Archive for February, 2008

20
Feb

Esteem Needs = Rp …?


07
Feb

Can’t Dream = Can’t Have

If you can’t dream it, then you can’t have it.

That statement is so true, khususnya bagi mereka yang bertanya2 siapa jodohnya (contoh: saya, hehe2…) Kalo nggak pernah memimpikan kyk apa jodohnya, berarti nggak pernah membayangkan. Kalo nggak pernah membayangkan, berarti nggak punya keinginan yang jelas. Kalo nggak pernah punya keinginan yang jelas, berarti… ketika "sang jodoh" sudah ada di depan mata, kitanya nggak nyadar… Akhirnya lewat deh "sang jodoh" nya… Sementara kitanya menunggu2, merenung2, melamun2, bertanya2, Tuhan, kok nggak dateng2 ya sang jodoh ini…? Tuhan akan jawab, "Waah… Sudah laku, Nak…"

Ato skenario yang laen, kita trial en error. Kita coba2… Ini bukan ya? Coba dulu ah… Sapa tau cocok. Kalo cocok terus, kalo nggak cocok ya udah, selesai. Ato walopun nggak cocok, terusin aja… loh kok? Iya, udah kadung jadian siNanggung, terusin aja sampe kawin, hehe2… Pernah ketemu ya ma pasangan kayak gini…?

Nah, kalo kita bisa memimpikan seperti apa pasangan kita kelak, kita jadi punya clear picture what does (s)he look like… Kita sedang mengaktifkan radar pencarian yang udah diinstall Tuhan sejak manusia dijadikan. Kita sedang meng-ON-kan "searching mode". Hasilnya apa? Most probably kita akan dapet seperti apa yang diimpikan, ato at least mendekati. Sampe sini jelas ya? (please, memimpikan pasangan ini khusus bagi yang single and not attached yet!! Bagi yang udah attached, don’t try this at home… Hehe2…).

Buat aku, sesuatu itu jelas kalo aku bisa menuliskannya (talent-nya nulis sih). Kalo nggak bisa aku tuliskan, berarti itu masih nggak jelas. Jadi, jodoh seperti apa yang aku impikan…?

Satu. Dia mesti cinta Tuhan dan takut akan Tuhan. Bukan phobia ma Tuhan lo. Kalo phobia itu berarti menjauhi saking takutnya. Takut di situ artinya dia taat sama Tuhan, punya intimacy ma Tuhan en life her live based on the Words of God in Bible…

Dua. Dia mesti lebih muda dari aku. Simply because my cute face often deceive my real age! Haha2…

Tiga. Dia mesti cewek yang bisa cheer-up suasana, ekspresif, energik en bersosialisasi dengan orang2 di sekelilingnya. Tipikal cewek pe-de yang berani menghadapi orang. Nggak tergantung ato kemana2 ngintil terus sama aku. Juga bukan tipe2 pemikir yang sampe tidurpun masalahnya dibawa mimpi (ato yang lebih gawat sampe gak bisa tidur ato kehilangan nafsu makan!).

Empat. Dia berani, punya leadership, dare to take risk en spontan. Berani nyoba hal2 baru tanpa takut. Punya ide2 gila yang bahkan aku gak berani memikirkannya. Dengan sikap itu, implikasinya most probably, dia adalah cewek yang keras kepala yang nggak gampang dibilang2i ato dipengaruhi, bukan tipe yang selalu nurut dan bilang "iya" untuk apa yang aku katakan. Dia nggak memendam masalah dlm hati, tapi dia akan segera menentang dan memberontak untuk apa yang nggak disukainya. Sangat mungkin dia punya banyak teman sekaligus musuh karena keberaniannya, juga egois dan ingin menang sendiri (kriteria no. 1 akan banyak membantu mengatasi masalah2 di kriteria no. 4 ini, hehe2…)

Lima. Smart dan we have same sense of humour. Dengan kata2, gaya, tingkah laku (atau dengan being-nya) dia bisa membuat aku ketawa secara spontan (bukan aku terpaksa ketawa karena sekedar menghargai joke-nya). Dengan her natural behaviour, dia bisa cheer-up my day.

Enam. Fashionable dan keren, bukan tipe old fashion. Dengan kriteria nomer 3, dia akan menjadi cewek yang modis karena dia pingin looks good di depan orang lain. Juga cantik dalam pandanganku… Kalo orang lain bilang nggak cantik, no problem… Yang penting dalam pandanganku she’s pretty, hehe2… (tapi ya gpp kalo banyak orang jg bilang dia cantik)

Tujuh. Dia bisa support komitmen dan visi2ku. Ngerti kecintaanku ma anak2 youth (which is I’ll spend lot of time to educate the youth), ngerti bahwa my special gifts from God adalah adalah menulis dan mengajar (which is also I’ll spend lot of time doing that…) Most probably, hal2 yang aku lakukan itu nggak berdampak langsung ato ngasih keuntungan apa2 bagi dia. But yet, she still supports for what I am and who I am.

Ketujuh2nya harus menjadi being-nya. Bukan dibuat2 ato sekedar doing. Karena kalo dibuat2, cepet ato lambat akan kliatan aslinya (terutama kl udah menikah yang mana nggak ada lagi yang bisa disembunyikan).

In addition, I also very appreciate girl with multiple talents such as music or art - yang mana aku nggak punya. And also there are several physical appearances yang nggak perlu ditulis di sini… As long as her physical not in extreme (ekstrim kurus/gemuk, ekstrim tinggi/pendek, ekstrim hitam/putih) then it’ll be ok.

Jadi sodara… Kalo ketemu dengan cewek single that meet those criteria above (or if that’s you, haha2…), please… Let me know. She’s also looking for her soulmate. Help her to find one, hehe2…

[Lord, I've dreamt my Eve, but let Your_will be done...]

04
Feb

Memilih profesi: penggosip

Kalau ada orang yang suka mengajar, maka nama profesi yang cocok untuk orang itu adalah pengajar (contoh: saya). Kalau ada orang yang suka menulis, maka profesi yang cocok untuk orang itu adalah penulis (contoh: saya lagi). Kalau ada orang yang suka menyanyi, maka cocok juga kalau profesi orang tersebut itu disebut sebagai penyanyi (contoh: bukan saya). Dan kalau ada orang yang suka menggosip, maka pembaca bisa dengan mudah menebak nama profesi untuk orang yang suka menggosip ini… Ya, bener, nama untuk orang yang suka menggosip adalah penggosip.

Sampe sini jelas ya?

Nah, posting kali ini tentang profesi penggosip.

Ceritanya begini… Pada beberapa posting lalu saya menuliskan bahwa saya sudah in relationship dengan seorang cewek-yang-tidak-saya-sebut-namanya. Hanya sedikit sekali yang tahu tentang cewek-yang-tidak-saya-sebut-namanya ini… Kenapa? Karena saya concern dengan dia (dengan cewek-yang-tidak-saya-sebut-namanya ya, bukan dengan penggosipnya). Saya merasa untuk kebaikan dia, semakin sedikit yang tahu bahwa saya in relationship dengan dia, semakin baik. Itu sebabnya, informasi tentang cewek-yang-tidak-saya-sebut-namanya ini bener2 saya jaga. Keep it confidential. Untuk kalangan sendiri. Privacy. Kalau saya berniat mengumumkannya, tentu sudah saya tulis di posting siapa sebenarnya cewek-yang-tidak-saya-sebut-namanya ini.

Masuk akal ya?

Tapi justru karena saya tidak menulis nama si cewek-yang-tidak-saya-sebut-namanya ini, maka itu justru menjadi tantangan bagi si penggosip, untuk mencari, menduga, berasumsi, dan mengira siapa
gerangan cewek-yang-tidak-saya-sebut-namanya itu… Hebat kan
profesi penggosip ini? Mungkin dia kurang kerjaan. Dia cocok sekali
untuk ikut kuis Siapa Dia yang pernah ditayangkan TVRI pada beberapa
ratus tahun silam which is over already (tapi saking
frustasinya, dia berusaha bermain kuis
Siapa Dia walopun kuisnya udah kadaluarsa).

Nah, lalu apa hubungannya si penggosip dengan saya? Hubungannya tidak baik. Namanya juga penggosip, dia menebak-nebak, menduga-duga, berasumsi, mengira-ngira, berpraduga bahwa saya pacaran dengan si-anu. Lalu karena memang dasarnya sifat penggosip adalah sok tahu, dia segera dengan sok tahu menyebarkan asumsinya, praduganya, tebakannya, dugaannya ke orang lain… Jelas, tanpa melihat resiko yang akan ditanggungnya seandainya dugaannya salah. Karena kalo dugaan itu salah, dia sebenarnya hanya mempermalukan dirinya sendiri. Saya kasian juga memikirkan "ke-malu-an" (maaf, itu maksudnya rasa malu yang di-noun-kan) yang akan diterima oleh si penggosip ini seandainya dugaannya salah.

Lalu, setelah kejadian ini, saya berkesimpulan tentang profesi penggosip:

  1. Penggosip tidak tahan untuk membiarkan kebenaran itu reveal by itself. Nafsu untuk menyebarkannya begitu besar walopun dia sadar sekali bahwa itu bukan urusannya dan dia tidak berhubungan apa-apa dengan urusan itu. What we should call this kind of people? Rasanya ada kata yang lebih tepat dari sekedar penggosip… (Tadi udah muncul di kepala saya, tapi kok tiba2 ilang).
  2. Penggosip punya ego yang tinggi untuk dianggap sebagai orang-yang-tahu-segala-berita-terbaru dengan menyebar  informasi  yang belum pasti kebenarannya. Baginya, semakin heboh beritanya, semakin membanggakan.

Pernah ketemu nggak dengan spesies kayak gitu di sekeliling kita? Kalo nggak pernah ketemu, beruntung sodara… Saya sangat berharap spesies jenis ini segera punah atau setidaknya dia mengalami mutasi DNA menjadi reporter (yang mana memastikan kebenaran beritanya terlebih dulu sebelum menyebarkannya).

Saya kasihan, prihatin, concern, peduli, terhadap spesies penggosip ini. Kasihan sekaliii… karena apa yang sedang (atau sudah) disebarkan tentang saya itu tidak lagi punya nilai kebenaran.

Because the truth is:
… here I am, being single (again) in the mids of my 29th.

Cuciaaaann deh loe…!