Semua cerita dalam satu tahun terakhir ini, diawali dari…
Sometime di 2006
Sekitar jam 7 malam, kami berdua sedang menuju ke radio Solagracia… Saya dan Yuli (one of my best sister in Christ). Saya rasa, kita berdua ini kurang punya sense of direction (most likely girls are lacking of sense of direction). Kami berputar-putar di kawasan Villa Puncak Tidar - yang saya juga baru sekali itu ke sana - dan somehow kami tiba di depan sebuah bangunan yang belum jadi. Pintu gerbangnya terbuat dari seng yang bertuliskan besar-besar, "DILARANG MASUK KECUALI PETUGAS". Nampak kerangka bangunan yang belum jadi, diterangi bohlam yang remang-remang. Di bagian lain, nampak mesin konstruksi yang berukuran besar, beberapa petugas mengoperasikan mesin tersebut dengan diterangi lampu yang lebih terang. Kami berhenti, memandang bangunan tersebut sejenak, memastikan bahwa bangunan tersebut bukan radio Solagracia yang kami cari…
"Oh, ini Universitas baru itu ya?" Tanya Yuli
"Kayaknya iya… M* C** ya namanya?" Saya bertanya, sekedar meyakinkan.
"Iya… Ini kabarnya bakal jadi universitas internasional, setara dengan UPH kalo di Jakarta…"
"Ya, aku juga denger itu… Ada jurusan IT-nya…" Saya diam sejenak…"Ooo… Di sini to tempatnya… Yul, aku pingin jd dosen di sini" Saya excited karena telah mendengar dari mulut ke mulut tentang kehebohan universitas ini…
"Wah, keren Win kalo kamu ngajar di sini… Kamu punya koneksi sapa di sini?" Tanya Yuli… Sebagai seorang sanguin ia selalu spontan… Saya maklum, as a business woman, what Yuli thought is make sense. Relasi itu segalanya.
Aku diem. Mikir… Iya, sapa aku? Gak punya kenalan sama sekali…
"Tapi gak usah kuatir lah Win…" She seems can read my mind… "Kamu kan punya Tuhan. Kalo Tuhan pingin kamu di sini, ya pasti kamu jadi dosen di sini…"
Saya suka menyebut Yuli ini Woman of faith. Dan apa yang diucapkan barusan, membangkitkan iman saya. Faith is substance of things we hoped for, evidence of things not seen.
Saya mengiyakan pernyataan Yuli barusan… Lalu saya segera memundurkan mobil, kembali melanjutkan perjalanan mencari Radio Solagracia… "Yul, kamu liat tower itu…? rasanya di situ Radio Solagracia…"
Juni 2006
Saya mendaftar untuk kuliah S2. Mengikuti Tes Potensi Akademik sebagai saringan masuk. Nilai Tes Potensi Akademik saya memenuhi syarat, saya diterima… Langkah berikutnya adalah mulai memikirkan strategi untuk membayar biaya kuliah yang totalnya 8 digit itu.
Maret 2007
Saya mengirimkan surat lamaran sebagai dosen IT di Universitas yang kami bicarakan malam itu.
April 2007
Saya sampai. Ada 4 orang di sana dan saya disambut oleh seorang wanita - satu2nya wanita di ruang tersebut. Ia tersenyum ramah sambil mempersilahkan saya masuk. Ia memperkenalkan diri, menyebut namanya dan disambung dengan… "Saya di sini sebagai rektor…". Kami bersalaman, lalu beliau mengenalkan saya dengan tiga bapak lain yang ada di ruangan tersebut - masing2 adalah wakil rektor 1, 2 dan 3. Saya mengingat2 semua namanya. Saya dipersilahkan duduk. Ini pertama kali saya interview dalam suasana yang formal. Somehow, faith itu muncul… "Win, you’re destined to be here, make an impact here… "
"Bapak Windra ya?" Tanya ibu rektor.
"Ya Bu…" Saya tersenyum.
"Terimakasih Pak untuk surat lamaran yang diajukan… Bapak di surat lamaran ini melamar sebagai dosen IT ya…" Beliau melihat sekilas berkas2 di depannya, most likely itu adalah surat lamaran dan CV yang saya kirim beberapa minggu lalu, "Saat ini Bapak sedang studi S2 di B**, ya?"
"Betul Bu"
"Itu jurusan apa Pak?"
"Jurusan Elektro…" Saya tahu arah pertanyaannya, lalu saya lanjutkan "…karena di universitas B** tidak ada jurusan IT untuk program Pascasarjana, jadi yang paling mendekati ya Elektro…"
"Tapi sebenarnya harus fokus Pak. Bapak S1 dari Informatika, lebih bagus kalau melanjutkan di jurusan yang sejalur…"
10 menit kemudian
"… kita juga tentu butuh untuk dihargai. Menurut Bapak berapa gaji yang pantas kalau Bapak bersedia bergabung di sini…?"
Saya bingung… Berapa? "Saya tidak tahu berapa standardnya Bu…" Jawab saya jujur.
"Jangan sungkan Pak, kita semua tentu bekerja mengharapkan reward yang sesuai. Kalau memang sesuai, ya tentu kita akan penuhi… Berapa menurut Bapak yang sesuai…?"
Saya sangat tidak nyaman menjawab pertanyaan ini. "Saya tidak berpikir itu Bu… Saya suka mengajar, tidak terlalu berharap mendapatkan uang banyak dari mengajar…" [Saya tahu persis itu, karena kedua orang tua saya adalah guru, kata saya dalam hati] "Saya bisa dapat (uang) dari menulis buku atau royalti buku2 saya…" Bapak WR1 mengangguk2 mendengar penjelasan saya.
"Oke Pak, kalau begitu kita mulai dengan…" Beliau menyebut suatu angka.
"Iya Bu…" Saya setuju. Waktu itu doesn’t really matter brapa yang disebut. Karena saya pikir saya bisa nulis buku dan dapet 5x lipat within 3 months. But I was wrong. Soooo wrong. Satu tahun berikutnya, nyaris tidak ada buku apapun yang saya tulis.
10 menit kemudian
Saya dalam perjalanan pulang… dan faith itu muncul lagi, kali ini lebih detail "Win, you’re destined to be here, make impact for the students, be the salt and the light!"…
God, let your will be done!
Mei 2007
[here]
The rest, as you might know, is a story.
Recent Comments