Archive for September, 2006

21
Sep

Penantian 1 tahun

Buku Kalo kamu liat cover buku yang keren di samping ini, jangan mikir itu hasil desainku… Bukan… Aku nggak seneng pamer2 hasil desainku sendiri kayak di posting Otak Teknik vs Otak Seni (loh, lah terus itu apa?) Cover buku di samping ini (termasuk gambar2 kartun di dalamnya), didesain ma Iwan Wahyudi yang mana aku juga nggak tau sapa dia (tapi jelas di punya otak seni jaooohhh lebih baik ketimbang aku). Desainnya keren dan eye-cacthing, gambar2 kartun di dalamnya juga keren.

Trus apa hubungannya ma aku? Buku itu ya… adalah buku yang aku nanti2kan hampir setaon…! Bayangkan, tanda tangan kontrak penerbitan buku itu bulan November 2005, tapi bukunya baru jadi en nyampe di rumah kemaren sore.

Tapi aku berhasil bikin mami rada shock pas ngeliat buku itu untuk pertama kalinya. Dugaanku sih, karena kaget begitu tau bahwa anak cowok satu2nya ternyata nggak cuman bisa nulis buku komputer doang, tapi juga bisa nulis buku motivasi/psikologi populer yang keren yang berjudul Salad Bowl for Teen Spirit… Tapi komentar dari mami bener2 bikin ganti aku yang shock.

"Win… kok bisa ya ada orang yang namanya persis kayak namamu… Nulis buku lagi…" [nggak nyadar kalo yang nulis buku itu adalah anak cowok satu2nya]

Terus waktu dibolak-balik en ada fotoku di halaman profil penulis, dikomentarin lagi…

"Loh, mukanya mirip kamu lagi… Ck… ck… ck… Kok bisa ya?" [masih blom nyadar juga]

Dalam hati aku cuman membatin, "Mi… Nyebut… nyebut…!"

* * *

Setelah 14 menit 39 detik aku meyakinkan mami bahwa itu bener2 tulisan anak cowok satu2nya, mami mulai serius membaca2 dalemnya. Tapi nggak sampe semenit, lalu ngasih komentar lagi…

"Win… kamu ini kan pinter komputer, kuliah S2 jurusan elektro… Tapi ngetik kok salah2. Kata ‘kalau’ itu diakhiri dengan ‘au’ bukan ‘o’. Masa ini mami baca, semua kata ‘kalau’ jadi ‘kalo’… Murid2 mami yang masih kelas 4 SD aja sudah pada pinter2 nulis, kamu yang kuliah S2 masih salah2 juga…"

Gimana kamu nggak pingin nangis cara India kalo dikomentarin kayak gitu?

Tapi akhirnya aku lega juga ngeliat mami bisa senyam-senyum pas baca buku ini.

"Gambarnya lucu2… Sejak kapan kamu pinter gambar?"

Gubrakkkzz… Yang penting isinya Mi… isinya…! Gambarnya mah bukan aku yang bikin. Aku rasanya pingin lari keluar sambil nangis cara India.

* * *

Overall, aku puas banget ma buku ini. Desainnya keren, dilengkapi dengan gambar kartun di tiap babnya. Kalo kamu seneng dan bisa enjoy pas baca posting2 di blog ini, kamu pasti juga seneng ma buku ini… Buku ini sebenernya adalah "extended version" dari blog ini. Lebih enak dibaca karena telah mengalami proses editing dari seorang editor senior, sedangkan blog ini jelas nggak punya editor selain penulisnya sendiri… Kamu bisa beli di toko buku "entah-toko-buku-apa-yang-jual", yang jelas di semua toko buku Metanoia pasti jual karena buku ini diterbitkan ma penerbit Metanoia… Dan btw, aku dapet royalti 10% dari harga buku untuk setiap 1 eks buku yang terjual. Jadi dengan membeli buku ini, kamu turut membantu kelancaran biaya kuliah S2-ku. Terimakasih atas dukungannya… Aku akan mengingat para pembaca buku dan blog ini ketika aku diwisuda nanti.

* * *

Behind the scene penulisan buku ini: (mestinya lebih seru baca bukunya dulu baru baca behind the scene-nya)

Sejujurnya, bagian paling menarik ketika nulis buku ini adalah pada kata pengantar ato ucapan terimakasih. Lho kok? Iya… Bikin kata pengantar itu asyik… Beda ma pas sekolah dulu. Kalo dulu, pas jaman-jaman sekolah, kata pengantar untuk makalah ato laporan “HARUS” diawali dengan kata-kata “Puji syukur ke hadirat Tuhan YME atas selesainya laporan ini tepat pada waktunya… [bla.. bla.. bla]”. Aduuuhh… Aku bisa ngetik sambil nangis cara Cina kalo harus bikin kata pengantar se-formil itu… Kalo skarang, membuat kata pengantar itu adalah bagian yang paling menyenangkan.

Di kata pengantar ini aku bisa membebaskan kreativitas. Maksutnya aku bisa nulis apa aja tentang buku yang aku tulis itu tanpa pengaruh editor. Kalau ditulis di naskah utama, editor bakal abis2an ngedit biar sesuai dengan EYD (Ejaan yang [sudah] dibubarkan (?)). Tul nggak? Dan lagi, aku isa ngasih ucapan terimakasih ke siapapun juga di kata pengantar ini. Tapi sebisa mungkin, aku ngasih ucapan terimakasih ke se-minimal mungkin pihak. Soalnya, kalo nuruti yang layak dikasi ucapan terimakasih, jadinya orang satu kampung bisa masuk. Mulai dari papi, mami, kakak, para guru TK, SD, SMP, SMA sampe dosen kuliah, pihak Microsoft yang udah bikin Word sehingga memungkinkan aku buat ngetik naskah, Intel yang udah bikin prosesor sehingga CPU bisa kerja dengan baik, tukang pos yang nganter naskah ini ke penerbit, tukang anter catering (karena kalo nggak ada dia, saya pasti kelaparan dan nggak isa lancar nulis), penjual STMJ di deket rumah yang biasanya kalo suntuk nulis saya nongkrong di sana, terus juga mesti terimakasih ke pemerah susunya, ke sapi yang menghasilkan susu itu, ke induknya sapi yang udah ngelahirkan sapi itu, ke yang membantu persalinan dari sapi itu dan buanyaaak lagi. Tu, banyak kan? Kebayang nggak ada kata pengantar kayak gini:

Ucapan terimakasih berikutnya adalah untuk seekor induk sapi yang telah bersusah payah melahirkan anak sapi, sehingga anak sapi tersebut menjadi besar, dan menghasilkan susu, lalu susu tersebut diperah oleh seorang petani susu serta dimasak oleh penjual STMJ di dekat rumah saya sehingga ketika saya minum STMJ tersebut saya kembali bersemangat untuk menulis yang menyebabkan buku ini dapat selesai dan Anda baca.

Yang baca pasti bingung sambil menggumam, “Oooo… Sapi ya…”

Tapi, anyway… Aku inget bener ketika ada seorang cewek yang tengah malem telepon aku sehabis baca blog-ku, (dulu postingnya masih sedikit)… Dia bela2in telepon tengah malem… en dia meyakinkan aku bahwa posting2 di blog-ku itu bagus, enak dibaca en dia ngerasa diberkati stelah baca… Dia encourage aku untuk menuliskan ke dalam sebuah buku agar lebih banyak orang bisa diberkati… Aku harus say thanks ke cewek itu… Yul, aku naroh nama kamu di kata pengantar buku ini. Thanks for the phone call that night…

Dan ada satu cewek lagi yang namanya nggak pernah ketinggalan di setiap buku-ku… Kamu tau siapa dia… The-girl-who-still-remain.

[Buat yang (bakal) baca buku ini: make sure, don't miss "kata pengantar di buku ini"... Loh, kok kata pengantar...?]

07
Sep

Meet Layne Hanson

Layne Hanson is a 22yrs single, white, female. For me, Layne Hanson definitely is a miracle from God. How come? Who is Layne Hanson anyway? Ok, let me explain. First, just don’t make any foolish assumption about my relationship with this young lady, ya?

If you read the posting titled “What a though, busy and exciting week”, you’ll notice that I had to upskill my English, because I couldn’t speak English fluently. I couldn’t express my thoughts in English fluently. I had to think for a while to arrange the right sentences. Is that a problem? Yes! For me, it’s a problem because I always want to speak English fluently and correct both grammatically and pronunciation. I also have a dream that someday, I’ll write many books in English (what kind of book? I’ll keep it as a secret until they’re published). So, guess! What am I going to do to solve this problem? Well, I followed the steps in my posting titled “If you fail to plan, you plan to fail”.

  1. I wrote in detail my goal (My goal is that I want to speak English fluently and correct both grammatically and pronunciation).
  2. I stopped with “what-if” scenario (I believe that God is a God of all Language and He has given me a potential to learn language, so I stopped to worry)
  3. I thought about the reward (If I can speak English fluently, I’ll get many benefits. I can communicate with other people in the world!)
  4. I had desire in pray (Well, I prayed! I prayed to God, “God, I want to speak English fluently, I want to upskill my English, I trust that you’re able to give me wisdom so I can speak English fluently…”)
  5. I disciplined my personality (I downloaded many English materials and I studied! I had to discipline my self to study English from that materials)

And guess what? God answers my pray in such a miraculous way! In September 1st, I had a new neighbor. She lives just about 10 meters from my house, quite near from my house. She lives alone and she’s American. She’s an English Teacher in Santo Yusup High School (I also taught in Santo Yusup). So, since we work in the same school and she’s my neighbor, in the last 7 days, we’re quite close to each other (especially when she’s new, doesn’t know many things in Indonesia, doesn’t know many people and can speak Bahasa just a bit).

I told her many things about the cultures and customs in Indonesia, took her to the supermarket and mall for shopping, helped her to settle up the furniture, taught her how to ride a motor bike (because she wanted to have one)… And of course, my English improved a lot! I know, my English isn’t perfect yet, but it will.

I never thought that God will answer my pray in such way. Layne Hanson indeed is a miracle from God. Oh, one more thing, my students keep saying that she’s pretty… ;D

02
Sep

Algoritma menikah

Begini, saya ini orang teknik. Jadi otaknya bener2 otak teknik. Semua masalah harus dipecahkan dalam prosedur yang lebih kecil sehingga akan lebih mudah diselesaikan. Misalnya dalam hal menikah saya punya algoritmanya… Dan saya pikir, algoritma ini berlaku hampir untuk semua orang normal di zaman modern ini.

Nah, ini adalah algoritma menikah (pihak cowok) menurut versi Windra (kalo kalian punya algoritma dengan tingkat efisiensi yang lebih baik, boleh juga di-share).

  1. Berkenalan dengan cewek.
  2. Apakah cewek itu cocok dengan yang diinginkan? Jika ya, ke langkah 3, jika tidak ke langkah 1.
  3. Lakukan proses pendekatan.
  4. Apakah si cewek menunjukkan respon positif saat didekati? Jika ya, ke langkah 5. Jika tidak ke langkah 3 atau 1 (disesuaikan dengan sikon).
  5. Segera nyatakan "cinta" dan mulai berpacaran.
  6. Proses berpacaran. Apakah ada masalah? Jika ya ke langkah 7. Jika tidak ke langkah 9.
  7. Mencari solusi.
  8. Jika solusi tidak ditemukan, putus. Pergi ke langkah 1.
  9. Sudah siap untuk menikah? Jika ya ke langkah 10, jika tidak ke langkah 6.
  10. Menikah.

Setelah saya pelajari lagi, ternyata algoritma menikah saya ini mirip dengan permainan ular tangga. Tujuannya adalah ke petak nomer 10 (yaitu menikah). Tapi gawatnya banyak sekali ular yang bikin kita balik ke nomer 1… Perhatikan sekali lagi algoritmanya. Setidaknya ada 3 nomer yang bisa bikin kita balik ke nomer 1 (yaitu di langkah 2, 4 dan 8), sementara petak yang dapat membuat ke langkah nomer 10, hanya 1 nomer yaitu di nomer 9. Apa artinya? Secara probabilitas, kemungkinan untuk menuju ke nomer 10 itu kecil.

Yang lebih gawat lagi, kita nggak punya dadu saat menjalankan permainan ular tangga ini. Nggak ada ceritanya, lawan menunggu giliran untuk melempar dadu kayak di permainan ular tangga sebenarnya. Nggak ada yang namanya giliran, yang ada siapa cepat dia dapat. Nah lo!

Setelah saya pikir2 lagi, ternyata algoritma menikah untuk pihak cewek, sedikit berbeda dari pihak cowok (dan kalo diitung2 tingkat kompleksitas-nya lebih tinggi ketimbang algoritma menikah pihak cowok).

Algoritma menikah (pihak cewek):

  1. Berkenalan dengan cowok
  2. Apakah cowok itu cocok dengan yang diinginkan? Jika ya, ke langkah 3, jika tidak ke langkah 1.
  3. Repeat
    Until (Cowok itu pdkt) ato (dapet kenalan baru lagi)
  4. Jika dapet kenalan baru lagi, ke langkah 1.
  5. // jika sampai tahap ini berarti cowok itu sudah melakukan PDKT
    Repeat
    Until (cowok itu menyatakan cinta) ato (dapet kenalan baru lagi)
  6. Jika dapet kenalan baru lagi, ke langkah 1.
  7. Proses pacaran. Apakah ada masalah? Jika ya ke langkah 8. Jika tidak ke langkah 10.
  8. Mencari solusi.
  9. Jika solusi tidak ditemukan, putus. Pergi ke langkah 1.
  10. Sudah siap untuk menikah? Jika ya ke langkah 11, jika tidak ke langkah 7.
  11. Menikah.

Ada 11 langkah. Dan gawatnya, pada algoritma menikah cewek, ada looping ato perulangan (yaitu di langkah 3 dan langkah 5). Pada sebuah program komputer, proses looping adalah suatu proses yang membutuhkan waktu (time consuming). Program akan terus berulang hingga suatu kondisi terpenuhi.

Contoh gampangnya, lihat pada langkah 3.
Repeat
Until (cowok itu pdkt) ato (dapet kenalan baru lagi).

Kasusnya, seorang cewek udah ngerasa cocok dengan seorang cowok yang baru dikenalnya. Maka, cewek itu akan mengalami suatu proses perulangan (lihat algoritma di langkah 3), yaitu menunggu. Nah perulangan ini bener2 time consuming. Iya kalo cowoknya pdkt? Kalo cuman pengen temenan doang? Mo sampe kapan nunggunya…? Itu sebabnya, pada kondisi diberikan: Until (cowok itu pdkt) ato (dapet kenalan baru lagi). Jadi kalo cowok itu kayaknya nggak bakalan (ato keliatannya nggak ada harapan untuk pdkt ke si cewek), si cewek bisa memotong perulangan dengan kondisi si cewek dapet kenalan cowok baru lagi (ato kembali ke langkah 1). Kalo ular tangga, ini adalah ularnya… kembali ke langkah 1 lagi. Capek ya? Iya emang. Namanya juga maen ular tangga.

Terus di langkah 5, ada perulangan lagi (yang artinya time consuming) lagi. Ini adalah proses menunggu si cowok menyatakan cinta. Misalnya, kliatannya si cowok itu pdkt, care ke si cewek, sering ngajak keluar, nge-date bareng… tapi dia nggak pernah menyatakan cinta… ya jadi ngambang. Si cewek menunggu tanpa kepastian (time consuming). Tapi sekali lagi perulangan ini bisa di-cut dengan penambahan kondisi (dapet kenalan baru) dan kembali ke langkah 1 (dapet ular lagi). Make sense ya?

[buat para FCT yang udah merried: inget nggak pas kuliah dulu aku yang dulu ngajarin kalian mata kuliah algoritma dan pemrograman, tapi kok bisa ya kalian lebih pinter menerapkan algoritma menikah ketimbang aku...??]