Archive for May, 2008

25
May

Re-thinking the Future

Semua cerita dalam satu tahun terakhir ini, diawali dari…

Sometime di 2006

Sekitar jam 7 malam, kami berdua sedang menuju ke radio Solagracia… Saya dan Yuli (one of my best sister in Christ). Saya rasa, kita berdua ini kurang punya sense of direction (most likely girls are lacking of sense of direction). Kami berputar-putar di kawasan Villa Puncak Tidar - yang saya juga baru sekali itu ke sana - dan somehow kami tiba di depan sebuah bangunan yang belum jadi. Pintu gerbangnya terbuat dari seng yang bertuliskan besar-besar, "DILARANG MASUK KECUALI PETUGAS". Nampak kerangka bangunan yang belum jadi, diterangi bohlam yang remang-remang. Di bagian lain, nampak mesin konstruksi yang berukuran besar, beberapa petugas mengoperasikan mesin tersebut dengan diterangi lampu yang lebih terang. Kami berhenti, memandang bangunan tersebut sejenak, memastikan bahwa bangunan tersebut bukan radio Solagracia yang kami cari…

"Oh, ini Universitas baru itu ya?" Tanya Yuli
"Kayaknya iya… M* C** ya namanya?" Saya bertanya, sekedar meyakinkan.
"Iya… Ini kabarnya bakal jadi universitas internasional, setara dengan UPH kalo di Jakarta…"
"Ya, aku juga denger itu… Ada jurusan IT-nya…" Saya diam sejenak…"Ooo… Di sini to tempatnya… Yul, aku pingin jd dosen di sini" Saya excited karena telah mendengar dari mulut ke mulut tentang kehebohan universitas ini…
"Wah, keren Win kalo kamu ngajar di sini… Kamu punya koneksi sapa di sini?" Tanya Yuli… Sebagai seorang sanguin ia selalu spontan… Saya maklum, as a business woman, what Yuli thought is make sense. Relasi itu segalanya.

Aku diem. Mikir… Iya, sapa aku? Gak punya kenalan sama sekali…

"Tapi gak usah kuatir lah Win…" She seems can read my mind… "Kamu kan punya Tuhan. Kalo Tuhan pingin kamu di sini, ya pasti kamu jadi dosen di sini…"

Saya suka menyebut Yuli ini Woman of faith. Dan apa yang diucapkan barusan, membangkitkan iman saya. Faith is substance of things we hoped for, evidence of things not seen.

Saya mengiyakan pernyataan Yuli barusan… Lalu saya segera memundurkan mobil, kembali melanjutkan perjalanan mencari Radio Solagracia… "Yul, kamu liat tower itu…? rasanya di situ Radio Solagracia…"

Juni 2006
Saya mendaftar untuk kuliah S2. Mengikuti Tes Potensi Akademik sebagai saringan masuk. Nilai Tes Potensi Akademik saya memenuhi syarat, saya diterima… Langkah berikutnya adalah mulai memikirkan strategi untuk membayar biaya kuliah yang totalnya 8 digit itu.

Maret 2007
Saya mengirimkan surat lamaran sebagai dosen IT di Universitas yang kami bicarakan malam itu.

April 2007
Saya sampai. Ada 4 orang di sana dan saya disambut oleh seorang wanita - satu2nya wanita di ruang tersebut. Ia tersenyum ramah sambil mempersilahkan saya masuk. Ia memperkenalkan diri, menyebut namanya dan disambung dengan… "Saya di sini sebagai rektor…". Kami bersalaman, lalu beliau mengenalkan saya dengan tiga bapak lain yang ada di ruangan tersebut - masing2 adalah wakil rektor 1, 2 dan 3. Saya mengingat2 semua namanya. Saya dipersilahkan duduk. Ini pertama kali saya interview dalam suasana yang formal. Somehow, faith itu muncul… "Win, you’re destined to be here, make an impact here… "

"Bapak Windra ya?" Tanya ibu rektor.
"Ya Bu…" Saya tersenyum.
"Terimakasih Pak untuk surat lamaran yang diajukan… Bapak di surat lamaran ini melamar sebagai dosen IT ya…" Beliau melihat sekilas berkas2 di depannya, most likely itu adalah surat lamaran dan CV yang saya kirim beberapa minggu lalu, "Saat ini Bapak sedang studi S2 di B**, ya?"
"Betul Bu"
"Itu jurusan apa Pak?"
"Jurusan Elektro…" Saya tahu arah pertanyaannya, lalu saya lanjutkan "…karena di universitas B** tidak ada jurusan IT untuk program Pascasarjana, jadi yang paling mendekati ya Elektro…"
"Tapi sebenarnya harus fokus Pak. Bapak S1 dari Informatika, lebih bagus kalau melanjutkan di jurusan yang sejalur…"

10 menit kemudian

"… kita juga tentu butuh untuk dihargai. Menurut Bapak berapa gaji yang pantas kalau Bapak bersedia bergabung di sini…?"
Saya bingung… Berapa? "Saya tidak tahu berapa standardnya Bu…" Jawab saya jujur.
"Jangan sungkan Pak, kita semua tentu bekerja mengharapkan reward yang sesuai. Kalau memang sesuai, ya tentu kita akan penuhi… Berapa menurut Bapak yang sesuai…?"
Saya sangat tidak nyaman menjawab pertanyaan ini. "Saya tidak berpikir itu Bu… Saya suka mengajar, tidak terlalu berharap mendapatkan uang banyak dari mengajar…" [Saya tahu persis itu, karena kedua orang tua saya adalah guru, kata saya dalam hati] "Saya bisa dapat (uang) dari menulis buku atau royalti buku2 saya…" Bapak WR1 mengangguk2 mendengar penjelasan saya.
"Oke Pak, kalau begitu kita mulai dengan…" Beliau menyebut suatu angka.
"Iya Bu…" Saya setuju. Waktu itu doesn’t really matter brapa yang disebut. Karena saya pikir saya bisa nulis buku dan dapet 5x lipat within 3 months. But I was wrong. Soooo wrong. Satu tahun berikutnya, nyaris tidak ada buku apapun yang saya tulis.

10 menit kemudian

Saya dalam perjalanan pulang… dan faith itu muncul lagi, kali ini lebih detail "Win, you’re destined to be here, make impact for the students, be the salt and the light!"…

God, let your will be done!

Mei 2007
[here]

The rest, as you might know, is a story.

19
May

Resignation Letter - Part III

Kami sampai pada sebuah kesepakatan setelah mengalami "banyak hal" semenjak resignation letter - Part I.

Saya diijinkan untuk tetap mengajar dan saya berjanji, untuk mencurahkan perhatian saya demi anak-anak saya - kandidat ITers yang akan mengubah wajah IT Indonesia dalam beberapa tahun ke depan!

Case closed.

16
May

Double the income

I believe that the age we are living today, is the best age ever in human history. There have never been more possibilities and opportunities than before for people to achieve their goals. The average life span has never been longer, the number of options we can choose has never been greater than before… Meanwhile, the explosion of knowledge, information and technology is really made us overwhelmed by what we should read, should learn, and should do.

If the statement is true for you, than I believe that you may be working harder than ever before, you’ve stretched you brain to the maximum, you work till the last second you have, and yet never enough hours to finish your job, yet still many tasks waiting to be completed, still many ideas that never come to past and getting worse when there had never enough time for family, friends or doing social networking. Hmm, sounds familiar, ah? (At least the statement so true for me - and most likely also true for some of my collegues)

So, what is wrong here?

Simply because a thing called "distraction"!

Ledakan ilmu pengetahun, informasi dan teknologi bener2 suatu revolusi umat manusia, which is belum pernah terjadi dalam sejarah umat manusia. Berbekal gadget yang so portable nowadays (whether it’s laptop or PDA) dengan koneksi internet yang almost everywhere (whether using Wi-fi or GPRS), informasi apapun ada di genggaman tangan. Nah, penyakitnya ada di sini. Basic human needs yaitu curiosity - rasa ingin tahu - membuat kita easily distracted (terbukti bagi mereka yang masih menyempatkan baca blog ini di tengah2 kegiatannya, hayo!). Almost semua knowledge dan informasi ingin kita serap (whether it’s important or not important untuk bidang kita). Almost semua entertainment ingin kita nikmati (whether reading good stories, novels, songs, or watching movies). Almost semua activities pingin kita lakukan (Whether bersosialisasi dengan sesama ato sekedar exercise somewhere). In this kind of environment, no wonder that there’s always not enough time in a day, isn’t it?

Now, you tell me, isn’t that awesome IF we can double our income, but in the same time, double our time off - yet without losing our productivity? For the last couple months, I’ve been trying to formulate to get the formula for "Double the income, and in the same time, double the time off - yet without losing the productivity". Cool, ah?

I’ve learn many books and audio-books about personal development (usually listen during my-trip-to-anywhere-I-go in my car - actually my car is quite a personal university for me - with the best personality development lecturers in the world ever, such as John C Maxwell, Joel Osteen, Brian Tracy, and also my fave preacher, Pst. Kong Hee and A.R. Bernard). And I come to the conclusion that "Double the income, and in the same time, double the time off - yet without losing the productivity" CAN BE DONE! I repeat, IT CAN BE DONE!

I’ve tried the formula for couple times and yes, it works… Will share the formula in the next couple postings. Eh, in the meantime, in case you have any idea, can share…

13
May

Meekness - Part II

Saia ini manusia… Punya hati. Kalo ada orang yang ruin my trust, ya saia bisa sakit hati.

Saia pikir diya sahabat saia. Saia banyak cerita2 ke diya, nanya pendapatnya, saia mengagumi diya sebagai seorang yang dewasa, tegas and yet fun (which is kombinasi yang tidak banyak saia temui). Saia juga cerita ke diya hal2 yang hanya saia ceritakan kepada teman2 saia yang masuk di ring friendship - yang mana nggak banyak jumlahnya itu… Tapi kok bisa ya diya ruin my trust kayak gitu? Diya nggak bisa bedakan bahwa itu adalah hal personal, yang seharusnya diya keep for "diya"self  (gak mau bongkar jenis kelaminnya). Saia cerita hanya karena diya saia anggap seorang yang dewasa dan mengenal saia lebih baik dari teman saia yang lain. Saia ingin tukar pikiran, pingin tau pendapatnya terhadap apa yang saia hadapi. Tapi kok ternyata diya ruin my trust.

Saia jadi sakit hati.

Tapi saia mau punya meekness - kelemahlembutan. Saia mau untuk tidak membenci diya. Saia mau belajar untuk ngerti alasannya, kalau diya mau menjelaskan. Tapi walaupun diya tidak menjelaskan-pun, saia mau to forgive and to forget, let go and let God. Ya, pasti nggak bisa lupa karena sudah masuk dalam memori otak saia apa yang diya lakukan ke saia. Tapi saia mau forgive. Saia akan latih diri saia untuk tidak punya setitik kepahitan pun dalam hati saia terhadap diya. Ketika saia bertemu diya, saia akan tetap menghormati diya seperti sebelum diya melakukan hal ini. Ya, saia akan lakukan itu.Tapi mungkin saia jadi tidak berani banyak bercerita hal yang pribadi lagi ke diya.

Setelah kejadian ini, saia mau belajar untuk lebih menghargai kalo orang lain sudah percaya dengan saia. Saia mau belajar untuk lebih menjaga privasi.

12
May

Resignation Letter - Part II

This is what happen next…

I’ve received emails, comments, and questions from my colleagues regarding the resignation issue. Either the statement or comment from the university is not  officially released yet so far. They seem quite careful to make decision about this issue, since the taken policy can significantly impact the other lectures as well.

But let me clarify the issue. Here are the facts behind the resignation letter:

  1. My resignation letter is conditional - means that there’s possibility for me to keep working at M* C** - the only one for sure is that being employee with office hour bondage REALLY not my DNA.
  2. I believe that self actualization and effort to maximize potential, learning new knowledge and skill as a lecturer shouldn’t be limited by space and time. This is what I fight for… Freedom for the (young) lecturers to maximize potential without space and time limitation (a.k.a office hour).
  3. I still have the passion to teach and educate the youth with my knowledge and experience. It doesn’t matter where it is, whether it’s in informal education (cell group, church), or education institution (this uni). It is one of my calling to be a teacher (especially for the young generation). I’ll keep teaching and writing wherever I am - without limitation of working hour surely.

Let’s see what happen next.

[Please, my UMC colleagues, you may response if I should have something to be considered...]

08
May

Resignation Letter

[posting dengan category "meresahkan"... tidak dibuka untuk umum sampai batas waktu yang sudah ditentukan, yaitu 30 Juni 2008 - harap maklum]

02
May

Bulan-bulan tesis - Episode: Selingkuh

As you might have known, semakin kita dewasa, semakin banyak pilihan dalam hidup. Nggak bisa nggak… Waktu masih SD, pilihan untuk sekolah nggak banyak2 amat, most likely, ortu yang milihkan. SMP ato SMA juga nggak banyak pilihannya… Tapi setelah lulus kuliah, tiba2 aja jadi banyak pilihan… Milih mo ngelanjutin sekolah lagi apa nggak, milih karir, milih bidang usaha yang mau ditekuni, milih calon istri (bagi yang cowok, sedangkan yang cewek nunggu untuk dipilih…). You know… all of a sudden jadi banyak pilihan dan kita, suka nggak suka, ya harus milih

Buat saya… so far saya menjatuhkan pilihan untuk melanjutkan studi dan melakukan penelitian sekaligus work as an employee. Penelitian yang saya lakukan adalah meneliti tentang Jaringan Saraf Tiruan (JST) untuk mengenali mata uang (which is menggunakan algoritma quickprop yang sangat nggak penting utnuk dibahas lebih lanjut di blog ini). Dan betul sodara, saya jatuh cinta dengan JST ini. Potensi pengembangannya luar biasa… JST bisa dipake untuk menganalisa detak jantung dalam diagnosa penyakit jantung menggantikan peran seorang cardiolog (ato untuk analisa penyakit yang lain di bidang kedokteran), bisa dipake untuk menentukan unsur radioaktif dari pancaran spektrum suatu unsur ato senyawa, bisa dipake untuk prediksi harga saham (di bidang ekonomi), macem2… In fact, kalo kita pake smartphone yang punya teknologi voice recognition, konversi tulisan tangan ke teks, speech to text, itu semua menggunakan teknologi JST ini. Wow…! Itu sebabnya saya jatuh cinta sekali dengan JST… Walaupun akhirnya cinta saya itu menjerumuskan saya untuk berurusan kembali dengan kalkulus, vektor, matriks, turunan (diferensial) dan keturunan2nya yang tidak beradab itu.

Tapi somehow, sepertinya saya sedang mengalami tendensi untuk berselingkuh dengan topik lain. This topic came out from nowhere… Namanya Computer Forensic, basically mempelajari tentang komputer / data digital yang dapat dijadikan sebagai e-evidence dalam kasus2 terorisme, sabotase, cybercrime, hacking dll. In case ada kasus cybercrime dalam pengadilan, maka sangat perlu ada saksi ahli (ato penyidik) yang pakar dalam computer forensic ini… Nggak bisa nggak, dengan berkembangkan teknologi komputasi yang gila2an, pihak kepolisian sangat butuh orang2 yang pakar di computer forensic ini.

Saya searching di Internet tentang topik ini, melihat potensi pengembangannya dan pakar2 topik ini yang ada di Indonesia. Ternyata nggak banyak yg jadi pakar topik computer forensic ini, padahal ke depan akan sangat dibutuhkan. Lalu pencarian saya akan topik ini membawa saya ke Curtin University di Perth, West Australia. Sebuah universitas yang punya postgraduate untuk major Computer Forensic (coursework for 2 years)…  Saya jadi punya impian untuk berkuliah di sana…  Mungkin setelah saya menyelesaikan urusan saya dengan Jaringan Saraf Tiruan, saya akan "berselingkuh" dengan Computer Forensic ini (yang saya yakin tidak akan menjerumuskan saya ke dalam persamaan2 matematika yang tidak beradab itu…) Let’s see apakah impian ini bernasib sama dengan dengan beberapa impian saya yang lain yang berakhir pada slot "impian2-yang-tidak-kesampaian-karena-suatu-dan-lain-hal" (Ide untuk membuka konsentrasi tambahan "Komputer Forensik" pada jurusan IT di Universitas M* C** juga cukup menggelitik saya… :) )

Now, tell me, isn’t that true that the more we grew up, the more
choices we have? 

Tapi, ah… meanwhile, mari kita menyelesaikan apa2 yang sudah kita mulai…! Setuju…?