Sebagai seorang blogger ya, aku itu nggak cuman nulis blog. Aku sering2 ngeliati blog orang laen untuk sekedar baca (ato ngasih komentar). Kadang overload information buangeet. Banyak tulisan sampe2 aku mesti pinter2 nyeleksi mana yang perlu (dan menarik) buat dibaca dan mana yang nggak. Kalo nggak gitu, ya isa keblinger baca semua blog.
Nah ada posting dari sebuah blog yang ceritanya, si penulis blog itu lagi terkagum2 ma si Dan Brown, pengarang buku fenomenal The Da Vinci Code. Trus dia (penulis blog itu) was wondering bagaimana bisa si Dan Brown sampe punya kreatifitas yang bisa menghasilkan novel yang heboh kayak gitu. Sebenernya sih… si blogger itu juga a good writer, cuman dia blom maximize her potential. Punya potensi, tapi blom digunakan.
Ngomong2 tentang potensi, aku itu percaya kalo manusia didesain oleh Tuhan dengan potensi di dalamnya. Ya… bagi yang rada2 anti dengan "Tuhan"-things, aku isa ubah kalimatnya make bahasa sains: spesies manusia modern (homo sapiens) itu terbentuk dengan potensi di dalamnya (setelah melewati ribuan tahun evolusi). Versi kalimat manapun yang kamu senangi (sains ato religius), nggak masalah (aku pernah nulis di sini tentang sains dan religi yang sama sekali nggak bertentangan). Intinya gini, kamu… iya kamu yang lagi baca blog ini, punya potensi. Punya unexposed ability. Punya kemampuan di dalam diri kamu yang blom kamu manfaatkan. Punya kekuatan besar yang masih blom digunakan. Punya kreativitas yang nggak pernah dimunculkan. Capable to do something, but have not done yet. Nah, itu yang namanya potensi. Masih blom punya bayangan ya?
Contoh gampangnya gini:
Kamu pasti udah bisa lancar baca tulisan2 di blog ini. Hampir nggak mikir malah saking cepetnya (btw, pas aku nulis ini juga gitu, kata2nya tiba2 kluar dan jari2ku secara otomatis mengetik sehingga terangkai dalam kalimat). Udah berapa lama kamu isa baca? 5 taon? 10 taon? 20 taon? Ya, berapa lamanya kamu udah bisa baca nggak gitu masalah. Tapi mari kita kembali di 5 ato 10 ato 20 taon yang lalu pada saat di mana kamu masih nggak bisa baca (jujur yak, aku baru bisa baca lancar pada umur 7 taon, pas kelas 2 SD… Hehe2… rada lemot ya?). Nah, pas kamu blom bisa baca, berbentuk apakah kamu? Ulet? Kepompong? Kalo aku sih, pas blom bisa baca, aku tetaplah homo sapiens. Ketika udah bisa baca, ya masih tetep homo sapiens, masih tetep manusia. Nggak beda. Maksutku gini, ketika kamu beralih dari nggak isa baca menjadi isa baca, kamu itu nggak serta merta kepalanya jadi gede, matanya jadi lebih lebar, trus kepala jadi botak… Nggak kan? Kamu nggak mengalami metaforsa seperti ulet yang jadi kupu2. Kamu tetep manusia. Bahkan, 5 ato 10 ato 20 taon yang lalu in case kamu memutuskan bahwa kamu nggak mau blajar baca (dan sampe sekarang kamu masih blom bisa baca), kamu masih tetep manusia yang penampilannya nggak beda ma manusia laen yang isa baca. Apa artinya? Artinya, 5 ato 10 ato 20 taon yang lalu, ketika kamu masih blom bisa baca, KAMU PUNYA POTENSI UNTUK BISA MEMBACA. Kamu punya unexposed ability untuk bisa membaca tulisan. Kamu capable to read, but have not done yet. Kamu punya kreativitas untuk membedakan dan mengartikan kata lewat tulisan tapi blom pernah dimunculkan. That’s potential! Tapi ketika kamu udah bisa baca, kamu nggak bisa bilang bahwa itu kamu punya potensi untuk membaca. Lah wong udah bisa baca kok. Potensi itu sesuatu yang blom dimunculkan, tapi ada di dalam diri kamu. Kebayang?
Contoh laen. Solve this equation: 5 x (2 + 4) = …
Aku yakin, kurang dari tiga detik kamu bisa tau jawabannya. Andaikan kamu diberi soal itu pas kamu masih TK yang cuman ngerti angka 0-9, walo dikasi waktu 1 jam, juga nggak akan isa. TAPIIII… pas kamu masih TK itu, kamu punya potensi untuk menyelesaikan soal itu. Buktinya apa kalo kamu punya potensi? Buktinya ya sekarang kamu isa nyelesaikan soal itu, padahal dulu nggak isa. Nah itu yang namanya potensi, kemampuan untuk mengerjakan sesuatu, tapi masih blom nyata. Mampu untuk ngerjakan soal-soal hitungan, tapi masih blom ter-realisir. Anak2 TK punya potensi untuk berhitung, untuk membaca, untuk menulis, untuk menyanyi, untuk menggambar, untuk berbahasa, untuk berenang, untuk menciptakan… Semua kemampuan itu udah ada di dalam diri mereka, hanya saja masih blom terekspos…
Aku berandai2… Kalau saja kita dulu nggak pernah sekolah. Kalo saja, kita lahir dan dibesarkan di sebuah hutan yang nggak ada televisi, nggak ada koran, nggak ada majalah… Berbentuk apakah kita 20 tahun kemudian? Kalo bentuknya sih, ya tetep manusia (manusia-hutan maksutnya). Cuman yang membedakan bahwa potensi di dalam diri kita, nggak akan pernah ter-ekspos. Kita akan tetep nggak bisa baca, tetep nggak bisa ngitung, nggak bisa berbahasa… Tetep manusia iya… tapi potensi di dalam diri kita, tetep jadi potensi. Terpendam begitu saja.
Nah, sekarang kalimatnya pake present tense, masa sekarang… Pertanyaannya, apakah saat ini potensi kamu sudah habis? Maksutku, apakah setelah kamu bisa baca, bisa nulis, bisa ngitung lalu semuanya selesai. Potensinya udah habis dan kamu nggak punya potensi lagi buat di-ekspos?
NGGAK DUNK! I’ll tell u big secret that you have to know. Human beings have UNLIMITTED POTENTIAL!
Umur berapapun kamu, selama kita masih bernapas dan nginjek bumi ini, kita selalu punya potensi di dalam diri kita. Masalahnya, apa kita mau untuk memaksimalkan potensi yang udah ada itu…? Masalahnya, apa kita siap belajar dan diajar untuk mengeluarkan potensi yang ada di dalem itu? Masalahnya, apa kita bersedia untuk bekerja keras dalam rangka memanfaatkan potensi yang udah ada itu? Ato, kamu udah cukup puas dengan hasil dari potensi yang udah kamu dapat sekarang? "Ya, udahlah… cukup isa baca tulis…" Kalo kamu udah puas dengan hasil potensi yang sekarang, ya udah. Kamu menyia2kan potensi seperti halnya "manusia-hutan" tadi.
Jadi bagaimana caranya memaksimalkan potensi?
Pertama, kamu harus sadar dulu bahwa kamu adalah person of potential. Kamu punya unlimitted potential yang bisa kamu kembangkan kapanpun (emang batasan ma fisik kamu). Pontesi di dalam diri kamu nggak pernah habis selama kamu masih hidup.
Kedua, mengembangkan potensi dimulai dari pikiran. Everything in this world is starting from a thought. Pikiran tersebut menjadi sebuah ide. Lalu menjadi sebuah konsep. Lalu… lalu… lalu… POP! Jadi.
Lihat komputer yang kamu pake untuk baca blog ini, lihat rumah kamu, lihat gedung2, mall2 yang ada. Semua itu dimulai dari sebuah ide… Ada seseorang yang punya potensi untuk membangun gedung ato mall. Gedung ato mall-nya blom ada. Tapi ada orang yang punya potensi untuk membangunnya… dan orang itu memulai dari pikirannya. Semua potensi yang ada dimulai dari sebuah pikiran yang melahirkan ide. Kamu punya potensi? YA, aku yakin 100%. Kamu punya potensi untuk menjadi penulis buku best seller. Kamu punya potensi untuk menjadi foto model kelas dunia. Kamu punya potensi untuk jadi programmer komputer yang bikin program di mana semua komputer akan menggunakannya. Kamu punya potensi untuk jadi seorang penyanyi. Kamu punya potensi untuk jadi penemu kayak Thomas Alva Edison. Kamu punya potensi untuk jadi bisnisman yang menghasilkan banyak uang. Kamu punya potensi untuk aktor yang meraih piala oscar. Semua itu potensi yang sama persis seperti ketika kamu 5 ato 10 ato 20 taon yang lalu di mana kamu nggak bisa baca tapi punya potensi untuk bisa baca. Lalu dengan cara apa kamu mewujudkan potensi kamu?
Yang ketiga, potensi nggak PERNAH terwujud dengan instan. Mewujudkan potensi butuh kerja keras. Siapa yang 5 ato 10 ato 20 taon lalu ketika masih blom bisa baca, lalu hanya dengan tidur di sofa 2 jam, lalu pas bangun tiba2 jadi isa baca? You have to work hard! Kamu harus menghafal bentuk2 huruf dari A-Z. Kamu harus blajar bagaimana melakukan spelling untuk tiap kata. Kamu harus ngerti perkecualian2 pembacaan dalam sebuah kata (yang kalo dalam bahasa Inggris lebih banyak ketimbang bahasa Indonesia). Itu semua usaha keras sebelum kamu akhirnya berhasil mewujudkan potensi untuk bisa baca. Lihat hasil dari kerja keras kamu… Kamu bisa baca blog ini dengan lancar tanpa harus melakukan spelling di tiap kata.
Siapa yang dengan cuman mikir doang bahwa dia punya potensi bikin mall, tiba2 keesokan harinya mall itu udah jadi di depan rumahnya? Thomas Alva Edison tau bahwa dia punya potensi untuk bikin sebuah alat penerangan menggunakan listrik. Dia nggak cuman bilang "sim salabim" lalu jadilah lampu. Dia kerja keras. Nggak ada satu carapun di dunia ini untuk mewujudkan potensi yang ada di dalam diri kamu, tanpa BEKERJA. Pingin mewujudkan potensi kamu untuk jadi penulis buku best seller? Latian nulis! Pingin mewujudkan potensi kamu untuk jadi programmer komputer? Blajarlah programming! Pingin mewujudkan potensi kamu untuk jadi bisnisman? Kerja! Kalo kamu pikir dengan potensi yang ada di dalam kamu, terus kamu cuman nunggu waktu agar potensi itu otomatis kluar… Ya… sorry to disappoint you. That’s not how the potential work. Otomatis kayak gitu itu adalah cara kerja hormon estrogen ato endogren yang bikin kamu puber. Just wait aja, nanti pada waktunya kamu akan puber secara otomatis… =D
Setelah kerja, udah selesai? Blom! Ada fakta2 tambahan yang harus kamu ngerti agar kamu bisa memaksimalkan kapasitas potensi kamu. Gini, walopun kita punya potensi yang unlimitted, sayangnya fisik kita punya batas yang nggak isa diterjang. Emang bener bahwa nggak ada yang bisa membatasi ide dan pikiran kita… Kamu isa mikirkan apapun. Kamu isa punya potensi untuk jadi apapun. Kamu boleh punya ide untuk membangun rumah di bawah laut. Kamu boleh punya ide untuk bikin tempat wisata di bulan. Apapun…! Nggak ada bisa yang membatasi potensi, pikiran dan ide kamu. Potensinya emang nggak terbatas. Tapi tubuh kamu, di mana potensi tinggal diam di sana itu yang terbatas. Kita nggak isa memaksa tubuh untuk bekerja 24 jam nonstop, 7 hari dalam seminggu demi memaksimalkan potensi. Kita nggak isa kerja terus2an tanpa makan. Kita nggak isa memaksa tubuh kita agar punya lima mata sehingga bisa melihat dengan lebih banyak. Kita tetep punya tubuh yang terbatas…
Terkahir, Kamu jangan bandingkan diri kamu dengan orang laen. Biasanya kalo udah banding2kan hasil potensi kamu dengan punya orang laen, kamu jadi frustasi ato malah puas diri. Frustasi kalo ternyata hasil dari potensi orang laen lebih baik… Akibatnya, ya jadi males. Ato kalo hasilnya orang laen nggak lebih baik dari hasil kamu, biasanya kamu terus puas diri dan berenti mengembangkan potensi. Padahal potensinya masih BUANYAAAK… Ya, berkompetisilah dengan diri sendiri. Nggak perlu compare dengan punya orang lain. Percaya aja, bahwa kamu masih punya banyak potensi yang isa dikembangkan dalam diri kamu.
[Buat kamu: bilang ke diri kamu sesering mungkin, "I'm a person of potential!"]



Recent Comments