Archive for March, 2008

30
Mar

Bulan-bulan Tesis

Minggu ini saya bikin keputusan radikal, yaitu mengganti topik riset untuk tesis saya secara sporadis. Saya memutuskan meneliti tentang jaringan saraf tiruan untuk pengenalan nominal mata uang rupiah. Nilai gunanya lebih besar ketimbang topik sebelumnya, yaitu "steganografi dan enkripsi untuk pengiriman data rahasia". Saya nggak gitu suka dengan topik ini walopun sudah setengah jadi, karena kalo ditanya orang laen, saya harus menjelaskan panjang lebar dengan resiko yang dijelaskan manggut2 tanda nggak ngerti… Lalu demi menghargai penjelasan saya, biasanya mereka menyimpulkan dengan kesimpulan yang nggak nyambung ato salah sama sekali, misalnya:
"Oooo… Jadi stegafri dan kripik itu pasangan yang serasi ya? Kapan mereka jadiannya ya…?"
"Nah, itu yang sedang saya teliti… Bantu saya ya?" Jawab saya dengan pandangan iba.

Tapi kalau jaringan saraf tiruan ini menantang sekali… Meneliti bagaimana agar komputer bisa punya saraf seperti manusia. Lalu kalo komputer punya saraf apa hebatnya? Hebatnya, komputer akan bisa belajar…! Saya neliti agar komputer bisa belajar ngenali duit. Jadi nanti kalo penelitian ini berhasil, hasilnya adalah suatu mesin (bisa komputer) yang inputnya adalah duit kertas asli (bukan duit monopoli). Lalu duit itu "dilihat" oleh mesin/komputer tersebut (pake kamera ato apapun yang bisa mengubahnya jadi image - sebagai ganti mata) dan dia bisa tau nominal duitnya. Nah, tapi seperti manusia juga, salah satu resiko kalo sudah mengenal duit adalah jadi mata duitan. Segala2 diukur pake duit. Saya yang repot kalo sampe komputernya mata duitan… Maka di batasan masalah ada satu poin yang saya tulis yaitu melakukan pembatasan agar komputer tidak menjadi mata duitan - karena cinta akan uang adalah akar dari kejahatan.

Dalam meneliti ini, saya tentu tidak sendiri. Saya dibimbing oleh 2 orang pintar, yaitu Pak Bs yang sudah punya gelar Ph. D dari UQ, Australia sebagai pembimbing pertama dan Pak Hn yang punya gelar Master di bidang komputasi sebagai pembimbing dua. Tapi seperti layaknya kehidupan, selalu ada sisi positif dan sisi negatif. Dua orang pembimbing itu, buat saya adalah sisi positif karena mereka diharapkan dapat meringankan beban saya dalam meneliti… Tapi sisi negatifnya adalah penguji - yang pasti akan memberatkan beban saya dalam meneliti. Pengujinya juga 2 orang, Pak Ss yang punya gelar Doktor serta Pak Sp yang punya gelar Master di bidang komputasi. Ingat baik2 tokoh2 tersebut, karena di bulan2 mendatang, mereka pasti jadi aktor utama dalam blog ini - sedangkan stegrafi dan kripik tadi, hanya pemeran figuran yang hanya muncul 1 scene.

Rencana minggu depan ini adalah ujian proposal. Tapi ke-4 orang pintar ini punya set rules yang berbeda2 untuk memberikan waktu membimbing / menguji. Contoh:

  • Pak Bs, hanya bisa pagi hari di hari Rabu dan Kamis. Sedangkan pada hari Jumat hanya bisa siang hari. Sore bisa juga, tapi dengan syarat hari itu tidak hujan dan malam sebelumnya bukan hari libur. Selain hari tersebut, Pak Bs tidak ada waktu.
  • Pak Hn, ada waktu pada hari Selasa, Rabu dan Kamis minggu ke-2 dan ke-3. Untuk hari Senin minggu pertama, Pak Hn bisa jika dan hanya jika saya sudah konsultasi pada hari Kamis atau Selasa minggu sebelumnya. Hari Jumat, Pak Hn hanya bisa sore hari dengan catatan hari Jumat tersebut adalah Jumat ke-2 bulan tersebut dengan weton Wage atau Kliwon.
  • Pak Ss jadwalnya lebih ngeri lagi. Dari hari Jumat sampai Senin, beliau berada di Bandung untuk mengajar. Sedangkan hari Selasa, Rabu, dan Kamis beliau mengajar di pagi hari. Jadwal mengajarnya bisa di-cancel (untuk menguji) dengan catatan: yang maju untuk diuji 2 orang atau lebih. Dari ke-2 orang tersebut, orang yang harus maju pertama adalah yang usianya lebih muda dari dosen pembimbing pertama tapi tidak lebih tua dari dosen pembimbing ke-2, jika syarat tersebut tidak dapat dipenuhi, maka si calon yang hendak diuji, harus menunggu selama 3 hari atau sudah menemukan calon yang sesuai dengan syarat pertama.
  • Pak Sp sebagai penguji 2, lebih fleksibel. Dia hanya tidak bisa pada Hari Senin ketika studio 21 memutar untuk film2 horor Indonesia (seperti Beranak Dalam Kubur, Kuntilanak 3, Bangkitnya Pocong dsb…). Selain itu (Senin sampai Jumat) dia bisa semua. Dengan catatan di hari itu tidak ada sanak keluarganya yang merayakan ulang tahun. Definisi sanak keluarga menurut Pak Sp adalah semua yang merupakan keturunan generasi pertama, kedua, dan ketiga dari kakek buyutnya. Jadi seandainya pada hari Senin sedang tidak diputar film Suster Ngesot tapi adik sepupu dari suami saudara perempuan ayah kakeknya berulang tahun, maka hari itu dia tidak mungkin dia menguji.

Itu belum termasuk menyesuaikan dengan jadwal saya, karena bagaimanapun, saya harus hadir ketika diuji. Bayangkan, dengan jadwal yang seperti itu, gimana saya nggak kepingin nangis cara India? Hampir saya mengubah topik penelitian saya menjadi, "Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Dalam Pencarian Jadwal Untuk Menguji Tesis Ini" Saya yakin bahwa nilai gunanya akan jauh lebih besar untuk angkatan di bawah saya.

Akhirnya, setelah memperkirakan cuaca, menghitung weton, menghasut teman yang punya dosen pembimbing lebih tua untuk mau diuji, dan memastikan masa tayang Kuntilanak 3 di studio 21 sudah berakhir, serta keturunan kakek buyut Pak Sp tidak ada yang berulang tahun, maka hari Kamis minggu depan saya akan ujian proposal. Doakan setelah meneliti jaringan saraf tiruan selama beberapa bulan ke depan ini, saya tidak sampai mengalami gangguan saraf. Terimakasih untuk dukungannya.

12
Mar

I Will Survive

Kalo menurut kamu menjadi dosen itu suatu pekerjaan yang ringan, fun, santai, dapat dijalani dengan easy-going dan tidak terlalu banyak beban, cobalah untuk menjadi dosen di sebuah universitas yang baru tahun pertama berdiri, di mana semua administrasi, silabus mata kuliah, modul, dan bahan ajarnya dimulai dari NOL. 

Kalo itu masih juga tidak terlalu berat, coba juga untuk mengajar 3 mata kuliah inti dengan masing-masing 4 SKS, 4 SKS dan 3 SKS di 3 kelas paralel dengan total mahasiswa 130. Lalu tambahkan aturan Universitas, bahwa akan ada kuis kecil setiap minggunya dan kuis besar setiap 4 pertemuan. Which is artinya setiap minggu harus mengoreksi SELURUH pekerjaan dan memberi nilai untuk SELURUH mahasiswa tersebut.

Kalo itu masih belum juga terlalu merepotkan, bagaimana kalo kamu menambah dengan keterlibatan dalam berbagai kepanitiaan universitas, seperti misalnya menjadi pewawancara untuk calon mahasiswa baru (which is dalam 1 hari bisa ada sampai 10 calon mahasiswa baru yang diwawancara), anggota inti dari Character Building Development Center yang perlu merumuskan hal-hal sehubungan dengan materi CBDC, dan anggota kepanitiaan acara festival untuk tahun ajaran mendatang yang perlu secara rutin rapat untuk membuat acara festival yang keren.

Kalo kamu masih merasa ringan dengan itu semua, kamu boleh juga menambah dengan jabatan sebagai pembina akademik untuk 20 mahasiswa yang berarti perlu spend waktu kalo mereka butuh konsultasi tentang studi mereka. Juga tambahan jabatan sebagai mentor dari 15 mahasiswa, yang mana harus bertanggung jawab untuk membentuk karakter mereka agar mereka dapat punya karakter tangguh, disiplin, jujur, ulet selama 4 tahun ke depan.

Kalo kamu masih juga bisa mengatasi, challenge sebagai dosen berikutnya adalah bahwa kamu membuka diri untuk mahasiswa yang mengalami kesulitan pada mata kuliah yang kamu ajar, yang artinya anytime akan ada mahasiswa yang datang untuk bertanya topik dari mata kuliah yang tidak mereka mengerti. Iya, anytime.

Lalu bagaimana jika ditambahkan kewajiban untuk menulis artikel dan membuat buku karena itu adalah salah satu dari tugas dosen yang harus dipenuhi untuk kepentingan Universitas. Ok, dengan deadline bulan Maret untuk artikel dan Juni untuk buku.

Kalo masih terlalu ringan, cobalah tantangan yang terakhir yaitu kamu sedang menyelesaikan studi S2 kamu… yang berarti harus spend waktu untuk belajar dan melakukan research tentang Steganografi dan Enkripsi sebagai topik tesis untuk kelulusan kuliah. Ok, ini juga dengan deadline bulan Juni tahun ini. 

Not to mention about your daily personal live such as cell group meeting, church stuffs, daily devotion, build relation with others, etc.

Kalo semuanya bisa kamu lewati  dengan sukses… Rasanya saya perlu ketemu kamu, untuk berguru dan belajar how to survive in that kind of situation. Karena sepertinya in some area, i feel like that I’m gonna fail… My thesis for example.

But… kalo kamu mengalami itu semua, most probably there are some fun parts being in that situation, like what has happened to me…:

Satu. Saya sering lupa membawa spidol ketika masuk ke kelas. Lalu baru sadar bahwa spidolnya ketinggalan di ruang saya ketika sudah di depan mahasiswa dan hendak menulis sesuatu di white board - sehingga saya akan meminjam spidol atau menyuruh seseorang mengambil spidol di ruang saya.

Dua. Saya sering tiba-tiba kehilangan satu kata penghubung ketika menjelaskan di depan kelas. Selama kata penghubung ini masih belum berhasil diingat, kata2 berikutnya juga tidak akan pernah bisa keluar yang berakibat mahasiswa saya akan membantu mengingatkan kata penghubung tersebut dengan cara menebak2 - alhasil kata penghubung tersebut semakin sulit untuk ditemukan karena gangguan konsentrasi.

Tiga. Botol Aqua tempat minum saya pernah ketinggalan di toilet dan baru sadar kalau saya kehilangan botol Aqua setelah 2 jam. Dan selama 30 menit saya berusaha mengingat-ingat di mana terakhir meletakkan botol Aqua dengan bermacam-macam dugaan, seperti ketinggalan di mobil, di kelas, di kantin sampai dugaan seseorang mengambil botol Aqua tersebut.

Empat. Waktu masuk kelas untuk mengajar, saya pernah baru menyadari bahwa saya lupa mengkopi materi presentasi yang mau diajarkan. Mau tidak mau, saya terpaksa kembali ke ruangan saya dan mengkopi file presentasinya. Lalu setelah saya kembali ke kelas, ternyata kabel datanya tertinggal saat saya mengkopi file tadi, sehingga harus bolak-balik kayak setrika.

Lima. Saya pernah lupa membawa kunci ruangan saya ketika saya sudah sampai di kantor. Mengingat jarak rumah dari kantor adalah 30 menit dengan kendaraan bermotor atau ekivalen dengan 1 jam naik kuda atau ekivalen 1 hari berjalan kaki, maka saya memutuskan untuk meminjam kunci cadangan dari security. Kejadian itu membuat saya memutuskan untuk menggabungkan kunci ruangan dengan gantungan kunci mobil. Tapi pada hari Sabtu pagi yang cerah, ketika saya tiba di kantor dengan naik sepeda motor, saya baru sadar bahwa kunci sepeda motor bukanlah kunci mobil which is nggak ada kunci ruangan saya. Rasanya pingin garuk2 aspal.

Enam. Ada tempat-tempat di mana bolpen saya sering ketinggalan, yaitu ruang kelas, ruang rapat, dan kamar tidur di rumah. Setidaknya sudah 3 bolpen hitam dan 1 bolpen merah yang saya beri status: missing in action.

Tujuh. Saat saya mau pulang dan di tempat parkir saya pernah lupa di mana memarkir mobil - sehingga akhirnya disiasati dengan memarkir mobil di tempat yang sama setiap hari.

Delapan. Dalam situasi seperti ini nafsu makan saya bertambah. Yang mana mempertajam visi tahun ini, yaitu menambah berat badan sebesar 5Kg.

Sembilan. Di tengah2 keasyikan menulis blog seperti ini, saya sering tiba2 sadar bahwa ada kerjaan yang belum saya selesaikan… Dan tell me, kenapa kamu juga masih asyik membaca posting ini…?? Hei, get your job done…!!

05
Mar

Meekness

Meekness means kelemah lembutan. It’s not talking about powerless, not talking about weakness, bukan juga berarti lemah gemulai, mudah ditindas atau selalu nurut. No! In fact, meekness berbicara tentang kekuatan. Once said that "Blessed are the meek for they shall inherit the earth."

Meekness adalah ketika kita ditindas, but yet we still stand for righteousness.
Meekness adalah ketika kita disudutkan, tapi kita tetap rendah hati.
Meekness adalah ketika orang lain berbicara buruk tentang kita, tapi kita tetap bisa tersenyum dan berdiri teguh karena kita tahu apa yang kita lakukan adalah benar.
Meekness adalah ketika orang membenci kita, melakukan sesuatu yang buruk, even membunuh karakter kita, tapi kita tetap berdiri kuat, kokoh  tanpa berusaha melakukan pembalasan karena kita tahu bahwa pembalasan adalah bukan hak kita.

That’s meekness.

We all   are naturally born as a rebelian, pemberontak, kita lahir dengan ego yang besar, punya self defense yang tinggi, punya emosi untuk membuat musuh2 kita kalah, hati kita cenderung untuk  "senang-lihat-orang-susah" dan "susah-lihat-orang-senang". Ketika ada orang lain mengusik ketenangan kita, naturally kita akan membela diri kita. Ketika orang menyudutkan kita dengan melakukan character assasination, naturally kita akan membela ego kita, ingin untuk membalas bahkan dengan lebih kejam. Ketika orang lain menyerang kita, once again, secara natural kita akan membangun tembok self defense kita. Very natural.

It takes mediocre, average people to do such things… Because we are naturally born in that way. No special if you take revenge to someone else. Nggak ada hebatnya ketika kita membalas dendam karena kita merasa layak untuk membalas. I don’t feel that it is great when we deserve to take revenge and we do it. We don’t need strength to take revenge to someone else.

BUT… IT TAKES VERRRRYYY STRONG MAN TO BE MEEK. When persecution comes, it takes meekness to stand still. Butuh orang yang luar biasa kuat untuk menjadi tetap lemah lembut even dia ditindas, dia dianiaya, dibunuh karakternya, difitnah, dan disudutkan… Butuh orang yang punya KEKUATAN EKSTRA untuk tetap diam, tidak membalas, dan tetap rendah hati ketika dia dianiaya baik secara mental maupun fisik.

I know, I’m not perfect. I’m not Mr. Perfect. I made mistakes lot of time. Sometimes, the mistake I’ve done took me to a place of persecution. Saya memilih untuk punya meekness terhadap apa yang sedang saya alami. Saya tahu Source of my strength is more than enough dan no matter what happen, pembalasan bukan hak saya.

Tell me, isn’t that a beautiful life…?

04
Mar

Antara Ilmu Pengetahuan, Agama dan Kadal

[Sori lagi... for some reasons, this posting also cencored]