Archive for July, 2008

20
Jul

Bulan-bulan Tesis: Exhausted, Excited

Last Friday, I felt like giving up on my thesis. Seriously…! Rasanya saia udah kehabisan tenaga. Been trying to focus on my thesis for the last 2weeks. Kerjanya udah gila2an, day and night, coding, tracing thousands line of code, scratching the concept on the paper, reading the journals dari jurnal JST sampe tip2 mengurus bayi (loh, apa hubungannya?), di manapun, kapanpun gak bisa berhenti untuk nggak mikirin JST, sejauh mata memandang, yang muncul adalah rumus2 diferensial (turunan, momentum, delta, eta, backpropagation), even the meals I’ve eaten for the last 2weeks, taste like Jaringan Syaraf Tiruan (have you taste sayur asem diferensial, momentum bacem, krupuk udang delta, and nasi backpropagation komplit before? I’ve tried them… and please, for the sake of your own appetite, don’t ask me what they taste like…)

Dan waktu tidur, as you might guess, mimpinya adalah… mimpi Miss T**, the-girl-who-melt-my-heart-recently! Haha2… Saia bisa gila kalo tidur-pun mimpi JST, mending mimpi yang laen, haha2…

(Ok, you’d better stop thinking who Miss T** is, karena dia hanya pemeran figuran dalam posting kali ini, lagian as promised, I’ll stay single until my thesis finish, hehe2…)

So, for the last 2weeks, ngacangin SMS, YM, dan email sudah bener2 kayak kacang. Menjawab seperlunya, cuek is the best dan no-reken (bentuk v-ing-nya adalah: no-reken-ing, which is good thing… haha2…). That’s also explain knapa blog ini nggak terupdate.

Setelah semua kerja keras beserta per-kacang-an yang yang telah terjadi, guess what… Sampe Jumat lalu, sistem JST yang saia kembangkan masih telmi (telat mikir), lemot, lola (loading lambat), masih dumb and dumberer (udah learning time-nya lama, eh, masak uang Rp. 1000 dikenali jadi jadi 100rb… Gimana nggak stres bahwa ternyata sistem yang saia kembangkan ternyata mata duitan). Saia sudah hampir menyerah (dan sedikit terkena gejala sindrom "nyaris-gila")… Berpikir bahwa memang otak saia dengan JST ternyata hubungannya tidak baik, sangat tidak baik malah. Most likely, ada rantai DNA dalam tubuh saia yang dorman, mandul, impoten, yang nggak pernah "on" ketika saia meneliti JST ini. Jadi saia memutuskan akan mengakhiri proyek JST ini dengan status: "divorced", bercerai tanpa pesangon. Kita sudah tidak dapat melanjutkan hubungan lagi.

Tapi hari Sabtu pagi kemarin, waktu di kantor, in the mid of my desperation, saia rasanya tiba2 dapet pencerahan. Rantai DNA yang tadinya "off" somehow jadi "on" ketika saya melakukan tracing pada ribuan baris kode program itu. Ada semacam intuisi yang kuat ketika melihat sebuah baris program. Mencurigakan. Lalu dengan perasaan excited, saia kembali menurunkan rumus2 diferensialnya, kali ini tanpa sayur asem. Pure differential. Dan benar, ada satu kesalahan kecil tapi fatal yang mengakibatkan sistem JST-nya so dumb. SATU baris program itu segera saia perbaiki berdasarkan hasil penurunan, dan guess what… the system becomes sooo smart… EUREKA! Proses perceraian batal and I love this JST more than ever before. She looks soooo beautiful.

On serious note, I strongly believe, bahwa intuisi untuk melacak kesalahan itu, was the result of pray. I strongly believe, the more I pray to GOD, pray to That OMNI-POTENT ONE, to The CREATOR OF ALL SCIENCES on EARTH, the more I connect to GOD, the sharper will my intuition be. It can’t be explained scientifically, but it works. I, no doubt at all, believe that God does work using HIS invisible hand, just seek and knock through your pray and faith. According to your faith, it’s shall be done!

So, this week, I’ll have another struggling untuk mengurus dan mempersiapkan seminar hasil, lalu if everything works properly, next 2 weeks will have ujian tesis, the last and final exam before having master degree. But, it’ll be lot easier compared to the last 2 week. It won’t be as exhaust as developing the JST system. Hmm… I think, I’m gonna miss that sayur asem differential

09
Jul

Bulan-bulan Tesis: Stuck!

Semakin saya mendalami topik tesis saya, yaitu JST (Jaringan Syaraf
Tiruan), semakin saya tahu bahwa knowledge computer science yg saya
kuasai selama ini ternyata sooo smalll. Bagaikan seekor kutu di badan
gajah, bagaikan seekor semut di atas seekor T-Rex, bagaikan seekor ikan
di lautan. Seriously! Saya amazed dengan betapa luasnya ilmu
pengetahuan yang ada di bumi ini. Saya baru sedikit mendalami tentang
JST, which is merupakan bagian dari topik kecerdasan buatan, yang mana
kecerdasan buatan merupakan bagian dari computer science, yang mana
computer science merupakan bagian dari computing, yang mana computing
is a part of engineering, yang mana engineering itu bagian dari science
itself. Saya amazed dengan Sang MAHAGURU itu, SUMBER PENGETAHUAN…
Saya sungguh tidak sanggup mengukur sedalam apa keagunganNya…

What is actually my thesis all about? Saya
coba jelaskan dalam bahasa yang sederhana. Tujuannya adalah membuat
mesin (komputer) yang bisa belajar mengenali suatu objek, seperti otak
kita. Otak kita dengan mudah mengenali objek seperti mengenali temen
kita yang jaraknya 50mtr dari tempat kita berdiri, kita dengan gampang
tau jenis buah2ah hanya dari warnanya, kita juga cepat mengenali
ballpoint, hp, laptop walaupun objek2 tersebut hanya nampak 1/10 bagian
saja… Cara otak mengenali objek, sepertinya sangat gampang, namun
ketika manusia berusaha mencoba meniru sistem kerja seperti itu lewat
pemodelan JST, ternyata amat sangat sulit! Bahkan komputer yang
tercanggih saat ini masih belum dapat melakukan pengenalan secara
akurat terhadap seluruh bagiantubuh manusia (paling hanya terbatas pada finger print, suara, retina atau wajah).

Pada topik tesis saya, proses duplikasi kerja otak yang dibuat
adalah mengenali nominal mata uang. Di sistem diberikan input sebuah
citra digital, yaitu gambar uang kertas yang di-scan, let’s say Rp.
1000. Sistem diberi tahu bahwa image tersebut adalah uang Rp. 1000.
Lalu saya akan berikan setidaknya 10 model uang Rp. 1000 dalam berbagai
kondisi (dari yg bersih sampe yang lecek) sebagai proses latihan.
Setelah proses pembelajaran Rp. 1000 selesai, saya akan latih juga
untuk nominal yang lain misalkan Rp. 5000, Rp. 10000, Rp.20000 dengan
cara yang sama ketika saya mengajar Rp. 1000. Diharapkan setelah
dilatih sedemikian, sistem tersebut menjadi pintar. Ketika dia
diberikan input dengan mata uang dengan berbagai kondisi (lecek, kotor,
terlipat-lipat), sistem tersebut akan tetap tau nominalnya… Cara
kerja ini persis seperti otak manusia yang bisa mengenali nominal mata
uang.

Ketika saya mengetik posting ini, saya sedang
berada di tahap pertengahan penelitian tesis. Dua minggu lalu, saya
pikir saya sudah hampir selesai, tapi ternyata program yang saya buat
mengalami "bug" yang sangat serius sehingga akurasi pengenalan nominal
mata uangnya sangat rendah, dengan kata lain, sistem yang dikembangkan
tersebut tidak cerdas karena tidak berhasil membedakan nominal mata
uang. Program JST ini tidak mungkin untuk di-trace (dilacak
kesalahannya) karena melibatkan puluhan ribu proses perhitungan yang
tidak bisa dimodelkan dengan cara apapun. Mengapa tidak bisa
di-model-kan?

Begini… kalau input pada sebuah sistem JST itu hanya satu titik
dan keluarannya juga satu titik, maka JST tersebut dengan mudah
dimodelkan menggunakan model 2 dimensi atau biasa disebut dengan
koordinat kartesius yang terdiri dari sumbu x dan y. Masih sangat mudah
dibayangkan dan digambar di atas kertas, dan kalau terjadi kesalahan
tinggal dilacak titik2nya.

Lalu jika saya menambah satu input lagi
(sehingga ada 2 input dan 1 output), maka model JST akan berubah
menjadi 3 dimensi. Jika dimodelkan, akan berupa ruang, dengan sumbu X,
Y dan Z. Kita masih bisa membayangkannya atau melihat bentuknya jika
model-nya diplot di komputer. Walaupun sedikit lebih sulit, tapi masih
bisa melakukan trace kalau terjadi kesalahan. Jika ditambah sebuah
input lagi, menjadi 3 input dan 1 output, maka sekarang menjadi 4
dimensi. Otak kita hanya bisa membayangkan 3 dimensi (bentuk ruang),
sehingga ketika terjadi penambahan sebuah dimensi lagi, menjadi 4
dimensi, otak kita sudah tidak bisa sanggup membayangkan.

Padahal, program JST pengenalan mata uang ini, untuk sebuah
image-nya (misalnya Rp. 1000), inputnya adalah sebanyak 400 titik
(10×40 piksel)! Artinya, dalam sistem JST tersebut ada 400 dimensi…
Model-nya sudah tidak bisa digambar dengan media apapun. Analisa
kebenarannya hanya dilakukan dengan rumus matematika menggunakan
diferensial. Tidak bisa dimodelkan, tidak bisa digambar, tidak bisa
dibayangkan. Input dimasukkan - lalu diproses dengan perhitungan
matematis - lalu output dihasilkan. Walaupun tidak dapat dimodelkan,
tapi it exists, ada dan hasilnya nyata, banyak aplikasi JST yang sudah
dikembangkan dan berhasil membuat komputer belajar, misalnya mengenali
sidik jari, character prediction seperti di HP, alat bantu diagnosa
suatu penyakit (walopun di indonesia belum begitu umum), pengenalan
retina mata, pengenalan suara, atau untuk meramalkan harga saham.

Kembali ke tesis saya, mulai minggu lalu, saya
terpaksa harus mendesain ulang programnya, scratch from zero dan
memperdalam landasan teori yang mungkin saya terlewatkan. Saya sedikit
kuatir dengan mendesaknya deadline, meanwhile ada banyak hal yang harus
dikerjakan… Mungkin ini saatnya untuk bener2 fokus.

Kalau nggak selesai2 juga, saya bisa menjomblo seumur hidup… haha2…

08
Jul

Persetongkolan

Saya bukan ahli bahasa, tapi kalau saya diberi hak untuk membuat vocabulary baru, saya akan menambahkan kata: setongkol.

Arti kata "setongkol" ™ menurut Kamus Kecil Windra Swastika (KKWS):
Setongkol: 1. (adj) sebesar ikan tongkol. 2. (n) usaha-usaha dari sekelompok orang atau individu untuk menjatuhkan (nama) seekor tongkol.
Bersetongkol: (v) berkomplot atau bersepakat untuk melakukan setongkol.
Persetongkolan: (n) hal bersetongkol.

Contoh kalimat:

  • Luka di kepalanya membuat pipinya bengkak setongkol (artinya bengkak di pipinya sebesar ikan tongkol).
  • Adanya persetongkolan di tempat ini telah berhasil diendus oleh seekor kucing.
  • Mereka yang telah bersetongkol akhirnya berhasil mendapatkan tongkol dengan harga murah.

Never mind tentang persetongkolan dan tongkol-tongkol itu. Basically, kalo ada orang yang bersetongkol dan melakukan persetongkolan terhadap kamu (mungkin karena kamu mendapatkan sesuatu, mungkin karena dia suka makan tongkol, mungkin karena harga tongkol sedang mahal di pasar, atau mungkin juga karena wajahnya mirip tongkol) kamu akan segera aware, bisa mengendus bahwa ada oknum-tongkol di sekitar kamu. Oknum-tongkol tersebut biasanya akan mencari tongkol-tongkol di masa lalu kamu, karena dia adalah kolektor tongkol sejati. Tapi kalau berhadapan dengan kamu, dia akan tetap manis, kamu boleh kategorikan dia sebagai frenemy (friend tapi enemy).

Nah, kalau ada persetongkolan yang dilakukan terhadap saya, sekali lagi, saya akan berusaha untuk punya meekness. Tidak membela diri atau balik melempari balik oknum-tongkol itu dengan tongkol. Karena seberapa kuat sih, saya bisa melempari oknum-tongkol itu dengan tongkol? Lagian saya nggak punya banyak tongkol. Maksut saya, seberapa kuat saya bisa membela diri? In fact, the more I defense my self, the more tongkol i’ll get.

Tapi saya yakin satu hal.

Saya yakin, DIA adalah tempat perlindungan saya.

HE said, "Because you hath set your love upon ME, therefore will I deliver you: I will set you on high, because you hath known MY name. You shall call upon ME, and I will answer you: I will be with you in trouble; I will deliver you, and honour you." (Psalm 91)

I have set my love upon HIM, saya mengasihiNYA,  dan saya tidak pernah meragukanNYA karena saya mengenalNYA… dan sungguh, saya tenang dengan semua janji perlindunganNYA. Saya tidak terintimidasi dengan segala jenis persetongkolan yang dilakukan ke saya, karena saya kenal sekali SIAPA yang membela saya. I don’t have to say even a word for self-defense karena DIA yang membela saya.

Tell me, persetongkolan jenis apa yang saya takutkan kalau DIA ada untuk membela saya?