Archive for June, 2008

23
Jun

Grandma

She was 50 when I was born and I’m 30 when she died. Remember my early kid, when my parents were working so hard from day till evening. At that time, she was like my nanny, she took care of me, fed me, protected me with her love, she was truly my world during my early age. She told lot legendary chinesse stories before I sleep (she’s a good story teller, though). She also care about education. She taught me, and my sisters as well, how to spell "A-Be-Ce-De…" during my preschool, how to say "ma-mi, pa-pi, cik-de, cik-nga.", how to read, how to write, and how to count.

If I can do coding computer program using very complex algorithms and implemented it in programming language, developing sophisticated application, do count differential and integral today, she’s definitely the one who laid the foundation of basic math and language on me…

Not to mention the moral values I’ve learn from her. She occupied big portion in my childhood… and I’ll be completely different person if I never know her.

I notice her as a very precise and organized person. She always remembers where puts things. Even in his old age, she puts all her stuffs in very orderly way and make sure everything is in its place. Neat, tidy, careful was truly her DNA (I think I only got half of it). She’s very compassion, tender, lovely… As far as I remember, she never scold me.

In her last days, she still remembered that I’m studying to get master degree, many times she asked me whether I’ve already got master degree or not and then told me to find a wife soon after I finished my study (I will) - actually it was her last message to me.

Since 2007, she couldn’t wake up. Totally rest in bed. My mom took care of her. I usualy went to see her after work at 9pm or 10pm, give her milk or other kind of beverage. For the last one month, she couldn’t speak and getting worse.

Last Friday she’s totally unconscious, comatose and not responding at all. We know that the time is coming. But she’s waiting for someone. She’s struggle very hard, try to keep breathing, keep on keeping on to be alive, force herself to breath in, breathe out… She’s waiting for this woman.

She’s already waiting for years her oldest daughter - her lovely one. Although she’s totally unconscious, we can sense that she didn’t want to go before her oldest daughter come to see her… She made it, she made force herself to wait till Sunday. Sunday, at 12, after hours struggling and dying, her oldest daughter came to her, cried before her and sorry for all the mistake she’s done, sorry that she never see and couldn’t take care of her in her old age…

An hours later after her oldest daughter came, she’s gone. She’s leaving all of us… What a GREAT TRUE LOVE of a mother… and I couldn’t stand not to cry seeing how she struggling, dying, suffering, trying hard to keep alive just to wait for her oldest daughter to come.

Grandma… I’m proud to be your grandson, we do love you.

Rest in peace.

18
Jun

Quit and be a winner!

Vince Lombardi adalah seorang pelatih American football (which is different from Soccer). Slogan-nya yang sangat terkenal (bahkan sering diperdengarkan di Universitas ini) adalah: "Winners never quit and quitters never win". Yang kalo boleh saya terjemahkan dengan bahasa ala Windra adalah: "Kalau pingin menang, sukses, berhasil, punya duit banyak, bahagia jangan pernah menyerah dalam apapun, harus punya persistence, ketekunan, keuletan, daya tahan… Karena orang2 yang pantang menyerah yang keluar sebagai pemenang, sedangkan mereka2 yang berhenti nggak akan pernah menang dan get nothing in the end."

Setuju ya? (Boleh mengangguk-angguk kalo setuju)

Masak iya sih? Saya tidak setuju… Biar yakin bahwa kamu nggak salah baca, saya ulangi… saya TIDAK setuju sepenuhnya dengan pernyataan "Winners never quit and quitters never win.". Loh, bukannya saya yang selalu mengkampanyekan ketekunan untuk anak2 muda? menyemangati anak2 agar punya yang namanya keuletan? ngelarang mereka agar nggak gampang menyerah dan putus asa? Kok tiba2 jadi…?

Don’t get me wrong… The statement is true in some aspects. Keuletan itu penting. Saya sangat respek dengan anak2 muda yang pantang menyerah, yang punya daya juang ketika mengerjakan sesuatu (beberapa mahasiswa saya, harus saya akui, daya juangnya dalam mengerjakan tugas sangat tinggi… to be honest, saya bahkan tidak punya level keuletan waktu saya seusia mereka).

Nah, yang saya permasalahkan itu adalah kalimat: "…quitters never win." Ini menyesatkan. Menyuruh orang agar jangan quit itu benar2 bikin sesat, bikin rusak masa depan. Saya beri contoh ya…

Case 1:
Seorang dokter spesialis penyakit dalam pernah mengeluhkan betapa
beratnya hidup sebagai dokter… Pagi dinas di rumah sakit sampai
siang. Istirahat sebentar, lalu sorenya harus buka praktek dengan
pasien yang ngantri kayak kereta api. Larut malam, bahkan seringkali
dini hari baru bisa tidur. Orang melihat dia sebagai dokter yang
sukses, banyak duit… Tapi ternyata dia nggak puas, dia lelah lahir
batin tanpa ada pilihan lagi. Ada yang pernah nanya ke dia, nggak
puasnya di mana? Dia bilang, dia nggak suka dengan dunia kedokteran.
Lalu kok sampai masuk kedokteran, bahkan sampe spesialis penyakit dalam segala?
Dijawabnya bahwa dulu ortunya menyarankan masuk kedokteran karena
bergengsi, keren, presitisius, bisa dapet duit banyak, jadi ya dia masuk kedokteran…
Stelah lulus dari kedokteran umum, ya perlu juga lanjut ke spesialis
karena memang begitulah seharusnya… Setelah dokter umum ya ngambil
spesialis. Padahal dia tidak pernah tertarik dengan dunia kedokteran.
Sekarang, dia nggak punya pilihan lagi selain menjalani hidup sebagai
dokter penyakit dalam yang menurutnya membosankan. Dia "never quit" waktu sekolah di kedokteran, tapi you tell me, apa bisa dia disebut "winner"?

Case 2:

Ada sepasang suami-istri yang sudah punya seorang anak. Mereka dulunya berpacaran selama bertahun2. Waktu pacaran, si cewek tahu
persis bahwa kepribadian yang dipunyainya nggak akan cocok dengan si
cowok kalau nanti mereka menikah (kalo as a friend sih okay), sense of
humour mereka beda -apa yang lucu buat cewek nggak lucu buat cowok dan sebaliknya-,
status sosial mereka nggak sama, culture di keluarga juga beda,
perlakuan si cowok kurang baik sama si cewek, kurang bisa menghargai si cewek sebagai seorang pribadi -which is basically si cewek sangat perlu itu-, dan banyak perbedaan2
lain… Tapi mereka tetep berpacaran, finally menikah dan punya anak…
Guess what, apa yang terjadi dalam hidup pernikahan mereka…? Si cewek
harus ngeluarkan effort yang luar biasa besar to make the marriage work
(karena si cewek merasa dirinya sebagai istri harus mengalah dan tunduk pada
suami)… Si cewek rela untuk nggak menjadi dirinya sendiri agar
pernikahan bisa berhasil dan tentu demi anak yang sudah dilahirkan. Apa
mereka tahu resiko ini waktu mereka pacaran? Bisa jadi… Tapi mereka
"never quit" waktu pacaran dulu, karena most likely mereka berprinsip "Winners never quit and quitters never win"
(ato mungkin juga si cewek mikir, yah, udah kadung lama pacarannya,
nanti kalo putus apa ada yang mau sama saya?). Kalau sudah begini, tell
me, di mana letak "pemenang"-nya? Dengan ke-tidak-quit-an mereka, siapa yang jadi "winner"? 

Case 3:
Lan Fang (nama asli) adalah seorang sarjana hukum lulusan Ubaya dan berprofesi sebagai insurance agent dengan karir yang menjanjikan. In the middle of her carreer as insurance agent, she quits. Dia berhenti total menjadi agen asuransi dan beralih menjadi penulis penuh waktu di tahun 2003… Yang menurutnya, di situlah dia bisa menjadi dirinya sendiri, katanya: "Aku ini ibaratnya ikan. Nah, sekarang aku seperti dicemplungin ke kolam. Wuih, tambah menari-nari lah aku dalam kolam…" Dia begitu menikmati dirinya as an author. Saat ini dia sudah menuliskan 6 buah novel, salah satu novelnya akan disinetronkan. Karya-karyanya dikategorikan sebagai karya sastra modern Indonesia yang digemari masyarakat sastra. Definetly Lan Fang adalah seorang quitter, tapi dia bukan loser. Ketika dia quit dari karir agen asuransi, tell me, "is quitter never win"?

Not to mention Thomas Alva Edison yang quit from his elementary school, Bill Gates yang quit dari sekolah hukum Harvard University, Jeff Bezos (founder of multi million E-Commerce business, Amazon.com, 110th richest man in the world) yang quit dari jurusan Fisika di Princeton University dan beralih ke computer science. For some aspects, statement "Winners never quit and quitters never win" is true. But in very often situation, we got to know exactly when do we have to quit.

Point-nya tentu BUKAN di quit-nya. Point-nya adalah kita harus TAU PERSIS KAPAN kita quit - especially if you don’t like what you do and don’t do what you like. The wise man, King Salomon once said, "To every thing there is a season…". So true.

Seperti halnya Lan Fang yang meninggalkan karir insurance agent, Thomas Alva Edison yang meninggalkan sekolah dasarnya, Bill Gates yang meninggalkan sekolah hukumnya, Jeff Bezos yang meninggalkan jurusan fisikanya… These people know exactly the time when to quit and they’re the truly winners.

Agree or not?

15
Jun

Do what you love and love what you do

Lakukan apa yang kamu sukai dan sukai apa yang kamu lakukan.

Dalam pertemuan dengan para pendiri inti universitas ini kemarin, saya tertarik dengan issue mengenai keuletan, yang menurut mereka, anak-anak muda sekarang ini keuletannya jauh di bawah orang-orang pada generasi mereka. Make sense.

Dibandingkan dengan jaman di generasi mereka, hidup di jaman ini benar-benar so enjoyable in many areas. Never been easier in human history. No wonder kalau anak-anak pada generasi sekarang enjoy their live in easy way. Generasi terdahulu mengatakan: kalau mau enak, harus kerja keras - no other choice. Anak sekarang bilang: knapa harus kerja keras kalau bisa gampang?

Lalu saya berpikir-pikir, apa ya yang bisa membuat orang bisa ulet, tahan banting, tak kenal menyerah, punya daya tahan tinggi terhadap tekanan? Faktor-faktor apa yang membuat derajat daya tahan orang berbeda satu dengan lain? Ada yang amat sangat tahan banting, ada yang dibanting sedikit saja udah komplain, mengomel, dan menyerah.

I come to the conclusion that people are tent to have HIGH persistence when do what they love and love what they do. Level keuletan akan menjadi TINGGI ketika melakukan apa yang kita sukai dan suka dengan apa yang kita lakukan. I think the law was so true from generation to generation.

Knapa Mozart, even telinganya nyaris tuli, tetap bisa berbulan-bulan dengan tekun compose lagu yang dikenang sepanjang sejarah? No doubt that he loves music very much, he enjoyed himself when composing a music. Music really HIS DNA.

Knapa Edison, even gagal dalam ratusan percobaannya, tetap bisa bertahan dan tidak menyerah sampe finally namanya dicatat dalam sejarah sebagai penemu bola lampu? No doubt that he DEFINITELY enjoys working at laboratory, he loves research. DNA-nya adalah bekerja di Lab! Dia melakukan apa yang dia sukai dan suka dengan apa yang dia lakukan. It really increases level keuletannya.

Knapa Bill Gates, when he was young, sanggup dan tahan punya pola bekerja 16 jam sehari, berada di depan komputer, coding menggunakan bahasa Assembly untuk membuat sebuah sistem operasi bagi PC yang dikeluarkan oleh pabrikan IBM waktu itu? (At the end, dia mengatakan bahwa program yang dibuatnya waktu itu adalah program terindah selama hidupnya). Nggak perlu diragukan, Bill Gates loves coding very much. Dia melakukan apa yang disukai dan suka dengan apa yang dilakukan.

Not to mention nobel prize winners in science. No doubt that they’re VERY PERSISTENCE people in their field. Mereka bekerja siang malam di Lab, meneliti sesuatu yang baru dalam tahap hipotesa, tanpa tahu apakah finally mereka akan menemukan jawabannya ato nggak. But yet, mereka tetap bekerja. Why? I think you know why.

Can you see the pattern? It has the same pattern from generation to generation. They love what they do and do what they love. As a result is HIGH LEVEL persistence! I think it’s one the very basic human laws.

Since I’m also human being, it’s so true for me. I love writing so much. Saya menikmati setiap huruf yang saya ketikkan ketika saya menulis. And as a result, I have HIGH LEVEL of persistence when I’m writing something. Saya tahan berada di depan komputer berjam-jam untuk sekedar menulis, whether to write a posting in this blog, write article, write book, or even write novel, salah satu mimpi saya yang belum tercapai - (coding computer program can be categorized as writing. It just writes in different language, one writing in understandable human language and the other is writing in computer language - and I do love coding!). Saya pernah menulis 14 jam nonstop (break hanya untuk makan) dan coding di depan komputer for 20hrs, after that I slept for 14hrs!

So is teaching. I love teaching. Give me a difficult topic. Give me time for while… I believe I can explain and teach in a very easy way. Rekor saya dalam mengajar adalah mengajar selama 8 jam nonstop di kelas paralel dengan istirahat 30 menit in middle of it… Malamnya saya tidur dengan sangat nyenyak, I believe I slept with a smile on my lips… Simply because I love teaching.

Now, you tell me… Isn’t that insane, doing the same thing for hours or days or months or even years? I’ll say NO! Like I mentioned before, do what you love and love what you do, as a result: HIGH LEVEL OF PERSISTENCE (and your level of persistence also determines your LEVEL OF SUCCESS, let me repeat the point: level keuletan kita akan menentukan level kesuksesan dan level keuletan banyak ditentukan oleh level kesukaan dalam mengerjakan sesuatu).

So, one billion question is,  "Have you DO WHAT YOU LOVE AND LOVE WHAT YOU DO?" Seberapa kuat kamu bertahan kalo sekarang kamu sedang mengerjakan sesuatu yang nggak kamu sukai? Sooner or later, you’ll quit with no result, wasting time. Make a choice today:

To love whatever you do

OR

Choose another activity that you really love to do!

Life will be so much easier to handle for you. Make sense, ah?

09
Jun

Double the income part II

Buat yang pingin tau Double the income, silahkan dengarkan audio-book:
Brian Tracy - 21 Great Ways To Manage Your Time And Double Your Productivity
(Silahkan di-search di internet ato saya juga punya kalo mas2, mbak2, bapak2, ibu2 yang terhormat mau ngopi…)

Saia sudah ilfeel buat nulis blog yang gituan… Setiap kali saia nulis mslh duit selalu muncul gosip yang nggak2… Padahal POSTING ITU TIDAK ADA HUBUNGANNYA DENGAN INCOME SAIA SEBAGAI DOSEN… (perlu ya saia kasih tau bahwa saia bahkan pernah mengajukan diri jadi volunteer/unpaid lecturer ke rektor agar saia bisa tetap mengajar tanpa ada ikatan waktu? -walopun gak disetujui- Gimana saia nggak ilfeel kalo terus saia digosipkan stay di sini karena di-double gajinya? Gosip yang benar2 menginjak2 saia pake sandal jepit)

Saia kasih tau ya, mami saya sampe sekarang (iya sampe detik ini di usianya yang menjelang 57) masih berprofesi jadi guru, en papi died di taon 2007 lalu juga as a teacher. Jadi mas, mbak, pak, bu… sejak kecil sampe segede inih saya tau persis kalo kpingin punya banyak uang, jangan jadi guru/dosen ato sejenisnya… Lalu kalo sampe skarang saia mau jadi dosen, coba tebak kenapa? Karena di-double income-nya? Papi saya bisa bangkit dari kubur kalo tau saia pengen dapet duit banyak dari menjadi pengajar.

Nah, mas2, mbak2, ibu2 dan bapak2… dari posting yang singkat ini sekarang mari membuat bahan gosip sebagai berikut:

  1. Bahan gosip #1. Saya meninggal di taon 2007 dengan dana pensiun yang di-double (jadi yang mengajar sekarang adalah hantu - seru kan?).
  2. Bahan gosip #2. Saya dapet gaji dobel karena papi mami saya berprofesi sebagai guru sejak 30 taon yang lalu (lebih heboh lagi kalo bisa sampe tersebar bahwa profesi guru di keluarga saya dimulai sejak kakek moyang saya yang berlayar dari negeri China ke pulau Jawa, tambahkan juga kucing di rumah saya ternyata profesinya juga guru).
  3. Bahan gosip #3. Papi saya bangkit dari kubur, sehingga orang2 pada ketakutan dan ngasi saya gaji double (lalu boleh ditambahkan bahwa papi saya ikutan casting film Sumpah Pocong di Sekolah dan gagal mendapatkan peran utama sehingga gentayangan sampe sekarang, nunggu proyek film berikutnya, Sumpah Pocong di Universitas…)
  4. Bahan gosip #4. Saya kursus di brian tracy foundation tentang double the income, lalu sepulang dari sana, gaji saya di-double (tambah juga bumbu bahwa saya lalu marah karena orang2 pada tau kalo gaji saya di-double sehingga brian tracy foundation-nya saya bubarkan dengan cara anarkis sampe masuk ke Liputan 6-nya SCTV).

Silahkan, saya tunggu gosip berikutnya… Kalo masih kurang bahan gosipnya, para pembaca diperbolehkan menambahkan bahan gosip lewat comment… Saya usahakan agar bahan gosip terbaik bisa mendapatkan kesempatan untuk casting film Kuntilanak V - The Final Episode dan kesempatan menjadi peran utama di posting berikutnya.