Archive for June, 2007

15
Jun

I Want To Be The Fastest Woman On Earth!

Sapa yang pernah denger nama Wilma Rudolph? Gak banyak ya? Aku curiga gara2 dia orang kulit hitam maka gak gitu sering disebut2. Tapi ada baiknya juga si, artinya kamu akan surprise banget baca kisahnya…

Wilma ini lahir di keluarga besar taon 1940, dia anak ke 20 dari 22 bersaudara. Yak, bener…! Dia punya 19 kakak dan 2 orang adik. Orang tuanya adalah orang yang baik dan jujur, tapi keluarganya miskin banget… Kenyataannya taon 1940-an itu orang kulit hitam dianggap orang kelas bawah, gak punya hak yang sama dengan orang kulit putih.

Membuat cerita ini lebih tragis, Wilma lahir prematur dengan berat 2.2 Kg. Lalu di usia 4 taon, terserang polio plus radang paru-paru sampe separuh badannya lumpuh, dan Wilma gak bisa jalan normal.  Satu-satunya rumah sakit untuk orang  kulit hitam berjarak 75Km dari rumahnya. Mamanya tiap dua minggu sekali mesti bawa Wilma kecil ke rumah sakit itu dan setiap hari mesti mengurut kakinya yang lumpuh itu. Udah lumpuh, masih dibawa-bawa ke rumah sakit tiap dua minggu…

Masih kurang tragis? Vonis dokter bilang keadaan Wilma parah banget. Udah bagus kalo dia bisa bertahan… Kalo beruntung mungkin dia menghabiskan sisa hidupnya dengan berjalan make kuk ato penopang dan gak bisa berjalan normal… So sad…

Tau nggak apa impian Wilma kecil ini? Dia katakan ke mamanya, "Mam… I want to be the fastest woman on earth!" Anak kecil kulit hitam yang menderita radang paru2, separuh tubuhnya lumpuh, nggak bisa berjalan dengan normal, divonis dokter bakal gak isa berjalan dengan normal seumur hidupnya, punya cita2 jadi wanita tercepat di dunia… Boro2 lari, jalan aja susah. Tebak apa yang mamanya katakan? "Yes, you can!"

Wilma kecil ini tumbuh dengan impian menjadi wanita tercepat di dunia dalam hatinya. Dia pikir, untuk jadi wanita tercepat, paling nggak dia harus bisa berjalan dengan normal. Nggak ada satu pelaripun yang make tongkat penopang buat jalan. She made up her mind to walk normally. Pikiran, hati dan kehendaknya fokus bahwa dia harus bisa berjalan normal tanpa penopang. Di usia 12, akhirnya dia bisa berjalan dengan normal, dia berhasil mengatasi kelumpuhannya. Selesai sampe sini? Blom…

Apa langkah berikutnya? Berlari. Untuk menjadi wanita tercepat, dia harus bisa berlari. Dia mulai berlatih berlari. Ketika dia mulai bisa berlari, dia mengikuti lomba lari pertamanya di sekolah. Tebak, apa yang terjadi? Mudah ditebak… Seorang cewek yang semasa kecilnya lumpuh, sakit2an, divonis dokter gak akan bisa jalan normal, ikut lomba lari. Dia kayak kura2 yang berlomba lari dengan kelinci. Apa hasilnya? Ya, dia berada di urutan terakhir. Hei, setidaknya kita mesti beri semangat bahwa dia berhasil mencapai garis finish. Not bad kan buat seorang yang dulunya lumpuh jadi bisa berlari?

Selesai? Nggak. Impian untuk jadi wanita tercepat itu sama sekali nggak pudar. Dia ikut lomba lari lagi, dan ya… tiba di garis finish urutan terakhir lagi. Lomba lagi, terakhir lagi… Gitu terus… Pasti dia diketawain orang. Tiap kali lomba lari di skolah, pasti tiba di urutan terakhir. Knapa gak mundur aja sih? Tau diri dikit lah… Jelas2 nggak bisa lari cepet, masih aja ikut lomba lari. Bisa jalan normal aja udah baik.

Wilma gak pernah melupakan impiannya untuk menjadi wanita tercepat di dunia. Gak peduli orang laen mengetawakan dia, gak peduli hasil lomba larinya… Dia hidup dengan satu impian… "menjadi wanita tercepat di dunia".

Olimpiade 1960, Roma, ketika usia Wilma 20 taon. Wilma berada di sana… Di lapangan track and field. Ngapain dia? Nonton lomba lari? Jadi pemandu sorak buat nyoraki peserta? Nggak. Dia adalah peserta yang mewakili negaranya, yaitu United State of America di cabang Atletik yang paling bergengsi, yaitu lari cepat 100m, 200m dan estafet 400m.

Urutan terakhir lagi? Nggak.
Kali ini dia berada di urutan pertama untuk ketiga cabang tersebut. 
Kali ini dia dapet TIGA medali emas untuk cabang lari cepat 100m, 200m dan 400m, yang membuat USA menjadi juara umum olimpiade Roma.
Kali ini dia resmi menjadi wanita tercepat di dunia.

Wow! What do you think friends? Don’t be just inspired by the story. But change ur mind! Pikiran, perasaan dan kehendak kita itu jaooh di atas limit tubuh kita. Jangan hidup dengan dikontrol ma tubuh ato lingkungan kamu. Kalo hidup Wilma dikontrol ma tubuhnya, maka most probably dia gak akan bisa jalan sepanjang hidupnya. Harus dibalik, bahwa pikiran, perasaan dan kehendak kita yang mesti mengontrol tubuh kita.

Apa impian kamu? Apa cita2mu? Just don’t let your body limit ur dreams! Don’t let other people’s word limit ur dreams! Batas itu cmn ada di pikiran kamu.

I tell u what are my dreams. I want to have financial freedom at 32.  What’s financial freedom, anyway?  Financial freedom itu kebebasan untuk menikmati hidup, untuk bebas berkembang belajar apapun, untuk punya gaya hidup apapun yang diinginkan tanpa dibebani masalah keuangan. Aku pingin jadi penulis buku bestseller tanpa harus mikirin kondisi keuangan, aku pingin mengajar youth dengan passion tanpa harus mikir berapa besar aku dibayar untuk itu. (aku ingin begini… aku ingin begitu… ingin ini itu banyak sekali).

Tapi, tau nggak kondisi financialku saat ini? Gak ada tanda2 menuju financial freedom… Persis kayak si kecil Wilma Rudolph yang pengen jadi wanita tercepat di dunia, gak ada tanda2 bahwa dia bakal jadi wanita tercepat. But we have something in common… We have dreams, and we’re gonna make the dreams come to past.

[Wilma: I want to be the fastest woman on earth...
Windra: I want to have my financial freedom at 32...
]

[Sumber:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Wilma_Rudolph
2. http://www.lkwdpl.org/wihohio/rudo-wil.htm]

08
Jun

Pareto 80-20

Tulisan ini diinspirasi oleh Vilfredo Federico Damaso Pareto (1848-1923). Dia tercatat sebagai seorang sosiolog, ahli ekonomi dan filusuf (sumber wikipedia.org).

As u might guess, he’s italian. Yang menarik adalah prinsip Pareto yang terkenal dengan prinsip 80-20. Since  he was an sociologist (which i’m lack of),  he made a statement, "80% of the consequences stem from 20% of the causes", then  Joseph M. Juran, suggested the principle and named it after Pareto, who observed that 80% of income in Italy went to 20% of the population.

Buat aku, bukan masalah Itali-nya, tapi kebenaran prinsip pareto 80-20 itu. Di Indonesia, prinsip 80-20 juga berlaku. 80% pemasukan yang didapat di negara ini jatuh hanya kepada 20% masyarakat… Sementara, 20% sisanya diperebutkan oleh 80% masyarakat lainnya. Nangkep maksutnya? Misalkan pemasukan Indonesia adalah 1000, maka 20% mendapatkan 800, dan 200 sisanya diperebutkan oleh 80% populasi.

Pertanyaannya, bagaimana bisa masuk dalam kelompok 20% ini? Ato,
mundur dulu… Siapa orang2 di kelompok 20% ini? Mereka adalah pemilik
bisnis, investor, dan wirausahawan.

Di Amerika, beberapa contoh elit kelompok 20% ini adalah Bill Gates (dengan Microsoftnya), Ray Kroc (dengan McDonaldnya). Di Inggris, tentu ada JK Rowling (dengan Harry Potternya). Di Indonesia, ada Pak Ciputra (dengan Ciputra Grupnya), ada Mochtar Riady (dengan Lippo Grupnya - termasuk universitas Ma Chung-nya)…

Nggak harus sekelas mereka untuk masuk
kelompok 20% ini. Tetangga di sebelah rumah ada yang buka toko
kelontong, tapi dia sudah bisa dikatakan masuk dalam kelompok 20% ini,
karena dia menguasai 80% perputaran uang di lingkungannya. Keluarga temenku ada
yang punya toserba  di kabupaten Malang dan mereka adalah anggota dari kelompok 20% ini.

Contoh yang lebih jelas, di sekolah. Let’s say di SMAK Santo Yusup
(which i spend almost 10yrs). Satu siswa rata2 SPP perbulan adalah
400rb. Ada 1.500 siswa, yang artinya setiap bulan ada perputaran uang
sebesar 600jt. Guess what, prinsip 80-20 terjadi lagi. Ada 50 guru yang
harus digaji dan 20 karyawan. Berapa yang harus dikeluarkan? Assume
gaji guru 2jt (which is very high salary for a teacher) dan gaji
karyawan 1jt. Total? 120Jt (exactly 20%). Para guru dan karyawan ini
adalah 80% yang mendapat cmn 20% perputaran uang. Lalu 80% sisa uangnya
(480jt) lari kemana? As u might guess, sisa 80% itu lari ke beberapa
gelintir orang yang disebut dengan owner dan investor… Yang mana
mereka nggak harus ada di kantor dari jam 7 pagi sampe jam 4 sore
(kayak para guru dan karyawan), yang mana mereka nggak harus bikin soal
lalu ngoreksi ratusan lembar kertas ulangan, yang mana mereka nggak tau
susahnya nyiapin materi pengajaran, yang mana mereka nggak harus stress
ngadepin tingkah murid2, yang mana… yang mana… yang mana… So,
setiap bulan, 20% orang ini mendapatkan 480jt tanpa harus bekerja
sekeras para guru dan karyawan (wondering if the teachers know about
this fact…). Prinsip Pareto 80-20.

Pas tau tentang ini, rasanya insane bahwa banyak orang mau spend
seluruh waktu mereka (hingga akhir hayat mereka) dengan terus menerus
menjadi kelompok 80%.

 

Lalu kalo aku ditanya, apakah aku pingin masuk di 80% orang yang menguasai 20% uang ato 20% orang yang menguasai 80% uang, jawabannya tentu aku ingin masuk di jajaran 20% orang yang menguasai 80% uang. Bukan serakah, tapi aku bisa melakukan banyak hal dengan menjadi bagian dari 20% orang tersebut.

Kalo kamu juga bagian dari 20% tersebut, pasti banyak yang bisa kamu lakukan. Kamu bisa memberikan yang terbaik untuk keluarga kamu (wisata ke tempat2 eksotis bersama orang tua ato pasangan kamu, memberikan pendidikan terbaik untuk anak kamu kelak), kamu bisa punya banyak waktu untuk meningkatkan skill kamu dengan belajar musik, memasak, membaca buku2 bermutu, ato menulis (kalo kamu suka nulis), kamu bisa punya banyak waktu untuk bersantai, menonton film-film bermutu, dan satu hal yang nggak kalah penting, kamu juga bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat atau kepada komunitas kamu.

Buat aku, itulah esensi untuk menjadi bagian dari 20% orang tersebut. Aku pingin bepergian ke tempat2 wisata di dunia dengan orang2 yang aku sayangi tanpa dibingungkan dengan terbatasnya uang di rekeningku, aku pingin  dengan santai membaca buku2 bermutu tanpa harus meletakkan-kembali-ke-rak setelah melihat harga yang tertulis di baliknya (so sad…), aku pingin mengajar (as a cell group leader or as a lecturer) tanpa peduli apakah aku dibayar ato nggak, dan yang nggak kalah penting adalah aku isa contribute back to the society, aku pingin punya banyak waktu untuk menulis buku2 bermutu, educate people tanpa dibingungkan dengan tagihan2 bulanan. Itu bisa terjadi kalo kita adalah kelompok 20% yang menguasai 80% peredaran uang. Itu esensi menjadi bagian dari 20%… Jadi berkat untuk dunia kalo kata orang2 yang rohani.

Mana yang kamu suka? Berada di kelompok 20% ato kelompok 80%? Bekerja keras dari pagi sampe sore, setiap hari dan pada akhir bulan mendapatkan 20% peredaran uang ato menikmati hidup dengan kualitas hidup yang baik dengan 80% peredaran uang? Buat aku, sudah pasti berada di kelompok 20%. Dan research membuktikan dengan jelas bahwa dengan bekerja jadi dosen (ato pegawai apapun) dari jam 8 pagi sampe 4 sore, nggak akan pernah bisa bawa aku ke kelompok 20% itu.

 

Jadi, aku harus atur strategi untuk bisa masuk ke kelompok 20% itu. Langkah pertama adalah menjadi bagian dari kelompok 80%. Depends seberapa cepat aku belajar akan menentukan seberapa lama aku jadi bagian dari kelompok 80% tersebut (yang mana harus kerja keras demi mendapatkan 20% peredaran duit). Targetnya, maksimal 2 tahun. Ketika aku udah jadi bagian dari kelompok 20%, aku akan bisa dengan tenang mengajar kembali tanpa harus memikirkan berapa uang yang aku dapatkan, aku bisa dengan santai menulis tanpa berharap2 cemas kalo buku yang aku tulis nggak laku…

I don’t want to end up my life as a part of "the 80%s".
I don’t want to raise up my kids as a part of "the 80%s".
I don’t want to be "the 80%" who always struggling for monthly expenses and doesn’t have enough money to go for vacation with the family.

I want to be part of "the 20%". It’s not a choice. It’s a must!
YOU TOO, Friends! I strongly encourage you to be part of "the 20%".

See u in "the 20%" community!

02
Jun

Kewajaran Sandal Jepit

Aku punya sandal jepit. Warnanya biru. Nggak terlalu nyaman buat dipake, tapi demi kepraktisan, ya aku pake kalo pas pergi gak jaoh2 dari rumah… Baru-baru ini, aku sadar kenapa sandal dengan model kayak gitu disebut dengan sebutan "sandal jepit". Gini ceritanya:

Kalo kamu punya seorang kakak cewek yang baru punya anak, maka wajar banget kalo mama kamu pingin ngeliat cucunya yang baru lahir itu. Betul?

Kalo kamu punya banyak tugas-tugas sekolah ato kuliah yang harus dikerjakan karena harus dikumpulkan / dipresentasikan besok, maka wajar juga kalo kamu nggak ikutan ngeliat keponakan kamu yang baru lahir itu sambil mikir2 mungkin laen kali aja ngeliatnya kalo pas senggang. Betul?

Kalo kakak kamu yang barusan ngelahirin tersebut tinggal di Surabaya, sementara kamu tinggal di Malang yang mana jaraknya 80Km jalan raya plus 5Km lumpur lapindo, maka ya wajar kalo mama kamu pergi pagi hari dan baru pulang malem2. Bener?

Kalo mama kamu pulangnya malem, berarti makan malem kamu hari itu akan sangat tergantung dari usaha kamu, apa kamu mau beli makanan ato masak sendiri. Masuk akal kan?

Dan karena kamu hanya bisa masak mie goreng instan, padahal kamu pingin makan tahu telor yang mana kamu sendiri nggak yakin apakah bisa menggoreng tahu dan telor dengan benar, maka tentu wajar juga kalo kamu berencana membeli tahu telor untuk makan malam. Masih nggak ada yang salah kan?

Karena orang yang jual tahu telor itu ada di pinggir jalan raya yang jaraknya 3Km dari rumah kamu, maka nggak salah juga kalo kamu make sandal jepit lalu naek sepeda motor ke tempat penjual tahu telor tersebut untuk beli tahu telor. Masih wajar kan?

Lalu sesampai di penjual tahu telor tersebut, kamu segera pesan sebungkus tahu telor. Nggak ada yang salah juga.

Di seberang jalan raya dengan tingkat kepadatan 100 motor dan mobil per menit tersebut, ada sebuah gerai ATM yang mana memungkinkan kamu untuk mengambil duit dan mengisi dompet kamu yang isinya hanya tinggal beberapa lembar kertas bergambar Kapitan Pattimura dan Tuanku Imam Bonjol. Tentu kamu ingin mengisi dengan lembar kertas bergambar Wage Rudolf Supratman. Wajar ya?

Untuk menuju ke gerai ATM tersebut, tentu kamu harus menyeberangi jalan raya selebar 8 meter tersebut, lalu masuk ke gerai ATM dan bertransaksi di sana. Agar sopan, kamu tentu mengatakan kepada penjual tahu telor tersebut bahwa kamu tinggal sebentar ke seberang jalan. Nggak salah kan?

TAPI….

Kalo pas kamu nyeberang, pas kamu berada di tengah2, di pemisah jalan raya tersebut, di mana di belakang kamu puluhan motor dan mobil bergerak ke utara dan di depan kamu puluhan motor dan mobil bergerak ke arah selatan… pas di situ, pas kamu mau melangkah untuk menuju gerai ATM tersebut, tiba-tiba sandal jepit yang kamu pake di kaki kiri kamu putus, maka itu sudah mulai nggak wajar.

Ada dua kemungkinan yang bisa kamu lakukan. Pertama, kamu melepas kedua sandal jepit tersebut, menjinjing dengan tangan kamu lalu menunggu lalu lintas sedikit sepi untuk kemudian berlari ke gerai ATM.
Kedua, kamu melepas sandal jepit yang putus tersebut, menjinjing sandal jepit tersebut, lalu menyeberang dengan satu sandal jepit di kaki kanan dan satu sandal jepit di tangan.

Dan keduanya, sangat tidak wajar dilakukan, terutama di tengah2 jalan raya dengan kepadatan 100 motor dan mobil per menit.

Yang sedikit terlihat wajar adalah melepas kedua sandal jepit dan menjinjingnya, lalu segera lari menuju gerai ATM tersebut.

Di sebuah gerai ATM, tentu wajar jika ada satpam yang berjaga2. Tapi kalo ke gerai ATM tersebut dengan bertelanjang kaki dengan sandal jepit biru yang dijinjing, pasti sudah keliatan sangat nggak wajar.

Kamu bisa cuek tentu saja. Atau pilihan lain, pamerkan sandal jepit yang putus tersebut di depan satpam dengan ekspresi wajah mengolok, "puas… puas…?!!"

Setelah masuk ke gerai ATM, kamu bisa sedikit lega karena sudah tidak banyak orang yang menonton kamu bertelanjang kaki dan menjinjing dua buah sandal jepit biru. Namun ya wajar kalau kamu sedikit risau dengan  kamera yang ada di gerai ATM tersebut.

Lalu pas kamu keluar dari gerai ATM tersebut dengan menjinjing sandal jepit biru yang putus tersebut, wajar jika orang2 yang ngantri di belakang kamu memandang kamu dengan pandangan "oh-sekarang-di-atm-bisa-beli-sandal-jepit", atau dengan pandangan bertanya "sejak-kapan-masuk-ATM-harus-lepas-sandal?" ato yang parah adalah mereka memandang kamu dengan pandangan "ada-orang-udik-ambil-uang-di-ATM-sampe-ngelepas-sandal-segala".

Selesai? Belum. Inget kan kalo kamu lagi beli tahu telor di seberang jalan gerai ATM tersebut? Maka ya kamu harus kembali untuk membayar tahu telor yang kamu beli, setidaknya mengambil motor yang kamu parkir di tempat penjual tahu telor tersebut. Sekali lagi, kamu harus menjinjing sandal jepit biru tersebut menyeberang jalan raya selebar 8 meter tersebut dengan bertelanjang kaki.

Wajar sekali kalo pengendara motor ato mobil menoleh ke kamu seolah2 ada pemandangan yang aneh. Jelas sekali karena bertelanjang kaki di tengah jalan dan menjinjing sandal jepit biru adalah kombinasi yang sangat tidak wajar dilakukan oleh seorang anak yang nampak sangat normal. Oke, nampak wajar jika hal tersebut dilakukan oleh orang yang hilang kesadaran atau sedang mengalami gangguan jiwa.

Sesampai di penjual tahu telor tersebut, kamu segera membayar dan ingin lekas2 sampai di rumah. Kamu segera mengatur konfigurasi peletakkan sandal jepit tersebut untuk diletakkan di atas footstep motor kamu dan kamu injak dengan kaki kamu agar sandal jepit itu nggak jatuh.

Lalu pas di jalan, wajar sekali kalo kamu segera sadar kenapa sandal tersebut disebut "sandal jepit". Simply, karena jempol kaki kamu dan jari kaki di sebelahnya menjepit karet penghubung antara alas dan tali karet sandal tersebut. Kalo karet penghubung tersebut putus, maka tidak ada lagi yang bisa dijepit oleh jempol kaki kamu.

Sejak kejadian itu, aku bener2 nggak akan nyalahkan kamu kalo kamu benci setengah mati terhadap penemu sandal jepit.

Dan wajar kalo seandainya kamu berhasil menemukan penemu sandal jepit tersebut, lalu kamu nimpukin dia pake sandal jepit biru yang putus tadi.

Wajar juga kalo terus kamu nuliskan pengalaman kamu di blog agar para pembaca blog kamu jadi waspada bahayanya mengenakan sandal jepit untuk membeli tahu telor di pinggir jalan raya yang punya kepadatan 100 motor dan mobil per menit.

Nggak salah juga kalo terus kamu menampilkan foto sandal jepit biru itu di blog kamu agar pembaca blog itu nggak beli sandal jepit dengan model kayak gitu, sehingga penemunya nggak dapet royalti atas pembelian sandal jepitnya dan akhirnya dia mendesain mode sandal yang bukan jepit.

Dcp_5946