Archive for October, 2006

26
Oct

Warnet dan Mangga

Saya sedang berada di D***.Net yang ada di sebelah D**** Plasa (hihi2… ini adalah usaha menyamarkan Tempat Kejadian Perkara yang nggak penting dan nggak berguna, terutama bagi yang berdomisili di Malang… Gimana nggak gampang ketebak kalo di kota Malang itu cuman ada 2 mall gede, yaitu Dieng Plasa dan Malang town square, dan warnet yang ada di sebelah Dieng Plasa ya cuman De.Net, jadi… pembaca yang cerdas langsung tahu di mana gerangan tempat kejadian perkara blog ini).

Ini gara2 sejak saya memutuskan untuk nggak berlangganan telkom speedy lagi, saya akhirnya jadi sering ke warnet. Sebenarnya nggak ada keluhan sama sekali selama memakai telkom speedy… Kecepatan download dan upload-nya bener2 menggoda… Maksutnya menggoda saya untuk berlangganan yang unlimitted ketimbang yang quota 750Mb/bulan. Tapi tarif bulanannya itu ngajak miskin banget, sedang saya cukup waras untuk nggak mau diajak miskin oleh Telkom speedy. Ya, akhirnya saya memutuskan untuk dari warnet ke warnet.

Senyaman apapun warnet-nya, pasti lebih nyaman kalo akses internet di rumah sendiri. Ada perbedaan yang sangat jelas antara akses di rumah sendiri dan akses di warnet. Pertama kalo di rumah, kamu bisa makan minum dengan gratis, sementara di warnet, kamu jelas harus bayar untuk setiap makanan dan minuman yang kamu pesan… ato boleh juga sih makan minum dengan gratis di warnet dengan skenario: Kamu ke warnet bawa rantang 3 susun. Rantang yang bawah berisi nasi, yang tengah lauk pauk dan yang paling atas buah2an. Tak lupa sebotol air mineral. Sebelum masuk jangan heran kalo ditanya ma yang jaga, "Mbak… mau pake internet?" sambil ngelirik2 rantang yang kamu bawa (kemungkinan yang jaga juga lapar). Kamu boleh jawab, "Lah iya… masak ke warnet mau nyemir sepatu… yang bener aja Mas…!"

Kedua, kalo di rumah kamu nggak perlu antri… Kalo misalnya adek ato sodara kamu pake komputer kamu di rumah ketika kamu mau pake, kamu bisa dengan arogan bilang ke sodara kamu itu, "Eh, aku mo internetan… Kamu maen playstation dulu sana…!" (yang mana kata2 itu nggak akan bisa kamu ucapkan kalo kamu ngantri di warnet)

Ketiga, perbedaan antara nge-net di rumah dengan di warnet, kamu bisa kenalan sama yang punya warnet dan dikupasin mangga… Bener, kamu nggak salah baca.

Ceritanya gini… Saya ma temen saya ke D**.Net yang terletak di sebelah D** Plasa. Pas nyampe di sana, kami disambut ma seorang cewek yang ramah (dan cakep) yang mempersilahkan kami duduk untuk menunggu. Tapi kamu bisa bayangkan rasanya kalo udah setengah jam menunggu tapi nggak ada tanda2 satu spesies pun yang mau pulang. Bahkan beberapa ekor semut juga masih asyik ngobrol2 ma temennya di bawah kursi komputer nomer 4. Rasanya pingin bikin atraksi barongsai aja agar mereka pada keluar semua… Ato, gimana kalo ndatengin macan beneran…? Tapi temen saya bilang mending ngelepasin ular ketimbang macan, selain ular lebih mudah dicari,  orang bisa aja mikir kalo itu macan2an yang bisa dinaiki dengan bayar 5rb kayak di mall2. Bisa2 dikira itu fasilitas dari warnet untuk berkeliling warnet. Ya saya bilang sih, kalo ular saya juga takut… bukan cuman mereka yang keluar, tapi saya juga keluar kalo ada ular…

Ketika kami sedang menyusun rencana busuk itu, cewek itu keluar sambil bawa ular… eh, bukan2 bawa 2 buah mangga. Lalu dengan ramahnya bilang, "Mau mangga…?" Saya nggak yakin dia nawari saya. Saya menoleh ke kiri ato kanan, karena jangan2 bukan kami yang ditawari mangga. Ternyata emang hanya kami berdua, jadi pasti dia nawari mangga itu ke saya dan teman saya (kecuali kursi yang kami duduki juga makan mangga).

"Ayo, nggak papa kok… Mangganya dari pohon sendiri…"

Oh tentu dari pohon… Sejak kapan mangga bisa tumbuh di genting… Ya… Tapi paling nggak saya nggak perlu kuatir mangga itu diambil dari pohon orang lain.

"Enak kok mangganya… Ayo nggak papa…" (Hampir saja saya bertanya ke teman saya apakah wajah saya nampak se-lapar itu sampe dia begitu gigih menawari mangga ke saya…). Waktu itu saya berusaha menolak… Tapi siapa sih yang bisa menolak penawaran dari seorang cewek cakep yang dengan tulus menawari (menawari mangga ya! bukan yang laen). Lalu kami ngobrol2. Dari situ saya mendapat informasi bahwa di D**.Net yang terletak di sebelah D*** Plasa ini ada 28 unit komputer, dan namanya cewek itu, yang ternyata yang punya warnet ini adalah D****. Jadi D**** ini buka D**.Net, yang terletak di sebelah D*** Plasa dengan D** D*** unit komputer.

Nggak lama kami ngobrol, ternyata ada yang sudah selesai. Bener2 waktu yang nggak pas! Rasanya pingin bilang ke dia, "Mas2, tau nggak…? Saya masih pingin ngobrol2 ma D****, nge-net lagi sana gih, barang 4 ato 5 jam lagi, saya yang bayar gak papa…"

Ya akhirnya aku nge-net, dan D****-nya pamit tidur.

Just in case saya adalah marketting dari D**.Net ini, maka saya akan buat sebuah brosur untuk promosi seperti ini:

Dnet_1

[Buat D****, in case dia baca blog ini... thank you buat mangganya ya... ini aku promosikan warnet kamu...]

NB. Ada pengumuman nggak penting dari pemilik blog ini:

  • "Buku Salad Bowl for Teen Spirit dapat dibeli secara online di www.metanoiapublishing.com, dapatkan discount 15% (all items) dan ongkos kirim gratis untuk wilayah Jakarta. Sedangkan untuk wilayah Malang, dapatkan tanda tangan penulisnya, gratis (selama persediaan tanda tangan masih ada)!"
20
Oct

Kenapa beda?

Suatu hari, ada sebuah pertanyaan yang tiba2 muncul di benakku. Seandainya, ada dua anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang sama, dididik dengan cara yang sama, diperlakukan dengan sama sejak kecil, lalu apakah mereka juga punya nasib yang sama?

Jawabnya, jelas tidak. Dijamin, nasib mereka pasti berbeda. Mereka nggak akan mengalami musibah ato dapet rejeki pada hari yang sama, mereka nggak akan menikah pada hari yang sama, mereka nggak akan punya anak pada hari yang sama (dengan jenis kelamin yang sama atau bahkan namanya juga sama), hidup mereka nggak akan sama. Loh, kan mereka diperlakukan sama sejak kecil? Mereka punya latar belakang keluarga yang sama? Iya, tapi jelas hidup mereka nggak akan bisa sama satu sama lain. Pertanyaannya: Kenapa beda?

Btw, aku pernah ke Panti Asuhan Eben Haezer, Batu. Di sana, aku ketemu dengan 70-an anak2. Mereka berada dalam satu tempat yang sama, berinteraksi dengan teman yang sama, diajar di sekolah yang sama, dan punya gaya hidup yang sama. Tapi Panti Asuhan tersebut nggak menghasilkan anak2 yang sama. Ke-70 anak tersebut, nggak ada yang sama. Ada yang pendiam, ada yang pemalu, ada yang suka ngomong, ada yang suka memimpin, ada yang tegas, ada yang selalu ragu2, ada periang, ada yang pemurung… Tempat yang sama. Lingkungan yang sama. Pendidikan yang sama. Perlakukan yang sama. Tapi hasilnya berbeda. Pertanyaannya: Kenapa beda?

Kalo dengan lingkungan yang sama, bisa menghasilkan produk yang berbeda, apalagi jika kita dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda. Hasilnya jelas beda. Kamu bisa ketemu dengan orang sukses (ato kamu sendiri sudah sukses?), yang apapun yang diperbuatnya nampaknya selalu berhasil, kamu bisa ketemu dengan orang yang setengah sukses yang kadang berhasil, kadang gagal. Kamu bisa ketemu orang yang selalu gagal… Kalo di sekolah, kamu bisa ketemu dengan anak yang pinter (yang kayaknya ngerti semua pelajaran), kamu bisa ketemu dengan anak yang kayaknya nggak isa ngerjakan apapun dengan bener, kamu bisa ketemu dengan anak yang nggak menyenangkan, yang sering bikin temen2 yang laen jengkel, kamu bisa ketemu dengan anak yang cuek yang nggak peduli ma apapun selain dirinya sendiri.

Kenapa beda? Kenapa ada orang sukses dan ada yang nggak sukses? Bukannya kita semua diciptakan oleh Tangan yang sama? Bukankah kita semua ini kreasi dari Almighty God yang sama? Ada di antara pembaca blog ini yang nggak diciptakan oleh Tuhan? Keluar dari tanah secara spontan mungkin? Kalo seandainya ada, ya nggak perlu dipermasalahkan lagi kenapa kita bisa berbeda. Tapi yang menarik itu bahwa kita adalah kreasi dari Tangan yang sama. Kenyataannya, dari ciptaan tersebut ada yang sukses dan ada yang nggak sukses. Ada yang menyenangkan dan ada yang nggak menyenangkan. Ada yang periang dan ada yang pemurung. Ada yang pinter dan ada yang nggak pinter. Pertanyaannya: Kenapa beda?
Ya, memang kita dilahirkan dengan bakat yang berbeda2. Dengan sifat yang berbeda2. Dengan bentuk fisik yang berbeda2. Tapi jelas, bukan faktor2 itu yang menentukan orang jadi sukses ato nggak. Aku sering liat seorang dengan bakat musik jadi sukses di bidang musik terkenal dan menghasilkan banyak uang (make sense ya? punya bakat musik, lalu sukses). Jadi kesuksesan untuk orang yang punya bakat musik doang? Nggak juga, aku malah lebih sering ngeliat orang yang nggak punya bakat musik tapi bisa lebih sukses dari mereka yang punya bakat musik (jadi pengusaha misalnya).

Dan gawatnya, aku punya temen yang bakat musiknya LUAR BIASA (with capital word), bayangkan hanya dengan 1.5 jam perminggu les piano, nggak punya piano ato alat musik apapun di rumahnya (artinya dia cuman blajar piano ketika les), baru les sekitar 3-4 bulan, tapi dia bisa juara SATU lomba piano tingkat kota(!) (btw, namanya lomba piano ya?). Yang pernah ikut lomba piano (terutama yang nggak perna dapet juara), pasti ngerti bener seberapa berbakatnya temenku ini. Tapi dengan bakat kayak gitu, apa dia sukses? Ternyata nggak juga. Les pianonya ditinggalkan, aku nggak perna denger dia maen piano lagi… (aku pingin banget ngeliat dia isa sukses dengan bakatnya yang luar biasa).

JK Rowling jelas punya bakat menulis dan dia sukses (kalo ukuran sukses adalah menghasilkan uang banyak, ya, JK Rowling luar biasa sukses). Apa sukses cuman bisa diraih oleh yang terlahir dengan bakat menulis? Nggak… Aku punya temen yang punya bakat nulis luar biasa, tapi dia nggak sukses. Kalo mau diitung, emang porsi bakat nulis yang dikasi Tuhan ke dia itu cuman 1/2 dari bakat nulisnya JK Rowling, tapi apa yang  dihasilkan temenku 1/2 dari yang dihasilkan JK Rowling? Ternyata nggak. Yang dihasilkan temenku bahkan nggak sampe 1/100-nya yang dihasilkan JK Rowling, padahal bakatnya 1/2nya JK Rowling).

Kalo kamu jeli ngeliat dunia luar, kamu bisa ngeliat banyak orang dengan bakat2 luar biasa di diri mereka, tapi nggak sukses dan ada orang dengan bakat biasa saja, tapi ternyata bisa sukses luar biasa. Bakat nggak pernah jadi ukuran kesuksesan. Jadi apa? Fisik? Fisik yang cakep itu penentu kesuksesan? Nggak juga. Banyak orang sukses yang nggak cakep (bisa ngasih contoh? Aku punya banyak contoh, cuman nggak tega aja aku mengetik daftar orang2 nggak cakep - walopun mereka sukses sih - jadi coba kamu cari contoh ndiri deh, nggak cakep tapi sukses…) dan banyak orang cakep yang ternyata nggak sukses (tapi kalo aku mah, orang cakep yang sukses, hehe2…). Sukses dan fisik ternyata juga nggak berhubungan.

Ada faktor X yang menentukan kesuksesan. It’s not about the talents you have. It’s not how smart you are in school. It’s not about your outlook. So… Is it about… GOD? Ternyata bukan juga. Ada orang2 yang nggak percaya Tuhan tapi sukses luar biasa (skali lagi, aku nggak berani nulis orang2nya… Yakin deh, kamu bisa dengan gampang nyari contoh orang sukses yang nggak percaya ma Tuhan), dan gawat juga ketika tahu bahwa justru ada banyak orang yang kliatannya rohani banget, rajin ibadah, tapi ternyata malah nggak sukses (ini yang bikin banyak orang nggak percaya dan nggak punya iman ke Tuhan).  Aku kasih tau nanti knapa bisa terjadi kayak gitu.

Jadi faktor X sukses itu apa?

I’ll tell u, success is about your attitude. Sukses adalah tentang sikap! Sikap apa? Sikap mental, sikap hati dan sikap rohani.I’m me because mental_attitude+heart_attitude+spiritual_attitude. We are what we are today because the sum total of our attitude.

Kalo kamu ngalami suatu kejadian yang nggak enak, gimana mental attitude (pikiran) kamu? Gimana heart attitude (hati) kamu? Gimana spiritual attitude kamu? Apa kamu masih bisa berpikir dengan positif (it’s about ur mental attitude)? Apa kamu masih punya hati untuk menerima kejadian itu (it’s about ur heart attitude)? Apa kamu masih percaya bahwa Tuhan itu baik (it about ur spiritual attitude)? Bahwa Tuhan adalah segalanya?

Success equation:
Mental_attitude + Heart_attitude + Spiritual_attitude = Success_factor.

Kembali ke temenku yang punya bakat musik yang luar biasa tadi. Kenapa dia nggak sukses sementara ada orang2 yang bakatnya nggak lebih baik dari dia, tapi bisa sukses luar biasa. Ternyata nilai2 untuk mental_attitude, heart_attitude dan spiritual_attitude dari temenku ini nggak terlalu tinggi. Sehingga success_factor yang didapat juga nggak tinggi. Temenku nggak pernah berpikir bahwa musik itu sesuatu yang menarik untuk didalami. Baginya musik hanya sekedar musik. Toh, banyak orang bisa. Kalopun aku nggak pinter musik, so what? Aku nggak rugi apa2. Nggak perlu lah diseriusi sebagai karir, nggak penting… See? Mental attitude ini seharusnya bisa diperbaiki. Dia juga nggak punya heart attitude yang baik. Dia nggak punya desire di musik. Nggak punya passion, nggak ada gairah  untuk belajar musik. Heart attitude. Dan, yang gawat, dia nggak menghargai talent musik yang dipunyai sebagai anugerah dari Tuhan yang harus dikembangkan. Yang harus ditekuni agar orang laen bisa ngeliat dia, bisa ngeliat bahwa Tuhan yang ngasih dia talent itu, adalah Tuhan yang luar biasa. Dia nggak punya spiritual attitude. Make sense kenapa dia nggak sukses walopun dia punya bakat musik yang luar biasa?

Kalo kamu mau belajar mengamati di kehidupan ini kenapa orang nggak isa sukses, kamu akan menyadari bahwa mental attitude, heart attitude dan spiritual attitude yang dipunyai nggak cukup besar untuk mendongkrak nilai success factor.
But friends, I’ll tell u, ada hukum2 yang udah ditetapkan oleh Tuhan di dunia ini, yang berlaku baik untuk mereka yang percaya Tuhan maupun yang nggak percaya ma Tuhan. Hukum gravitasi, akan selalu membuat orang jatuh ke bawah, nggak peduli dia percaya Tuhan ato nggak. Petani yang nggak percaya Tuhan juga ngerti kalo dia ingin memanen hasil, maka dia harus menabur benih dulu. Hukum itu berlaku untuk semua orang.

Hukum sukses juga sama. Success equation berlaku untuk semua orang. Spiritual attitude nggak begitu diperlukan untuk mengejar kesuksesan di dunia (di dunia ya!) Walopun hanya punya mental attitude dan heart attitude  yang baik,  ternyata orang bisa kok sukses menurut ukuran dunia ini. Karena dunia ini mengukur kesuksesan lewat materi. Dan dengan bermodalkan mental attitude dan heart attitude yang baik, orang bisa sukses secara materi. Itu menjelaskan kenapa meskipun banyak orang yang nggak  punya spiritual attitude (nggak percaya Tuhan pun), bisa jadi orang sukses. Aku punya kenalan (udah berumur) yang sukses banget. Punya usaha dengan omzet ratusan juta per hari(!). Dia believe in God (percaya kalo Tuhan ada), tapi nggak trusting in God (nggak surrender ke Tuhan, nggak beriman bahwa Tuhanlah yang punya segalanya, Tuhanlah yang berkuasa atas dunia ini). Menurut dia, smua yang dia dapet adalah karena usaha dan kerja kerasnya, Tuhan cuman penonton. Knapa dia bisa sukses walopun nggak punya spiritual attitude? Karena dia seorang pekerja keras, ulet, dan bermental baja (punya mental attitude yang bagus). Dia juga punya heart attitude yang baik, dia selalu jujur, nggak mau nipu orang laen, berusaha baik ke semua klien-nya dan ramah ke orang lain. Jadi dia sukses walopun nggak punya spiritual attitude. Sukses di dunia iya. Tapi setelah hidupnya berakhir di dunia, maka spiritual attitude jadi suatu hal yang penting.

So, kembali ke pertanyaan di awal, kenapa beda? Kenapa ada orang sukses dan ada orang yang nggak sukses? Kenapa walopun kita dibesarkan dengan pendidikan yang sama, tapi ternyata kesuksesan masing2 bisa berbeda? It’s all about your attitude.

[Success equation: Mental_attitude + Heart_attitude + Spiritual_attitude = Success_factor]

05
Oct

Mari Tidak Berbohong

Kayak ikan yang didesain ma Tuhan untuk berenang di air, manusia itu juga didesain ma Tuhan untuk nggak bohong. Beneran… My best sister, Yuli Triana sering bilang bahwa pas Tuhan bikin manusia, cowok itu adalah draft (karena dibikin duluan alias percobaan), sedangkan cewek adalah master piece-nya (dibuat setelah melakukan percobaan pertama)… Jadi bisa disimpulkan, desain cewek lebih indah ketimbang cowok. [Para cewek semuanya bilang... AMIN!]

Ya… aku sih setuju 100% bahwa cewek itu jauh lebih menarik ketimbang cowok. Buktinya, aku kalo nyari pacar ya pasti yang cewek (make sense kan? mereka kan lebih menarik ketimbang ketimbang cowok). Ngapain coba aku nyari pacar cowok, yang jelas2 kalah menarik dibandingkan cewek…? Cuman yang aku heran, kenapa para cewek sendiri mencari cowok untuk jadi pasangan hidupnya…? Bukannya cewek lebih menarik? Kesimpulannya para cewek itu adalah … [Jawaban bisa direnungkan]

Never-mind2, anyway… Kembali tentang desain tadi. Ikan itu didesain ma Tuhan untuk hidup di air. Kalo ikan melanggar desain awalnya, yaitu dengan nekat hidup di darat (pengin seperti manusia), maka ikan itu akan mati. Sama kayak hewan darat seperti anjing ato kucing. Mereka didesain ma Tuhan untuk hidup di darat. Kalo mereka nekat hidup air, ya tinggal menghitung jam aja. Manusia, didesain untuk berkata jujur, nggak bohong. Tuhan nggak pernah mendesain kita untuk berbohong, mengatakan sesuatu yang sesuai dengan kebenaran. Apa akibatnya kalo kita melanggar desain itu…? "Sesuatu" terjadi. Akan ada "masalah" dalam pikiran kita… Saat kita bohong, sepertinya nggak ada apa2 yang terjadi, tapi kenyataannya kita sedang melanggar desain awal kita. Is that dangerous? Tanyalah ke anjing kamu setelah kamu cemplungkan dia ke kolam renang selama 3 hari 3 malam. Tanyalah ke ikan koi kamu setelah kamu jemur dia di terik matahari selama beberapa menit (yang mana bukan desain awalnya).

Never-mind2, anyway… Setelah direnung2kan, ternyata boong itu punya beberapa kategori. Dari bohong biasa (yang sampe kadang kita nggak sadar bahwa kita lagi bohong), sampe bohong luar biasa (yang dengan sengaja kita lakukan).

  1. Bohong yang kejam
    Kamu bohong untuk menghancurkan orang laen. Kamu dengan tega-nya memfitnah seseorang, berbohong ke orang lain tentang seseorang yang kamu benci demi memuaskan diri kamu. Mungkin kamu dendam ma dia, mungkin dia dulu pernah ngejelek2an kamu, mungkin dia dulu pernah menyakiti kamu, mungkin dia ngerebut pacar kamu, mungkin dia lebih disukai ma cowok yang kamu taksir setengah mati, mungkin dia jauh lebih pinter ketimbang kamu (padahal kamunya udah blajar mati2an). Lalu kamu mulai menjelek2an dia… Gara2 iri nilai dia selalu lebih baik dari kamu, kamu jadi ngejelek2an dia di depan temen2 yang laen "Dia itu kan suka nyontek, jelas aja nilainya baik", "Dia itu suka cari muka di depan guru, jelas aja guru ngasih nilai baik ke dia". Gara2 dia ngerebut pacar kamu, kamu jadi nggosipin dia di depan temen2 kamu, "Eh, kamu tau nggak? Dia itu kalo tidur ndengkur sampe 45 desible!" (padahal, biasanya "cuman" 30 desible), ato pake jurus laen, "Eh, dia itu klepto, suka nyuri2 barang… Kalian mending nggak deket2 ma dia deh…" Dengan motivasi dendam, akhirnya kamu bisa mengeluarkan semua kreativitas untuk membuat image seseorang jelek. Bohong jenis ini termasuk pembunuhan… Bukan pembunuhan fisik, tapi pembunuhan karakter. Character assassination. Kalo kamu tau ada temen kamu yang suka melakukan character assassination, sebaiknya kamu ingetkan dengan baek2… Kalo dianya nggak nyadar juga, sebaiknya jaoh2 aja ma dia… Jangan2 suatu ketika karakter kamu yang dibunuh. Character assassination adalah tindakan yang kejam. Itu sebabnya bohong ini disebut "Bohong yang kejam". Motivasinya: kebencian, dendam, kepahitan.
  2. Bohong yang pengecut.
    Kamu bohong karena kamu menghindari konsekuensi. Kalo kamu nggak bohong, kamu takut dihukum. Jadi daripada kamu harus menerima akibat dari perbuatan kamu, kamu akhirnya berbohong. Sebagai guru, aku sering banget dapet kebohongan dalam kategori ini. "Kamu kenapa nggak bikin tugas?", "Oh, eh… Em… Pak, saya kemaren sebenernya udah rencana bikin. Tapi pas saya mau bikin, tiba2 komputer saya hang, jadi saya nggak bisa ngetik tugasnya"… Sampe bosen rasanya denger alasan2 gini. Akhirnya saya bikin aturan, tugas bole dikumpulkan, bole juga nggak. Kalo mau ngumpulkan ya aku kasih nilai, kalo nggak ya nggak papa… cuman nggak ada nilainya, gitu aja (para mahasiswaku senyum2 doang ketika aku kasih aturan gitu ke mereka, hehe2…). Jadi aku membantu mereka biar nggak perlu repot2 mengarang alasan ketika nggak bikin tugas. Biasanya anak kecil itu suka ngelakukan bohong jenis ini. Kalo mereka pernah memecahkan gelas… nggak sengaja, trus maminya dateng… en pas ngeliat gelasnya uda pecah, terus nanya, "loh, sapa yang mecahkan?" [padahal jelas2 cmn ada anak itu di tempat kejadian perkara]. "Oh, tadi itu Mi… ada kucing ngejar tikus. Tikusnya masih kecil Mi… Kan kasian kalo sampe dimakan kucing. Terus pas tikusnya hampir ketangkep, kucingnya tak lempar pake gelas, pas kena kepalanya… eh, kok terus gelasnya pecah…" Anak kecil biasanya takut ngadepin konsekuensi akibat perbuatannya. Jadi cari aman supaya nggak dihukum. So, kalo kamu masih sering bohong dalam kategori ini, artinya kamu masih dalam kategori anak2, hehe2…
    Motivasinya: fear and worry.
  3. Bohong demi jaga image
    Demi jaga nama baik, kamu bohong. Demi dihargai orang lain, kamu bohong. Demi mencari muka, kamu bohong. Para cowok sering melakukan bohong dalam kategori ini pas ngelakukan pdkt ke cewek. "Aku tu pernah pacaran 7x. Smua mantan pacarku, pada minta balik… Mengemis2 biar balik sama aku… Tapi ya… aku tolak semua laaa… Mereka mah nggak level ma aku." Ato kadang orang takut nggak diterima orang laen, jadi dia berbohong tentang dirinya. Dalam suatu golongan ato pertemanan, demi bisa diterima dalam golongan itu, ada yang bela2in untuk bohong. "Rumahku di daerah … Papaku punya bisnis [ini itu], liburan ini kami akan berlibur ke [sini situ]…" Pernah ngalami dibohongi kayak gitu? Ato cowok yang ngaku2 masih single demi pdkt ke cewek laen. Para cewek pasti punya pengalaman dibohongi dalam kategori gini oleh para cowok… Hehe2… (Buat para cowok, sori aku buka rahasia kalian. Jadi, mari kita galakkan "program tidak bohong".) Kalo kamu ngelakukan kebohongan jenis ini, itu artinya kamu sedang menunjukkan insecurity dalam diri kamu. Kamu merasa bahwa diri kamu itu nggak cukup berharga sampe kamu harus bohong tentang diri kamu. Kamu ngerasa kamu masih sangat kurang sampe kamu harus berbohong untuk menutupi kekurangan kamu. Nggak heran, kalo Tuhan selalu bilang bahwa Dia mau menerima kita apa adanya… Itu agar kita nggak perlu boong. Walopun manusia nggak mau nerima kita, tapi at least kita tau, bahwa Tuhan nerima kita apa adanya. Amin, friends?
    Motivasi: insecurity, impressing other people.
  4. Bohong untuk memanipulasi orang lain
    Ini biasanya bohongnya para pengusaha. Mereka memanipulasi dan merugikan orang lain demi memperkaya diri sendiri. Eh, jangan salah sangka. Aku nggak bilang semua pengusaha itu pembohong… Nggak ya… Malah aku juga pingin jadi pengusaha lo… Aku pingin punya situs e-commerce, online shop yang buka 24 jam. Cuman sekarang masih lagi di-konsep2. Kalo menurut step planning-nya, ini baru tahap pertama, yaitu writing in detail the goals. Nah, apa yang biasanya jadi kebohongan para pengusaha? Manipulasi pajak. Kalo bayar pajak, keuntungannya akan berkurang. Jadi manipulasi saja laporannya. Pajak yang dibayar nggak banyak, keuntungan jadi besar. Itu bohong ya? Ya iya… Tapi kan itu udah umum… semua ngelakukan? Ya, berarti semua sedang melanggar desain awal mereka. Aduh… tapi kan pajak itu gede banget…! Kalo dibayar, jadi berkurang dunk keuntungannya? Ya, tinggal pilih aja deh… Mau manipulasi laporan keuangan yang artinya boong ato jujur dan ngikut sesuai desain awal kita. I tell you, royalti dari buku yang aku terima, itu dipotong 15% (!) untuk pajak. Artinya, kalo aku dapet 10jt, 15% ato 1.5jt-nya harus disetorkan ke negara! Padahal, 1.5jt itu sudah bisa dibuat tiket PP Sby-Singapore, Singapore-Sby. Tapi alih2 dapet tiket Sby-Spore PP, malah 15% itu nggak aku rasakan sama sekali. Menguap gitu aja. Pajak itu jadi apa juga aku nggak tau… Tapi ya daripada boong2, manipulasi macem2, mending bayar aja… What do I get? Aku bisa tetep nulis dengan tenang…
    Motivasi: greedy, selfishness
  5. Bohong karena nggak nyaman
    Nggak tau knapa, ada orang yang bohong karena malas mengatakan kebenaran. Sebenernya mereka nggak rugi2 apa sih kalo jujur, tapi karena males, akhirnya mereka bohong. Misalnya, kamu ditanya ma pacar kamu, "Dari mana aja Non…?" Karena kamu lagi males (ato kalo njawab nanti ditanya2 lebih detail), akhirnya kamu bilang, "Nggak dari mana2…" Selesai. Ato pas kamu abis ditelepon sama seseorang, terus pacar kamu nanya, "Sapa yang telepon?", daripada nanti jadi lebih panjang urusannya kalo kamu ngomong jujur, akhirnya kamu bilang "Oh, salah sambung…" Emang pacar kamu nggak nanya2 lagi sih… Tapi kadang konsekuensi dari kebohongan ini jadi panjang. Terutama kalo akhirnya orang yang kamu boongi tau kebenarannya. Jadi tambah runyam…
    Motivasi: takes a lot of energy to tell truth

Dari sebuah polling ditemukan fakta bahwa 91% responden secara reguler selalu berbohong. Dan 20% responden, selalu berbohong setidaknya 1x dalam sehari. Artinya, 1 di antara 5 orang selalu berbohong setidaknya 1x dalam sehari. Jadi kalo kamu bilang bahwa 2 orang temanmu tidak berbohong sama sekali hari ini, maka kamu adalah pembohong… Never-mind2, anyway… Karena kita itu nggak didesain untuk bohong, ada akibat2 yang harus kita tanggung kalo kita bohong.

  1. I damage relationship with people.
    Bohong itu menghancurkan relasi kita dengan orang lain. Nggak pernah ada hubungan baik terjalin karena kebohongan. Kalopun ada, tinggal tunggu waktu aja. Dalam pacaran, hubungan ma keluarga, ma temen, hubungan kerja nggak pernah bisa dibangun dari kebohongan. Aku punya, em… anggep aja temen cewek yang lebih muda dari aku. Kita cukup akrab… Aku ngerasa cocok bertemen dengan dia, karena dia ini kalo diajak ngomong pasti nyambung. Topik apapun slalu nyambung (aku harus ngakui bahwa nggak banyak cewek yang punya kualitas kayak dia). Tapi suatu hari, aku nemuin dia bohong ke aku. Menurutku, kategori bohong yang dia lakukan adalah kategori ke-3, bohong demi jaga image. Respek-ku ke dia langsung berkurang… Rasanya nggak percaya bahwa dia bisa bohongi aku untuk masalah sepele gitu. Aku kira dia selalu jujur ke aku… Eh, ternyata nggak. Ya, aku jadi kecewa sama dia. Aku jadi nggak berani terlalu bebas kalo ngomong ke dia, aku jadi nggak bisa se-akrab dulu ma dia, jadi kayak ada jarak gitu antara kita. Padahal yang dia bohongkan itu ya nggak ada hubungannya ma aku, tapi pas tau dia bohong gitu, rasanya kayak dia itu nggak percaya ma aku… Gimana sih rasanya gak dipercaya ma orang laen padahal kitanya jelas2 selalu tulus kalo bantu dia…? Jadi, bohong itu definitely menghancurkan hubungan kamu ma orang yang kamu bohongi. Kalo hubungan kamu masih baik2, ya itu kayak bom waktu yang dapat meledak sewaktu2.
  2. I poisson my own soul
    Karena manusia nggak didesain untuk bohong, maka ketika kamu bohong, kamu sedang meracuni diri kamu sendiri. Sekali kamu bohong, maka kamu akan mengingat kebohongan itu agar nggak sampe keceplosan. Kemudian, kalo ada orang nanya tentang kebohongan yang udah kamu lakukan itu, maka kamu akan menutup dengan kebohongan lain agar kebohongan yang pertama nggak sampe kebongkar. Lalu kamu nutup dengan kebohongan yang lain lagi dan seterusnya… Kamu harus inget ke siapa aja kamu bohong agar nggak sampe kebohongan kamu terbongkar. Banyak memori yang harus kamu habiskan untuk mengingat kebohongan yang udah kamu lakukan dan kepada siapa saja kamu udah bohong. Hidup kayak gitu itu, bener2 nggak nyaman. Tapi kalo kamu bicara jujur, kamu nggak perlu mengingat2 kejujuran apa yang udah kamu katakan. Nggak perlu ada ekstra space yang terbuang di otak kamu untuk ngingat2 kejujuran… Karena kejujuran itu nggak perlu diingat. Sama kayak kita didesain hidup di darat, maka kalo kita berlajan di darat, kita nggak perlu tambahan alat apa2. Tapi kalo harus menyelam di air, kita perlu peralatan ekstra agar bisa bertahan. Peralatan ekstra itu bikin kita jadi nggak senyaman kalo kita berada di darat… Ya namanya juga kita didesain untuk hidup di darat. Kalo maksa menyelam di laut ya terpaksa harus ada alat tambahan. Kayak kalo kita berbicara jujur (yang mana kita didesain untuk itu)… Nggak perlu ada ekstra space untuk diingat. Just tell the truth, lalu lupakan. Next time, kamu ditanya pertanyaan yang sama, ya tell the truth, lupakan… Simple. Ketimbang jiwa kita dihantui dengan kebohongan yang udah kita lakukan, rasa ketakutan kalo2 kebohongan itu terbongkar… ya lebih baik tell the truth laaa… Setuju?

Is it hard to tell the truth? Ya! Nggak gampang untuk selalu berkata jujur. Tapi aku belajar. Aku belajar untuk nggak bohong dalam hal sekecil apapun. Aku nggak mau make telepon kantor untuk kepentinganku sendiri (kategori 4, bohong untuk memanipulasi / menguntungkan diri sendiri), kecuali kalau itu memang fasilitas (kayak akses internet). Aku belajar agar nggak bohong demi jaga image (kategori 3). Aku belajar menjadi apa adanya, nggak pura2 punya sesuatu yang nggak aku punya demi menarik perhatian orang lain. Nggak pura2 bisa ato pernah ngelakukan sesuatu agar orang lain terkesan ma aku. Aku belajar untuk nggak bohong agar bisa lepas dari tanggung jawab. Nggak cari2 alasan untuk membenarkan diriku kalo aku emang salah (kategori 2). simply karena kita nggak didesain untuk bohong, maka ketika kita nggak bohong, ketika kita berada dalam desain yang tepat, maka potensi yang ada di dalam kita itu bisa dioptimalkan. Apa yang seharusnya bisa kita kerjakan, akan bisa kerjakan… Tapi kalo kita nggak berada dalam desain awal kita, ya ada hal2 yang mestinya bisa kita lakukan, jadi nggak bisa kita lakukan. Sama kayak, kenapa kita nggak bisa lari cepat kalo di air? Ya karena kita nggak didesain untuk hidup di air. Ya mari hidup dalam desain kita laa…

[buat inspirator-blog-ini: kagum...!]