Minggu ini saya bikin keputusan radikal, yaitu mengganti topik riset untuk tesis saya secara sporadis. Saya memutuskan meneliti tentang jaringan saraf tiruan untuk pengenalan nominal mata uang rupiah. Nilai gunanya lebih besar ketimbang topik sebelumnya, yaitu "steganografi dan enkripsi untuk pengiriman data rahasia". Saya nggak gitu suka dengan topik ini walopun sudah setengah jadi, karena kalo ditanya orang laen, saya harus menjelaskan panjang lebar dengan resiko yang dijelaskan manggut2 tanda nggak ngerti… Lalu demi menghargai penjelasan saya, biasanya mereka menyimpulkan dengan kesimpulan yang nggak nyambung ato salah sama sekali, misalnya:
"Oooo… Jadi stegafri dan kripik itu pasangan yang serasi ya? Kapan mereka jadiannya ya…?"
"Nah, itu yang sedang saya teliti… Bantu saya ya?" Jawab saya dengan pandangan iba.
Tapi kalau jaringan saraf tiruan ini menantang sekali… Meneliti bagaimana agar komputer bisa punya saraf seperti manusia. Lalu kalo komputer punya saraf apa hebatnya? Hebatnya, komputer akan bisa belajar…! Saya neliti agar komputer bisa belajar ngenali duit. Jadi nanti kalo penelitian ini berhasil, hasilnya adalah suatu mesin (bisa komputer) yang inputnya adalah duit kertas asli (bukan duit monopoli). Lalu duit itu "dilihat" oleh mesin/komputer tersebut (pake kamera ato apapun yang bisa mengubahnya jadi image - sebagai ganti mata) dan dia bisa tau nominal duitnya. Nah, tapi seperti manusia juga, salah satu resiko kalo sudah mengenal duit adalah jadi mata duitan. Segala2 diukur pake duit. Saya yang repot kalo sampe komputernya mata duitan… Maka di batasan masalah ada satu poin yang saya tulis yaitu melakukan pembatasan agar komputer tidak menjadi mata duitan - karena cinta akan uang adalah akar dari kejahatan.
Dalam meneliti ini, saya tentu tidak sendiri. Saya dibimbing oleh 2 orang pintar, yaitu Pak Bs yang sudah punya gelar Ph. D dari UQ, Australia sebagai pembimbing pertama dan Pak Hn yang punya gelar Master di bidang komputasi sebagai pembimbing dua. Tapi seperti layaknya kehidupan, selalu ada sisi positif dan sisi negatif. Dua orang pembimbing itu, buat saya adalah sisi positif karena mereka diharapkan dapat meringankan beban saya dalam meneliti… Tapi sisi negatifnya adalah penguji - yang pasti akan memberatkan beban saya dalam meneliti. Pengujinya juga 2 orang, Pak Ss yang punya gelar Doktor serta Pak Sp yang punya gelar Master di bidang komputasi. Ingat baik2 tokoh2 tersebut, karena di bulan2 mendatang, mereka pasti jadi aktor utama dalam blog ini - sedangkan stegrafi dan kripik tadi, hanya pemeran figuran yang hanya muncul 1 scene.
Rencana minggu depan ini adalah ujian proposal. Tapi ke-4 orang pintar ini punya set rules yang berbeda2 untuk memberikan waktu membimbing / menguji. Contoh:
- Pak Bs, hanya bisa pagi hari di hari Rabu dan Kamis. Sedangkan pada hari Jumat hanya bisa siang hari. Sore bisa juga, tapi dengan syarat hari itu tidak hujan dan malam sebelumnya bukan hari libur. Selain hari tersebut, Pak Bs tidak ada waktu.
- Pak Hn, ada waktu pada hari Selasa, Rabu dan Kamis minggu ke-2 dan ke-3. Untuk hari Senin minggu pertama, Pak Hn bisa jika dan hanya jika saya sudah konsultasi pada hari Kamis atau Selasa minggu sebelumnya. Hari Jumat, Pak Hn hanya bisa sore hari dengan catatan hari Jumat tersebut adalah Jumat ke-2 bulan tersebut dengan weton Wage atau Kliwon.
- Pak Ss jadwalnya lebih ngeri lagi. Dari hari Jumat sampai Senin, beliau berada di Bandung untuk mengajar. Sedangkan hari Selasa, Rabu, dan Kamis beliau mengajar di pagi hari. Jadwal mengajarnya bisa di-cancel (untuk menguji) dengan catatan: yang maju untuk diuji 2 orang atau lebih. Dari ke-2 orang tersebut, orang yang harus maju pertama adalah yang usianya lebih muda dari dosen pembimbing pertama tapi tidak lebih tua dari dosen pembimbing ke-2, jika syarat tersebut tidak dapat dipenuhi, maka si calon yang hendak diuji, harus menunggu selama 3 hari atau sudah menemukan calon yang sesuai dengan syarat pertama.
- Pak Sp sebagai penguji 2, lebih fleksibel. Dia hanya tidak bisa pada Hari Senin ketika studio 21 memutar untuk film2 horor Indonesia (seperti Beranak Dalam Kubur, Kuntilanak 3, Bangkitnya Pocong dsb…). Selain itu (Senin sampai Jumat) dia bisa semua. Dengan catatan di hari itu tidak ada sanak keluarganya yang merayakan ulang tahun. Definisi sanak keluarga menurut Pak Sp adalah semua yang merupakan keturunan generasi pertama, kedua, dan ketiga dari kakek buyutnya. Jadi seandainya pada hari Senin sedang tidak diputar film Suster Ngesot tapi adik sepupu dari suami saudara perempuan ayah kakeknya berulang tahun, maka hari itu dia tidak mungkin dia menguji.
Itu belum termasuk menyesuaikan dengan jadwal saya, karena bagaimanapun, saya harus hadir ketika diuji. Bayangkan, dengan jadwal yang seperti itu, gimana saya nggak kepingin nangis cara India? Hampir saya mengubah topik penelitian saya menjadi, "Penerapan Jaringan Saraf Tiruan Dalam Pencarian Jadwal Untuk Menguji Tesis Ini" Saya yakin bahwa nilai gunanya akan jauh lebih besar untuk angkatan di bawah saya.
Akhirnya, setelah memperkirakan cuaca, menghitung weton, menghasut teman yang punya dosen pembimbing lebih tua untuk mau diuji, dan memastikan masa tayang Kuntilanak 3 di studio 21 sudah berakhir, serta keturunan kakek buyut Pak Sp tidak ada yang berulang tahun, maka hari Kamis minggu depan saya akan ujian proposal. Doakan setelah meneliti jaringan saraf tiruan selama beberapa bulan ke depan ini, saya tidak sampai mengalami gangguan saraf. Terimakasih untuk dukungannya.
Recent Comments