan ke anak-cucu. Fakta itu bikin guah miris, deg2an nggak karuan ketika guah ngerjakan test-nya. Mikir yang nggak2, gimana kalo guah ternyata buta warna? Guah akan menurunkan gen buta warna ini ke anak guah, dst… dst… Tapi, pheeeeww…! Guah berhasil! Guah nggak buta warna. Thanks to mami en papi yang udah menurunkan dan mencetak DNA sel mata guah dengan normal. Thanks GOD!

Dari apa yang guah inget,  buta warna umumnya karena keturunan. Gen pembawanya ituh dari kromosom X. Cowok ituh bawa kromosom X-Y, en cewek bawah kromosom X-X. Nah, curangnya, cewek itu biasanya carrier (dia ngebawa gen buta warna, tapi dianya nggak ngalamin buta warna, akibatnya, anak cowoknya (X-Y) yang dapet kromosom X (dari cewek) bisa ngalamin buta warna, crap!)

So, are u ready for the test? (yang cewek, gak perlu terlalu kuatir, biasanya emang buta warna terjadi pada pria). Siapkan mental kamu.

Test pertama: lihat baik2 gambar di bawah ini. Angka berapa yang ada di dalam lingkaran? Ready? Check this image out. (klik di gambarnya kalo ingin memperbesar, dia buka window baru kok)

Test ke-1 :

Unknown

Inget2 angkanya ya. Sekarang test ke-2:

06

Kliatan angkanya? Inget-inget angkanya. Jangan maksa ya. Kalo emang kamu nggak keliatan, nggak perlu dipaksa. Nggak perlu mata kamu berakomudasi maksimal. Kalo emang nggak buta warna, nggak ber-akomudasi-pun kamu akan bisa liat dengan jelas. Kebutaan warna nggak isa dilatih kayak otot. Jadi kalo kamu nggak bisa ngeliat angka yang ada di test pertama dan kedua berarti kamu…

Jangan frustasi. Emang buta warna nggak isa diobati, tapi mereka hidup normal kok… Jangan menyesali keadaan, "kenapa guah harus buta warna…?" Mengucap syukur senantiasa bahwa kita masih dikasih kehidupan ma Tuhan… By the way, kedua gambar di test-1 dan test-2 di atas emang nggak ada angka di tengahnya. Kalo kamu isa ngeliat angka di dalam lingkaran itu, guah yang heran! Artinya imajinasi kamu terlalu berlebihan. Please deh! (or… seriously! kamu buta warna, karena orang buta warna bisa mempersepsikan ada angka di dalamnya)

Nah, ini test beneran:

Test 1:

01_121

Test 2

02_83

Test 3

03

Test 4:

04_57

Test 5:

06

Test 6:

10

This isn’t joke anymore. It’s real bahwa ada orang2 yang nggak isa ngeliat angka2 di dalam lingkaran itu (ato ngeliat, tapi angkanya salah). Ini common test buat ngecek tingkat kebutaan warna seseorang.

Temen guah, FCT#07 mulai nggak isa ngeliat angka di dalam lingkaran itu pada test ke-3 (di test ke-2, dia bilang udah mulai blur). That’s real. Itu test yang dipake dokter mata buat mendiagnosa pasien apakah dia buta warna ato nggak. Whatever the result, kamu harus isa terima.

[Buat kamu... yang pengen tau apa buta warna ato nggak, kamu isa message aku angka yang ada di masing-masing test & lingkaran via email, sms ato message-nya FS. Guah punya kunci jawabannya. Orang buta warna bisa ngeliat angkanya, tapi yang keliatan adalah angka yang berbeda dari sebenernya]

19
Feb

This crossroad…

I’ve been here before, this crossroad. Couple years ago when I was teenage. I still recognize the environment, the houses and the trees around this crossroad. Ok, not exactly the same, they’re older now, but this is it. Here i’m again. The same crossroad that I have to choose, 10 years ago…

Juni 1996
Cowok keren ini akhirnya lulus SMA. Perjuangan berat selama tiga tahun menghadapi pelajaran-pelajaran aneh.

Fisika: "Kelembaman…! Inget itu! Hukum pertama Newton adalah kelembaman, aksi dan reaksi. Gaya sama dengan massa kali percepatan. " Crap! Knapa Newton harus lahir dan membuat ulangan fisika guah selalu ancur sih?

Matematika: "Itu integral! Persamaan gitu ya harus pake dalil rantai nyelesaikannya…!" - knapa orang yang nyiptakan teorema itu nggak dirantai aja sekalian?

Biologi: "Mitokondrion… Itu ada di dalam sel" - Hah? Is she kidding? dia di… pardon me? S-E-L? Kapan hakim menjatuhkan vonis?

Komputer: "IF itu ya harus dikasi THEN. Kalo cuman IF, nggak ada THEN-nya, terus komputer-nya disuruh ngapain?" Ya udah, kalo komputernya nggak tau harus ngapain, knapa kita harus repot2 blajar bahasa pemrograman yang aneh ini?

Prestasi guah selama SMA, nggak bisa dibanggakan banget. Dari dihukum ngepel lantai gara2 menumpahkan air di ember buat plajaran nggambar sampe nilai ulangan kimia yang selalu ancur (ok, selain mat, fis, bio, inggris, bi, PMP, sejarah, biologi, geo, akuntansi, komputer… loh, kok rasanya smua mata pelajaran ancur…?). Tapi, saat guah lulus SMA, guah masih sama imut dan sama keren dengan sekarang. Yah, at least guah punya something buat guah banggakan…

Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, guah sampe di crossroad itu… Di depan guah, ada persimpangan jalan. Setiap jalan yang guah pilih adalah jalan satu arah. No way back kalo guah udah mutuskan untuk masuk ke jalan itu. Jalan itu adalah kuliah guah. Guah yakin seyakin2nya, bahwa semua yang perna lulus SMA, pasti ngadepin crossroad ini. Jalan yang mesti diambil untuk menentukan masa depan. Ngeri nggak kamu ngadepin jalan itu? Jalan yang bahkan kamu blom pernah kamu lewati sebelomnya. Jalan yang kamu nggak tau di depan bakal ngadepin apa. Jalan yang bakal kamu lewati for the next 4-5 years (could be longer!). Jalan yang bisa jadi "dead end" di ujungnya. Jalan buat nentukan masa depan kamu. Jalan yang mengantarkan karir kamu. Dan kabarnya, jalan itu adalah jalan searah di mana nggak mungkin dengan gampang balik ke titik awal. Finally guah pilih jalannya dengan mata merem. Bahkan seandainya mata guah terbuka, guah tetep nggak akan tau apa yang guah bakal hadapi. Tapi, jalan itu dapat guah baca dengan jelas. Namanya: Jurusan Informatika.

November 2000
Empat tahun guah berjalan di jalan itu. Prestasinya? Jangan tanya. Lebih parah dari pas SMA.

"Tugas itu harus dikerjakan pake double link list. Kalo nggak, memorinya boros…" - Fine, Sir! Saya akan ngumpulkan tugas dengan lampiran sekeping RAM 128Mb. Puas?

"Database-nya di-normalisasi… Redundancy data tidak bisa saya tolerir, selain memboroskan space, pastinya pengolahan juga akan lebih berat" - Redundancy… Hmm… what’s that? Sounds like… pregnancy? (Crap! guah bener2 mengecewakan dosen database guah!)

"Pakai perintah SQL - nggabungkan tabel dengan LEFT JOIN. Jangan RIGHT JOIN. Tau bedanya? Jangan harap bisa lulus kalo nggak tau bedanya" - He was wrong. Guah lulus mata kuliah itu walo nggak ngerti LEFT JOIN dan RIGHT JOIN. Dengan nilai C yang kurus bangeeet… Nyaris D.

Tapi overall, setelah guah jalan selama 4 taon di crossroad yang bernama Jurusan-Informatika, jalan itu berakhir juga. Dan, guah masih dengan bangga, bisa bilang bahwa guah masih tetep imut dan keren kayak sekarang. Crap…! Knapa imut dan keren guah nggak berubah even setelah guah 4 taon ngelewati jalan Jurusan-Informatika ini?

New Crossroad
Crossroad blom berhenti. Setelah lulus, guah ngadepin new crossroad. Mesti milih jalan lagi. Jalan yang nggak pernah dilewati sebelomnya. Guah milih sebuah jalan yang namanya "Programmer-Pengajar". Dan terakhir, guah milih ngelewati jalan lagi yang namanya "Penulis". Guah bangga. Bukan hanya karena guah imut dan keren. Bukan… Guah bangga karena semua jalan yang udah guah lewati, ternyata semuanya BAIK. Even guah ngelewati jalan yang terjal, jalan yang sempit, jalan yang becek, jalan yang berbatu-batu, jalan yang penuh dengan onak dan duri, tapi guah bisa liat bahwa jalan yang nggak baik ituh adalah salah satu untuk menuju jalan yang guah lewati saat ini.

Guah bangga menjadi programmer. Guah bangga ketika program guah work properly dan dipake client guah buat meningkatkan produktivitas kerjanya.

Guah bangga sebagai seorang pengajar. Guah bangga ketika murid guah, bisa berprestasi. Bisa lebih pinter dari guah, bisa skolah lebih tinggi dan punya ilmu lebih banyak dari guah. Guah bangga ma kalian.

Guah bangga jadi seorang penulis. Guah bangga ketika buku guah dibeli dan dibaca orang laen. Guah bangga ketika kamuh yang baca blog ini, mengangguk-angguk dan dapet something good buat bekalnya dalam menjalani crossroadnya. Guah bangga… Dan trust me, setelah guah ngelewati semua jalan itu, guah masih bisa bilang ke kamu bahwa ke-imutan dan ke-cakepan guah masih blom brubah sedikitpun.

The same crossroad
Bulan ini guah ngadepin crossroad. Strangely enough, I know this crossroad. I’ve been here before, this crossroad. Couple years ago when I was teenage. I still recognize the environment, the houses and the trees around this crossroad. Ok, not exactly the same, they’re older now, but this is it. Here i’m again. The same crossroad that I have to choose, 10 years ago…

The crossroad shows two signs:
Fakultas Kedokteran - Universitas Kristen Maranatha - Bandung
S2-Teknik Elektro Terapan - Universitas Brawijaya - Malang

I never discuss this crossroad to anyone before. Even ke papi en mami. But I wrote here. Somehow, guah ngerasa much better buat nuliskan uneg2 guah di sini ketimbang discuss directly dengan orang laen.

Keinginan guah buat kuliah kedokteran bener2 menggelitik guah. Dengan uang pembangunan 8 digit (dan digit awalnya adalah 6!) dan uang per-semester 7 digit (dengan digit awal 8!) membuat guah harus sedikit ber-negosiasi dengan mami kalo pengen masuk di sana. Crap! Keinginan kuliah di kedokteran membuat guah sampe di crossroad ini.

Ngedapetin gelar S2 seperti yang papi kepinginkan, juga ada di depan guah (tapi, I think I can handle by myself the tuition fee kalo untuk S2). For the next 3-4 months, guah akan terus struggling buat nentukan harus milih salah satu dari jalan itu. Jalan yang no-way-back. Crossroad ini… 10 tahun yang lalu udah guah lewati dan sekarang guah berada di sini lagi.

[buat yang kuliah kedokteran ato yang udah jadi dokter: please, mau share tentang jalan "ini" buat guah nggak, jalan yang udah kamuh lewati? Skalian guah survei buat novel guah...]

NB. Esensi menjadi seorang jomblo adalah freedom. Ketika kamu nggak punya komitmen apapun ke seseorang, you have your own life. You decide whatever you want. (Ini "Windra" banget ya?)

13
Feb

[Hebatnya Cinta] - Tendensi Cinta

Blog ini punya kategori baru yang (finally) aku kasih nama "Hebatnya-Cinta". Tadinya, mo dikasi nama "Things-you-won’t-to-know-about-love" (mau diisi tentang hal2 negatif akibat CINTA), terus ganti lagi "All-About-Love" (which is garink banget), en ganti lagi "Semua-tentang-cinta" (which is tingkat ke-garink-annya selevel dengan "All-About-Love"). Akhirnya, jadilah kategori "Hebatnya-cinta". What’s this category all about? Isinya, ya tentang cinta (yang di-inspirasi dari pengamatanku dan pengalamanku as well).

Tulisan pertama ini, judulnya Tendensi Cinta. Luamaaa banget aku pingin nulis tentang ini. Dan baru skarang baru isa nulis. Somehow, moment-nya tepat bersamaan menjelang valentine. Bukan kesengajaan loh (tapi mungkin karena nuansa valentine yang aku sering temui di jalan2, jadinya aku sering2 mikir tentang cinta en finally, jadilah blog ini).

Aku pikir aku harus menjelaskan kata tendensi ini dulu. Tendensi (bagi yang blom tau), asal katanya dari Bahasa Inggris, yaitu tendency. Aku cek di Webster’s New World Essential Vocabulary (2005), definisi tendency ini adalah: propensity to move in a certain direction, an apparent moving toward some particular purpose. Yang kira2 kalo aku terjemahkan dalam versi Windra: "ada udang di balik batu". Loh? Ya itu arti kata tendensi menurut versiku…

Misalnya:
Tono mau membantu Tini karena mo ngedeketin adiknya (adiknya Tini ya, bukan adiknya Tono). Tono dalam kasus ini berperan sebagai orang yang tendensius (punya tendensi tertentu).

Nah, yang aku heran (dan terus terang, masih terus aku pikirkan) adalah bahwa kalo kamu cinta sama pacar kamu, apa ada tendensi-nya? Cinta bersyarat ato cinta nggak bersyarat? Aku sering nemui banyak para cowok yang cintanya ke ceweknya ternyata tendensius. Contoh (kasus untuk tendensi cinta pihak cowok):

  • Si cowok punya pacar cewek yang lebih kaya dari. Cowok ini jadi punya tendensi cinta yaitu ngedapetin materi dari ceweknya (morotin si cewek).
  • Si cewek isa memuaskan nafsu (seksual ato yang laen) si cowok. Cowok itu tendensi cintanya adalah pemuasan nafsu.
  • Si cewek adalah anak bos yang bisa melancarkan karir si cowok. Cowok itu memberi cinta dengan tendensi agar karirnya meningkat.
  • Si cewek puiinnteeer buangeet (dan karena obsesi dari si cowok untuk ngedapetin anak yang pinter, maka cowok itu punya tendensi cinta yaitu mendapatkan keturunan yang pinter).
  • Si cewek berasal dari status sosial yang lebih baik dan keluarga yang terpandang (say keluarga pejabat ato keluarga konglomerat). Cinta si cowok punya tendensi agar dia mendapatkan peningkatan status sosial.

Yang cewek2 bisa nggak ngerasakan ato ngeliat (ato ngalami?) tendensi cinta cowok? Aku ternyata ngeliat banyak hal2 kayak gitu di sekelilingku. Misalnya:

  • Si cewek punya pacar cowok yang isa bayarin kebutuhannya dalam shopping. Cinta si cewek terhadap cowok jelas tendensius, yaitu demi memenuhi hasratnya dalam ber-shopping.
  • Si cewek punya pacar cowok yang kaya. Cinta si cewek punya tendensi terhadap kekayaan si cowok.
  • Si cewek punya pacar cowok pemaen sinetron yang dalam sekali episode dibayar 8 digit. Cinta si cewek punya tendensi untuk mendapatkan popularitas sebagai pacar dari pemaen sinetron.

Lama-lama, aku heran. Apa ada ya cinta yang nggak tendensius? Kalo cinta karena suatu alasan, ya wajar-wajar aja. Kita pasti mencintai seseorang karena suatu alasan. Tapi kalo karena kamu cinta ke seseorang karena punya tendensi tertentu (ada udang di balik batu), boleh nggak ya?

Alasan dan tendensi itu beda lo. Kalo alasan, itu udah permanen. Maksutnya sudah ada dan kamu nggak perlu berjuang untuk mendapatkan itu dari pasangan kamu. Kalo tendensi, kamu berusaha dan berjuang untuk mendapatkan itu. Misalnya kalo kamu cinta ma pacar kamu dengan alasan dia cakep. Itu alasan, bukan tendensi. Cakep-nya pacar kamu itu udah permanen, kamu nggak perlu berjuang lagi untuk mendapatkannya (karena dia udah jadi pacar kamu). Tapi kalo kamu cinta ma pacar kamu yang kaya agar kamu bisa morotin duitnya, itu namanya cinta yang tendensius. Kamu mungkin blom dapet duitnya, tapi kamu punya tendensi ke sana dan bertujuan untuk mendapatkan itu. Ato kamu udah dapet duitnya, dan kamu gak kpingin kehilangan sumber pemasukan dari sana. Jadi kamu tetep mencintai pacar kamu dengan tendensi ngedapetin duitnya.

Kerasa nggak beda alasan dan tendensi? Kalo tendensi kamu harus berjuang, ada usaha yang kamu lakukan demi mendapatkan apa yang jadi tendensi kamu (dan ada kmungkinan kamu gak ngedapetin apa yang jadi tendensi cinta kamu)… Itu sebabnya di kamus Webster tadi nulis definisi tendensi: "moving toward some particular purpose" (melangkah untuk tujuan tertentu). Kalo alasan, nggak kayak gitu. Nggak ada tendensi apapun di dalamnya. Misalnya: "Aku cinta kamu karena kamu baik dan perhatian sama aku". Itu alasan, bukan tendensi. Si cewek cinta sama cowoknya karena cowok itu baik dan perhatian (bukan cinta demi mengejar "kebaikan-dan-perhatian"). Isa membedakan?

Nah, aku punya topik untuk direnungkan bagi yang beriman kepada Tuhan. Yang nggak beriman ato nggak percaya Tuhan, kamu skip aja paragraf ini. Kalo kamu cinta sama Tuhan, cinta kamu itu pake alasan ato pake tendensi? Kalo pake tendensi, misalnya gini: Aku cinta Tuhan biar aku teruuuusss diberkati, biar aku isa tambah kaya, biar aku disembuhkan dari sakit. Itu namanya tendensi cinta. Kamu tendensius kalo kamu mikir kayak gitu. Kamu bisa2 nggak cinta Tuhan kalo tendensi kamu nggak terpenuhi… Kalo pake alasan: "Aku cinta Tuhan karena Tuhan itu udah lebih dulu cinta ke aku, ngasih aku kehidupan, meletakkan aku di sekeliling orang2 yang terbaik dan untuk semua kebaikan yang udah dilakukan Tuhan ke aku, bahkan sebelum aku menyadari keberadaan Tuhan". Nah itu alasan. Nggak ada tendensinya. Apapun yang terjadi, kamu tetep isa cinta Tuhan dan tetep isa merasakan kebaikan2 Tuhan.

So, kalo ada cowok ato cewek yang cinta ma kamu, mana yang kamu lebih suka, cinta yang tendensius ato cinta karena alasan? (Impossible kayaknya kalo cinta itu nggak ada tendensi ato alasannya). There must be a reason ato tendency. Aku pribadi lebih prefer ke yang alasan. Aku bayangkan misalnya ada seorang cewek yang cinta ma aku (misal ya!). Cintanya tendensius… Misalnya cinta ke aku karena biar kalo jalan2 biar ada yang nganter (ceritanya aku tukang ojek). Tendensi cinta kayak gini, akan segera runtuh kalo aku udah nggak isa lagi nganter2 dia. Itu sisi negatif tendensi cinta, ketika tendensinya nggak terpenuhi, cintanya akan luntur. Dasar cinta adalah pemenuhan tendensi. Ada cowok yang cinta ke ceweknya karena punya tendensi untuk mendapatkan kepuasan (seksual). Cintanya akan dengan gampang luntur ketika ceweknya nggak isa (ato nggak mau) memuaskan dia lagi.

Kalo kamu cinta ke seseorang karena suatu alasan, fine! Dan pastikan itu adalah alasan yang tepat. Misalnya, kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu itu cowok yang dewasa dan isa membimbing kamu. Kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu itu cowok yang bertanggung jawab. Kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu itu cowok yang setia. Kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu baik dan perhatian. Kamu cinta ke cowok kamu karena cowok kamu isa treat kamu well en menghargai kamu sebagai cewek. Nggak ada tendensi apapun ketika kamu cinta karena suatu alasan.

(btw, kalo aku… Aku akan cinta ke cewek karena cewek itu adalah cewek smart yang punya wawasan luas. Aku akan cinta ke cewek karena cewek itu isa bright my days. Aku akan cinta ke cewek karena cewek itu isa jadi temen diskusi yang asyik.)

[buat penganut-tendensi-cinta: find the reasons, not the tendencies]

06
Feb

Kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati

Di antara kamuh yang baca blog inih, sapa yang seneng kalo ada orang bilang kalimat2 negatif ke kamuh?
Misalnya:

  • "Kamuh mesti diet, biar badan kamuh nggak segede jin aladin kayak gini!" [tokoh jin aladin ini pernah muncul di episode ini]
  • "Badan kamuh itu kurus banget, coba minum jamu apa kek, biar rada gemuk dikit" [sambil mandang kamuh dengan iba]
  • "Kamuh ngerjain gituh aja nggak isa… gampang gitu kok…" [sambil mandang kamuh dengan sinis]
  • "Ini tulisan kamuh? Kok garink buanget…?" [sambil mbaca tulisan kamuh dengan terenyuh]
  • "Kalo nggak becus ngerjain, nggak usah coba2 deh…" [dengan ekspresi cuek]
  • "Males banget sih kamuh jadi orang? Mo jadi apa kamu nanti…?" [dengan pandangan "guah-lebih-rajin-dari-kamuh"]
  • "Kamuh itu udah sarjana, tapi kelakuannya masih kayak anak2…!" [dengan gaya sok]

Dengan berbagai versi kalimat, guah pernah dapet semua kalimat2 ituh (ok2, guah ngaku, perkecualian untuk kalimat pertama, karena guah nggak pernah punya badan segede jin aladin, bahkan separuhnya pun nggak ada. Jangan ketawa!). Beneran, guah pernah nerima semua kata2 negatif itu, dan guah berhadapan langsung dengan orangnya ketika mereka bilang gitu. Orang yang bilang kalimat2 itu ke guah juga dari berbagai golongan. Dari yang berpendidikan S2, S1 bahkan yang masih blom lulus SMA! Dari orang yang lebih tua dari guah, seumur dengan guah sampe yang lebih muda dari guah! Gak usah jauh2 ngamatinya. Ada orang2 yang punya positif attitude yang ngasih komen dengan kata2 yang positif (yang encourage guah buat nulis better and better, kamu-tahu-siapa-kamu! guah appreciate banget ma kalian!). Misalnya, Yuli Triana stelah baca blog "Menanggalkan Ketakutan" ngasih komen via SMS gini: "Win.. Blog mu yg terakhir yg kmrn. It’s the best of yours… Salut bro!! Ayo win tingkatkan terus. Kamu bisa memberkati bnyk jiwa dg cr ini." Guah yakin banget, waktu Yuli ngasih komen ini, itu karena dia emang ngerasa seperti yang apa ditulis di komen-nya… Dia nggak bermaksut cari muka ke guah ato menjerumuskan guah. Lalu dia nutup komen-nya dengan: "Cb Kirim ke sekuler win?". (I’ll think about it, sis!). Ituh adalah contoh positive attitude. Ato, kayak di posting guah tentang Memilih Profesi (which is guah kehilangan barang2 berharga), ada yang ngasih komen:

Pak….
mungkin TUHAN mau ngasih yang lebih baek….
jadi yang dulu-dulu diambil…
relakan saja…

Kalimat pendek ini nunjukkan sikap positif penulisnya, si Sonia (which is, blom tentu guah bisa nulis kayak gitu pas seumuran Sonia). Pas guah seumuran Sonia, kalo ngadepin masalah gini, guah pasti mencak2, mengutuki abis2an si malingnya, negative thinking ke smua orang, dll, dll, dll… Tapi, dari komen si Sonia, guah isa menilai bahwa Sonia ternyata lebih bijaksana ketimbang guah ketika seumuran dia.

Kamuh bisa aja ngasih komen ke guah yang isinya:
"Makanya, laen kali ati2 kalo naroh2 barang…"
"Salah sendiri naroh barang sembarangan… Kalo ilang gitu ya ditanggung akibatnya"
"Ya gitu itu kalo orang ceroboh…!"

Guah menyebut kalimat kayak gituh dengan sebutan: "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati". Kalo kamuh ngalamin kejadian yang nggak enak gitu, mana yang lebih enak buat kamuh denger? Kalimatnya si Sonia ato "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati"? Kalo guah, ya pasti lebih enak buat baca kalimatnya Sonia (dan "kalimat-positif-yang-menghibur-hati" lainnya).

Guah nggak tau, apa ada orang yang suka kalo denger "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati". Guah rasa nggak ada (ok, kalo kamuh emang suka, posting di komen ya, guah akan update blog ini). Kenyataannya emang ada yang suka ngomong kalimat gitu… Guah mikir2 dan merenung, kira2 knapa ya ada orang yang sampe mau ngucapkan kalimat gituh ke orang laen…

Guah rasa, kemungkinan orang ituh (yang ngucapkan "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati"), ketika bilang kayak gitu, pasti ngerasa dirinya lebih baiiiik ketimbang orang yang dikatai. Misalnya:

"Kamuh mesti diet, biar badan kamuh nggak segede jin aladin kayak gini!". Orang yang bilang gituh, pasti badannya kurus dan kurang gizi.

"Badan kamuh itu kurus banget, coba minum jamu apa kek, biar rada gemuk dikit" Orang yang bilang gituh, pasti gemuk dan iri ma kamuh yang punya bodi slim.

"Ini tulisan kamuh? Kok garink buanget…?" Orang yang bilang gituh, pasti kalo nulis, tulisannya pada basah semua…

Kamuh nggak perlu punya IQ tinggi kok buat ngasih kalimat2 positif ke orang laen. Malah guah sering nemui orang yang puinter banget, tapi sukanya ngasih kalimat2 negatif. Nggak usah jaoh2. Contohnya guah sendiri (contoh orang yang suka ngasih "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati" ya, bukan contoh orang yang puinter banget). Pas SMA ato kuliah, guah jarang banget mau ngasih kalimat positif ke orang laen. Guah selalu ngerasa, I can do better than you! Jadi seringnya ya mencacat-cela kerjaan orang laen. Apalagi pas kuliah, which is guah emang diakui oleh temen2 sebagai anak pinter. Akar kesombongan di dalam diri guah, tumbuh dengan subur. Jadi kata2 yang kluar, ya sering2 "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati". Ya, dalam pikiran guah waktu itu, guah pingin ngomong apa adanya. Kalo emang jelek ya guah akan terus terang bahwa itu jelek. Kalo bagus, tunggu dulu, selama guah bisa bikin yang lebih bagus, knapa mesti harus guah puji2 kerjaannya?

Kamuh nggak salah ngomong jujur. Tapi kalo kamu terus2an ngeluarkan "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati", guah kuatir kamuh sedang memupuk akar kesombongan dalam hati kamuh. Seolah2 kamuh sedang bilang, "Aku bisa kerja lebih baik" Dan guah, sekali lagi bisa menuliskan: "Dulu aku masih kecil, sekarang aku udah gede… Tapi blom pernah aku temui orang sombong disukai orang lain." Kayaknya itu udah jadi ketetapan yang berlaku untuk semua MANUSIA bahwa orang sombong nggak disukai orang laen. Kalo kamu terus2an ngucapkan "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati", guah yakin, kamuh nggak akan disukai orang laen (terutama orang yang kamu kasih kata2 itu). Ya, kalo kamuh emang nggak pengen disukai orang laen, fine. Terus ucapkan "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati" ke semua orang. Buat guah sendiri, kalo ada orang bilang "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati" ya didengerkan aja. Jengkel? Ya, sempet… tapi terus ya udah, gak perlu dipanjang2kan apalagi dibales dgn mengumbar kejelekan2 dia.

Tono: "Males banget sih kamuh jadi orang? Mo jadi apa kamu nanti…?"
Tini: "Huh! kayak kamu yang paleng rajin aja. Liat tu, kamar kamu berantakan tapi dibiarin aja. Sadar…! Kamu ituh juga males…!"
Tono: "Males apanya? Kamu itu yang males! Kalo pagi nggak pernah mandi. Mandi sore juga kalo inget…!"
Tini: [memikirkan kemalasan2 Tono yang bisa di-ekspos]

Nah, ituh kalo diteruskan, akan terjadi perang "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati". Gak ada untungnya lah.

Sebenernya, nurut guah yak, inti permasalahannya ketika kamu bilang "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati" bukan kamu bakal disukai orang ato nggak. Tapi lebih ke arah cara pikir kamuh. Kalo kamu terus2an bilang kalimat2 yang negatif ke orang laen, pola pikir kamu terhadap banyak hal, juga akan negatif (karena kamu terbiasa mengucapkan sesuatu yang negatif). Ketika kamu ngadepin masalah, kamu juga akan cenderung menyelesaikan dengan cara yang negatif. Ketika kamu ngeliat peluang, kamu juga akan cenderung pesimis dengan berpikir negatif. Dan nurut hukum alam sejak dulu kala, kalo kamu menabur yang negatif, kamu nggak akan bakal menuai sesuatu yang positif. Pola pikir negatif ya bakal menuai yang negatif.

Enaknya sih, smua keadaan dilihat dengan cara yang positif. Misalnya, kalo kamu baca tulisan temen yang kamu yang garink, yang gak mutu, kamu gak perlu bilang "Tulisan kamu gak mutu, garink banget…! bikin eneg aja bacanya…". Temen kamu pasti pikir2 sebelom maukkan kamu ke dalam ring-friendship ato even ring-make-contact. Bilang aja, "Tulisan kamuh ini isa lebih bagus kalo gini… gitu… Guah yakin, kalo kamu mo tetep nulis, pasti getting better and better…! Tetep nulis ya, guah gak sabar baca tulisan2 kamuh yang laen". Yang jadi fokus kalimat kamuh bukan "garink dan gak mutunya tulisan dia" (which is sisi negatif) tapi "gimana supaya dia isa lebih bagus" (sisi positifnya).

Daripada kamu ngucapkan kalimat "Badan kamuh itu kurus banget, coba minum jamu apa kek, biar rada gemuk dikit", lebih baik kalo kamu isa ngucapkan "Eh, kamu ituh lebih cakep loh kalo kamu isa menaikkan berat badan kamu 5 kilo. Pasti kliatan lebih seger". Yang jadi fokus bukan "kurus banget"-nya (which is negatif), tapi "gimana supaya dia lebih cakep" (sisi positifnya)

Yah, guah sendiri juga lagi blajar buat selalu keep positive. Gak selalu berhasil emang, kadang guah juga terjebak dengan ngomongin sisi negatif-nya orang laen ato bahkan mencela orang secara langsung. Tapi ya emang harus dilatih. Buat guah, bukan masalah disukai ato gak disukai orang, tapi kecenderungan berpikir negatif ituh emang nggak ada untungnya sama sekali. Don’t u think so?

[buat semua yang suka ngomong "kalimat-positif-yang-menghibur-hati", stay there... kamuh akan lebih diingat orang laen (positively) ketimbang mereka yang suka ngomong "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati"]

NB. Please, guah nggak ada maksut menggurui siapapun. Kita menginjak bumi yang sama, dan setiap saat bernafas dengan udara yang sama. Guah nggak bisa membayangkan kalo semua orang di bumi ini selalu ngomong "kalimat-negatif-yang-bikin-sakit-hati" ke orang laen… Kita pasti nggak damai lagi hidup di dunia ini. Guah ngerasa bahwa kalo kita semua punya good attitude buat selalu bilang "kalimat-positif-yang-menghibur-hati" ke orang laen, guah yakin, bumi yang kita injak ini, akan jadi better place buat kita semua… Kamu yang baca blog ini, share ke orang laen tentang hal ini, lalu orang itu share lagi ke orang laen, gitu teruuus… dan guah yakin, bumi ini pasti jadi better place to live… (guah idealis banget yak?)

04
Feb

Right Man on The Wrong Time

Hari Jumat kemaren, guah nerima good news by email dari penerbit Ka*** (guah sensor yak). Good news karena obsesi guah untuk jadi novelis, akhirnya tercapai. Tapi, guah berada di wrong time, yang mana keadaan ekonomi negara masih blom begitu baik. Apa hubungannya dengan novel? Inih email yang guah terima:

Date: Fri, 3 Feb 2006 05:10:13 +0000 (UTC)
From: "
k*******@go.com" <k*******@go.com
To:
windraswastika@yahoo.com
Subject: Re: Naskah Novel
   
Yth. WIndra Swastika

Salam,
Bersama ini kami kabarkan bahwa secara formal naskah anda yang
berjudul J*** [guah sensor lagi yak] bisa masuk dalam kriteria kami. Akan
tetapi, karena kondisi pasar buku dan perekonomian sedang lesu, serta
situasi yang belum jelas, Penerbit K*** baru bisa memberikan
keputusan final setelah 3 (tiga) bulan ke depan.
Apabila anda bersedia dan bisa menunggu, kami akan mengarsip naskah
anda dan nanti akan kami jajaki lagi kemungkinan penerbitannya.
Sementara itu, anda berhak mengirimkan naskah anda kepada penerbit
lain. Akan tetapi, mohon beritahukan kepada kami jika anda ingin
menarik naskah anda atau telah diterima oleh penerbit lain.
Demikian pemberitahuan kami. Atas perhatian anda kami sampaikan terima
kasih.

Hormat kami,
Wikan Satriati
(Editor)

Ituh tentang novel pertama guah yang guah kirim ke penerbit Ka**** Januari bulan kemaren. Cuman dua orang yang pernah baca naskah ini sebelum guah kirim ke penerbit, yaitu cewek ini dan cewek ini (yang mana keduanya adalah teenage). Tapi both of them ngomentari bahwa novel ini not that good. Bahkan salah satu dari mereka bilang, pas baca novel ini, serasa baca blog guah (which is nggak termasuk genre teenlit menurutnya).

Terus terang, guah udah spend waktu 1.5 bulan buat bikin novel ini (nulis+research karena guah make setting kota Bordeaux di Perancis. Guah nggak mungkin ke Perancis, jadi ya guah harus ngadain research yang proper via Internet agar kota Bordeaux sebagai settingnya ituh kliatan nyata) Setelah beberapa kali revisi, finally guah kirim untuk pertama kalinya ke penerbit Ka*** ini. Dan guah seneng karena menurut mereka, naskah guah memenuhi kriteria mereka (gak ditolak), yang artinya naskah ituh punya pasar pembaca (menurut penerbit Ka***).

Tapi ya ituh, guah berada di wrong time. Dengan alasan kondisi pasar buku dan perekonomian sedang lesu, naskah ituh nggak isa dicetak secepatnya. Untungnya mereka cukup pengertian dengan ngasih guah kebebasan buat ngirim ke penerbit laen. Tapi etika penulis ituh, kalo udah ngasih naskah ke penerbit, mestinya nggak boleh ngasih ke penerbit laen sampe dapet keputusan final DITOLAK. That’s explain knapa guah masih mikir2 buat guah kirim ke penerbit laen.

Jadi buat mereka yang nanya2 novel guah kapan terbit, kamuh tau situasinya kayak apa… Btw, guah jadi kpikir naskah Lit4TeenSoul yang bahkan guah udah sign kontraknya bulan November taon lalu, tapi sampe sekarang blom terbit juga… Jangan2 karena alasan yang sama…

Tapi guah yakin kok, kalo guah ini right man on the right time. Kalo guah bilang wrong time di awal paragraf, itu kan nurut pemikiran orang (termasuk guah). Tapi guah percaya bahwa semua ituh adalah right time menurut waktu TUHAN. Waktu TUHAN ituh nggak pernah wrong, selalu right. Kalo novel ato lit4teensoul guah blom isa diterbitkan (karena macem2 alasan), guah yakin bahwa itu salah satu cara Tuhan menggenapkan right-time menurut DIA. Selera DIA dalam menentukan waktu yang tepat, emang kadang nggak isa guah mengerti (awalnya). Tapi ya guah percaya ajah bahwa waktunya TUHAN itu selalu pas, nggak pernah telat dan… pasti yang terbaik!

[buat yang "ngerasa-seneng-nulis", dilatih terus... lewat blog juga isa kok. Kalo guah dapet notifikasi bahwa ada blog yang di-update, guah selalu usahain buat nge-bacanya, en ngasih komen buat encourage kamuh yang "ngerasa-seneng-nulis" untuk nulis dan nulis lagi. Guah siap kok spend waktu buat kalian in case kalian pengen discuss hasil tulisan kalian...]