Archive for March, 2006

23
Mar

Posting nggak penting

Sebelumnya sudah saya beritau ya… Ini posting nggak penting. Tapi kalo mau baca, ya gak papa…

Pertama, saya sudah menjadi blogger selama 1 tahun. Posting pertama saya pada hari Senin, tanggal 18 April 2005 (jangan kagum dengan daya ingat saya ya… saya juga baru saja melihatnya di daftar posting, hihihi2…).

Kedua, saya baru tahu bahwa kata abakadabra, menurut sumber di sini, berasal dari 3 kata bahasa Hebrew yaitu ab (father), ben (son), dan acadosch (holy spirit) - bapa, putra dan roh kudus (pake huruf kecil ya karena saya tidak setuju). Menurut saya ini maksa sekali… Apa coba persamaan Abakadabra dengan abbenacadosch? Jauh banget kan? Yang lebih cocok ternyata abakadabra berasal dari bahasa Aram (yang dipake di dialog pilem The Passion of the Christ), yaitu dari kata "avra kehdabra" yang artinya "I will create as I speak". Nah, lebih matching kan?

Ketiga, untuk memperingati ulang tahun pertama blog saya ini, saya memberi hadiah blog saya ini. Hadiahnya adalah rumah baru di www.fct26.com,  (sebentar… rasanya ada yang aneh… "blog saya ulang tahun dan saya memberi hadiah blog saya ini sebuah blog yang saya buat"). Tapi sudahlah, selamat ulang tahun yang pertama ya… Smoga panjang umur.

Keempat, blog di fct26.com itu untuk memposting hal-hal yang nggak penting. Jangan bilang saya belum mengingatkan kalo kamu baca, lalu kecewa sambil menggerutu "gak penting banget sih?"…!

Kelima, saya masih inget sama Ic*a, the-girl-who-still-remain.

Keenam, saya kepingin membuat novel. Tapi kok ya sibuk terus…?

Ketujuh, popularitas friendster saya menurun. Hingga tanggal 23 Maret ini, yang ngeliat saya di cuman 47 orang sejak 1 Maret. Itu termasuk saya yang melihat diri saya sendiri sebanyak 3 kali. Kenapa ya? Mungkin saya harus sering melihat profile saya sendiri, paling tidak 50 kali, jadi total 97 kali.

Kedelapan, saya mau pulang. Soalnya saya sudah lapar. Tadi, abis pulang ngajar, waktu mau makan nasi yang dari sekolah, ternyata nasinya basi. Jadi saya nggak jadi makan nasi. Sekarang saya lapar. Saya mau pulang dulu ya.

19
Mar

GOD creates Man or Man creates god

Siapa yang nggak percaya Tuhan, raise your hand up…!

Did u ever asked to yourself these kind of questions:
"Siapa Tuhan itu?", "Bagaimana bentukNya?", "Mengapa DIA harus menciptakan alam semesta yang tanpa batas ini?", "Mengapa Dia menciptakan manusia?", "Apa tujuan penciptaan manusia?", "Bukankah lebih enak jika Dia tidak perlu repot2 menciptakan manusia yang ternyata beberapa diantaranya menghujat Dia lewat tindakan2nya?", "Mengapa Tuhan nampak selalu bersembunyi?", "Di mana DIA…?"

Tuhan, bagi sebagian besar orang, merupakan "konsep" yang membingungkan… Sampe2 ada yang nulis "Man creates god or God creates man?". Maksutnya, Tuhan itu sebenernya cuman hasil dari pemikiran manusia doang ato emang beneran Tuhan itu ada dan menciptakan manusia. Ribuan tahun para filusuf dan teolog berusaha memecahkan teka-teki terbesar ini… Salah satu filusuf itu, adalah aku yang lagi nulis blog ini (bedanya, tulisan para filusuf besar itu tercatet dalam sejarah, sedangkan tulisanku filusuf kecil ini, tercatet dalam blog yang nggak dicatet di sejarah). Beberapa tahun lalu (ketika blom kenal dan intim sama Tuhan), aku ini filusuf amatiran yang sok2an berusaha menjawab pertanyaan "Apa Tuhan bener2 ada?"

Kalo ada yang nulis "Man creates god or God creates man?", aku rasanya punya kesamaan pandangan terhadap pencetus kalimat itu. Aku rasanya juga bisa nangkep esensi di dalam kalimat tersebut. Yang nulis itu, pasti punya keraguan kayak aku dulu… (kalimat-nya pake past tense ya) Jangan2, Tuhan itu nggak pernah ada. Tuhan itu hanya konsep yang dibuat manusia yang nggak bisa menjawab rahasia2 alam semesta. Jadi untuk semua pertanyaan yang nggak terjawab, akhirnya manusia menciptakan sosok "TUHAN". Sosok "TUHAN" ini adalah hasil dari rasa frustasi manusia yang nggak bisa menjawab pertanyaan2nya sendiri. Jadi mereka bilangnya, "rahasia-Tuhan". Buat aku waktu itu, kalo sampe ada yang menjawab pertanyaan dengan "rahasia-Tuhan", jelas nggak memuaskan banget! Konsep istilah "man creates god" itu adalah bahwa "Tuhan nggak ada", yang ada adalah manusia menciptakan sosok "tuhan" yang serba "maha" hanya sekedar untuk menjawab pertanyaan2 yang nggak isa terjawab. Pikiranku waktu itu… "kalo nggak bisa jawab bilang aja nggak bisa… jangan pake jawaban "Oh-itu-rahasia-Tuhan"! Tunggu sampai sains menemukannya!".

Blom selesai juga. Kalo Tuhan ada, ngapain juga dia repot2 menciptakan manusia (pake kata create, bukan invent ato discover). Manusia segini banyak, yang suka bikin masalah macem2, yang ngerusak alam, yang bunuh2an, yang bingung cari duit, yang bingung sekolah, yang seenaknya sendiri, yang sibuk nge-blog, yang sibuk baca blog ini juga, yang nggak mo peduli ma orang laen, yang bahkan nggak sempet mikirin Tuhan. Ngapain coba Tuhan bikin yang gitu2an? Mbok ya dulu itu Tuhan sendirian aja, nggak usah nyiptain yang macem2, nggak usah bikin alam semesta, nggak usah bikin manusia… Lah ini kok malah repot2… Bikin alam semesta lah, bikin manusia lah…

Tuhan: "Eh, Saya mau bikin manusia"
Manusia-dengan-adat-timur: "Aduh, ngerepotin Tuhan aja… Nggak usah deh"
Manusia-dengan-adat-barat: "Sure, thanks!"
Manusia-tidak-beradat: "Mo bikin manusia kek, mo bikin monyet kek, who cares?"

Kalo Tuhan nyiptain manusia, lalu setelah manusia diciptakan (dan beranak pinak), so what? Mo dibikin apa coba, manusia segini banyak ini…
Aku dulu ngebayangin Tuhan itu lagi maen games 3D dengan objek manusia (saking kreatifnya pikiranku). Tuhan sekarang lagi pegang stick (bayangkan play station) dengan ratusan bahkan ribuan tombol yang ngontrol manusia.

Tuhan: "Eh, Windra… Loe nakal amat sih, nih Gua kasih sakit…". Tiiit…! [mencet tombol "sakit"]
Windra: [langsung kejang2, sakit tipes]

Tuhan: "Eh, Joko… Loe udah berbaik hati ma orang2, nih Gua kasih duit…" Tuuut…! [mencet tombol duit]
Joko: [menang tender 10 digit!]

Tuhan: "Eh, Tini… Tugas loe udah selesai di bumi. Balik ke Gua, sekarang!…" Tuiit…! [mencet tombol dengan tulisan "BACK HOME"]
Tini: [meninggal]

Nah, kbayang kan ribetnya Tuhan di "sono"? Jadi kalo ada yang mikir bahwa Tuhan sebenernya itu cuman sekedar konsep buatan manusia, bisa ngerti kan kamu? Ato jangan2 kamu juga mikir gitu…? Tapi wajar kok, kamu nggak sendirian. Jutaan manusia di luar sana juga sama kayak kamu, membuat konsep Tuhan dalam pengertian dan kebenarannya sendiri (that’s why ada paham komunisme dan ateisme yang nggak percaya Tuhan). Selama beberapa tahun, aku juga membuat konsep Tuhan dalam pengertianku sendiri (dan lebih mempercayai pernyataan "Man creates god" ketimbang "God creates man"). Correct me if i’m wrong ya… Dari yang aku baca di bukunya Dan Brown (Yes, I also read them), Buddhist adalah salah satu agama yang nggak mengakui adanya Tuhan. Tuhan ituh adalah diri kita sendiri (aku nyoba cross cek tulisan Dan Brown ini ke beberapa orang yang beragama Budha, tapi masih blom dapet jawaban yang jelas, jadi masih blom bisa aku pastikan kebenarannya…)

Buat kamu yang punya konsep "Man creates god" alias yang masih bertanya2, "WHO IS GOD?", "WHAT’S HE LOOK LIKE?", "HOW DO I KNOW IF HE REALLY EXISTS?" dan pertanyaan2 semacam itu. Consider this: kasus pertama: lihat langit kalo malem hari. Kamu akan ngeliat bintang. Lihat alam sekitarmu, kamu akan menemui peristiwa2 alam yang ajaib seperti kematian, kelahiran, pohon yang tumbuh, bunga yang mekar, gravitasi yang slalu membuat benda2 jatuh, yang membuat bumi berputar, matahari yang terus bersinar, ketepatan massa matahari dan massa bumi yang membuat bumi berada di lintasannya sehingga nggak tertarik oleh benda lain… Amati lagi keajaiban2 lainnya.

Kasus kedua: kumpulkan semua komponen arloji. dari jarum jam, menit, detik, baterei, kumparan, dan … [apalagi sih komponennya?], semua komponen pokoknya. Lalu taroh dalam sebuah toples dan tutup toples tersebut. Mari bermain2 dengan peluang. Jika kamu "shake" (mengguncang2kan) toples tersebut, berapa kemungkinan ketika kamu membuka toples tersebut, arloji tersebut sudah jadi? Arloji tersebut dapat berjalan normal? Mungkin nggak? Komponennya lengkap, tapi kalo kita "shake" toples-nya, mungkin nggak begitu toples dibuka, arlojinya sudah "jadi"? Kalo masih blom jadi, "shake" lagi toples-nya. Berapa lama kamu "shake" toples tersebut sampe arlojinya jalan dengan normal?

Somebody HARUS memasang komponen2 arloji tersebut dengan tingkat ketelitian yang tinggi! Nggak bisa sekedar "shake" toplesnya, lalu arloji tersebut jadi. Harus ada somebody yang menyusunnya dengan hati2. Sama kayak alam semesta yang kita diami ini, harus ada Somebody yang menyusunnya dengan hati2. Meletakkan matahari (dengan massa sekian) di tempatnya, meletakkan bumi (dengan massa sekian) di tempatnya, meletakkan bintang2 di posisi yang seharusnya… Dan seperti arloji yang komponennya telah terpasang pada posisi yang seharusnya, arloji tersebut dapat berjalan sebagaimana mestinya. Detik demi detik yang menggerakkan menit. Menit demi menit yang menggerakkan jam. Begitu juga alam semesta yang semua komponennya sudah dalam posisi yang tepat, semuanya akan berjalan dengan alami. Tapi sebelum semuanya berjalan, SOMEBODY harus mengatur terlebih dulu. Setelah itu, jadilah alam dengan segala keajaibannya… bumi yang selalu berputar, gravitasi, tumbuhan yang berfotosintesis, pohon yang berbuah, terjadinya manusia lewat hubungan suami istri, kehamilan, kelahiran, kematian… semuanya berjalan dengan sangat alami. Harus ada SOMEBODY yang menciptakan dan mengatur semua itu jauuuuuhhhh sebelumnya… Dan ketika semua sudah diatur dengan rapi, terciptalah waktu, berjalan dengan harmonis… Semuanya "menggelinding" begitu saja… Seperti halnya detik yang berputar pada arloji. Nampaknya berjalan sendiri, tapi sebelum detik itu bisa berputar, somebody harus menyusunnya…

What I believe now is "God DOES create man…" not "Man create god".
Any comment guys?

[Well, this article isn't complete yet. I wrote the complete article on chapter "God Creates man on man creates god?" in Lit4teensoul #2 (yup, I've just finished the second one, even the first one isnt't published yet...).]

12
Mar

Kebiasaan Begini Begitu (21+21)

Definisi kebiasaan (menurut versi Windra): sesuatu yang kamu lakukan secara periodik (present tense/saat ini). Dulunya, (past tense) hal itu nggak pernah kamu lakukan, tapi sekarang jadi ngelakukannya secara periodik. Ituh kebiasaan (menurut kamus Windra ya…).

Misalnya, aku punya kebiasaan (yang gak jelas baik ato nggaknya), gini: sejak dipasang kawat gigi (2 taon yang lalu), aku selalu ngamat2i gigi di depan cermin sebelom mandi. Jadi sebelom prosesi pengguyuran air dan bersabun, aku mesti ngadep cermin dulu, lalu mengamat2i gigi. Dulu pas pertama2 dipasang, motivasi mengamat2i gigi itu, pingin make sure bahwa gigi2ku bergeser pada tempat yang tepat. Nggak lama sih, skitar 30 detik aku ngamatinya. Baru setelah itu, prosesi pengguyuran air dimulai. Ternyata, walopun skarang aku udah yakin bahwa nggak ada masalah dengan pergeseran gigiku, aku nggak berenti melakukan pengamatan, malah jadi kebiasaan. Setiap kali sebelum prosesi pengguyuran air, aku pasti ngadep cermin dulu, dan ngamat2i gigi di depan cermin. Dan itu berlaku di manapun. Selama 2 taon ini, aku beberapa kali harus nggak tidur di rumah. Jadi kalo pas harus tidur di tempat laen, lalu ke kamar mandi untuk mandi, yang dicari pertama kali ya cermin. Rasanya kalo nggak ngelakukan itu, ada yang kurang dalam prosesi mandi. Aneh ya? Ituh yang aku maksut dengan kebiasaan. Dulunya pas blom dipasang kawat gigi, ya aku nggak pernah ngamat2i gigi sebelom mandi. Tapi sekarang jadi kebiasaan (btw, so far aku masih blom merasakan dampak negatif dari kebiasaan ini, jadi masih nggak ada rencana buat menghentikannya…)

Itu salah satu kebiasaanku dan aku masih buanyak kebiasaanku yang laen. Aku yakin, kamu juga punya kebiasaan. Say, kebiasaan mandi kamu (ada yang sebelom mandi, punya kebiasaan ngamat2i wajahnya, ngeliatin jerawatnya sambil mikir kok nggak ilang2 ato ngeliat bagian2 lain dari tubuhnya -jangan ngeres ya!-), kebiasaan kamu menyisir rambut (ada yang nyisir rambut dengan cepat, ada yang sampe satu per satu rambutnya dipastikan berada di slot yang tepat -emangnya CPU ada slot-nya segala), cara kamu menggosok gigi (ada yang menggosok gigi secara vertikal, ada juga yang horisontal), cara kamu belajar, cara kamu tidur (aku pernah nemui orang yang punya kebiasaan tidur dengan bertelanjang dada - ini cowok ya!), cara kamu jalan, cara kamu bicara… perhatikan aja… Tapih, slama kebiasaan kamu baik, ya teruskan aja.

Misalnya kebiasaan blajar 4 jam sehari (untuk pelajar SMA ato anak kuliahan ini udah baik, walopun menurutku idealnya 6 jam), kebiasaan sarapan, kebiasaan mandi sehari dua kali, kebiasaan berdoa, kebiasaan mengucapkan hal2 yang positif… Ituh semua menurut aku adalah kebiasaan baik. Jadi kalo kamu udah terbiasa ma hal2 itu, ya teruskan aja. (Btw, kebiasaan minum kopi di pagi hari itu kebiasaan baik nggak ya? Masalahnya, orang2 yang punya kebiasaan minum kopi, bangun tidur langsung yang dicari kopi… sama kayak aku sebelom mandi, yang dicari cermin dulu)

Yang gawat ituh… kalo kamu punya kebiasaan yang jelek. Misalnya kebiasaan nggak mandi (baik pagi ato sore atau pagi dan sore), kebiasaan tidur 12 jam sehari (sampe2 punya alasan, badan capek semua kalo blom 12 jam tidur), kebiasaan ngerokok (pro kontra deh, tapi mostly orang bilang itu nggak baik), kebiasaan ngomong hal2 negatif, kebiasaan berfantasi yang jelek2 ato istilahnya ngelanjor - ngelamun jorok (para cowok biasanya punya kebiasaan ini, jangan mandang guah dengan pandangan "jadi-kamu-juga?", NGGAK! kebiasaan jelek nggak perlu dipiara!), kebiasaan ber-masturbasi (skali lagi, ini biasanya para cowok. Juga pro-kontra, tapi ktika ber-masturbasi, mostly, yang dipikirkan adalah hal2 yang jorok, dan nurut guah, memikirkan hal jorok jelas bukan hal yang baik).

Apa kamu nyadar dengan kebiasaan2 bagus ato jelek kamu? Mungkin kalo kamu nggak nyadar (saking biasanya), kamu harus nanya orang laen… Orang2 yang deket ma kamuh biasanya tau kebiasaan2 kamu (tanpa kamu sadari).

Nah, yang aku tau, di bumi yang kita injek ini punya hukum yang berlaku untuk semua manusia yang hidup di dalamnya, namanya tabur-tuai (sow-reap). Kalo kamu menabur kebiasaan, kamu akan menuai karakter. Karakter kamu ituh terbentuk dari kebiasaan2 yang kamu lakukan. Kalo kamu punya kebiasaan baik, ya kamu akan punya karakter yang baik. Kalo kamu punya kebiasaan jelek, ya kamu akan punya karakter yang jelek. Contoh gampangnya aku. Aku ini punya kebiasaan jelek yaitu "nggak suka menyapa orang atau beramah-tamah dengan orang lain" (ciri khas orang yang introvert, lebih menikwati waktu sendirian ketimbang bersama orang laen, lebih enjoy baca buku sendiran di kamar ketimbang hangin’ out bareng temen2, lebih suka menikmati pantai ato gunung yang gak banyak orang ketimbang berame2 di mall).

Nah, ciri introvert ini kebawa kalo aku ktemu dengan orang yang aku kenal (which is kenalnya gak gitu akrab dan aku gak punya urusan apa2 ma dia). Misalnya aja, temen pas SMP (yang dulu pas SMP cuman sekedar tau namanya, tapi gak pernah ngobrol2). Trus kita ktemu di jalan ato di mall, ato di supermarket, ato di tempat umum manapun. Aku masih inget wajahnya, tapi jarang banget aku nyapa duluan… (lah gak ada urusan apa2 sih). Dengan berbagai daya upaya, aku akan berusaha menghindari agar nggak terlihat ma dia (kalo aku punya jaket-nya Harry Potter yang isa bikin nggak kliatan itu, pasti udah aku pake). Kalopun terpaksa kliatan, aku cuman senyum aja dan memandang dia dengan pandangan "nggak-perlu-beramah-tamah-okay?" ato yang lebih parah, langsung buang muka berlagak gak kenal (ada yang punya kebiasaan gitu?). I know, kebiasaan jelek. Dan tau nggak karakter apa yang aku tuai? Karakter sombong. Yap, aku dapet predikat "orang sombong" akibat kebiasaan jelek itu. Bukan predikat yang baik, that’s why aku berusaha keras mengubah kebiasaan jelek itu. Mulai "basa-basi" ma orang laen. Ternyata asyik juga… (ditambah bahwa kemampuan berbasa-basi dapat diterapkan waktu pdkt ke cewek!). Jadi aku mulai enjoy beramah-tamah (walopun sifat dasar introvert seringkali mendominasi)

Aku punya kebiasaan lagi, sebelum makan, aku selalu mengucap syukur ke Tuhan untuk makanan yang udah Dia kasih ke aku. Apapun makanannya, minumnya teh botol sosro… Eh, nggak ding, apapun makannya, I’ll say "Tuhan, terimakasih untuk makanan yang sudah Kau berikan ini, aku terima dengan ucapan syukur…" Ketika bilang itu, aku mengucapkan dengan sungguh2 (orang bilang guah lagi doa… whatever sebutannya, intinya aku bersyukur karena Tuhan masih pelihara aku dengan sampe saat ini). Dan, karena kebiasaan "kecil" itu aku menuai karakter sebagai orang yang "bisa-bersyukur-dalam-keadaan-apapun". Bagaimanapun kondisi yang aku hadapi, aku tetep isa mikir bahwa kalo untuk makanan aja aku selalu dicukupkan ma Tuhan, pasti untuk keperluan laen2nya, untuk masalah apapun, Tuhan juga akan taking care aku… Dan karena aku terbiasa mikir gitu, ya persis seperti yang aku pikirkan itulah Tuhan bertindak. Dia taking care aku every single day. Karena kebiasaan kecil, yaitu mengucap syukur untuk hal2 yang kecil.

Karakter kamu ituh adalah produk dari kebiasaan-kebiasaan yang kamu lakukan. Perhatikan aja karakter yang ada di kamu sekarang. Lalu cari kebiasaan yang sering kamu lakukan sehingga kamu bisa punya karakter tersebut. Nah, aku punya fakta yang akan bikin kamu terkejut. Masa depan adalah hasil tuaian dari karakter kamu. Jadi masa depan itu bukan NASIB yang udah kebentuk ketika kamu lahir. Lahir… Crot! Langsung ketauan masa depan-nya baik… Nggak! Bukan gitu konsepnya. Menabur karakter, hasil tuaian-nya adalah masa depan kamu. Masa depan kamu ditentukan oleh karakter kamu. Percaya? Contoh garink: kebiasaan bermalas2an akan menghasilkan karakter "pemalas". Dan blom pernah ada orang yang menabur karakter "pemalas" dalam hidup mereka menuai kesuksesan… Blom pernah terjadi.

Coba kamu amat2i orang sukses di sekeliling kamu, perhatikan kebiasaan2 mereka (ortu kamu ato siapapun yang sukses). Kmungkinan besar mereka adalah orang2 yang punya kebiasaan bekerja berjam2 (nggak males), punya kebiasaan ngeliat sesuatu sebagai peluang (think positif), punya kebiasaan mengerjakan sesuatu sampe kelar (gak gampang nyerah/ulet) dan sederetan kebiasaan baik lainnya. Kebiasaan itu, membentuk karakter mereka (karakter tahan banting, karakter pekerja keras)… Dan kalo akhirnya mereka menuai kesuksesan, ya nggak perlu heran kan?

Kabar baiknya, KEBIASAAN ITU BUKAN SESUATU YANG MUTLAK! Kebiasaan itu bisa dibentuk (inget definisi kebiasaan menurut versi Windra: sesuatu yang kamu lakukan secara periodik, dulunya, hal itu nggak pernah kamu lakukan, tapi sekarang jadi ngelakukannya secara periodik). Kalo kpingin masa depan yang baik, knapa nggak memulai dengan kebiasaan yang baik dari sekarang? Mengubah kebiasaan (ato membuat kebiasaan baru) itu butuh 21 periode untuk membuat kamu jadi terbiasa dan 21 periode lagi untuk membuat kamu menjadi nyaman ngelakukannya. Ini berlaku buat kebiasaan baik maupun kebiasaan nggak baik.

Maksutnya gini: kalo kamu terbiasa tidur 12 jam sehari (dan punya niat ngubah jadi 6 jam sehari), kamu butuh waktu 21 hari untuk menjadi terbiasa (tapi masih blom nyaman). Baru 21 hari kemudian kamu (kalo kamu konsisten tidur 6 jam setiap hari) kamu akan merasa nyaman. Nah, yang sulit ituh adalah pada hari-hari pertama. Biasanya tidur 12 jam, sekarang jadi cuman 6 jam. Godaan untuk jatoh kembali pada 12 jam itu gede banget. Tapi trust me, kalo kamu isa ngelewati 6 minggu ituh (21+21 hari), kamu pasti nyaman walopun cuman tidur 6 jam (malah kalo tidur 12 jam jadi nggak nyaman)! Justru karena sulit ituh, makanya nggak semua orang bisa (dengan kata laen, nggak semua orang bisa membiasakan diri dengan kebiasaan baik sehingga nggak semua orang isa menuai kesuksesan… intinya, cuman orang2 yang though, yang tangguh, yang mau memaksa dirinya untuk membiasakan melakukan hal2 yang baik-walopun sulit- itulah yang akan menuai kesuksesan).

Hal yang sama berlaku untuk membiasakan kebiasaan jelek. Kalo pengen membiasakan merokok, gampang aja. Coba merokok 1 batang sehari. Dalam 21 hari, kamu akan terbiasa merokok (walopun blom nyaman2 banget). Lalu 21 hari berikutnya (kalo masih tetep konsisten merokok), kamu akan nyaman dengan rokok itu. (kebiasaan ini bisa dibalik bagi yang pengen berenti dari kebiasaan ngerokok, berenti dari kebiasaan ngelan-jor, berenti dari kebiasaan ber-masturbasi).

Pengen punya kebiasaan makan pagi? Gampang. Setiap hari selama 42 hari, makan pagi terus (jangan ada satu haripun yang kelewat). Di hari ke-42, kamu akan nyaman dengan kebiasaan kamu (hal ini berlaku juga bagi yang kepingin punya kebiasaan bangun jam 5 pagi, doa pagi, blajar pagi, lari pagi). That’s explain juga knapah aku sampe bisa nyaman dengan kebiasaan mengamati gigi sebelom mandi… (2 taon, gimana gak jadi nyaman?)

Pengen terbiasa blajar 6 jam sehari? Gampang. Paksa diri kamu untuk membaca buku pelajaran ato ngerjain pe-er selama 6 jam setiap hari (bisa pake sistem 2jam-break-2jam-break-2jam). Dalam 42 hari (21 hari terbiasa dan 21 hari berikutnya nyaman), kamu akan merasa nyaman dengan belajar 6 jam sehari! (Jangan ada alasan "nggak-ada-yang-perlu-dipelajari" sehingga kamu tergoda untuk nggak belajar). Harus berturut2 42 hari baru kamu merasa nyaman. Dan kalo nggak belajar 6 jam, pasti kamu ngerasa ada yang kurang.

That’s explain juga kenapa orang yang putus cinta (setelah pacaran lama), jadi nggak gampang ngelupain. Lah wong mereka udah terbiasa berdua2, kebiasaan telepon2an, kebiasaan sms2an (udah ngelewati fase 21+21 sehingga merasa nyaman berdua)… Cara ngelupainnya gimana? Ya mesti dibiasakan untuk nggak berdua2 (pake prinsip 21+21 lagi dalam versi kebalikannya).

That’s how our mind work… Pretty simple kan?

Kebiasaan2 ini boleh dicoba kalo mau:

  1. Kebiasaan bangun pagi dan blajar.
  2. Kebiasaan blajar minimal 4 jam sehari.
  3. Kebiasaan sarapan pagi.
  4. Kebiasaan ngomong yang enak didengar (ngomong positif).
  5. Kebiasaan nggak jelek2an orang lain.
  6. Kebiasaan mengucap syukur untuk kejadian apapun.
  7. Kebiasaan berdoa (minta penyertaan Tuhan).

Btw, selain berusaha untuk bisa nyaman dengan kebiasaan2 di atas, aku sekarang lagi membiasakan diri untuk nulis blog setiap minggu minimal 1 (dan so far sudah berjalan selama 10 periode / 10 minggu… tapi rasanya aku udah mulai nyaman, kmungkinan untuk membiasakan sesuatu yang menyenangkan buat kita, nggak perlu 21+21, kayaknya 10+10 udah mulai nyaman…).

Is it a good habit? I think so… It develops my writing skill.

Jadi instead of punya kebiasaan yang jelek, kan mending membiasakan diri dengan kebiasaan yang baik… Cuman 21+21 kali loh! Inget, menabur kebiasaan akan menuai karakter. Menabur karakter akan menuai masa depan… Masa tega sih kamu kalo masa depan kamu nggak baek gara2 kamu sekarang punya kebiasaan yang nggak baek? Menabur kebiasaan baik gitu looo…

[buat kamuh... udah kpikiran good habit yang pengen kamu lakukan? mesti keep fighting loh...! ingeeet...! cuman dengan 21+21 kamu udah bisa menuai masa depan...]

NB. Tapi ada suatu kebiasaanku yang masih mengganjal (dan somehow, guah kok ngerasa sayang untuk ditinggalkan…). Kebiasaan thinking bout "the-girl-who-still-remain". That’s explain knapah dia masih still-remain… [sigh...]

05
Mar

The Power Of Focus

Kalo aku boleh bilang, sukses ituh bukan sekedar "hocus pocus" (meniru mantera2 yang biasa diucapkan pesulap2). Sukses ituh bisa kita raih karena kita fokus.

Ok, I know, pengantar yang guarink. Mari langsung dipraktekkan. Sukses untuk dapet nilai ulangan yang baik, nggak bisa kamu sekedar bilang "hocus pocus" dan besoknya dapet 100. Sukses untuk juara dalam suatu lomba, nggak bisa sebelum lomba kamu cuman bilang "hocus pocus" lalu kamu juara di lomba itu (kecuali memang lomba pronounciation "hocus pocus"). Sukses ngejar cewek, nggak bisa kamu ber-"hocus pocus" di depan cewek itu, lalu ceweknya langsung mau ma kamu (kecuali cewek itu terobsesi dengan cowok yang bilang "hocus pocus"). Sukses di bidang nulis, nggak isa sekedar nulis "hocus pocus", lalu bukunya jadi best seller. Termasuk sukses di kerjaan apapun, nggak pernah ada yang cuman bermodal "hocus pocus". That’s not how the world work (dan aku bisa bilang sekali lagi kalimat favoritku, "Dulu aku masih kecil sekarang udah gede, tapi blom pernah aku ngeliat orang sukses dengan cuman bilang "hocus pocus"). Bumi yang sama-sama kita injak ini sama sekali nggak bekerja dengan "hocus pocus" seperti itu (kecuali ada makhluk alien dari luar tata surya ini, lalu meng-akses blog ini… Hei, this blog is not for you! I wrote this blog JUST FOR HUMAN BEINGS WHO LIVED ON EARTH, SO, WHY DON’T YOU CLOSE YOUR WEB BROWSER AND SURF OTHER SITE?)

Kita hidup dalam suatu sistem alam semesta yang terbentuk selama miliaran tahun. Mau nggak mau, ya kita bakal terbentuk di dalam sistem itu. Contohnya gini:

Dulu pas masih SD, aku seneng maen2 ma lensa. Pas siang2 bolong, di terik matahari, lensa-nya aku taroh di atas sebuah daun kering dengan jarak 1-2cm. Nunggu semenit, dua menit… Dan daun-nya jadi gosong (dulu aku ngamati, bahwa semakin gede dan mahal lensanya, ternyata daunnya lebih cepet gosong). Bosen dengan daun, aku nyoba pake semut… Lensanya aku arahkan persis di atas semutnya. Whereever he (semutnya ya) go, lensanya aku taroh di atasnya (nya=semut). Tambah lama, semutnya tambah cepet jalannya. Beberapa saat kemudian, dia lemes dan nggak bergerak lagi (kesimpulanku waktu itu, semutnya keabisan napas dan aku tinggal begitu saja… Mungkin nanti ada beberapa temannya yang akan memberikan nafas buatan buat dia). Bosen dengan semut, aku ganti dengan belalang. Tapi baru beberapa saat aku taroh lensa di atasnya, dia udah lompat. Lalu aku kejar, eh, lompat lagi, aku kejar lagi, lompat lagi. Akhirnya aku yang keabisan nafas… Bosan dengan belalang, aku eksperimen dengan beberapa makhluk lain, seperti kupu2, kucing, anjing, dan eksperimen terakhir dengan manusia yang ternyata menghasilkan umpatan kemarahan setelah kulitnya merah2 akibat lensa itu…
(Itu alien-nya… Udah dibilang disuruh nutup web browser-nya, kok masih ngotot baca ya?)

Di SMA aku belajar tentang energi yang dihasilkan oleh matahari. Kata guru fisikanya, miliaran kilowatt energi terpancar dari matahari ke bumi (ada yang tau nggak tepatnya berapa?). Suhu permukaan matahari 5.500 derajat celcius (kalo ini aku inget). Tapi cahaya matahari itu berpendar (nggak koheren istilahnya). Akibatnya, walopun suhunya 5.500 derajat celcius dengan miliaran kilowatt energi yang dipancarluaskan, sesampenya di bumi ya adem ayem aja. Kamu make payung aja, sinarnya udah nggak nembus. Laen ma laser. Walopun punya energi yang jaooooh lebih kecil, tapi karena cahayanya koheren (nggak berpendar/terfokus), dampaknya bisa lebih dasyat ketimbang cahaya matahari. Laser bisa dibuat untuk motong berlian ato untuk menghancurkan batu ginjal. Sebenernya cahaya matahari juga isa dimanfaatkan… tapi ya itu… Harus difokuskan dulu kayak permainan lensa pas SD dulu. Got what I mean?

Itu sistem dari alam semesta, dengan fokus kita dapet energi yang lebih besar. Dengan "hocus pocus" ya nggak dapet apa-apa. Percaya nggak, ini berlaku di SEMUA BIDANG (inget, kita hidup di bumi yang punya sistem di mana dengan FOKUS, kita dapet energi yang lebih besar, maksutnya, kalo kamu nggak fokus, ya kamu nggak akan dapet energi sebesar kalo kamu fokus).

Contoh garink. Sapa yang pernah makan en minum di McDonald? Pernah ya?
(Loh, kok ada ya…? Di mana gerangan McDonald itu? Perasaan, di Malang nggak ada. Kalo ada pasti rasanya nggak seenak McDonald’s - pake ’s). Nah, kalo kamu pesen minum jenis cola di McDonald’s, kamu pasti dapet Coca cola. Tapi kalo kamu pesen minum jenis cola di Kentucky Fried Chicken, apa yang kamu dapet? Bukan Coca Cola, tapi Pepsi Cola (kamu merhatikan itu nggak?). Nggak ada KFC yang menjual coca cola, dan nggak ada McD yang menjual pepsi cola. Ternyata, Pepsi Cola dan Coca Cola ini bersaing menjadi produsen minuman #1 di Amerika. Tebak siapa yang menang? Nggak usah pake statistik, menurut kamu siapa yang punya brand image lebih bagus? Coca cola kan? Kalo kamu beli minum di KFC, walopun dia jualnya Pepsi Cola, tapi mostly orang akan ngomong "Minumnya Coca cola…". Di warung, depot ato resto juga sama, ada banyak minuman cola, tapi orang lebih cenderung pesen "Coca cola" (kalo aku mah, mo pepsi cola, mo coca cola, mo cola jawa, aku akan tetap minum "teh tawar" - seperti kata iklan, "konsumsi gula berlebihan kan nggak baik")

Aku dapet angka statistiknya. Kamu bener, bahwa tingkat penjualan coca cola, jauh di atas pepsi cola. Dari 24.000 resto yang menjual Pepsi Cola, total penjualan Pepsi cola adalah $10 billion, sedangkan coca cola dari 14.000 resto-nya berhasil mendapatkan $3.1 billion. Knapa gitu? Karena coca cola fokus sedangkan pepsi cola nggak fokus. Pepsi cola, punya banyak produk seperti Pepsi Cola, Diet Pepsi, Mountain Dew, Slice, 7-Up, bahkan lipton tea (yang dijual di KFC kan?). Kalo coca cola nggak, dia fokus pada coca colaaaaa ajah… Baru ketika coca cola bisa establish dengan baik, dia mulai bikin sprite, fanta (dan temen2nya). Intinya karena dia fokus lebih dulu ma coca cola. Kalo pepsi, dia langsung banyak produk (which is nggak fokus). Akibatnya? Ya kalah ma yang fokus!

Dapet gambaran the power of focus?

Sama juga kalo kamu lagi belajar. Kamu yang fokus hanya ke buku pelajaran, pasti dapet lebih banyak ketimbang mereka yang fokus antara tivi dan buku. Pas pelajaran, kamu pasti dapet ngerti lebih banyak kalo kamu fokus ndengerkan gurunya ngomong daripada mereka yang sibuk ndengarkan sambil nyatet. Ngerjain apapun lah. Kalo kamu fokus ke satu hal, pasti hasilnya lebih baik.

Aku jadi inget beberapa murid2ku (jamak!) yang punya talenta di atas rata-rata anak biasa. Mereka ini, ngerasa punya banyak talent, jadi pingin bisa segala macem. Fokusnya udah nggak terarah lagi (nggak kayak laser yang koheren, tapi kayak cahaya matahari yang nggak koheren. Padahal aku tau banget, energi yang keluar dan dipancarkan sebenernya GUEDEEE BANGET). Mereka belajar apa aja untuk nuruti kesenangannya (ato demi ortu?). Blajar musik iya, komputer iya, bahasa asing iya, pelajaran iya (mulai dari mat, fis, kim), olahraga iya, organisasi iya, ada acara ini itu, slalu siap ngurusi… Pokoknya, anak2 kayak gini ini ngerjain anything yang buat mereka mengasyikkan. Akibatnya mereka2 ini nggak isa fokus. Dan sayangnya kita hidup di bumi, yang mana udah terbentuk bahwa energi akan keluar dengan BESAR, HANYA dan HANYA JIKA kita fokus pada satu hal (BUKAN banyak hal). Kalo nggak fokus di satu hal, ya bakalan separuh2…

Ini contoh ngeri: one of them, gara2 nggak fokus (kurang latian, porsi latian dibuat untuk hal2 lain) jadi cuman dapet kategori perak (peringkat 6) di OSN, padahal kalo dia peringkat 5 aja, dia udah dapet FULL-SCHOLARSHIP untuk 4 tahun kuliah S1!! See? Gara2 nggak FOKUS). Akibat kedua (sekali lagi ini contoh yang ngeri), that boy, gagal masuk pelatnas 16 besar (karena dia peringkat 17!). Padahal aku yakin 100%, kalo aja dia FOKUS, konsisten latian at least 2-3 jam sehari, setiap hari… Pasti dia bisa nembus 8 besar lalu 4 besar untuk mewakili Indonesia…

Contoh yang ngeri lagi: one of them, ikut lomba lokal (yang mana dia nggak pernah fokus di sains yang dilombakan itu, just for fun I guess). Hasilnya? Peringkat yang diraih ternyata di bawah standard (padahal tingkat lokal). Bahkan peringkatnya di bawah anak yang satu grade di bawahnya. Anak yang satu grade di bawahnya itu emang fokus di sains itu, sedangkan dia nggak. Sebenernya, kapasitas "dia-yang-nggak-mau-fokus" itu JAOH di atas itu. Tapi karena emang nggak pernah fokus di situ, ya dia kalah ma anak yang satu grade di bawahnya.

Contoh yang positif, salah satu muridku, yang 3 tahun SMA-nya di-fokus-kan di programming komputer (sehingga berakibat pelajaran sekolah "biasa2" aja) berhasil mewakili Indonesia di IOI (Olimpiade komputer Internasional) di Athena (ditambah dengan bonus FULL-SCHOLARSHIP dari Sampoerna Foundation untuk kuliah Informatika di ITB) - dan dia tercatat sebagai satu2nya murid Santo Yusup yang berhasil mewakili Indonesia di Olimpiade Komputer Internasional. Not "hocus pocus", but the power of focus!

Pelajar2 di China, dari kecil udah difokuskan untuk menempa bakat mereka… Dari kecil udah diajar MEMFOKUSKAN pada satu bidang. Dan jangan heran kalo siswa2 SMA-nya selalu membawa medali EMAS di olimpiade sains seperti komputer, matematika, fisika, biologi, kimia, astronomi. Bahkan hampir mempecundangi Amerika di Olimpiade Athena 2004(!). Not "hocus pocus", but the power of focus!

Semakin tinggi tingkat pendidikan, kamu bukan belajar banyak hal. Tapi malah di-fokus-kan ke satu hal. SD, SMP kamu blajar apa aja, blajar banyak bidang. SMA kamu udah mulai dijuruskan. S1 kamu milih jurusan yang lebih spesifik lagi. S2 dan S3 nggak lagi blajar macem2, tapi cuman research di satu macem bidang!  Semakin tinggi tingkat pendidikan, ternyata nggak malah belajar banyak bidang, tapi cuman satu bidang. FOKUS di SATU BIDANG…!

Dari semua fakta yang ada, kalo kamu masih nggak percaya bahwa kamu harus fokus di satu bidang agar menjadi the best di bidang itu, ya… what can I say…? Mungkin kamu harus ngalami dulu, baru kamu bisa percaya. Spend waktu untuk berusaha menjadi expert di banyak bidang, lalu finally realize bahwa apa yang kamu pelajari, waktu yang kamu habiskan untuk belajar banyak hal itu, ternyata sia-sia… I just share my experience… Tapi kalo kamu berhasil di banyak bidang tanpa harus fokus, berarti aku harus update blog ini (ato kamu adalah alien yang berada di luar EARTH-SYSTEM ini, sehingga sistem di bumi nggak berlaku buat kamu).

Saran garink: Sejak aku maen2 lensa itu, aku ngerasa ada something yang HEBAT di balik fokus. Ternyata benar! The power of focus. Jangan buang2 waktu kamu untuk sesuatu yang emang kamu nggak punya talent di situ (ato nggak minat untuk terjun di bidang itu). Fokuskan ke talent kamu, kalo kamu punya banyak talent, that’s good. Combine untuk fokus ke satu hal. That’s how the world work.

[buat alien yang masih juga baca: punya blog juga?]