Christmas is coming… Episode "Christmas story, what the Bible and Priest never tell you" sudah berakhir dengan happy ending. Domba-domba yang jadi saksi peristiwa itu sudah beranak pinak, melahirkan generasi-generasi domba baru. Kisah kelahiran Bayi itu, masih menjadi topik utama pembicaraan domba2. Dari generasi ke generasi, kisah tersebut diceritakan… Namun mengingat tingkat kecerdasan para domba yang hanya setingkat di atas protozoa, terjadi beberapa versi cerita kelahiran Bayi tersebut. Tapi never mind, kita nggak akan bahas versi2 kisah kelahiran Bayi tersebut di kalangan para domba.
Beberapa di antara domba2 tersebut mati sahid sebagai korban bakaran, korban sajian, ataupun korban perdamaian (baca kitab Imamat untuk lebih jelas tentang nasib domba2 tersebut). Beruntung, setelah hukum taurat digenapi, manusia tidak lagi mempersembahkan domba2 yang malang tersebut sebagai korban bakaran ataupun korban perdamaian. Generasi domba tersebut bisa bernafas lega serta mengenang hidup nenek moyang mereka yang tragis karena mati sebagai korban bakaran. Ketika ekonomi manusia semakin meningkat, industri domba menjadi booming di kalangan pebisnis. Beberapa di antara mereka (dombanya ya, bukan pebisnisnya) di-import ke negara-negara tetangga, bahkan ke luar benua seperti benua Australia lalu mereka hidup makmur di sebuah padang rumput yang hijau. Kisah kelahiran Bayi itupun segera tersebar di kalangan domba negara2 tersebut. Tapi lupakan tentang kisah domba2 itu.
Mari kita fokus kepada Bayi tersebut… tepatnya, 33 tahun sesudah kelahiranNya.
Banyak orang memperbincangkanNya, semua hal2 ajaib yang dilakukanNya begitu luar biasa. Banyak orang berharap bahwa Dialah yang akan membebaskan orang Yahudi di bawah kekuasaan Romawi. Namun beberapa imam dan ahli taurat (suatu jabatan cukup bergengsi dan terhormat di masa itu) merasa terancam kedudukannya karena semakin banyak orang mengikut dan percaya dengan apa yang diajarkan. Terjadilah sebuah konspirasi politik tingkat tinggi, perse-tongkol-an jahat untuk menghabisiNya… Why? Simply agar posisi orang2 yang bersetongkol itu aman dengan tongkolnya dan tetap menjadi terhormat. Tapi lupakan tentang tongkol itu.
Mari kita fokus dengan apa yang dikatakanNya (beberapa waktu sebelum terjadinya persetongkolan jahat itu). Dia berkata bahwa suatu saat nanti (nggak ada yang tau kapan), Dia akan dateng lagi. Tapi bukan untuk mengejutkan domba2 lagi, bukan untuk bahan gosip para domba yang heran kenapa ada manusia yang mau lahir di rumahnya… Bukan itu. Dia akan dateng sebagai Hakim atas manusia. Dipisahkannya mereka (manusia ya yang dipisah, bukan domba) di sebelah kanan dan kiri. Hanya ada dua sisi, tidak ada di tengah. Sebagian akan berada di sebelah kananNya dan sebagian lagi di sebelah kiriNya. Bagi yang di sebelah kanan, Dia mengundang untuk masuk dalam kerajaanNya, untuk bersukacita, untuk hidup dalam kedamaian selamanya. Lalu beberapa dari manusia di sebelah kanan itu bertanya2, knapa bisa dia berada di sisi kanan? Lalu Hakim itu menjawab "Kalian sudah memberiKu makan ketika Aku lapar, kalian memberiKu minum ketika Aku haus, kalian sudah memberiKu tumpangan, kalian sudah merawat Aku ketika Aku sakit…" Sekali lagi mereka heran, dan bertanya, "Kapankah kami melakukan itu, Pak Hakim?" Hakim itu tersenyum, dan dijawabnya, "Ketika kalian melakukan hal itu untuk saudara2Ku yang terhina, kalian melakukanNya untukKu". Lalu, bagaimana nasib yang di sebelah kiri? Tragis… (Quoted from Mathew 25:31)
Pada kedatanganNya yang pertama Dia telah ditolak. Terjadi persetongkolan untuk membunuhNya. Sooner or later, Dia akan datang lagi. Tapi, jangan2 kita juga melakukan persetongkolan yang sama… Kalau dulu Dia dibunuh melalui persetongkolan kelas kakap, jangan2 kita melakukan persetongkolan kelas teri untuk menolak Dia. Menolak lewat apa? Lewat orang2 di sekitar kita. Kita do nothing terhadap orang2 di sekitar kita yang membutuhkan. Ketika ada orang yang begitu membutuhkan makanan, kita do nothing. Ketika ada orang yang begitu membutuhkan pakaian, kita do nothing. Ketika ada orang sakit di mana kita punya kesempatan untuk berbagi uang, sekali lagi kita do nothing.
Dia datang… Apakah Dia ditolak lagi? Yang lebih gawat, apakah kita menjadi orang yang menolakNya?
Bukankah hidup itu jadi indah ketika kita bisa bermakna untuk orang lain? Ketika kita bisa menolong orang lain? Ketika kita berbagi apa yang kita punya untuk orang lain… Ketika apa yang kita bagi itu mengubah orang lain, sehingga dia jadi sadar bahwa kasih sungguh masih ada kasih di jaman seperti ini. Ketika orang lain yang kita tolong menjadi percaya bahwa Tuhan ada, bahwa Tuhan masih membagikan kasihNya lewat kita… Orang yang kita tolong, jadi punya pengharapan, punya optimisme menatap masa depan… Isn’t that beautiful?
Sungguh, di luar sana, banyak orang membutuhkan kasih Tuhan yang nyata. Mereka yang kehilangan harapan… Mereka nggak tau apakah besok masih bisa makan ato nggak… Mereka yang sudah lupa kapan terakhir mereka tertawa… Indah sekali kalo kita adalah orang yang membagikan kasih Tuhan dengan memberikan mereka harapan lewat perhatian kita, membagikan kasih Tuhan lewat makanan yang kita punya, membagikan kasih Tuhan lewat penghiburan kita, membagikan kasih Tuhan lewat uang yang kita punya. Lewat siapa kasih Tuhan bisa nyata bagi mereka kalau bukan lewat kita?
Seorang wanita suatu hari dateng ke rumah. Ada kesedihan yang mendalam di wajahnya… Anaknya sakit dan dia tidak punya uang untuk beli obat. Somehow aku ngerasa dia orang yang jujur. Aku masuk, ngambil uang 10rb dan ngasih ke dia. Mungkin si ibu itu segera beli obat untuk anaknya… Atau mungkin beli makanan yang layak untuk si anak… Aku nggak tau apa yang terjadi dengan ibu dan anak ini. Tapi aku yakin, ada harapan baru dalam hati si ibu ketika dia bisa membeli obat untuk anaknya. Indahnya hidup ketika kita berarti untuk orang lain. Aku juga pernah sakit. Tapi seingetku, dulu papi mami nggak pernah kekurangan uang untuk membawa ke dokter dan beli obat di apotek.
Aku dosen yang sampai bulan ini, digaji nggak lebih dr 2jt setiap bulan. Tapi, ketika dengan uang ini, aku bisa memberi sehingga ada orang2 yang tertolong, ada orang2 yang punya harapan baru, ada orang2 yang bisa berubah masa depannya menjadi lebih baik… Rasanya indah sekali…
Kalau kita terus mengumpulkan uang, kita pakai untuk kesenangan pribadi, menikmati hidup dengan semua uang yang kita punya dan nggak mau peduli dengan orang lain lalu dunia macam apa yang nanti kita wariskan kepada generasi berikutnya? Dunia yang penuh dengan keserakahan dan ketamakan. Dunia yang egois di mana orang2 tidak mau berbagi. Ngeri sekali hidup dalam dunia yang seperti itu (yang mana di sebagian belahan dunia sudah terjadi).
Apa kita mau, dari apa yang kita punya seberapa kecilpun itu, dapat menjadikan dunia ini menjadi dunia yang penuh kasih? Di mana banyak orang dapat merasakan kasih Tuhan yang nyata lewat kita? Dan suatu hari, ketika DIA datang sebagai Hakim, dia memisahkan kita di sebelah kananNya lalu dengan senyumNya yang lembut Dia menatap kita dan berkata, "Thank you for helping and loving Me after all, My son…"
[Lord, please, help me to meet people that need my help and give me strength to help them...]
Recent Comments