Archive for April, 2006

21
Apr

Person of Potential

Sebagai seorang blogger ya, aku itu nggak cuman nulis blog. Aku sering2 ngeliati blog orang laen untuk sekedar baca (ato ngasih komentar). Kadang overload information buangeet. Banyak tulisan sampe2 aku mesti pinter2 nyeleksi mana yang perlu (dan menarik) buat dibaca dan mana yang nggak. Kalo nggak gitu, ya isa keblinger baca semua blog.

Nah ada posting dari sebuah blog yang ceritanya, si penulis blog itu lagi terkagum2 ma si Dan Brown, pengarang buku fenomenal The Da Vinci Code. Trus dia (penulis blog itu) was wondering bagaimana bisa si Dan Brown sampe punya kreatifitas yang bisa menghasilkan novel yang heboh kayak gitu. Sebenernya sih… si blogger itu juga a good writer, cuman dia blom maximize her potential. Punya potensi, tapi blom digunakan.

Ngomong2 tentang potensi, aku itu percaya kalo manusia didesain oleh Tuhan dengan potensi di dalamnya. Ya… bagi yang rada2 anti dengan "Tuhan"-things, aku isa ubah kalimatnya make bahasa sains: spesies manusia modern (homo sapiens) itu terbentuk dengan potensi di dalamnya (setelah melewati ribuan tahun evolusi). Versi kalimat manapun yang kamu senangi (sains ato religius), nggak masalah (aku pernah nulis di sini tentang sains dan religi yang sama sekali nggak bertentangan). Intinya gini, kamu… iya kamu yang lagi baca blog ini, punya potensi. Punya unexposed ability. Punya kemampuan di dalam diri kamu yang blom kamu manfaatkan. Punya kekuatan besar yang masih blom digunakan. Punya kreativitas yang nggak pernah dimunculkan. Capable to do something, but have not done yet. Nah, itu yang namanya potensi. Masih blom punya bayangan ya?

Contoh gampangnya gini:
Kamu pasti udah bisa lancar baca tulisan2 di blog ini. Hampir nggak mikir malah saking cepetnya (btw, pas aku nulis ini juga gitu, kata2nya tiba2 kluar dan jari2ku secara otomatis mengetik sehingga terangkai dalam kalimat). Udah berapa lama kamu isa baca? 5 taon? 10 taon? 20 taon? Ya, berapa lamanya kamu udah bisa baca nggak gitu masalah. Tapi mari kita kembali di 5 ato 10 ato 20 taon yang lalu pada saat di mana kamu masih nggak bisa baca (jujur yak, aku baru bisa baca lancar pada umur 7 taon, pas kelas 2 SD… Hehe2… rada lemot ya?). Nah, pas kamu blom bisa baca, berbentuk apakah kamu? Ulet? Kepompong? Kalo aku sih, pas blom bisa baca, aku tetaplah homo sapiens. Ketika udah bisa baca, ya masih tetep homo sapiens, masih tetep manusia. Nggak beda. Maksutku gini, ketika kamu beralih dari nggak isa baca menjadi isa baca, kamu itu nggak serta merta kepalanya jadi gede, matanya jadi lebih lebar, trus kepala jadi botak… Nggak kan? Kamu nggak mengalami metaforsa seperti ulet yang jadi kupu2. Kamu tetep manusia. Bahkan, 5 ato 10 ato 20 taon yang lalu in case kamu memutuskan bahwa kamu nggak mau blajar baca (dan sampe sekarang kamu masih blom bisa baca), kamu masih tetep manusia yang penampilannya nggak beda ma manusia laen yang isa baca. Apa artinya? Artinya, 5 ato 10 ato 20 taon yang lalu, ketika kamu masih blom bisa baca, KAMU PUNYA POTENSI UNTUK BISA MEMBACA. Kamu punya unexposed ability untuk bisa membaca tulisan. Kamu capable to read, but have not done yet. Kamu punya kreativitas untuk membedakan dan mengartikan kata lewat tulisan tapi blom pernah dimunculkan. That’s potential! Tapi ketika kamu udah bisa baca, kamu nggak bisa bilang bahwa itu kamu punya potensi untuk membaca. Lah wong udah bisa baca kok. Potensi itu sesuatu yang blom dimunculkan, tapi ada di dalam diri kamu. Kebayang?

Contoh laen. Solve this equation: 5 x (2 + 4) = …
Aku yakin, kurang dari tiga detik kamu bisa tau jawabannya. Andaikan kamu diberi soal itu pas kamu masih TK yang cuman ngerti angka 0-9, walo dikasi waktu 1 jam, juga nggak akan isa. TAPIIII… pas kamu masih TK itu, kamu punya potensi untuk menyelesaikan soal itu. Buktinya apa kalo kamu punya potensi? Buktinya ya sekarang kamu isa nyelesaikan soal itu, padahal dulu nggak isa. Nah itu yang namanya potensi, kemampuan untuk mengerjakan sesuatu, tapi masih blom nyata. Mampu untuk ngerjakan soal-soal hitungan, tapi masih blom ter-realisir. Anak2 TK punya potensi untuk berhitung, untuk membaca, untuk menulis, untuk menyanyi, untuk menggambar, untuk berbahasa, untuk berenang, untuk menciptakan… Semua kemampuan itu udah ada di dalam diri mereka, hanya saja masih blom terekspos…

Aku berandai2… Kalau saja kita dulu nggak pernah sekolah. Kalo saja, kita lahir dan dibesarkan di sebuah hutan yang nggak ada televisi, nggak ada koran, nggak ada majalah… Berbentuk apakah kita 20 tahun kemudian? Kalo bentuknya sih, ya tetep manusia (manusia-hutan maksutnya). Cuman yang membedakan bahwa potensi di dalam diri kita, nggak akan pernah ter-ekspos. Kita akan tetep nggak bisa baca, tetep nggak bisa ngitung, nggak bisa berbahasa… Tetep manusia iya… tapi potensi di dalam diri kita, tetep jadi potensi. Terpendam begitu saja.

Nah, sekarang kalimatnya pake present tense, masa sekarang… Pertanyaannya, apakah saat ini potensi kamu sudah habis? Maksutku, apakah setelah kamu bisa baca, bisa nulis, bisa ngitung lalu semuanya selesai. Potensinya udah habis dan kamu nggak punya potensi lagi buat di-ekspos?
NGGAK DUNK! I’ll tell u big secret that you have to know. Human beings have UNLIMITTED POTENTIAL!
Umur berapapun kamu, selama kita masih bernapas dan nginjek bumi ini, kita selalu punya potensi di dalam diri kita. Masalahnya, apa kita mau untuk memaksimalkan potensi yang udah ada itu…? Masalahnya, apa kita siap belajar dan diajar untuk mengeluarkan potensi yang ada di dalem itu? Masalahnya, apa kita bersedia untuk bekerja keras dalam rangka memanfaatkan potensi yang udah ada itu? Ato, kamu udah cukup puas dengan hasil dari potensi yang udah kamu dapat sekarang? "Ya, udahlah… cukup isa baca tulis…" Kalo kamu udah puas dengan hasil potensi yang sekarang, ya udah. Kamu menyia2kan potensi seperti halnya "manusia-hutan" tadi.

Jadi bagaimana caranya memaksimalkan potensi?

Pertama, kamu harus sadar dulu bahwa kamu adalah person of potential. Kamu punya unlimitted potential yang bisa kamu kembangkan kapanpun (emang batasan ma fisik kamu). Pontesi di dalam diri kamu nggak pernah habis selama kamu masih hidup.

Kedua, mengembangkan potensi dimulai dari pikiran. Everything in this world is starting from a thought. Pikiran tersebut menjadi sebuah ide. Lalu menjadi sebuah konsep. Lalu… lalu… lalu… POP! Jadi.
Lihat komputer yang kamu pake untuk baca blog ini, lihat rumah kamu, lihat gedung2, mall2 yang ada. Semua itu dimulai dari sebuah ide… Ada seseorang yang punya potensi untuk membangun gedung ato mall. Gedung ato mall-nya blom ada. Tapi ada orang yang punya potensi untuk membangunnya… dan orang itu memulai dari pikirannya. Semua potensi yang ada dimulai dari sebuah pikiran yang melahirkan ide. Kamu punya potensi? YA, aku yakin 100%. Kamu punya potensi untuk menjadi penulis buku best seller. Kamu punya potensi untuk menjadi foto model kelas dunia. Kamu punya potensi untuk jadi programmer komputer yang bikin program di mana semua komputer akan menggunakannya. Kamu punya potensi untuk jadi seorang penyanyi. Kamu punya potensi untuk jadi penemu kayak Thomas Alva Edison. Kamu punya potensi untuk jadi bisnisman yang menghasilkan banyak uang. Kamu punya potensi untuk aktor yang meraih piala oscar. Semua itu potensi yang sama persis seperti ketika kamu 5 ato 10 ato 20 taon yang lalu di mana kamu nggak bisa baca tapi punya potensi untuk bisa baca. Lalu dengan cara apa kamu mewujudkan potensi kamu?

Yang ketiga, potensi nggak PERNAH terwujud dengan instan. Mewujudkan potensi butuh kerja keras. Siapa yang 5 ato 10 ato 20 taon lalu ketika masih blom bisa baca, lalu hanya dengan tidur di sofa 2 jam, lalu pas bangun tiba2 jadi isa baca? You have to work hard! Kamu harus menghafal bentuk2 huruf dari A-Z. Kamu harus blajar bagaimana melakukan spelling untuk tiap kata. Kamu harus ngerti perkecualian2 pembacaan dalam sebuah kata (yang kalo dalam bahasa Inggris lebih banyak ketimbang bahasa Indonesia). Itu semua usaha keras sebelum kamu akhirnya berhasil mewujudkan potensi untuk bisa baca. Lihat hasil dari kerja keras kamu… Kamu bisa baca blog ini dengan lancar tanpa harus melakukan spelling di tiap kata.

Siapa yang dengan cuman mikir doang bahwa dia punya potensi bikin mall, tiba2 keesokan harinya mall itu udah jadi di depan rumahnya? Thomas Alva Edison tau bahwa dia punya potensi untuk bikin sebuah alat penerangan menggunakan listrik. Dia nggak cuman bilang "sim salabim" lalu jadilah lampu. Dia kerja keras. Nggak ada satu carapun di dunia ini untuk mewujudkan potensi yang ada di dalam diri kamu, tanpa BEKERJA. Pingin mewujudkan potensi kamu untuk jadi penulis buku best seller? Latian nulis! Pingin mewujudkan potensi kamu untuk jadi programmer komputer? Blajarlah programming! Pingin mewujudkan potensi kamu untuk jadi bisnisman? Kerja! Kalo kamu pikir dengan potensi yang ada di dalam kamu, terus kamu cuman nunggu waktu agar potensi itu otomatis kluar… Ya… sorry to disappoint you. That’s not how the potential work. Otomatis kayak gitu itu adalah cara kerja hormon estrogen ato endogren yang bikin kamu puber. Just wait aja, nanti pada waktunya kamu akan puber secara otomatis… =D

Setelah kerja, udah selesai? Blom! Ada fakta2 tambahan yang harus kamu ngerti agar kamu bisa memaksimalkan kapasitas potensi kamu. Gini, walopun kita punya potensi yang unlimitted, sayangnya fisik kita punya batas yang nggak isa diterjang. Emang bener bahwa nggak ada yang bisa membatasi ide dan pikiran kita… Kamu isa mikirkan apapun. Kamu isa punya potensi untuk jadi apapun. Kamu boleh punya ide untuk membangun rumah di bawah laut. Kamu boleh punya ide untuk bikin tempat wisata di bulan. Apapun…! Nggak ada bisa yang membatasi potensi, pikiran dan ide kamu. Potensinya emang nggak terbatas. Tapi tubuh kamu, di mana potensi tinggal diam di sana itu yang terbatas. Kita nggak isa memaksa tubuh untuk bekerja 24 jam nonstop, 7 hari dalam seminggu demi memaksimalkan potensi. Kita nggak isa kerja terus2an tanpa makan. Kita nggak isa memaksa tubuh kita agar punya lima mata sehingga bisa melihat dengan lebih banyak. Kita tetep punya tubuh yang terbatas…

Terkahir, Kamu jangan bandingkan diri kamu dengan orang laen. Biasanya kalo udah banding2kan hasil potensi kamu dengan punya orang laen, kamu jadi frustasi ato malah puas diri. Frustasi kalo ternyata hasil dari potensi orang laen lebih baik… Akibatnya, ya jadi males. Ato kalo hasilnya orang laen nggak lebih baik dari hasil kamu, biasanya kamu terus puas diri dan berenti mengembangkan potensi. Padahal potensinya masih BUANYAAAK… Ya, berkompetisilah dengan diri sendiri. Nggak perlu compare dengan punya orang lain. Percaya aja, bahwa kamu masih punya banyak potensi yang isa dikembangkan dalam diri kamu.

[Buat kamu: bilang ke diri kamu sesering mungkin, "I'm a person of potential!"]

14
Apr

Windra Juga Manusia

Halooo…? Apa kabar kategori All about the-girl-who-still-remain? Still there? Still remain? Ok, ceritanya gini:
[begin]
Ce-Fnt ini adalah teman gereja saya. Saya belum kenal akrab, tapi dalam pandangan saya, Ce-Fnt ini orangnya baik dan saya bisa merasakan bahwa dia sangat cinta Tuhan. Waktu pulang dari ibadah Jumat Agung kemarin, saya ketemu dengan Ce-Fnt di gereja. Dan waktu kita ngobrol2, ternyata Ce-Fnt ini adalah temen baik dari I**a, the-girl-who-still-remain itu. Kliatannya Ce-Fnt tau banyak tentang I**a (karena I**a sering curhat ke Ce-Fnt). Sejujurnya saya juga pingin tau gimana kabar I**a (dia masih still-remain). Tapi saya nggak sempet nanya2 banyak waktu itu ke Ce-Fnt. Saya hanya nitip salam buat I**a dan cowoknya lewat Ce-Fnt.
Well, saya emang nggak kenal cowoknya, tapi karena I**a udah punya cowok, saya rasa nggak etis kalo saya sebagai seorang cowok hanya memberi salam untuk si cewek saja. Jadi saya nitip salam untuk satu paket, I**a dan cowoknya. Ce-Fnt janji menyampaikan salam saya. Terus terang saya ingin tahu kabar terbaru I**a. Tapi mungkin kalo saya ketemu lagi ma Ce-Fnt saya akan bertanya2 lagi.
[end]

Loh, cuman gitu doang ceritanya? Iya. Tapi ada hal lain yang ingin saya tulis. Saya nggak tau, berapa banyak dari pembaca blog ini yang udah baca dari posting pertama saya tentang There’s Always the First Time sampai posting terakhir ini. Tapi kalo misalnya emang ada yang bener2 baca dari awal sampe akhir, maka dia bisa tau pola posting di blog ini. Saya membuat 5 kategori, yaitu All about the-girl-who-still-remain, Personal Opinion, Religion, Personal Life dan [Hebatnya Cinta]. Setiap kategori akan menunjukkan sisi2 yang berbeda dari saya.

Misalnya, sisi saya sebagai seorang yang pengajar akan nampak di kategori [Hebatnya Cinta]. Sebisa mungkin saya ingin menjelaskan hal2 yang tabu agar menjadi sesuatu yang dapat dipahami sebagai hal yang wajar (kategorinya sedikit nggak pas, mungkin saya akan mengganti menjadi kategori Seksologi ala Windra ato Sex for dummies).

Sisi saya sebagai orang yang (akhirnya) percaya Tuhan dapat dibaca pada kategori Religion. Ini kategori yang *sangat* khusus, karena keyakinan yang saya anut, nggak bisa saya paksakan ke orang lain. Posting pada kategori ini merupakan hasil dari perenungan saya terhadap apa yang saya percayai.

Sisi saya sebagai seorang motivator (semoga ya!) ada di kategori personal opinion. Saya berusaha menuliskan pemikiran saya, yang ngerasa bahwa semua masalah yang ada dapat diatasi dengan sikap hati yang bener. Yang encourage orang laen agar nggak gampang menyerah pada masalahnya. Yang berusaha membangkitkan semangat yang baca agar bisa menghadapi hidup dengan kepala tegak dan nggak jadi seorang loser. Semoga saya bisa menjadi seorang motivator yang baik lewat kategori ini.

Dan sebagian cerita hidup saya ada di kategori personal life. Nggak terlalu penting jika kamu nggak tertarik dengan hidup saya. Harapan saya, dengan menceritakan pengalaman saya ini, yang baca jadi punya wawasan bagaimana dealing dengan masalah yang mungkin sama seperti yang saya alami. Kadang saya menuliskan suatu kejadian di hidup saya sebagai joke ato… merupakan hal serius yang harus dipikirkan.

Terakhir adalah kategori All about the-girl-who-still-remain. Karena seorang cewek bernama I**a, saya membuat kategori khusus. Ini adalah kategori yang paling melibatkan emosi saya. Dari posting2 yang saya tulis pada kategori ini, kamu bisa melihat bahwa saya juga manusia. Saya manusia yang punya emosi, bisa sedih, bisa senang, bisa kangen, bisa punya rasa kagum, bisa berharap, bisa kecewa… Iya… Saya juga manusia. Ada saat ketika saya bisa encourage orang laen agar nggak sedih di kategori Personal Opinion, tapi ternyata saya bisa sedih di kategori All About the-girl-who-still-remain ini. Artinya saya manusia yang nggak kebal terhadap emosi. Saya masih bisa sedih, senang, kangen, kecewa, kagum…

Iya, saya juga manusia.

[buat saya]

nb. …dan tentang blog di fct26.com, isinya adalah kehidupan bermasyarakat yang saya alami. saya menulis apa yang nggak isa saya tulis di blog ini.

12
Apr

Keputusan-Untuk-Masa-Depan(-yang-sulit?)

Kamus garink: K-U-M-D = Keputusan-Untuk-Masa-Depan

I’ll tell u a little secret bout my self… Dulu ya, pas aku duduk di bangku SMA dan di early college (ya semester 1 ato 2 gitu), aku itu mengalami lompatan besar kehidupan. Salah satu lompatan besarnya itu adalah belajar mengambil keputusan. Emang dulu pas SMP nggak pernah mengambil keputusan? Ya pernah sih… Tapi konsekuensi dari keputusan itu nggak punya pengaruh terlalu besar dalam hidup. Misalnya aja, memutuskan untuk makan di rumah ato di makan di luar, memutuskan untuk bikin pe-er malem itu ato besok pagi, memutuskan untuk nonton film di RCTI ato nonton VCD… Ya, yang simple2 gitu lah.

Tapi pas udah duduk di SMA, setiap keputusan yang diambil udah bener2 berdampak bagi masa depan. Diawali dari pengambilan keputusan setelah lulus SMP. Aku mesti memutuskan untuk ngelanjutkan ke SMA mana (Ok, I know for some of you, you don’t have to choose… Your parents did it for you, ya nggak?). Waktu itu papi percaya aja ma pilihanku… Ya… at least saat itu papi ngasih banyak pertimbangan ini itu, kalo di SMA ini akibatnya apa, kalo di SMA itu akibatnya apa. Tapi keputusan akhirnya ada di tanganku. Ini udah pengambilan keputusan yang nggak maen2. Akibat dari keputusan yang diambil saat itu, udah berdampak langsung di masa depan, udah menentukan cetak biru SEJARAH hidupku. Masih nggak berenti sampe situ, setelah lulus SMA, aku harus mengambil keputusan lagi untuk ngelanjutkan kuliah di mana (beberapa masih ada yang dipilihkan ma ortu ya?). Ini juga sama aja. Keputusan saat itu menentukan LANGSUNG masa depan.

Buat kamu yang udah kuliah dan milih sendiri jurusan ato uni tempat kuliah kamu, pasti isa ngerasakan langsung dampak dari pengambilan keputusanmu saat itu. Kalo yang masih dipilihkan ortu, ya nggak bisa ngomong deh… Ortu yang milihkan, terus kamu njalani. Maksutku, kamu masih punya kambing hitam in case kamu ngerasa gak seneng dengan kuliah yang kamu jalani. Kamu tinggal bilang, "papi sih, nyuruh aku kuliah di sini… liat ni sekarang… jadi males kuliah…!" Ortu kamu jadikan kambing hitam gara2 kamu dulu nggak ngambil keputusan sendiri. Tapi bagi yang milih jurusan sendiri, milih tempat kuliah sendiri, milih tempat tinggal sendiri, nggak ada lagi kambing hitamnya. Semuanya udah jadi kambing putih. Siap2 nanggung sendiri semua akibat dari pengambilan keputusan saat itu. Mo komplain ke ortu, nanti ortu tinggal bilang, "Loh, yang milih siapa coba…?". Nah lo… Nggak bisa ngomong apa2 lagi… Kembali ke paragraf pertama tadi ya… Bangku SMA dan early college itu bener2 jadi ajang belajar pengambilan keputusan penting untuk masa depan (misalnya mutuskan untuk masuk di jurusan apa, kuliah apa, kuliah di mana, dsb). Mari kita sebut itu sebagai Keputusan-Untuk-Masa-Depan (K-U-M-D). Gini, pas SMA ato early college, kita ini kan belom terbiasa banget untuk ngambil K-U-M-D kan? Ya… Kalo cuman mutuskan mo nonton film Crash ato film Berbagi Suami sih gampang (dampaknya gak besar2 amat buat masa depan). Tapi untuk ngambil K-U-M-D, hiii… ngeri kan? Apalagi waktu pertama2 gitu. That’s explain knapa sebagian anak ngerasa lebih baik yang ngambil K-U-M-D adalah ortu aja (biar ada kambing hitamnya kalo ada yang nggak enak2nya). Ngelanjutkan SMA serahkan ke ortu. Nerusin kuliah serahkan ke ortu. Ngurus tempat kost ato tempat tinggal serahkan ke ortu. Nyari pacar… hoho2… tunggu dulu ya. Untuk K-U-M-D yang satu ini, ortu jangan ikut2 ya… (hihi2… jadi kliatan gak konsisten-nya). Tapi ya… dari pengalamanku ngambil K-U-M-D sejak lulus SMP sampe sekarang, ternyata ngambil K-U-M-D itu nggak sesulit itu kok. Nggak se-ngeri yang dibayangkan. Just do it! Kalo mau, ya dilatih dari keputusan2 kecil. Jangan semua2 ortu. Ambil keputusan sendiri, lalu belajar menerima konsekuensi dari keputusan yang diambil. In case ternyata hasilnya nggak baek, ya harus belajar dari situ agar pada pengambilan keputusan berikutnya nggak sampe menanggung konsekuensi yang nggak enak lagi. Semuanya adalah latian2 untuk mengambil keputusan yang lebih gede lagi. Jadi kalo nggak dimulai dari yang kecil2, pasti ngambil K-U-M-D juga nggak bakalan berani (yang kecil aja takut, apalagi yang berdampak langsung pada masa depan). Ya… kalo kamu nanya, "Loh, K-U-M-D itu kan penting banget… kalo sampe salah kan tarohannya masa depan…?". Buat aku, kamu bole percaya, bole nggak, bole setuju, bole nggak… K-U-M-D itu bukan masalah salah ato bener. K-U-M-D nggak bisa dinilai dengan BENAR ato SALAH. Loh kok? Kok gitu? Bukannya ada orang yang salah ngambil keputusan sampe akhirnya dia nyesel…? Bukannya ada yang gara2 keputusan salah sehingga dia harus nanggung akibatnya seumur hidupnya…?

Aku setuju bahwa ada akibat dari setiap keputusan. Dan ada akibat langsung terhadap masa depan untuk setiap K-U-M-D yang diambil. Kalo kita nge-judge K-U-M-D itu dari akibat yang terjadi, we’ll never know. Kadang akibat yang jelek (yang dirasakan sebagai akibat langsung dari pengambilan keputusan), ternyata membawa kebaikan. Ato, kadang akibat yang keliatannya baik, malah membawa ke kejadian yang nggak baik. Who knows? Kita nggak pernah tau…

Say, kamu ngambil keputusan masuk di sebuah universitas bergengsi dengan kualitas pendidikan yang nggak perlu diragukan. Semua berjalan dengan baik, kamu masuk, belajar dengan tenang, dan… punya banyak teman. Apa K-U-M-D yang kami ambil dengan kuliah di situ bener? Ya, so far… Gimana kalo tiba2 kamu tertular herpes [ini inget ceritanya Susan yang 3 orang temen se-kostnya kena herpes gara2 satu orang], ato pas jalan ke kampus kamu dipalak abis2an (dengan menggunakan asumsi si pemalak bahwa universitas tempat kamu kuliah adalah "lahan basah"). Kesialan itu kan gara2 K-U-M-D yang kamu ambil… Jadi keputusan kuliah di situ bener ato salah? Nah, susah kan nge-judge apa suatu keputusan itu bener ato salah. Kita nggak pernah tau apa yang terjadi…

Tapi ada satu hal yang aku yakin (dan it works for me so far). Yaitu sikap hati. It’s not about right or wrong. It’s not about true or false. It’s about mind… Kita isa nggak ngerasa bersyukur untuk setiap kejadian yang udah terjadi? Kita isa nggak ngubah suatu hal yang nggak enak menjadi hal yang enak…? Kita cukup kreatif nggak, ngeliat dan memanfaatkan peluang dari semua akibat nggak enak yang udah terjadi?

Contoh ya… Ketika aku memutuskan untuk nggak mau jadi pegawai yang harus ngantor tiap hari (hei, that’s one of my BIIIGGEST K-U-M-D), papi mami ngeliat itu suatu keputusan yang salah… Mereka berpikir, jadi pegawai itu secure, dapet gaji tiap bulan, ada jenjang karir, promosi, bonus akhir tahun (4-10 kali gaji), tunjangan, asuransi kesehatan (lalu ngasih contoh cc2-ku yang "sukses" jadi pegawai dengan pendapatan 9 digit per tahun…) Dan aku nggak mau masuk di lingkungan itu… Lalu apa K-U-M-D yang aku ambil itu salah? Ya, depends banget… Kalo aku menggerutu dengan akibat K-U-M-D ini, ya orang bisa bilang itu K-U-M-D yang SALAH. Tapi kalo aku terus bilang, akibat dari K-U-M-D ini, aku isa enjoy my self as a writer… siapa yang bisa bilang bahwa K-U-M-D nggak mau jadi pegawai itu salah?

Ngambil keputusan bukan masalah benar ato salah. Tapi bagaimana mengusahakan agar akibat dari pengambilan keputusan itu menjadi sesuatu yang baik. It’s about mind. Untuk setiap akibat dari K-U-M-D, aku punya sikap hati bahwa itu pasti membawa kebaikan. Nggak peduli kalo saat itu aku ngerasakan akibat yang nggak enak, ato akibat yang enak… Aku tetep yakin satu hal, bahwa ini semua mendatangkan kebaikan buat aku. Yang terpenting adalah semua K-U-M-D yang diambil (termasuk tindakan dalam menghadapi akibat K-U-M-D itu) harus di-selaraskan dengan ketetapan2 Tuhan. Selama selaras dengan ketetapan Tuhan, ya PASTI SEMUANYA BAIK. Just a matter of time sometimes.

[Buat Nophee, thanks buat link-nya. Blog ini inspired dari kamu dan buat kamu...]

09
Apr

[Hebatnya Cinta] Something-that-kids-shouldn’t-read

Peringatan: menurut norma yang beredar di masyarakat, kamu harus berumur 17 tahun ke atas untuk membaca posting kali ini. Aku nggak tau kenapa harus 17, kok nggak 16 ato 18… Tapi kata mereka-yang-bikin-norma-itu, umur 17 itu umur kedewasaan. Susah juga sih… Emang kayak apa sih orang dewasa itu? Dulu waktu aku umur 17, kayaknya cara mikir en tampangnya masih gak jauh beda ma pas umur 15 ato 16… (Sekarang aja tampangnya juga masih tampang anak umur 17…). Ok, umur berapapun kamu, kamu bole baca posting kali ini. Yup…! Baca aja, untuk pengetahuan… Daripada kamu nyari2 pengetahuan tentang hal ini di luar sono yang bisa bikin kamu "eneg". Tapi in case pas baca sampe tengah2 kamu "eneg" duluan, ya udah… gak usah diteruskan. Tulis di komen aja bahwa tulisan kali ini bikin kamu mau muntah… Hehe2…

So, what’s this all about?

Dulu ya, waktu aku masih duduk di bangku SMA sebagai cowok normal, aku bersama temen2 cowok laen, sering ngamat2i cewek. Padahal, pas SMA itu aku bukan cowok nakal loh! Tipikal anak-baik-yang-gak-bandel. Ya, bandel-nya standard cowok lah, males blajar dan males bikin pe-er. Terutama untuk pelajaran yang gak jelas gunanya. Alih2 dipinjem pe-er-nya, aku malah sering minjem pe-er temen.

Nah, kami para cowok itu sering ngamat2i cewek lalu mendiskusikan pengamatan kami (padahal, kalo diskusi tentang pelajaran, asli muales banget, tapi untuk diskusi tentang cewek, hohoho2… We do enjoy…!). Lalu, cowok yang udah pacaran biasanya suka sharing2 kegiatan-yang-dilakukan-pas-pacaran… Dan yang laen (yang blom perna pacaran) dengerkan dengan mupeng abis (muka pengen). Believe it or not, they shared about it, girls! I think, it was thier ego. They felt that he knew more about girl, so he told everything what he-and-his-girlfriend-had-done. That’s explain knapa para cowok SMA lebih ngerti istilah2 seperti french kiss, necking ato petting. Sedangkan para cewek nggak begitu ngerti istilah itu. Alasannya simple, karena cowok saling tukar pengalaman dan cewek prefer menyimpan untuk dirinya sendiri. Anyway, we’re still talking bout boy and girl in senior high school ya!

Terus kami para cowok biasanya bikin teori2 sendiri (berdasarkan pengalaman empiris dan apa-yang-kami-baca) tentang seks. Misalnya:
"Eh, cewek itu isa ngeluarkan cairan sperma kayak cowok ya?"
"Yeee… mana ada cewek gitu… Cowok doang yang ngeluarin sperma"
"Beneran… aku baca di majalah… Katanya cewek juga isa ngeluarin cairan"
"Hah? Yang bener…?"
"Beneran…!"
"Masa sih… Cewekku gak perna bilang tu kalo dia isa ngeluarin cairan…"
"Ya, kali aja nggak semua cewek."

Itu diskusinya bisa jadi panjaaang… Dan tambah lama bisa tambah ngawur dengan kesimpulan2 yang ajaib… Tapi ya itu, keingintau-an para cowok (cewek juga?) emang besar banget tentang hal2 yang berhubungan dengan seks. That’s why aku nulis ini. Tulisan ini, nggak berdasarkan kesimpulan dari obrolanku waktu SMA loh… Bukan…! Tulisan ini adalah sains, ya… I’ll try to write in popular way sehingga kamu nggak ngerasa kayak baca buku pelajaran biologi.

Logikanya gini, anak SMA (ato anak kuliah) pengen ngerti tentang seks. Tapi nggak tau harus nyari ato baca dimana. Jadi mereka berdiskusi dengan teman mereka (yang ternyata juga sama nggak ngertinya tentang seks). Ato demi memenuhi keingintauan, mereka nonton2 bokep… terus kecanduan, pikirannya ngeres mlulu. Tiap ngeliat cewek, langsung dijadikan objek fantasinya… Kasian kan cowok kayak gitu… Otaknya jadi nggak isa berfungsi dengan baik untuk blajar, which is itu yang menentukan masa depannya (garink banget ya bahasa seorang guru kayak guah…??)

[lesson starts]

Manusia itu punya seperangkat alat reproduksi yang sama Tuhan ditaroh di bawah. Tuhan pasti punya alasan knapa harus ditaro di bawah… Ya logikanya sih, kalo ditaro di atas kepala, pasti susah kalo mo kencing… Hehe2… Tapi aku pikir, itu karena seks bukanlah sesuatu yang terpenting di dalam hidup. Yang ditaro di atas itu malah otak (dan ditutupi ma tulang tengkorak serta rambut).

Nah, buat para cowok, alat reproduksi yang biasa disebut "burung" ternyata punya mekanisme yang hebat loh! Dari sinilah semen (air mani) ato yang biasa disebut sperma diproduksi (bacanya itu bukan kayak baca "semen gresik", tapi "se" seperti kalo bilang "seks" dan "men" seperti kalo ngucapkan "mentari"). Sperma itu berbentuk cair. Isinya sekumpulan sel hidup yang namanya spermatozoid (namanya sel, ya nggak kliatan saking kecilnya, yang bisa diliat dari sperma ya cairan kentel yang rada2 butek). Tapi spermatozoid itu punya bentuk. Modelnya bulet lonjong (kayak telur) terus punya ekor yang dipake buat berenang (tapi jangan bayangkan mereka berenang gaya bebas ato gaya kupu2…!). Sbenarnya bukan berenang sih, tapi bergerak di dalam cairan. Knapa harus bisa bergerak? Karena tugas mereka (para spermatozoid itu) adalah bergerak untuk membuahi sel telor dari cewek (ovum).

Kembali ke sperma tadi… Seorang cowok, dalam 3 hari bisa memproduksi 3-4 milyar spermatozoid (bukan aku yang ngitung…). Jangan bayangkan 3-4 milyar itu sama semua. Beberapa pasti ada yang cacat produksi, misalnya gak punya ekor, kepalanya gepeng, ekornya pendek sehingga kalo renang gak cepet dsb. Spermatozoid yang cacat produksi disebut junk sperm. Kalo junk sperm sampe lebih dari 90%, biasanya cowok itu disebut mandul. Trus kalo pengen punya anak, pake teknik inseminasi buatan. Semen (ato air mani) dari cowok serta ovum dari cewek diambil. Dari air mani si cowok tadi dipilih spermatozoid yang jagoan (yang kualitasnya bagus). Dan mereka (spermatozoid dan ovum) ditemukan di luar tubuh.

Btw, kembali ke sperma tadi… Tanki penampung sperma itu punya kapasitas (3-4 milyar spermatozoid). Sementara sperma terus2an diproduksi. Akibatnya, tanki itu bisa penuh. Para cowok bisa ngeluarkan spermanya secara manual lewat masturbasi (merangsang penisnya sampai ereksi [terisinya jaringan sponge di penis dengan darah sehingga penis menjadi tegang], lalu "dipaksa" mengeluarkan sperma dengan tangan). Pada saat masturbasi ini, para cowok selalu berfantasi berhubungan seks dengan cewek (ato dengan cowok bagi yang gay). Nggak mungkin para cowok itu mikir tentang bakpao, pangsit mie ato nasi goreng saat bermasturbasi… [Nah, ini yang bikin pikiran gak sehat]

Kegiatan masturbasi dikatakan selesai kalo cowok itu mengalami orgasme/sperma sudah berhasil dikeluarkan (bisa 1 menit, bisa juga sampe 1 jam).  Orgasme pada cowok disertai dengan refleks menekan dan meregang pada otot2 alat reproduksi, khususnya di daerah kemaluan, sehingga spermanya tersemprot keluar… istilah biologinya ejakulasi. Rasa orgasme/ejakulasi ini yang bikin para cowok kecanduan bermasturbasi.

Kalo nggak dikeluarin lewat masturbasi apa yang terjadi? Ya… secara otomatis akan keluar lewat yang namanya wet dream ato mimpi basah. Namanya juga mimpi, terjadinya ya pas tidur. Hormon [apa ya namanya?] akan memicu otak untuk merangsang aktivitas genital, lalu secara nggak kerasa, cowok [biasanya] memimpikan (lebih tepat memvisualisasikan) adegan erotis seperti yang pernah dibayangkan ato ditonton di bokep… Cuman bedanya, kali ini bintang filmnya adalah dia. Rangsangan itu, lama2 membuat cowok orgasme, berejakulasi dan keluarlah sperma. Nggak isa dikontrol, cowok nggak akan sempet bangun dan lari ke kamar mandi untuk kemudian dikeluarkan di sono… Pasti bangun2 udah basah celananya. Basah ma cairan sperma. Itu yang namanya mimpi basah. Kok bisa gitu? Ya karena tankinya udah penuh tadi…

Prinsipnya gini, hormon testoseron dibantu ma kelenjar prostat selalu memproduksi cairan tempat berenangnya para spermatozoid yang jumlahnya milyaran tadi. Karena diproduksi terus2an, kalo penuh akan mendorong cairan itu (dari kantung testis ato para cowok biasa nyebut "telor" karena bentuknya kayak telor puyuh) ampe ke epididimis/vas deferens/saluran yang menghubungkan testis dan penis. Bergerak terus sampe ke uretra dan keluar lewat situ… Loh, uretra kan saluran keluarnya air kencing? Buat pipis? Iya, uretra juga jadi tempat keluarnya sperma. Walo tempat keluar sama, tapi yang dikeluarin bisa beda. Yang jelas mereka nggak mungkin keluar bersamaan…

Gampang kan alat reproduksinya cowok? Dah panjang ni, next time aku sambung kpunyaan yang cewek. Beda banget mekanisme-nya… Ada hormon estrogen yang diproduksi rahim, ngatur siklus menstruasi, merangsang pertumbuhan organ seks… Kalo ada yang nggak jelas, boleh nanya kok… Di post di komen juga bole… Tapi kalo malu, ya lewat email ato message di FS ajah… =D

[Buat yang nyari2 informasi tentang seks, jangan nyasar loh...]

02
Apr

Pentas Seni 1 April 2006

[Pentas Seni 1 April 2006, 18:36pm]

Aku en Susan (sebagai seorang sanguin, Susan ini temen funky, gaul dan asyik. Diajak kemana2, selalu ok) duduk di baris ketiga dari depan. Aku ingin mengamati pentas seni ini dari dekat. So, I also brought my camera dan siap memberikan reportase langsung…

Dan… Pemirsa, Inilah dia…

langsung dari lapangan tengah SMAK Kolese Santo Yusup,

mempersembahkan…

[kamera menyorot pada wajah seorang cowok imut]

"Selamat malam pemirsa. Nama saya Windra. Mengajar TIK Kelas X, eh… nggak penting ya? Ok, di sebelah kanan saya saat ini duduk seorang mahasiswi UBAYA semester 8 jurusan Akuntansi, bernama Susan…" [kamera menangkap wajah seorang cewek berambut pirang yang tersenyum2 dengan gokil di depan kamera] dan duduk di sebelah kiri saya adalah… loh, kok kosong?".

Catatan: ternyata emang sebelah kiriku nggak dikasi kursi karena space itu dibuat jalan agar orang2 yang sedang dalam keadaan darurat (seperti kelaparan, pipis, ngantuk) dapat segera keluar dari deretan kursi.

"dan… mari kita saksikan bersama… Pentas Seni 2006 SMAK Kolese Santo Yusup…"

[kamera menyorot ke arah stage]

MC: "KITA SAMBUT… DANCE… TAKE THE ‘BEAT’…!"
[penonton bertepuk tangan riuh dan musik mulai berdentum-dentum]

Windra: "San, san… " [memanggil Susan]
Susan: "Apa Win?"
Windra: "Kok ada dance "take the bitch"? Ini kan acara pentas seni anak SMA? Masak ngelibatkan ‘bitch’ segala…"
Susan: "Bukan "BITCH", tapi ‘BEAT’…" [kata Susan]
Windra: "Iya… ‘BITCH’ kan? Gimana sih…? Mbok ya pake nama yang sopan… Emang nggak ada nama laen kalo bukan ‘BITCH’… Ck…"
Susan: "Eeeeeh…. Kamu itu… Dibilangi ‘Beat’… ‘Beat’ Win… ‘BEAAT’…!" [setengah berteriak, agak emosi]
Windra: "Iya… makanya itu aku nanya kamu. Kok bisa dapet nama ‘BITCH’ ya?"
Susan: "BEEAATTT…!" [teriak Susan emosi]

Lalu di layar muncul teks "DANCE Take The Beat".

Windra: "Looo… San, ternyata ‘beat’… bukan ‘bitch’. Kamu itu mbok ya ngomong dari tadi kalo itu ‘beat’…"
Susan: [Gdubrak...! Terjengkang dari tempat duduknya]

Tapi segerombolan anak tiba2 datang. Beberapa cewek dan beberapa cowok, yang "sangat berbudaya Indonesia" masuk menuju baris di depanku…
A: "Eh… duduk sini yuuk. Kliatan jelas lohh…" [sambil menunjuk deretan kursi yang ada di depanku]
[ya, dan kamu menghalangi pandanganku]
B: "Eh, bener lo… jelas di sini… Yuk… yuk…" [menggandeng tangan cowoknya untuk duduk di deretan kedua]
C: "Geseran dikit dong…"
[geser dikit lagi, dan aku akan bisa melihat ketombe di kepalamu dengan jelas!]
A: "Ini masih ada tempat… Yuukk… duduk di sini smua. Masih cukup kok"
D: "Iya, biar kita isa deket2"
E: "Enak ya, duduk depan jelas…"
[kenapa nggak bawa kursinya sekalian ke panggung en nonton dari di panggung aja?]
F: "Eh, liat tuu… Cowok itu, kuerreeeenn yaa… kelas brapa sih? Loe kenal gak?"
A: "EEhhh… kursinya digeser2… itu kan masih ada yang kosong. Kamu isi…"
C: "Iyah, kursinya digeser aja"
B: [menggeser kursi, agar saling berdekatan]

Pensi1_1 Dan, space kosong tempat jalan darurat tadi segera tertutup dengan sebuah kursi. Dengan tanpa dosa, D duduk di situ, mem-buntu jalan darurat tadi. Hmmm… Jadi begitu ya…? Aku kalo mau keluar untuk mendekat ke panggung, harus melewati beberapa orang karena jalan darurat tadi tertutup oleh sekawanan penyamun yang "berbudaya Indonesia" ini. Greaaat! Bagus sekali. Gimana kalooo… mereka aku suruh beli gorengan di Surabaya buat camilan…?

[Parodi Rama dan Shinta]
Rama: Tapi aku tidak mungkin meninggalkan Sinta berdua denganmu.
Adik Rama: Baiklah, jika kakanda tidak mempercayai aku, aku akan mengebiri diriku…
Lalu nampak adegan Adik Rama mengeluarkan alat yang masih diragukan bentuknya, tapi penonton diarahkan untuk menduga bahwa itu adalah ponsel. 
[Tututut.... tututut...] Terdengar bunyi nggak jelas. Menurut Susan, bunyi itu adalah klakson mobil di tempat parkir, sementara aku menduga itu adalah bunyi kentut. Tapi kami berdua salah, ternyata itu bunyi alat yang dipercayai sebagai ponsel tadi…
Adik Rama: "Hallooo…"
Dokter cewek: "Halo… "
[adegan basa-basi]
Adik Rama: "Saya ingin dikebiri, apa bisa?"
Dokter cewek: "Ooo… Bisa"
Adik Rama: "Berapa biayanya?"
Dokter cewek: "Biayanya tergantung dari besarnya, semakin besar ya semakin mahal"

Susan bingung dengan dialog tadi. Jadi kami sedikit berdiskusi.
Susan: "Win, maksudnya itu, tergantung dari besarnya apa sih?"
Windra: "Oooo… itu sih tergantung dari besarnya tangan ato besarnya kaki orang yang mau dikebiri" [kataku sok tau]
Susan: "Oooo… Gitu…" [manggut2] "Jadi kalo tangan ato kakinya gede, ongkosnya mahal dong?"
Windra: "Bener banget… Ukuran tangan ato kaki menentukan mahalnya ongkos dikebiri…" [sok tau lagi]
Susan: "Ngomong2 Win, dikebiri itu diapakan sih…?"
Windra: [bingung] "Aduh… mana aku tau San… Aku juga blom perna dikebiri…"
Susan: "Nggak mau nyoba dikebiri Win?"
Windra: "Kliatannya itu kegiatan yang nggak enak. Jadi nggak deh, makasih…"

[Kembali ke parodi Rama dan Sinta]
Dua orang anak membawa kain putih bertuliskan 21++ / Sensor, menutupi adegan operasi penge-bir-an tadi.
Dokter cewek: "Waduh… Kalo ini, ongkosnya bisa mahal…!"
Adik Rama: "Ya udah. Nggak papa…"

Ada sebentuk objek lonjong ditampakkan pada saat adegan penge-bir-an tadi. Dugaan Susan itu adalah hasil dari operasi penge-bir-an tadi, sementara aku berpendapat lain.
Susan: "Win, itu tadi yang ada objek lonjong berarti operasi penge-bir-annya sukses ya?"
Windra: "Bukan San… Itu tadi pisang. Dokternya nggak mau dibayar pake uang, jadi dia lebih suka dibayar pake pisang…"
Susan: "Oooo… Gitu…" [manggut2] "Kalo gitu… Kamu kalo mau dikebiri di dokter itu aja Win… Murah kan bayarnya pake pisang."
Windra: "Iya ya… Daripada pake uang, mending bayar pake pisang…"
Susan: "Di rumahku ada setandan pisang, bisa untuk operasi penge-bir-an-mu 10 sampe 20 kali…"
Windra: "Ok San… Nanti ingetkan aku nanya nomer hape dokternya setelah acara ini selesai… Tapi ngomong2… Kita mesti tau dulu definisi ‘dikebiri’ itu apa…"
Susan: "Ya sudah… Nanti aku coba cari informasi"

[Parodi Rama dan Sinta selesai dengan masih menyisakan beberapa misteri:
1. Berapa nomer hape dari dokter cewek tadi?
2. Apa definisi dari dikebiri?
3. Kenapa dokter cewek itu mau dibayar dengan pisang?
4. Ketika Sinta ditinggal sendirian dalam lingkaran ajaib, ada seorang nenek yang sedang sakit pinggang (padahal dia mau mengikuti lomba goyang dangdut di RT-nya). Pertanyaannya, apakah nenek tadi jadi mengikuti lomba goyang dangdut di RT-nya? Siapa yang akhirnya keluar sebagai juara di lomba goyang dangdut itu?
5. Setelah Sinta dibebaskan dari Rahwana, mereka segera merried. Tapi di mana resepsi pernikahan Rama menikah dengan Sinta? [Susan berencana menghadiri karena terharu dengan kisah Rama dan Sinta]. Misteri yang lain bisa dilihat pada foto.

Pensi2

Untuk pertanyaan ke-3, yaitu kenapa dokter cewek itu mau dibayar pisang, aku punya skenario jawaban. Kemungkinan dokter tersebut naksir Hanoman, si kera putih. Nah, buah kesukaan dari seekor kera itu kan pisang. Jadi dokter cewek tersebut, berusaha pdkt ke Hanoman dengan cara mengumpulkan pisang sebanyak2nya. Tujuannya pasti, Hanoman si kera putih itu bisa jatuh hati kepadanya (karena dia punya banyak pisang). Masuk akal kan?

Di luar pertanyaan2 yang nggak terjawab tadi, aku en susan enjoy the show. Terutama karena kami adalah tamu undangan yang nggak bayar. Yang mengherankan, justru kami yang nggak bayar ini malah diberi snack, sedangkan yang harus beli tiket dan bayar Rp. 15000, nggak dapet snack. Ooohh… kejamnya dunia [kalau saja aku bisa mengubah dua roti dan satu aqua di snak itu untuk memberi makan 3000 orang, pasti mereka semua akan aku beri snak...]

Yang perlu aku komentari di pentas seni ini (dari tadi itu blom komentar ya?), kebanyakan pemeran acara parodi, singer ato dancer tampil di stage dengan prinsip "just do it". Without spirit di dalamnya. Maksutku, ya mereka tampil karena mereka harus tampil (ato lebih parah lagi, ada yang karena terpaksa demi kelas). Hasilnya, performance yang ditampilkan hanya sekedar hafalan. Oh, setelah dialog ini, aku harus ini. Lalu ini, nunggu itu, pergi ke sini, berjalan ke situ… Nothing serious… Just do it without passion. Akibatnya, adegannya jadi hambar, seperti gerakan yang dihafal. Padahal, menurut aku, namanya pentas seni itu harus ada seni di dalamnya. Seni itu bukan sekedar hafalan gerakan ato hafalan lirik lagu ato hafalan kunci nada… Bukan itu. Harus ada jiwa seni ketika ngelakukan setiap adegannya. Jadi adegan parodi (ato musik ato dance) nya jadi hidup. Kalo hanya sekedar hafalan, penonton emang bisa enjoy, bisa ketawa… Tapi begitu pertunjukkan selesai, nggak ada lagi yang menancap di pikiran penonton, nggak ada kesan apa-apa. Bagus iya. Tapi berkesan? Tunggu dulu. (Bedakan dengan nonton konsernya The Corrs, MLTR, Shania Twain ato penyanyi nasional ato internasional lainnya, walopun lagunya udah perna didenger, tapi performance-nya itu bisa meninggalkan kesan yang dalem bagi penontonnya… That’s art!).

Tapi aku nyatet, ada kok beberapa anak yang melakukan tugasnya dengan spirit seni di dalamnya (di parodi, dance dan singer). Setiap gerakan ato lirik lagu, dinyanyikan dengan spirit seni. Nah, itu baru namanya artist.

Overall, i enjoy the show.

Pensi3

[Buat **** yang pake kalung salib, beautiful...! I feel the art in every sing and every move of your performance. If you become an artist someday, in the next journey of your life, definitely I'll be your fans!]